06 November 2009

Proposal Disertasi

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kondisi penyelenggaraan pelayanan publik saat ini masih belum memadai, karena masih banyaknya keluhan dan pengaduan dari masyarakat baik secara langsung maupun melalui media massa, seperti: prosedur yang berbelit-belit, tidak ada kepastian jangka waktu penyelesaian, tidak jelas berapa biaya yang harus dikeluarkan, persyaratan yang tidak transparan, sikap petugas yang kurang responsif dan lain-lain, sehingga menimbulkan citra yang kurang baik terhadap citra pemerintah dan pemerintah daerah.

Menurut Ismail Mohamad (2003:2), permasalahan utama pelayanan publik pada dasarnya adalah berkaitan dengan peningkatan kualitas pelayanan itu sendiri. Pelayanan yang berkualitas sangat tergantung pada berbagai aspek, yaitu bagaimana pola penyelenggaraannya (tata laksana), dukungan sumber daya manusia, dan kelembagaan. Dilihat dari sisi pola penyelenggaraannya, pelayanan publik masih memiliki berbagai kelemahan antara lain: kurang responsif, kurang informatif, kurang accessible, kurang koordinasi, birokratis, kurang mau mendengar keluhan/saran/aspirasi masyarakat, dan in-efisien. Berbagai pandangan juga setuju bahwa salah satu dari unsur yang perlu dipertimbangkan adalah masalah sistem kompensasi yang tepat. Dilihat dari sisi kelembagaan, kelemahan utama terletak pada desain organisasi yang tidak dirancang khusus dalam rangka pemberian pelayanan kepada masyarakat, penuh dengan hirarki yang membuat pelayanan menjadi berbelit-belit (birokratis), dan tidak terkoordinasi. Kecenderungan untuk melaksanakan dua fungsi sekaligus, fungsi pengaturan dan fungsi penyelenggaraan, masih sangat kental dilakukan oleh pemerintah, yang juga menyebabkan pelayanan publik menjadi tidak efisien.

Senada dengan hal tersebut di atas, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (2004) mengatakan: “...kita sungguh menyadari bahwa jajaran aparatur pemerintah memang masih mempunyai berbagai kelemahan dalam penyelenggaraan pelayanan publik dalam berbagai sektor pelayanan. Kelemahan-kelemahan tersebut dapat diketahui melalui pengaduan dan keluhan yang disampaikan masyarakat, baik secara langsung maupun melalui media massa, antara lain menyangkut sistem dan prosedur pelayanan yang berbelit-belit, tidak transparan, kurang informatif, kurang akomodatif, dan tidak konsisten, sehingga tidak menjamin kepastian hukum, waktu dan biaya serta masih adanya praktek percaloan dan pungutan tidak resmi.

Pelayanan publik yang ada selama ini memang selalu dihadapkan pada masalah-masalah seperti dikemukakan di atas. Dalam survey yang dilakukan oleh Litbang Kompas terhadap 885 responden dengan tingkat kepercayaan 95% pada tanggal 28 Pebruari sampai dengan 1 Maret 2007, terungkap bahwa birokrasi Indonesia gagal menjalankan fungsi pelayanan publiknya. Ketidakpastian waktu menjadi problem bagi masyarakat ketika berurusan dengan birokrasi. Urusan kecil bisa makan waktu yang lama. Inilah fenomena yang dirasakan sebagian besar (62,9%) responden. Menurut mereka, berurusan dengan aparat birokrasi selalu makan waktu lama. Selain ketidakpastian waktu, ketidakpastian biaya menjadi keluhan warga ketika berurusan dengan birokrasi. Tidak sedikit warga yang menyogok aparat birokrasi demi kelancaran urusannya. Dari fenomena ini, lebih dari separuh (58%) responden menganggap aparat birokrasi gampang disuap. Pencitraan tersebut, bisa jadi, dipicu juga oleh ketidakpuasan responden terhadap etos kerja birokrasi selama ini. Sebagian besar responden menyatakan tidak puas dengan kelambatan birokrasi dalam melayani urusan publik. Penilaian yang sama juga diungkapkan 65,3% responden terhadap efektivitas kerja birokrasi. Sementara untuk kedisiplinan, kecermatan, dan kesigapan kerja, sebagian besar responden masih kecewa.[1]

Dari sekian banyak pelayanan publik yang dilakukan oleh pemerintah daerah, satu diantaranya adalah pelayanan izin mendirikan bangunan (IMB). Kepemilikan IMB merupakan hal yang sangat urgen. Tanpa IMB, maka bangunan yang didirikan menjadi tidak legal. Karena tidak legal, maka pemerintah daerah berhak untuk menghentikan proses pembangunan tersebut dan jika bangunan tersebut telah didirikan, ternyata tidak memiliki IMB, maka pemerintah daerah pun berhak untuk merobohkan bangunan tersebut. Sudah sangat sering media memberitakan bagaimana polisi pamong praja (Pol-PP) menghancurkan atau merobohkan bangunan yang sudah berdiri namun tidak memiliki IMB.

Seharusnya setiap kali melakukan proses pembangunan (fisik), mulai dari mendirikan bangunan baru, mendirikan bangunan tambahan pada bangunan yang sudah ada dan atau mengubah sebagian atau seluruh bangunan yang sudah ada harus terlebih dahulu mendapatkan IMB, sehingga diharapkan seluruh bangunan yang telah berdiri memiliki IMB. Namun kenyataan menunjukkan, masih sangat banyak masyarakat yang melakukan pembangunan tidak melakukan permohonan untuk memperoleh IMB. Sehingga banyak bangunan yang berdiri tidak memiliki IMB. Sebenarnya masyarakat sangat memerlukan IMB, tetapi seringkali terhambat pada bentuk pelayanan yang menyulitkan dan biaya yang tidak jelas serta sulit terjangkau, sehingga mereka tidak mau mengurus IMB.

Berbagai upaya telah diusahakan untuk memperlancar proses pelayanan IMB, namun masih sering dijumpai kendala-kendala yang perlu terus menerus diatasi, supaya masyarakat pemohon IMB memperoleh kepastian waktu, biaya, maupun tenaga yang diperlukan. Karena menurut pengamatan, dalam pelaksanaan pelayanan perizinan, terutama IMB dirasakan oleh masyarakat masih memiliki banyak kelemahan yang diduga dapat menciptakan berbagai peluang penyimpangan, seperti mekanisme dan prosedur pelayanan yang panjang, tidak ada kepastian waktu penyelesaian dan biaya tinggi; kurangnya transparansi informasi, baik mengenai ketentuan, mekanisme prosedur, persyaratan maupun proses penyelesaiannya; dan kurang profesionalnya pelayanan yang diberikan oleh aparat.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ony Ariyanti (2008) tentang “Kualitas Pelayanan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) pada Dinas Penataan dan Pengawasan Bangunan Provinsi DKI Jakarta”, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

Pertama, bahwa telah terjadi kesenjangan (gap) antara kualitas pelayanan yang diharapkan dengan yang dirasakan (kenyataan). Artinya, petugas pelayanan IMB masih belum dapat memberikan pelayanan yang dapat memuaskan para konsumen IMB. Kedua, secara keseluruhan, konsumen merasa kurang puas terhadap pelayanan yang mereka rasakan/terima. Ketidakpuasan tersebut, terutama disebabkan oleh faktor (1) waktu penyelesaian pelayanan yang tidak pasti; (2) kurangnya ketulusan dan kesungguhan petugas pelayanan dalam menyelesaikan permasalahan konsumen; (3) akurasi dokumen atau persyaratan pelayanan; (4) relatif lambatnya pelayanan diberikan oleh petugas pelayanan; (5) kurang tanggapnya petugas pelayanan dalam memenuhi kebutuhan konsumen; (6) sarana/fasilitas pelayanan yang kurang memadai; (7) kurang nyamannya lingkungan tempat pelaksanaan pelayanan; (8) kurang mampunya petugas dalam memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan konsumen; (9) kurang ramahnya petugas pelayanan dalam memberikan pelayanan; (10) ketidaksesuaian waktu/jam kerja petugas pelayanan dalam memberikan pelayanan; dan (11) sebagian besar konsumen kurang merasakan adanya perhatian khusus dari petugas pelayanan kepada konsumen.

Fenomena tersebut hampir terjadi diberbagai kantor pelayanan publik, termasuk yang terjadi pada Dinas Tata Kota Palembang, sebagai instansi yang berwenang mengurus dan mengeluarkan IMB di lingkungan Kota Palembang. Hal itu tercermin dari data yang menunjukkan bahwa masih sangat banyak bangunan di Kota Palembang yang tidak/belum memiliki IMB. Padahal banyak sekali keterkaitan antara IMB dengan berbagai macam jenis perizinan yang lain. Apabila tidak memiliki IMB maka akan bermasalah pada pengurusan perizinan lainnya, karena IMB menjadi salah satu syarat untuk mendapat berbagai macam jenis perizinan yang ada. Misalnya, untuk mendapatkan surat izin tempat usaha perdagangan atau izin usaha industri, maka harus terlebih dahulu memperoleh IMB, sebagai salah satu syaratnya. Artinya, betapa berharga dan pentingnya IMB bagi masyarakat dan akan sangat bermasalah apabila tidak memiliki IMB, bukan saja berguna bagi keabsahan (legalitas) bangunan yang didirikan, tetapi menyangkut kelancaran berbagai bentuk pengurusan perizinan yang lain.

Sejak diberlakukannya Peraturan Daerah (Perda) Nomor 11 Tahun 1996 tentang Izin Mendirikan dan Membongkar Bangunan, dan Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2004 tentang Pembinaan dan Retribusi Perizinan Pembangunan, ternyata baru menghasilkan capaian angka kepemilikan IMB sebesar 35,10% atau 88.538 bangunan dari total jumlah bangunan di Kota Palembang sebanyak 252.246 (lihat Tabel 1). Angka tersebut menjadi indikasi kuat bahwa pelayanan perizinan IMB di Kota Palembang belum optimal dalam mencapai tujuannya. Dengan kondisi demikian, potensi keributan/konflik atau bentrokan antara masyarakat dengan aparat pemerintah kota, terutama dengan polisi pamong praja (Pol PP) sangat mungkin terjadi. Beberapa bentrokan yang sempat diberitakan media massa, antara lain adalah kejadian pada tanggal 27 Januari 2009 yang diberitakan oleh Indosiar.

“...tiga tempat usaha perbengkelan las dan servis AC yang terletak di Jalan Demang Lebar Daun Palembang, terpaksa dibongkar paksa oleh gabungan polisi Pamong Praja dan satuan Shabara Poltabes Palembang. Upaya eksekusi yang sempat menarik perhatian sejumlah warga ini berjalan cukup tegang karena pemilik rumah memberikan perlawanan dan tidak bersedia rumahnya dibongkar petugas. Bahkan petugas yang berjumlah sekitar seratus orang ini nyaris terluka dilempar pemilik rumah dengan botol minuman dan batu (indosiar.com)”.

Kemudian, Koran Seputar Indonesia (Sindo) pada tanggal 15 Juni 2009 juga melaporkan bentrokan antara Sat Pol PP dengan warga masyarakat:

“Tindakan tegas Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang yang membongkar paksa sejumlah bangunan liar di area galian golongan C Alang Alang Lebar (AAL), berbuntut panjang. Korban Asmadi menceritakan, sebelum dia menjadi bulan-bulanan dan sasaran amukan anggota Satpol PP, terlebih dahulu anggota Satpol PP yang dipimpin Ka Satpol PP melakukan pembongkaran base camp berukuran 4 x 8 meter, tempat penampungan bahan material untuk pembangunan rumah toko (ruko) miliknya. Alasan Satpol PP membongkar base camp dari papan itu, karena bangunan tersebut liar lantaran tidak memiliki izin mendirikan bangunan (IMB). Padahal, gudang yang dibangun tersebut sifatnya hanya sementara dan setiap pembangunan sebuah proyek pasti ada gudang untuk menyimpan bahan material. Akhirnya korban Asmadi melaporkan Ka Satpol PP ke polisi.”

Bentrokan serupa dalam skala kecil yang tidak sempat diberitakan media massa sudah sering terjadi. Terutama di kawasan-kawasan pemukiman baru dan daerah pinggiran Kota Palembang. Apabila kesadaran masyarakat terhadap IMB masih rendah dan pelayanan IMB juga masih buruk, maka tidak menutup kemungkinan kejadian serupa akan terus berulang.

Tabel 1.1

Daftar Bangunan yang telah dan yang belum memiliki IMB di Kota Palembang Tahun 2008

No.

Kualifikasi Bangunan

Jumlah

Persentase

1.

Bangunan yang memiliki IMB

88.538

35,10%

2.

Bangunan yang belum/tidak memiliki IMB

163.708

64,90%

Jumlah total bangunan

252.246

100%

Sumber : Dinas Tata Kota Palembang, 2009

Tabel di atas menunjukkan bahwa pelaksanaan pelayanan IMB masih belum baik. Atau dengan kata lain terdapat kesenjangan antara harapan (das Sein) dengan kenyataan (das Sollen) dalam pelayanan IMB di Kota Palembang. Berdasarkan pengamatan peneliti di lapangan, dari segi komunikasi bahwa masih banyak masyarakat (pemohon) yang tidak mengerti tentang bangunan seperti apa saja yang harus memiliki IMB. Selama ini yang diketahui masyarakat hanyalah “bangunan baru” saja yang harus diurus IMB-nya, padahal menurut ketentuannya, mendirikan bangunan tambahan pada bangunan yang sudah ada” dan “mengubah sebagian atau seluruh bangunan yang sudah ada”, juga harus mendapatkan IMB. Selain itu, banyak masyarakat juga tidak tahu tentang sanksi bagi pendirian bangunan tanpa izin, masyarakat juga banyak yang belum paham bagaimana cara dan proses memperoleh IMB, berapa lama waktu yang diperlukan untuk proses pengurusan IMB, serta berapa besarnya tarif retribusi untuk memperoleh IMB dimaksud. Berkaitan dengan hal tersebut, menurut beberapa pemohon, hal ini disebabkan karena kurangnya informasi dan komunikasi yang disampaikan secara tertulis, seperti petunjuk/papan informasi dan brosur tentang mekanisme permohonan IMB. Sedangkan informasi secara lisan yang disampaikan oleh petugas (pegawai) dianggap kurang jelas, sehingga terkesan kurang paham, kurang terbuka dan tidak transparan. Disamping itu, pelayanan yang dilakukan juga dirasakan kurang ramah.

Demikian dari beberapa fenomena tersebut di atas, tidak hanya mengidentifikasikan masih belum optimalnya kualitas pelayanan IMB yang diberikan oleh Dinas Tata Kota Palembang, sekaligus juga menggambarkan belum optimalnya fungsi komunikasi di lingkungan Dinas Tata Kota dalam melayani pemohon IMB. Apabila kualitas pelayanan IMB yang diberikan oleh Dinas Tata Kota Palembang tidak ditingkatkan, maka akan menimbulkan citra negatif dan rendahnya tingkat kepercayaan kepada Dinas Tata Kota Palembang khususnya dan kepada Pemerintahan Kota Palembang pada umumnya, dan pada akhirnya berpotensi menjadi bahan keributan (bentrokan) antara aparat Pemerintah Kota (Sat Pol PP) dengan warga masyarakat.

Urgensi melakukan penelitian tentang kualitas pelayanan IMB di lingkungan Dinas Tata Kota Palembang adalah: (1) Visi Dinas Tata Kota Palembang yang ingin mewujudkan Palembang sebagai kota internasional, berbudaya dan sejahtera melalui penataan kota yang ideal, dan terpadu berpedoman kepada rencana tata ruang yang berkesinambungan. Antara lain dilakukan dengan: “menyusun dan melaksanakan sumber informasi dan pedoman pembangunan kota secara lengkap; mensosialisasikan rencana tata ruang kota dan perizinan secara transparan; dan meningkatkan teknis dan prosedur pelayanan (kepada masyarakat)”. Apakah hal ini sudah diaplikasikan oleh Dinas Tata Kota Palembang? (2) Fungsi komunikasi baik yang bersifat vertikal, horizontal maupun diagonal dan keluar, terutama sosialisasi tentang mekanisme prosedur pelayanan, sehingga merupakan salah satu persyaratan bagi munculnya persepsi yang sama dalam melakukan pelayanan, nampak belum optimal. Terutama pemohon yang berasal dari kawasan pemukiman baru dan berbagai permasalahan pada bangunan di pinggiran kota. (3) Pelayanan IMB berkaitan dengan persyaratan untuk memperoleh pelayanan perizinan lainnya, sehingga akan melibatkan instansi-isntasi lainnya. (4) Masih banyak keluhan dan masih jarang terjadi adanya pengurusan IMB yang selesai pada batas waktu yang ditentukan, yaitu 21 hari sejak tanggal diterimanya permohonan.

Berkenaan dengan hal tersebut, melalui penelitian ini peneliti bermaksud mengungkapkan dan menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan masih belum optimalnya pelayanan IMB di Kota Palembang.

Pemikiran tersebut diarahkan untuk memperoleh eksplanasi tentang ketidaksesuaian antara harapan dan realita dalam rangka mencari penyebab dan pengaruh yang ditimbulkan oleh komunikasi tersebut terhadap kualitas pelayanan IMB. Oleh karena itu, untuk memastikan apakah kualitas pelayanan IMB yang digambarkan melalui fenomena tersebut besar atau tidak dipengaruhi oleh komunikasi dan seberapa besar pengaruhnya, maka peneliti menganggap perlu untuk menetapkan problem statement dalam rencana usul penelitian ini.

1.2. Identifikasi Masalah

Dari gambaran kondisi empirik situasi problematik yang mengindikasikan interaksi antara variabel komunikasi terhadap kualitas pelayanan IMB, maka permasalahan penelitian ini dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

(1) Masih banyak yang menilai bahwa kinerja pelayanan IMB belum dapat terlaksana secara optimal dan dapat dipercaya sesuai dengan harapan.

(2) Hal-hal tersebut, terkesan seolah-olah disengaja oleh pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan, sehingga membawa dampak orang enggan untuk mengurus IMB.

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja pelayanan IMB antara lain adalah: prosedur persyaratan, jangka waktu, biaya, sumberdaya manusia, sumber pembiayaan, prasarana/sarana kerja, data-data pertanahan, dan persyaratan lainnya yang terkait dengan pelayanan.

(3) Tuntutan masyarakat untuk mendapat pelayanan dan informasi secara cepat seiring pesatnya perkembangan bidang teknologi informasi, bukan lagi merupakan hal yang sulit untuk diwujudkan.

(4) Sudah waktunya layanan perizinan, termasuk IMB tidak dipersulit, agar visi Dinas Tata Kota Palembang dapat terwujud.

1.3. Perumusan Masalah

Berdasarkan fenomena-fenomena yang diungkap di atas sebagai latar belakang penelitian, maka peneliti dapat mengemukakan problem statement penelitian sebagai berikut: “Belum diketahui seberapa besar Pengaruh Komunikasi terhadap Kualitas Pelayanan IMB di Kota Palembang”. Berdasarkan problem statement ini, maka peneliti mengemukakan research question sebagai berikut: “Seberapa besar Pengaruh Komunikasi terhadap Kualitas Pelayanan Izin Mendirikan Bangunan pada Dinas Tata Kota Palembang.”

1.4. Maksud dan Tujuan Penelitian

1.4.1. Maksud Penelitian

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengungkap, menganalisis, dan mengukur besarnya pengaruh komunikasi terhadap peningkatan kualitas pelayanan IMB.

1.4.2 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1) Menganalisis kontribusi (sumbangan) komunikasi terhadap peningkatan kualitas pelayanan IMB di Kota Palembang.

2) Menemukan suatu konsep atau model tentang pengaruh komunikasi terhadap penyelenggaraan pelayanan IMB.

1.5. Kegunaan Penelitian

1.5.1. Aspek Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran atau masukan bagi pengembangan ilmu-ilmu administrasi secara multi dimensional, terutama yang berkaitan dengan kualitas pelayanan publik dikaitkan dengan fungsi komunikasi di bidang pelayanan IMB.

1.5.2. Aspek Praktis

Manfaat praktis bagi pemerintah, khususnya Dinas Tata Kota Palembang, yaitu hasil penelitian diharapkan dapat memberi rekomendasi untuk dapat digunakan sebagai bahan masukan guna mengoptimalkan fungsi komunikasi dalam hubungannya dengan pelayanan IMB pada Dinas Tata Kota Palembang. Sekaligus sebagai upaya memperbaiki kualitas pelayanan IMB dan kepuasan masyarakat pemohon IMB.



[1] Kompas, tanggal 5 Maret 2007

03 Mei 2009

Kedudukan Ibu dalam Islam

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada duai ibu bapakmu; hanya kepada-Ku engkau akan kembali (Q.S. 31:14-15)

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya, atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah!" - Jangan pula engkau membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku! Sayangilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah menyayangi aku semenjak kecil." (Q.S. 17:23-24)

Sorga terletak di bawah telapak kaki ibu (Al-Hadits)

Memandang dengan kasih sayang dan ramah tamah kepada ibu dan ayah, adalah ibadah (Al-Hadits)

Keridhaan Allah terletak pada keridhaan kedua orang tua. Kemurkaan-Nya juga terletak pada kemurkaan mereka (Al-Hadits)

Apabila engkau ingin Allah memanjangkan umurmu, maka bahagiakanlah kedua orang tuamu (Imam Ja'far Shiddiq)


Ibu ... betapa indah dan sucinya kata ini. Kata yang membawa wanginya keramahan dan cinta kasih ke dalam jiwa, dan membuat kita merasakan kehangatan dan kemurniannya.

Dunia Barat sekarang baru menemukan nilai mulia Ibu, sedangkan umat Islam telah berabad-abad mempercayai kedudukannya yang mulia berdasarkan ajaran Ilahi melalui Islam. Islam percaya pada nilai ibu yang luar biasa, dan telah menarik perhatian manusia melalui berbagai ungkapan dan pernyataan. Bahkan Islam menganggap bahwa mencapai tahap akhir kesempurnaan, yakni sorga, tergantung pada kerelaan Ibu. Nabi Muhammad saw bersabda, "Sorga terletak di bawah telapak kaki ibu."

Dalam memuliakan kedudukan ibu, Islam tidak membatasi diri pada nasihat, perintah dan anjuran lisan. Tetapi Islam juga memandang perintah dan larangan ibu sebagai suatu kewajiban untuk dilaksanakan dalam hal-hal tertentu. Misalnya, dalam perkara yang disunnahkan Allah, tetapi berlawanan dengan larangan ibu, maka anak-anak dinasihati untuk menaati larangan ibu mereka.

Apabila seorang anak ingin berpuasa sunnah, atau melakukan perjalanan yang disunnahkan, tetapi ibunya melarangnya, maka wajiblah bagi si anak untuk menaati ibunya. Apabila anak itu melawan kehendak ibunya, maka bukan saja ia tidak memperoleh pahala karena amalnya itu, melainkan ia justru memperoleh dosa dikarenakan penolakannya untuk menaati ibunya.

Perkara lain dimana perintah ibu dihormati sebanding dengan perintah Allah ialah apabila perintah Allah berlawanan dengan larangan ibu, dengan syarat bahwa perbuatan itu tidak termasuk dalam perintah yang wajib seperti shalat fardhu atau puasa Ramadhan. Misalnya dalam masalah jihad, orang yang mampu berperang harus ikut serta dalam pertempuran. Tetapi apabila seorang muda memenuhi semua persyaratan untuk pergi jihad, kecuali bahwa ibunya tidak mengizinkannya pergi (dengan syarat bahwa keabsenannya tidak membahayakan umat Islam), maka ia boleh untuk tidak ikut dalam peperangan semata-mata karena larangan ibunya.

Seorang lelaki datang kepada Nabi seraya berkata, "Wahai Nabi Allah! Saya muda dan kuat, siap bertindak dan berbakti, dan ingin sekali pergi ke medan jihad untuk kemajuan Islam! Tetapi ibu saya tidak membiarkan saya meninggalkannya untuk pergi berperang." Nabi yang mulia bersabda, "Pergilah tinggal bersama ibumu. Saya bersumpah kepada Tuhan yang memilih saya sebagai Nabi, bahwa pahala yang engkau dapatkan untuk melayaninya meskipun hanya semalam, dan membahagiakannya dengan kehadiranmu, jauh lebih besar dari pahala perang jihad selama satu tahun."

Islam memandang penghormatan kepada orang tua dan pelaksanaan hak-hak mereka sebagai kewajiban manusia terbesar setelah perintah Ilahi. Al-Quran mengatakan dalam hubungan ini, "Bersyukurlah kamu kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu." (QS 31:14) Perlu diperhatikan bahwa di sini Allah Ta'ala, segera setelah menyebut hak-Nya sendiri, menyebutkan hak kedua orang tua.

Seorang lelaki datang kepada Nabi seraya berkata, "Wahai Nabi Allah! Tunjuki saya, kepada siapa saya mesti berbuat baik untuk mendapatkan manfaat yang sempurna atas amal kebajikan saya?" Beliau bersabda, "Berbuat baiklah kepada ibumu." Lelaki itu bertanya dua kali lagi, "Dan sesudah beliau?" Nabi menjawab, "Kepada ibumu." Lelaki itu bertanya, "Kepada orang lain siapakah saya mesti berbuat baik pula?" Nabi bersabda, "Kepada ayahmu."

Seorang lelaki bertanya kepada Imam Ja'far Shadiq (AS): "Apakah ada nikmat yang diperintahkan Allah dalam al-Quran untuk diperlihatkan kepada orang tua?" Imam menjawab, "Itu berarti bahwa engkau harus bersikap baik dan terpuji dalam pergaulan dengan mereka. Tidak memaksa mereka meminta pertolonganmu di saat perlu, bahkan justru engkau berusaha memenuhi keperluan mereka sebelum mereka memintamu."
Allah berfirman, "Engkau sekali pun tak akan sampai pada kebaktian (yang sempurna), sebelum engkau menafkahkan sebagian harta yang engkau cintai. Dan apa pun yang engkau nafkahkan, maka sungguh Allah mengetahuinya." (QS. 3:92)
"Jika orang tuamu menyebabkan perasaan tidak senang pada dirimu, maka janganlah engkau (membalas dengan) membuat mereka tak senang. Jika mereka memukulmu, engkau tak boleh (membalas dengan) menyakiti mereka. Bahkan engkau mesti mendoakan mereka, dan tidak melemparkan apapun selain pandangan cinta dan kasih sayang kepada mereka. Suaramu tidak boleh lebih keras dari mereka, dan engkau tidak boleh berjalan mendahului mereka!"

Imam Ahlubait yang ke-4 berpesan, "Adalah hak ibumu agar engkau mengingatnya bahwa ia telah mengandungmu dalam rahimnya selama berbulan-bulan. Memeliharamu dengan sari hidupnya. Mengerahkan semua yang ada padanya untuk memelihara dan melindungimu. Ia tidak mempedulikan rasa laparnya, sedangkan engkau diberinya makan sepuas-puasnya. Ia mengalami rasa haus sementara dahagamu dipuaskan. Ia mungkin tak berpakaian, tapi engkau diberinya baju yang baik-baik. Ia mungkin berdiri di panas terik matahari, sementara engkau berteduh. Ia meninggalkan tidurnya yang enak demi tidurmu yang pulas. Ia melindungimu dari panas dan dingin. Ia menanggung semua kesusahan itu demi engkau! Maka engkau layak untuk mengetahui bahwa engkau tak akan mampu bersyukur kepada ibumu secara pantas, kecuali Allah menolongmu dan memberikan keridhaan untuk membalas budinya."

Hak-hak istimewa yang diberikan Islam bagi seorang ibu, adalah karena susah payah yang telah ditanggungnya dalam mengembangkan kehidupan rohani dan jasmani anak-anaknya. Sehingga hanya para ibu yang melaksanakan tugas keibuannya dengan baik, membesarkan dan mendidik anak menjadi bergunalah, yang layak mendapatkan kedudukan dan hak istimewa tersebut. Sedangkan ibu yang justru memilih untuk bersenang-senang, berfoya-foya meninggalkan kewajibannya mengasuh dan mendidik anak, serta membiarkan anaknya di panti asuhan, sesungguhnya telah melakukan kezaliman yang tak termaafkan terhadap anaknya. Oleh karena itu tidaklah pantas ia mengharapkan keutamaan akan hak dan kedudukan Ibu.

Ibu-ibu semacam itu bukan saja merusak kebahagiaan anak-anak mereka, tetapi juga memberi pukulan pada masyarakat disebabkan kegagalan mereka mengambil manfaat dari anak-anaknya. Seorang anak yang tidak belajar dari ajaran cinta kasih ibunda, dan yang emosinya tidak dikembangkan dalam pangkuan ibunda, tidak dapat diharapkan untuk menunjukkan kasih sayang di tahun-tahun berikutnya. Lihatlah betapa pribadi-pribadi besar dunia mendapatkan keberhasilan terutama dari pengaruh ibu. Ibu mereka telah melaksanakan tugas penting dan memainkan peranan yang berhasil dalam membina anak-anaknya.

Jenius besar Islam, almarhum Murtadha Anshari, meratap dengan pedih ketika ibunya meninggal. Sambil berlutut di sisi jenasah ibunya, ia menangis dan mencurahkan air mata. Untuk menghibur dan menyatakan simpatinya, salah seorang muridnya mengatakan, "Tidak pantas engkau yang berkedudukan alim bersikap resah dan mengucurkan air mata, hanya karena kematian seorang perempuan tua." Ulama besar itu mengangkat kepalanya dan menjawab, "Sepertinya engkau belum menyadari kedudukan mulia Ibu. Saya berhutang budi atas kedudukan saya kepada pendidikan yang diberikan Ibu pada saya, dan kerja kerasnya. Ibulah yang meletakkan dasar kemajuan saya, mengantarkan saya pada kedudukan sebagai ulama sekarang ini."

Inilah contoh pengaruh ibu kepada anaknya. Betapa banyak ibu yang usahanya sekarang telah menghasilkan suatu sumbangan besar bagi kemajuan para ilmuwan terkenal dunia.

Thomas Alfa Edison bukan saja gagal menunjukkan bakatnya di masa kanak-kanak, tetapi juga kelihatan sangat bodoh, karena ia mempunyai kepala yang terlalu besar. Keluarga dan kenalannya menganggap ia menderita penyakit kelemahan mental. Pertanyaan-pertanyaan aneh yang sekali-kali ditanyakannya semakin menguatkan anggapan mereka. Bahkan di sekolah, yang hanya dikunjunginya tidak lebih dari tiga bulan, ia dijuluki "si tolol", karena pertanyaan-pertanyaannya yang berulang kali kepada guru.

Pada suatu hari ia pulang ke rumah dengan berlinang air mata, lalu mengadukan kepada ibunya. Sang ibu membimbing tangan putranya kembali ke sekolah. Kepada guru itu, sang ibu berkata: "Anda tidak tahu apa yang Anda katakan. Anak saya lebih cerdas dari Anda! Inilah letak persoalannya. Sekarang saya akan membawanya pulang, akan saya urus sendiri pendidikannya, dan akan saya perlihatkan kepada Anda, bakat apa sebenarnya yang tersimpan padanya!" Semenjak itu, sang ibu memenuhi janjinya untuk mendidik sendiri putranya itu.

Seorang sahabat keluarga Edison menulis berkaitan dengan ini, "Kadang-kadang ketika melewati rumah Edison, saya melihat ibu Edison dan putranya duduk-duduk di ruang depan, sementara sang ibu mengajari anaknya. Tempat itu menjadi ruang kelas dan Edison adalah satu-satunya murid di situ. Isyarat dan gerakan-gerakannya seperti ibunya, ia sangat mencintai ibunya! Ketika ibunya berkata, Edison mendengarkan penuh perhatian seakan-akan perempuan itu lautan ilmu."

Sebagai hasil usaha ibunya, sebelum usia 9 tahun, Edison telah membaca karya-karya besar Gibbon, Hume, Plato dan Humerus! Ibu yang bijaksana dan cerdas itu juga mengajarkan geografi, sejarah, matematika dan akhlak. Edison hanya bersekolah selama tiga bulan, dan semua yang dipelajarinya di masa anak-anak didapat dari ibunya. Ibu itulah guru yang sesungguhnya, karena asuhannya bukan saja bagi pendidikan anaknya, tetapi juga untuk menemukan bakat-bakat yang alami dan mengembangkannya. Kemudian ketika Edison menjadi terkenal, ia berkata:

"Di masa kanak-kanak, saya menyadari betapa bagusnya tokoh seorang Ibu. Ketika guru itu menjuluki saya "tolol", Ibu membela saya. Apabila Ibu tidak mendorong saya, mungkin saya tidak akan menjadi penemu. Menurut Ibu saya, jika orang-orang yang salah jalan setelah dewasa telah mendapatkan pendidikan dan diasuh sebagaimana mestinya, mereka tidak akan menjadi parasit yang tidak berguna dalam masyarakat. Pengalaman yang telah dikumpulkannya sebagai seorang guru telah mengajarkan kepadanya banyak rahasia watak manusia. Sebelumnya saya selalu tak peduli, dan apabila bukan karena perhatian Ibu, kemungkinan besar saya telah menyeleweng dari jalan yang semestinya! Namun ketabahan Ibu dan kebaikannya, merupakan faktor kuat yang menghalangi saya dari penyelewengan dan kesesatan."

Dengan kepribadian, simpati dan usahanya, para ibu dapat meletakkan dasar kehidupan bahagia bagi anak-anaknya dan melatih mereka untuk masa depan. Sedangkan para ibu yang teledor dan mementingkan diri sendiri, dengan tindakan salahnya, justru menyeret anak-anaknya kepada kepedihan dan nestapa.

Islam dengan jelas menyatakan bahwa salah satu penyebab utama penyelewengan anak-anak, adalah penyelewengan orang tua sendiri. Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa setiap anak memasuki dunia ini dengan wataknya yang suci, siap menerima tauhid dan kebaikan moral, tetapi orang tuanya justru menyeret anak-anak mereka dengan pendidikan ke arah penyimpangan moral, dan kadang juga membawa ke jurang kekafiran dan syirik. Karena pengaruh orang tua kepada anak-anak yang tak terhindarkan inilah, maka Rasul SAW dan para Imam AS mengajukan banyak saran kepada para orang tua, dan sangat menghargai usaha-usaha mereka.

Nabi Muhammad SAW bersabda, "Hormatilah anak-anakmu. Ajari mereka akhlak yang baik, agar engkau mendapatkan keridhaan Ilahi dan keselamatan."

Beliau SAW bersabda pula, "Jika engkau melatih anak-anakmu berperilaku baik dan memberi pendidikan yang semestinya, maka hal itu lebih baik daripada memberikan sebagian hartamu setiap harinya di jalan Allah."

Hadits lain menyebutkan bahwa: "apabila seseorang meninggal, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga hal: 1. Jika ia berbuat amal yang selalu membawa manfaat bagi manusia, 2. Jika ia meninggalkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat, 3. Jika ia meninggalkan anak saleh yang mendoakannya."

Apabila orang tua melaksanakan kewajibannya dengan mendidik anak-anaknya dengan semestinya, maka mereka mendapatkan manfaat sepenuhnya dari hak-hak mereka sebagai orang tua, dan mendapatkan keuntungan berupa keturunan yang baik. Di sini Islam menyeru kepada anak-anak dan menyuruh mereka untuk berbuat baik kepada orang tua.

Imam Ja'far Shadiq AS berkata, "Berlaku baik dan sopan kepada orang tua merupakan bukti ketakwaan seseorang. Karena tak ada amal yang disenangi Allah sebagaimana menghormati orang tua."

Nabi SAW bersabda, "Pandangan kasih sayang seorang anak kepada orang tuanya dipandang sebagai suatu ibadah."

Imam Muhammad Baqir AS berkata, "Ada empat hal yang kepemilikannya akan memberikan pada pemiliknya rumah di sorga melalui keridhaan-Nya: 1. Mengasuh anak yatim dan memberikan tempat perlindungan kepada mereka, 2. Berkasih sayang kepada yang tua renta dan tak berdaya, 3. Berbaik hati dan berperilaku ramah kepada orang tua, 4. Berhati lembut kepada bawahan dan pelayan."

Islam juga memandang bahwa kebajikan kepada Ibu sebagai suatu jalan yang bermanfaat untuk menghapus dosa seseorang, dan memandang kebaikan kepada Ibu sebagai suatu sarana untuk menyelamatkan dari dosa dan menggapai keridhaan Allah.

Seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW seraya mengeluh, "Wahai Nabi! Saya telah berbuat banyak dosa dalam hidup ini. Saya telah melakukan segala macam perbuatan jahat. Apakah pintu taubat masih terbuka untuk saya? Apakah Allah masih akan menerima taubat saya?" Nabi bertanya, "Apakah orang tuamu masih hidup?" Lelaki itu mengatakan, "Ya. Ayah saya masih hidup!" Nabi lalu berkata, "Maka pergilah kepadanya dan berbuat baiklah kepadanya (agar dosamu diampuni Allah)." Lelaki itu pamit kemudian keluar. Kemudian Nabi bersabda, "Saya berharap ibunya masih hidup!" [Yang beliau maksudkan ialah bahwa apabila ibunya masih hidup untuk menerima kebajikan anaknya, maka dosa-dosanya akan lebih cepat diampuni.]

Seorang lelaki datang kepada Nabi seraya berkata, "Wahai Nabi Allah! Saya dianugerahi Allah seorang anak perempuan. Saya membesarkannya hingga ia dewasa. Suatu hari saya pakaikan baju padanya, saya hiasi dia, lalu saya membawanya ke sebuah sumur dan melemparkannya ke sana! Kata terakhir yang saya dengar diucapkan oleh anak tak berdosa itu adalah, 'Wahai ayahku tersayang!' Sekarang saya bertaubat atas apa yang telah saya lakukan. Bagaimana saya bisa menebus dosa saya? Apa yang harus saya kerjakan untuk menebus dosa itu?" Nabi SAW bertanya, "Apakah ibumu masih hidup?" Lelaki itu menjawab, "Tidak." Nabi bertanya, "Apakah bibimu masih hidup?" Lelaki itu mengatakan, "Ya." Nabi lalu bersabda, "Ia (bibimu) sama dengan Ibu. Pergilah berbuat baik padanya, dengan demikian dosamu akan diampuni!"

Dalam Islam, kemarahan dan ketidakpuasan Ibu dipandang sebagai sarana datangnya bencana dan kehancuran. Dalam beberapa riwayat telah dikatakan secara gamblang bahwa orang yang durhaka terhadap orang tuanya tidak akan pernah mencium bau sorga dan tidak akan mencapai kebahagiaan.

Seorang pemuda di masa Nabi telah jatuh sakit dan terbaring tak berdaya di tempat tidur. Nabi pergi menjenguknya dan mendapatkan ia sakti parah di saat terakhirnya. Nabi berkata padanya, "Akuilah keesaan Allah dan ucapkan kalimat syahadat: Laa ilaaha illallah!" Pemuda yang sakit itu menggagap dan tidak dapat mengucapkan kalimat suci. Nabi bertanya pada seorang perempuan yang hadir, "Apakah ia mempunyai ibu?" Perempuan itu menjawab, "Ya. Saya adalah ibunya." Nabi bertanya lagi, "Apakah engkau tidak rela kepadanya?" Perempuan itu mengiyakan, "Ya. Saya tidak rukun dengan dia selama enam tahun!" Nabi meminta perempuan itu memaafkan kesalahan putranya. Perempuan itu berujar, "Wahai Nabi Allah! Saya akan melakukannya demi engkau." Kemudian Nabi menoleh kepada pemuda itu sambil berkata, "Sekarang ucapkanlah Laa ilaaha illallah." Pemuda itu sekarang dengan lidah yang bebas mengucapkan kalimat suci itu.

Imam Shadiq AS berkata, "Orang yang ingin mengalami kemudahan saat sakaratul maut, hendaklah berbuat kebaikan kepada keluarganya dan memperlakukan ibunya dengan ramah. Sehingga sakaratul maut akan menjadi ringan baginya, dan dalam kehidupan ia tak akan menderita kenistaan."

Suatu hal yang perlu diingat ialah pada tanggal 22 Desember telah dipilih sebagai Hari Ibu, dimana diadakan berbagai acara peringatan, puisi-puisi ditulis, hadiah-hadiah diberikan kepada para ibu oleh anak-anaknya. Tentu saja hal itu bagus, tetapi tidaklah cukup acara-acara dan pemberian hadiah itu sebagai penghargaan terhadap usaha para ibu. Haruslah diusahakan juga untuk memberikan penjelasan kepada para ibu tentang tanggung jawab besar mereka, menyadarkan mereka bahwa pengelolaan suatu keluarga dan pendidikan anak-anak termasuk pekerjaan yang paling penting, dibandingkan dengan pekerjaan apa pun.

Ibu-ibu harus berusaha memberikan kepada masyarakat anak-anak yang terdidik dengan baik dan mengasuh secara khusus keimanan dan keyakinan mereka. Karena pengalaman telah menunjukkan bahwa anak yang tak beriman bukan saja tak berguna, tetapi juga kadang merugikan dan berbahaya. Kita telah sering membaca tentang anak-anak yang memukul ibu atau ayah mereka, bahkan ada yang membunuhnya. Mengapa demikian?

Pengalaman mengatakan pada kita bahwa tak ada alasan lain bagi pelanggaran dan kejahatan semacam itu, selain kekurangan sandaran iman dan dasar kerohanian. Jika para orang tua ingin mendapatkan kemaslahatan dari anak-anaknya di dunia dan di akhirat, mereka harus memberi perhatian penuh kepada urusan keagamaan dan keimanan anak-anak itu, sebagaimana mereka memperhatikan kesehatan dan pendidikan mereka. Anak-anak pun mesti mengetahui kewajiban mereka terhadap orang tuanya, mengingat bahwa kebahagiaan anak yang sebenarnya adalah tergantung pada keridhaan orang tua.

Seorang lelaki bernama Zakaria ibn Ibrahim berkisah :

Dahulu saya seorang Kristen yang kemudian memeluk Islam dan melakukan ibadah haji ke Makkah. Saya beruntung mendapat kehormatan untuk bertemu dengan Imam Shadiq AS dan mengatakan kepadanya bahwa saya baru masuk Islam dari agama Kristen. Imam bertanya: "Keuntungan apa yang engkau dapatkan dari Islam setelah engkau memeluknya?" Saya mengutip ayat al-Quran yang menyatakan: "Sebelumnya engkau tidak mengetahui apakah al-Kitab itu dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Quran itu cahaya yang Kami tunjuki dengannya siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami (QS. 42:52)"

Imam itu berkata: "Demikianlah Allah memberi petunjuk kepadamu dan menerangi hatimu dengan cahaya-Nya." Kemudian Imam mendoakan saya agar mendapatkan petunjuk yang lebih banyak. Saya ceritakan pada Imam bahwa orang tua dan kerabat saya beragama Kristen, sedang ibu saya buta. Apakah pantas bagi saya untuk tetap hidup bersama mereka dan bercampur gaul? Imam bertanya, "Apakah mereka makan daging babi?" Saya menjawab, "Tidak." Lalu Imam bersabda, "Tidak ada salahnya engkau bercampur gaul dengan mereka," seraya menambahkan, "Rawatlah ibumu dan berbuat baiklah kepadanya. Apabila ia meninggal, engkau sendirilah yang mengurus penguburannya."

Ketika saya kembali dari Makkah dan tiba di Kufah, saya banyak menunjukkan kasih sayang kepada ibu saya sesuai dengan perintah Imam. Saya sendiri yang memberinya makan, mengatur pakaiannya, menyisir rambutnya dan melayaninya dalam berbagai hal. Ketika ibu saya melihat perubahan dalam perilaku saya, beliau berkata: "Anakku, di waktu engkau menganut agama kami, engkau tidak berbuat seperti ini. Apa alasan kasih sayang yang sebesar ini sejak engkau memeluk agama Islam?" Saya menjawab, "Seorang cucu Rasul telah memerintahkan saya untuk berbuat seperti ini." Ibu saya bertanya, "Apakah ia Nabimu?" Saya katakan, "Tidak. Tak ada nabi lain lagi setelah Nabi Muhammad. Ia adalah seorang keturunan Nabi."

Ibu saya berkata, "Perintah ini adalah perintah seluruh nabi-nabi, tetapi agamamu lebih baik dari agama saya. Tunjuki saya untuk masuk Islam." Saya mengajarkannya jalan Islam lalu ibu pun masuk Islam. Ibu melakukan sholat zhuhur, ashar, maghrib dan isya, kemudian ibu jatuh sakit di tengah malam. Saya tinggal di sisi ranjang dan merawatnya. Ibu berkata, "Anakku! Ulangilah untuk saya kalimat syahadat Islam." Saya melakukannya dan ibu mengikutinya, kemudian meninggal di malam itu juga. Keesokan harinya penguburan dilakukan oleh sekelompok Muslim sesuai dengan cara Islam, dan saya menguburkannya dengan tangan saya sendiri.

Meninggalnya seorang ibu merupakan kehilangan yang tak dapat ditebus, akan tetapi tatanan Penciptaan menurut Sunnah Ilahi menetapkan bahwa setiap makhluk pasti akan meninggalkan dunia ini. Manusia harus puas dan menyerah kepada kehendak Ilahi dan takdir-Nya. Namun ada kewajiban tertentu yang harus dilaksanakan anak setelah ibunya meninggal, apabila mereka menghasratkan kebahagiaan mereka sendiri. Dengan kata lain, hak orang tua tidak terhenti dengan kematian mereka, dan hak ini mesti dilaksanakan oleh anak-anak mereka setelah meninggalnya orang tua mereka.

Imam Ahlubayt yang ke-5 berkata, "Seorang anak mungkin berkebajikan kepada orang tuanya selama hidup orang tuanya. Tetapi mungkin ia tidak membalas hutang budinya kepada mereka setelah mereka meninggal, tidak pula berdoa untuk keselamatannya dan melupakannya sama sekali. Dalam hal ini, anak-anak seperti itu akan digolongkan Allah kepada kategori orang yang berperangai jelek terhadap orang tuanya."

Apa yang dapat disimpulkan dari ajaran Islam ini dan dari riwayat-riwayat Islam lainnya ialah bahwa apabila seorang ayah atau ibu terikat hutang, anak-anaknya mesti berusaha membayarkan hutangnya dan mendoakan keselamatannya. Ia harus bersedekah atas nama mereka, memberi makan fakir miskin untuk menyenangkan hati mereka, memperhatikan dan membelai anak yatim, dan melakukan amal baik semacam itu. Pahala amal semacam itu akan diberikan kepada orang tuanya maupun anak-anaknya, dan Allah akan memberkati dan meridhai mereka untuk amal kebajikan dan sedekah itu.

Konsep Kebahagiaan dalam Islam

Kondisi senantiasa bahagia dalam situasi apa pun, inilah. yang senantiasa dikejar oleh manusia. Manusia ingin hidup bahagia. Hidup tenang, tenteram, damai, dan sejahtera. Sebagian orang mengejar kebahagiaan dengan bekerja keras untuk menghimpun harta. Dia menyangka bahwa pada harta yang berlimpah itu terdapat kebahagaiaan. Ada yang mengejar kebahagiaan pada tahta, pada kekuasaan. Beragam cara dia lakukan untuk merebut kekuasaan. Sehab menurtnya kekuasaan identik dengan kebahagiaan dan kenikmatan dalam kehidupan. Dengan kekuasaan sesrorang dapat berbuat banyak. Orang sakit menyangka, bahagia terletak pada kesehatan. Orang miskin menyangka, bahagia terletak pada harta kekayaan. Rakyat jelata menyangka kebahagiaan terletak pada kekuasaan. Dan sangkaan-sangkaan lain.

Lantas apakah yang disebut"bahagia' (sa'adah/happiness)?

Selama ribuan tahun, para pemikir telah sibuk membincangkan tentang kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sesuatu yang ada di luar manusia, dan bersitat kondisional. Kebahagiaan bersifat sangat temporal. Jika dia sedang berjaya, maka di situ ada kebahagiaan. Jika sedang jatuh, maka hilanglah kebahagiaan. Maka. menurut pandangan ini tidak ada kebahagiaan yang abadi dalam jiwa manusia. Kebahagiaan itu sifatnya sesaat, tergantung kondisi eksternal manusia. Inilah gambaran kondisi kejiwaan masyarakat Barat sebagai: "Mereka senantiasa dalam keadaan mencari dan mengejar kebahagiaan, tanpa merasa puas dan menetap dalam suatu keadaan.

Islam menyatakan bahwa "Kesejahteraan' dan "kebahagiaan" itu bukan merujuk kepada sifat badani dan jasmani insan, bukan kepada diri hayawani sifat basyari; dan bukan pula dia suatu keadaan hayali insan yang hanva dapat dinikmati dalam alam fikiran belaka.

Keselahteraan dan kebahagiaan itu merujuk kepada keyakinan diri akan hakikat terakhir yang mutlak yang dicari-cari itu — yakni: keyakinan akan Hak Ta'ala — dan penuaian amalan yang dikerjakan oleh diri berdasarkan keyakinan itu dan menuruti titah batinnya.'

Jadi, kebahagiaan adalah kondisi hati yang dipenuhi dengan keyakinan (iman) dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya itu. Bilal bin Rabah merasa bahagia dapat mempertahankan keimanannya meskipun dalam kondisi disiksa. Imam Abu Hanifah merasa bahagia meskipun harus dijebloskan ke penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat menjadi hakim negara. Para sahabat nabi, rela meninggalkan kampung halamannya demi mempertahankan iman. Mereka bahagia. Hidup dengan keyakinan dan menjalankan keyakinan.

Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannva. Sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Apakah kamu tidak memahaminya?

Menurut al-Ghazali, puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil mencapai ma'rifatullah", telah mengenal Allah SWT. Selanjutnya, al-Ghazali menyatakan:

"Ketahuilah bahagia tiap-tiap sesuatu bila kita rasakan nikmat, kesenangan dan kelezatannya mara rasa itu ialah menurut perasaan masing-masing. Maka kelezatan (mata) ialah melihat rupa yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala anggota yang lain dan tubuh manusia.

Ada pun kelezatan hati ialah ma'rifat kepada Allah, karena hati dijadikan tidak lain untuk mengingat Tuhan. Seorang rakyat jelata akan sangat gembira kalau dia dapat herkenalan dengan seorang pajabat tinggi atau menteri; kegembiraan itu naik berlipat-ganda kalau dia dapat berkenalan yang lebih tinggi lagi misalnya raja atau presiden.

Maka tentu saja berkenalan dengan Allah, adalah puncak dari segala macam kegembiraan. Lebih dari apa yang dapat dibayangkan oleh manusia, sebab tidak ada yang lebih tinggi dari kemuliaan Allah. Dan oleh sebab itu tidak ada ma'rifat yang lebih lezat daripada ma'rifatullah.

Ma'rifalullah adalah buah dari ilmu. Ilmu yang mampu mengantarkan manusia kepada keyakinan. bahwa tiada Tuhan selain Allah" (Laa ilaaha illallah). Untuk itulah, untuk dapat meraih kebahagiaan yang abadi, manusia wajib mengenal Allah. Caranya, dengan mengenal ayat-ayat-Nya, baik ayat kauniyah maupun ayat qauliyah.

Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang memerintahkan manusia memperhatikan dan memikirkan tentang fenomana alam semesta, termasuk memikirkan dirinya sendiri.

Disamping ayat-ayat kauniyah. Allah SWT juga menurunkan ayat-ayat qauliyah, berupa wahyu verbal kepada utusan-Nya yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw. Karena itu, dalam QS Ali Imran 18-19, disebutkan, bahwa orang-orang yang berilmu adalah orang-orang yang bersaksi bahwa "Tiada tuhan selain Allah", dan bersakssi bahwa "Sesungguhnya ad-Din dalam pandangan Allah SWT adalah Islam."

Inilah yang disebut ilmu yang mengantarkan kepada peradaban dan kebahagiaan. Setiap lembaga pendidikan. khususnya lembaga pendidikan Islam. harus mampu mengantarkan sivitas akademika-nya menuju kepada tangga kebahagiaan yang hakiki dan abadi. Kebahagiaan yang sejati adalah yang terkait antara dunia dan akhirat.

Kriteria inilah yang harusnya dijadikan indikator utama, apakah suatu program pendidikan (ta'dib) berhasil atau tidak. Keberhasilan pendidikan dalam Islam bukan diukur dari berapa mahalnya uang hayaran sekolah; berapa banyak yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri dan sebagainya. Tetapi apakah pendidikan itu mampu melahirkan manusia-manusia yang beradab yang mengenal Tuhannya dan beribadah kepada Penciptanya.

Manusia-manusia yang berilmu seperti inilah yang hidupnya hahagia dalam keimanan dan keyakinan: yang hidupnya tidak terombang-ambing oleh keadaan. Dalam kondisi apa pun hidupnya bahagia, karena dia mengenal Allah, ridha dengan keputusanNya dan berusaha menyelaraskan hidupnya dengan segala macam peraturan Allah yang diturunkan melalui utusan-Nya.

Karena itu kita paham, betapa berbahayanya paham relativisme kebenaran yang ditaburkan oleh kaum liberal. Sebab, paham ini menggerus keyakinan seseorang akan kebenaran. Keyakinan dan iman adalah harta yang sangat mahal dalam hidup. Dengan keyakinan itulah, kata Igbal, seorang Ibrahim a.s. rela menceburkan dirinya ke dalam api. Penyair besar Pakistan ini lalu bertutur hilangnya keyakinan dalam diri seseorang. lebih buruk dari suatu perbudakan.

Sebagai orang Muslim, kita tentu mendambakan hidup bahagia semacarn itu; hidup dalam keyakinan: mulai dengan mengenal Allah dan ridha, menerima keputusan-keputusan-Nva, serta ikhlas menjalankan aturan-aturan-Nya. Kita mendambakan diri kita merasa bahagia dalam menjalankan shalat, kita bahagia menunaikan zakat, kita bahagia bersedekah, kita bahagia menolong orang lain, dan kita pun bahagia menjalankan tugas amar ma'ruf nahi munkar.

Dalam kondisi apa pun. maka "senangkanlah hatimu!" Jangan pernah bersedih.

"Kalau engkau kaya. senangkanlah hatimu! Karena di hadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit melalui hartamu.

"Dan jika engkau fakir miskin, senangkan pulalah hatimu! Karena engkau telah terlepas dari suatu penyakit jiwa, penyakit kesombongan yang sering menimpa orang-orang kaya. Senangkanlah hatimu karena tak ada orang yang akan hasad dan dengki kepadamu lagi, lantaran kemiskinanmu..."

"Kalau engkau dilupakan orang, kurang masyhur, senangkan pulalah hatimu! Karena lidah tidak banyak yang mencelamu, mulut tak banyak mencacimu..."

Mudah-mudahan. Allah mengaruniai kita ilmu yang mengantarkan kita pada sebuah keyakinan dan kebahagiaan abadi, dunia dan akhirat. Amin.

Sumber : http://www.pesantrenvirtual.com

20 April 2009

18 Kiat Membahagiakan Istri

18 Kiat Membahagiakan Istri

Dalam rangka mengokohkan hubungan kekeluargaan dikalangan kaum Muslimin dan menyebarkan tuntunan Islam di dalam pembinaan keluarga, Asosiasi Pelajar Islam di Universitas Alberta, Kanada menerbitkan sebuah ikhtisar berbahasa Inggris terjemahan dari buku yang ditulis dalam bahasa Arab oleh Syaikh Muhammad Abdul Halim Hamid, seorang Ulama asal Mesir alumni Universitas Islam Madinah, Madinah Munawaroh, Saudi Arabia. Buku tersebut adalah How To Make Your Wife Happy (Bagaimana Membahagiakan Istri Anda)
Buku ini adalah salah satu buku terbaik yang pernah penulis baca yang membahas masalah ini. Di dalamnya disajikan dengan lengkap dan rinci, bagaimana cara memenuhi hak dan menunaikan kewajiban kepada istri di dalam aktifitas sehari-hari.
Ikhtisar di bawah ini menjelaskan tanggungjawab utama seorang suami berikut contoh-contoh adab atau prilaku apa yang selayaknya dan seharusnya dilakukan oleh seorang suami terhadap istrinya. Setiap point yang disebutkan di sini, didukung oleh Al Quran dan Assunnah dan prilaku para sahabat, tetapi karena terbatasnya kolom yang tersedia, dalil-dalil tersebut tidak dapat kami sebutkan di sini.
Banyak buku yang hanya membahas kewajiban istri terhadap suami. Sementara pada kenyataannya permasalahan rumah tangga bukan hanya disebabkan oleh tidak terpenuhinya hak-hak suami, tetapi juga dikarenakan banyaknya suami yang belum memenuhi kewajibannya dan menunaikan hak-hak para istrinya. Tulisan ringkas yang diilhami dari ikhtisar yang kami sebutkan di atas ini insyaAllah menjadi penyeimbang, agar para suami pun dapat mengetahui masalah yang penting ini, sehingga rumah tangga yang dibina menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan penuh rahmah.
Apa sajakah yang harus dilakukan Anda sebagai seorang suami kepada istri Anda agar dia berbahagia?

1. Perjumpaan yang manis
Setelah pulang dari bekerja, kuliah atau perjalanan jauh ataupun kegiatan lainnya yang telah memisahkan kalian, lakukan tips berikut ini:
Mulailah dengan salam/sapaan yang baik
Dimulai dari “Assalamu’alaikum” sambil menyunggingkan senyum, dan ikhlaskan hati Anda dan berdoalah kepada Allah untuk istri Anda tersayang. Salam dan senyum adalah sunnah, sedang mendoakan istri adalah kewajiban Anda.
Jabat tangannya kalau perlu cium juga pipinya dan tunda dulu niat Anda untuk menyampaikan berita yang sekiranya tidak akan mengenakkan hatinya.

2. Ucapkan perkataan yang baik
Dalam bertutur kata dengan istri Anda, pilih kata-kata yang berdampak positif dan hindari yang berakibat negatif. Agar istri Anda mengerti apa yang Anda katakan, ucapkan setiap perkataan dengan jelas dan ulangi kata-kata Anda bila perlu.
Berilah perhatian ketika Anda mendengarkan ucapan atau ceritanya. Hal ini akan membuatnya merasa dihargai, sebagaimana Anda juga merasa dihargai, apabila perkataaan Anda didengarkan dengan baik.
Panggillah dia dengan panggilan mesra yang disukainya, misalnya “sweet heart, honey, sayang, Sholihah dan panggilan mesra lainnya. Kebiasaan ini akan menambah kemesraan hubungan kalian.

3. Bersahabat dan santai
Jangan terlalu sibuk dengan urusan Anda sendiri, sediakan waktu untuk bercengkrama bersamanya. Sampaikan padanya kabar-kabar yang menyenangkan dan selalu ingatkan dia tentang kenangan indah bersamanya. Dalam hal ini jangan terlalu serius, karena akan membuat kaku suasana. Santailah sedikit, jangan perlakukan istri Anda seperti teman sejawat atau bawahan Anda di tempat kerja.

4. Permainan dan Selingan
Agar kehidupan rumah tangga Anda tidak terlalu monoton, selingi aktifitas Anda berdua dengan senda gurau dan pupuk selera humor Anda. Lakukan permainan dan perlombaan olahraga atau selainnya, ajak dia menonton pertunjukan atau hiburan yang halal dan jauhilah hal-hal yang haram dari pilihan hiburan Anda.

5. Membantunya dalam tugas kerumahtanggaan
Lakukan apa saja yang Anda bisa atau Anda sukai guna menolongnya melakukan tugas rumah tangga, terutama kalau dia sakit atau lelah.
Hal yang juga penting adalah membuatnya merasa dihargai, karena Anda tak pernah lupa memberi penghargaan atas kerja kerasnya di dalam menyelesaikan tugas rumah tangga.

6. Musyawarah
Biasakan bermusyawarah khususnya dalam memecahkan persoalan keluarga. Buat dia merasa, bahwa pendapatnya adalah amat penting bagi Anda. Oleh karena itu Anda harus mempelajari dan mendengarkan pendapatnya dengan seksama dan Anda harus rela meninggalkan pendapat Anda, serta mengikuti pendapatnya, bila pendapatnya itu benar dan lebih baik.
Berterima kasihlah kepadanya karena telah membantu Anda dengan pendapat yang dikemukakannya.

7. Ziarahi sesama Muslim
Pilih kerabat dan orang terdekat yang shalih untuk dikunjungi dengan tujuan membina hubungan baik dengannya. Banyak dampak positif dari mengunjungi kerabat dan orang-orang terdekat yang shalih (jangan sia-siakan waktu dalam kunjungan tersebut, gunakan kesempatan bertemu dengan mereka sebaik-baiknya)
Jangan lupa tekankan keharusan mempraktekkan Akhlak Islami di dalam kunjungan Anda.
Guna menjaga hubungan Anda berdua, jangan memaksanya mengunjungi seseorang atau keluarga yang membuatnya tidak nyaman dengan kunjungan itu.

8. Apa yang harus dikerjakan sebelum dan ketika melakukan perjalanan jauh
Dalam menjalankan tugas Anda sebagai suami atau sebagai bagian dari kewajiaban profesi Anda di kantor/ di tempat kerja, kadangkala Anda harus melakukan perjalanan jauh, meninggalkan anak dan istri Anda. Sebelum melakukan perjalanan jauh hendaknya Anda memperhatikan hal-hal berikut:
- Ucapkan selamat tinggal yang mesra kepada anggota keluarga yang Anda tinggalkan, terutama istri Anda dan ucapkan nasihat-nasihat yang baik sebelum berangkat.
- Bacalah do’a safar.
- Mintalah istri Anda agar selalu mendoakan Anda ketika Anda tidak bersamanya.
- Tinggalkan untuk istri dan anak Anda uang dan kebutuhan keluarga yang cukup
- Pulang sesegera mungkin
- Bawalah oleh-oleh untuknya dan untuk anak-anak kesayangan Anda.
- Hindari pulang di waktu yang tidak diharapkan (ketika dia sedang nyenyak tidur) atau di waktu tengah malam.
- Bawalah istri Anda serta apabila mungkin.

9. Nafkah dalam bidang keuangan
Sebagai suami hendaknya Anda bijaksana di dalam membelanjakan uang sesuai dengan kemampuan finansial Anda. Anda tidak boleh pelit terhadap istri dengan uang Anda dan juga sebaliknya janganlah boros.
Anda akan mendapatkan pahala atas nafkah yang Anda berikan kepada keluarga yang menjadi tanggungan Anda, walaupun hanya sekadar sekerat roti yang diberikan kepada istri hasil dari keringat Anda sendiri (al-hadist).
Dalam rangka menjaga perasaan istri Anda, adalah sangat dianjurkan agar Anda memberinya uang sebelum dia memintanya.

10. Berbau harum dan berdandan
Ikuti sunnah mencukur rambut yang tumbuh di bagian sekitar kemaluan dan ketiak. Selain itu Anda juga diharapkan untuk selalu menjaga kebersihan dan kerapihan terutama bila Anda berduaan dengannya, Jangan sungkan-sungkan mengoleskan parfum ke tubuhnya ketika Anda hanya berduaan dengannya dan ketika dia tidak ingin ke luar rumah.

11. Hubungan seksual
Adalah kewajiban Anda untuk rutin membiasakannya bila Anda tidak berhalangan melakukannya (misalnya sakit dan lain-lain). Jangan lupa memulainya dengan “bismillah” dan ucapkan doa “allahumma janibnassyaithon…“. Masukkanlah kemaluan Anda di tempat yang selayaknya (jangan di anus) jangan lupa awali dulu dengan “pemanasan” dan sertakan kata-kata mesra. Lanjutkanlah sampai Anda memuaskan keinginan seksualnya (sampai istri Anda orgasme). Hendaknya Anda melakukannya dengan rileks tanpa beban dan perasaan sekadar menunaikan kewajiban dan sertailah cumbu rayu Anda dengan canda.
Kemudian perhatikan hal-hal penting berikut ini:
Jangan “mencampurinya” ketika datang bulan, karena perbuatan tersebut haram hukumnya.
Lakukan apapun yang Anda bisa, tapi jangan merusak suasana dengan menyentuh “rasa malunya dan bayangannya tentang keindahan hubungan seks”. Misalnya: melepaskan pakaian Anda sendiri dan membiarkannya menonton Anda bugil, tetapi hendaknya Anda berdua saling membukakan pakaian pasangan anda, tentu saja dibarengi canda dan rayuan.
Hindari posisi yang membahayakannya, seperti menekan dadanya dan posisi yang bisa menyumbat pernapasannya, terutama kalau Anda mempunyai badan yang berat.
Cari waktu yang cocok dan pertimbangkan segala sesuatunya karena kadangkala istri Anda sakit atau tidak fit karena letih.

13. Menjaga “Dapur Keluarga”
Setiap orang punya privasi yang tak boleh dilanggar. Rumah Tangga pun begitu juga, setiap anggotanya punya rahasia yang tidak pantas diketahui oleh orang lain. Oleh sebab itu, jangan sampai Anda mengungkapkan kepada orang lain informasi rahasia rumah tangga Anda, seperti rahasia ranjang, masalah pribadi istri Anda dan privasi lainnya.

14. Bantulah dia di dalam ketaatan kepada Allah
Salah satu tanggung jawab Anda sebagai seorang suami adalah Anda berkewajiban membantu istri di dalam ketaatan kepada Allah. Biasakanlah melakukan hal-hal berikut ini:
- Bangunkan istri Anda di sepertiga malam terakhir dan ajak dia menegakkan shalat Qiyamullail
- Ajari dia apa yang Anda ketahui dari Al Quran dan tafsirnya.
- Ajari dia “Dzikr” (cara untuk mengingat Allah dengan mencontoh Rasulullah) di pagi dan petang.
- Anjurkan istri Anda untuk membelanjakan uangnya di jalan yang diridhoiNya.
- Bawa dia serta ketika mengerjakan haji dan umrah, kalau Anda mampu.
Dalam rangka untuk menjaga sillaturrahim dengan keluarga istri Anda dan persaudaraan Islam dengan kerabat dan teman-temannya lakukan hal-hal berikut ini:
- Ajak dia untuk mengunjungi keluarga dan kerabatnya, terutama orang tuanya.
- Undang mereka untuk mengunjungi istri Anda dan sambutlah dan hidangkan kepada mereka jamuan yang terbaik.
- Beri mereka hadiah di waktu yang spesial, seperti hari Raya dan lain-lain.
- Ulurkan tangan ketika mereka membutuhkan dengan memberikan bantuan baik berupa uang maupun bantuan lainnya.
- Jaga hubungan baik dengan keluarganya setelah Anda ditinggalkan oleh istri Anda apabila dia meninggal dunia mendahului Anda, Dalam hal ini Anda sebagai seorang suami sangat dianjurkan untuk mengikuti sunnah dengan selalu melanjutkan pemberian apapun yang biasa dilakukan oleh mendiang istri kepada siapapun yang biasa diberi ketika hidupnya, terutama dari kalangan teman-temannya dan keluarganya.

15. Pembelajaran Nilai-nilai Islam dan Pemberian Nasihat
Tanggung jawab Anda sebagai suami yang lainnya adalah Anda berkewajiban memberi pelajaran kepada istri Anda di dalam hal-hal yang mencakup Dasar-dasar Islam, Tugas dan kewajibannya sebagai seorang Istri, Membaca dan menulis bahasa Arab, serta Hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan Wanita.
Anda juga harus mendorong dan mendukungnya untuk menghadiri majelis ta’lim, serta membelikannya buku-buku dan Majalah Islam, kaset-kaset, CD dan VCD yang memuat ceramah dan pelajaran Islam, guna melengkapi perpustakaan pribadi di rumah Anda. Ikuti terus perkembangannya dengan evaluasi yang rutin dan terus menerus, serta berilah nasihat dan spirit jika istri Anda mulai kendor semangat belajarnya.

16. Cemburu yang proporsional
Cemburu adalah fitrah. Bahkan seorang suami harus cemburu terhadap istrinya, tetapi jangan berlebihan (cemburu buta). Kadang hubungan suami istri jadi kurang enak, karena suami yang tidak punya rasa cemburu ataupun bahkan berlebihan mencemburui istrinya. Maka dari itu patuhi rambu-rambu “cemburu” berikut ini agar rumah tangga Anda langgeng.
- Yakinkan, bahwa dia telah menutupi tubuhnya dengan hijab yang sempurna sebelum meninggalkan rumah. Amat berbahaya apabila Anda sebagai suami tidak cemburu sama sekali manakala istri keluar rumah tapi auratnya terbuka alias tidak tertutup sesuai syariat.
- Batasi pergaulannya, jangan sampai bercampur baur dengan laki-laki yang bukan mahram. Pintu “cemburu buta yang berlebihan” adalah dibukanya kran pergaulan lelaki dan wanita yang bukan mahram, kecuali kalau Anda menganggap wajar bila istri Anda berbicara bebas dengan lelaki asing yang bukan mahramnya.
- Cegahlah perasaan cemburu buta, misalnya dengan menyimak setiap tutur katanya dan jangan sampai salah mengerti apa yang diucapkan sehingga melenceng jauh dari maksud istri Anda sebenarnya. Salah pengertian ini bisa membuat cemburu buta yang akibatnya mengganggu hubungan suami istri.
- Cegahlah istri Anda dari bepergian sendirian ke luar rumah untuk keperluan yang tidak penting.
- Cegahlah istri Anda mengangkat telepon ketika telepon berdering, manakala Anda atau anak laki-laki Anda bersamanya. Ajarilah dia menjawab seperlunya dengan intonasi yang wajar-wajar saja, bila terpaksa harus menjawab telepon dari lelaki yang bukan mahram.

17. Sabar dan Lemah lembut
Masalah rumah tangga adalah sesuatu yang lumrah dalam perkawinan. Yang salah adalah respon yang berlebihan dan membesar-besarkan masalah, hingga kadang ikatan pernikahan menjadi retak. Dalam menghadapi masalah, kadang suaami harus menunjukkan kemarahan kepada istri, misalnya apabila sang istri sudah keluar dari ketaatan kepada Allah dengan menunda-nunda sholat, membangkang, menonton film yang dilarang di Televisi atau bioskop dan lain-lain. Tetapi bila istri Anda menyesali perbuatannya dan menunjukkan i’tikad baiknya, maafkanlah kesalahannya.(baca poin 18)

Bagaimana cara terbaik untuk mengoreksi kekeliruannya?
Ikuti tips berikut ini:

Pertama, dengan menasihatinya secara bersendirian (jangan di depan anak-anak Anda atau orang lain, guna menjaga perasaannya), baik secara tersirat maupun tersurat. Dan lakukanlah upaya ini berulang kali jangan hanya sekali saja.

Kedua, bila istri Anda belum jera juga, punggungi dia di tempat tidur (untuk menunjukkan perasaan Anda), Dengan catatan, Anda tak perlu pindah dari ranjang tempat Anda biasa tidur bersama ke ranjang lainnya, atau meninggalkan rumah Anda dan pindah ke rumah lainnya ataupun tidak bicara sama sekali dengan istri Anda. Tidak perlu demikian, cukup dengan membelakanginya di tempat tidur, istri Anda sudah merasa, bahwa dia sedang ditegur.

Solusi terakhir adalah “memukulnya dengan ringan” (hal ini diperbolehkan). Dalam hal ini Anda harus memperhatikan hal berikut ini:
Adalah merupakan sunnah untuk menjauhi langkah menghukum istri dengan memukulnya, karena Nabi Muhammad tidak pernah memukul wanita (istri-istrinya) atau budak-budaknya.
Anda baru diperbolehkan melakukannya apabila istri Anda sudah keterlaluan dalam ketidak taatannya, misalnya sering menolak berhubungan seksual tanpa alasan yang diperbolehkan, sholat tidak pada waktunya secara terus menerus, meninggalkan rumah tanpa seijin Anda, atau menolak untuk mengatakan apa yang dialaminya ketika dia meninggalkan rumah dan lain-lain.
Langkah di atas tak boleh Anda lakukan, kecuali setelah memunggungi istri Anda di tempat tidur dan setelah membicarakan masalah ini dengannya sebagaimana Al Quran menuntun kita.
Anda tak boleh memukul istri Anda sampai melukainya atau memukul bagian badan yang sensistif, seperti wajah atau kepala.

18. Maafkan dia dan cela perbuatannya yang buruk dengan wajar
Jangan menjadi pendendam, setiap insan bisa berbuat salah, maafkan istri Anda bila ia melakukan kesalahan, tapi hukum dia dan celalah perbuatannya yang buruk, agar dia tidak mengulanginya lagi. Ini akan melanggengkan hubungan rumah tangga kalian berdua. Dalam hal ini perhatikanlah kiat-kiat berikut ini:

Lihatlah kesalahannya yang fatal saja, jangan mengungkit-ungkit kesalahannya yang kecil. Maafkan kesalahannya, tetapi beritahu dia, bahwa perhitungannnya terserah Allah terutama hal-hal yang menyangkut kesalahannya kepada Allah seperti menunda sholat dan lain-lain.

Ingat-ingatlah perbuatan baik istri Anda, di ketika dia melakukan kesalahan. Dan camkanlah, bahwa setiap manusia bisa berbuat salah, oleh karena itu carilah selalu alasan untuk memaafkannya, seperti misalnya, mungkin ia lelah, sedih atau sedang labil karena datang bulan, atau komitmennya kepada Islam sedang dalam pertumbuhan atau alasan-alasan masuk akal lainnya.

Jangan sekali-kali melontarkan celaan, karena masakannya yang kurang enak, sebagaimana Rasulullah tak pernah sekalipun mencela seorangpun dari istri-istri beliau karena masalah ini. Jika menyukai masakan yang dihidangkan sang istri, beliau memakannya dan jika tak berselera, beliau tak menyantapnya dan tak memberikan komentar sama sekali.

Sebelum Anda menyatakan bahwa istri Anda tercinta melakukan kesalahan, cobalah pendekatan lain yang tidak langsung yang mungkin akan lebih efektif daripada teguran langsung.

Hindari penggunaan sindiran dan kata-kata sarkasme yang mungkin dapat melukai perasaannya.

Bila musyawarah dan diskusi untuk membicarakan kesalahan istri Anda dianggap jadi solusi terbaik, cari waktu yang tepat dan tunggu sampai Anda bisa menjaga privasi dari keberadaan pihak ketiga yang tak berkepentingan.

Tunggulah sejenak dan bersabarlah sampai kemarahan Anda mereda. Ini sangat membantu dalam mengontrol ucapan Anda. Karena biasanya orang yang sedang marah, ucapannya jadi tak terkendali.

Akhirnya, rinci sudah penjelasan bagaimana cara membahagiakan istri Anda. Pesan kami, jangan cuma mendalami teori yang penting prakteknya!!

16 April 2009

Bahaya Menyekutukan Allah

Definisi syirik adalah lawan kata dari tauhid, yaitu sikap menyekutukan Allah secara dzat, sifat, perbuatan, dan ibadah. Adapun syirik secara dzat adalah dengan meyakini bahwa dzat Allah seperti dzat makhlukNya. Akidah ini dianut oleh kelompok mujassimah. Syirik secara sifat artinya seseorang meyakini bahwa sifat-sifat makhluk sama dengan sifat-sifat Allah. Dengan kata lain, mahluk mempunyai sifat-sifat seperti sifat-sifat Allah. Tidak ada bedanya sama sekali.

Sedangkan syirik secara perbuatan artinya seseorang meyakini bahwa makhluk mengatur alam semesta dan rezeki manusia seperti yang telah diperbuat Allah selama ini. Sedangkan syirik secara ibadah artinya seseorang menyembah selain Allah dan mengagungkannya seperti mengagungkan Allah serta mencintainya seperti mencintai Allah. Syrik-syirik dalam pengertian tersebut, secara eksplisit maupun implisit, telah ditolak oleh Islam. Karenanya, seorang muslim harus benar-benar berhat-hati dan menghindar jauh-jauh dari syirik-syirik seperti yang telah diterangkan di atas.

Contoh bentuk-bentuk syirik ada banyak. Di antaranya, pertama, menyembah patung atau berhala (al-ashnaam). Allah swt. menyebutnya dalam ayat berikut ini.

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta. [QS. Al Hajj (22): 30]

Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya, “Wahai Bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?” [QS. Maryam (19): 42]

Menyembah matahari adalah bentuk syirik yang kedua. Allah menolak orang-orang yang menyebah matahari, bulan, dan atau bintang.

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. [QS. Al A'raaf (7): 54]

“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah”. [QS. Fushshilat (41): 37]

Bentuk syirik yang ketiga adalah menyembah malaikat dan jin.

Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan) bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. [QS. Al An'aam (6): 100]

“Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat, “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?” Malaikat-malaikat itu menjawab, “Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka. Bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.”. [QS. Saba' (34): 40-41]

Bentuk syirik keempat adalah menyembah para nabi, seperti Nabi Isa a.s. yang disembah kaum Nasrani dan Uzair yang disembah kaum Yahudi. Keduanya sama-sama dianggap anak Allah.

Orang-orang Yahudi berkata, “Uzair itu putera Allah,” dan orang-orang Nasrani berkata, “Al masih itu putera Allah.” Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?” [QS. At-Taubah (9): 30]

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam.” Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. [QS. Al-Maidah (5): 72]

Bentuk syirik yang kelima adalah menyembah rahib atau pendeta. Allah berfirman, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”

Adi bin Hatim r.a. pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai hal tersebut, seraya berkata, “Sebenarnya mereka tidak menyembah pendeta atau rahib mereka.” Rasululah saw. menjawab, “Benar, tetapi para rahib atau pendeta itu telah mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, sementara mereka mengikutinya. Bukankah itu tindak penyembahan terhadap mereka?”

Bentuk syirik yang keenam, menyembah Thaghuut. Istilah thaghuut diambil dari kata thughyaan artinya melampaui batas. Maksudnya, segala sesuatu yang disembah selain Allah. Setiap seruan para rasul intinya adalah mengajak kepada tauhid dan menjauhi thaghuut. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu. Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” [QS. An-Nahl (16): 36].

Dan tauhid yang murni tidak akan bisa dicapai tanpa menghindar dari menyembah thaghuut. Allah berfirman, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada thaghuut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS. Al-Baqarah (2): 256]

Allah bangga dengan orang-orang beriman yang menjauhi thaghuut. “Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku.” [QS. Az-Zumar (39): 17]

Bentuk syirik yang ketujuh adalah menyembah hawa nafsu. Hawa nafsu adalah kecendrungan untuk melakukan keburukan. Seseorang yang menuhankan hawa nafsu, mengutamakan keinginan nafsunya di atas cintanya kepada Allah. Dengan demikian ia telah mentaati hawa nafsunya dan menyembahnya. Allah berfirman, “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” [QS. Al-Furqaan (25): 43]

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya, dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” [QS. Al-Jatsiyah (45): 23]

Macam-macam Syirik

Ada dua macam syirik, yaitu syirik besar dan syirik kecil. Masing-masing dari kedua macam ini mempunyai dua dimesi: zhahir (tampak) dan khafiy (tersembunyi).

Syirik besar (asy-syirkul akbar) adalah tindakan menyekutukan Allah dengan makhlukNya. Dikatakan syirik besar karena pelakunya tidak akan diampuni dosanya dan tidak akan masuk surga. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia; dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” [QS. An-Nisaa' (4): 116]

Syirik besar ini dibagi dua dimensi: zhahir dan kafiy. Contoh syirik besat yang zhahir adalah seperti menyembah bintang, matahari, bulan, patung-patung, batu-batu, pohon-pohon besar, dan manusia (seperti menyembah Fir’un, raja-raja, Budha, Isa bin Maryam, malaikat, jin dan Setan). Sementara yang khafiy bisa dicontohkan seperti meminta kepada orang-orang yang sudah mati dengan keyakinan bahwa mereka bisa memenuhi apa yang mereka yakini, atau menjadikan seseorang sebagai pembuat hukum, menghalalkan dan mengharamkan seperti yang seharusnya menjadi hak Allah swt.

Adapun syirik kecil (asy-syirkul ashghar) adalah suatu tindakan yang mengarah kepada syirik, tetapi belum sampai ke tingkat keluar dari tauhid, hanya saja mengurangi kemurniannya. Syirik kecil juga dua dimensi: dzahir dan khafiy. Yang zhahir bisa berupa lafal (pernyataan) dan perbuatan.

Contoh yang berupa lafal adalah bersumpah dengan nama selain Allah dan mengarah ke syirik seperti “demi Nabi, demi Ka’bah, demi kakek dan nenek.” Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda, “Man halafa bighairillahi faqad kafara wa asyraka (siapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka ia kafir dan musyrik).” (HR. Turmidzi nomor 1535). Termasuk lafal yang mengarah ke syirik pernyataan, “Kalau tidak karena Allah dan si fulan niscaya ini tidak akan terjadi.” Contoh yang lain adalah memberikan nama anak dengan Abdul Ka’bah dan lain sebagainya.

Adapun contoh syirik kecil zhahir yang berupa perbuatan seperti mengalungkan jimat dengan keyakinan bahwa itu bisa menyelamatkan dari mara bahaya.

Syirik kecil yang khafiy biasanya berupa niat atau keinginan, seperti riya’ dan sum’ah. Yaitu melakukan tindak ketaatan kepada Allah dengan niat ingin dipuji orang. Seperti menegakkan shalat dengan tampak khusyu’ karena sedang di samping calon mertua. Seseorang berbuat seperti itu dengan harapan supaya dipuji sebagai orang shalih. Padahal di saat sendirian, shalatnya tidak demikian. Riya’ adalah termasuk dosa hati yang sangat berbahaya. Karena itu, Islam sangat memperhatikan sebab perbuatan hati adalah faktor yang menentukan bagi baik tidaknya perbuatan zhahir.

Allah berfirman, “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” [QS. Al-Baqarah (2): 264]

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda, “Man samma’a sammallahu bihii, waman yaraa’ii yaraaillahu bihii (siapa yang menampakkan amalnya dengan maksud riya’ Allah akan menyingkapnya di hari Kiamat, dan siapa yang menunjukkan amal shalihnya dengan maksud ingin dipuji orang, Allah mengeluarkan rahasia tersebut di hari Kiamat).” (HR. Bukhari 11/288 dan Muslim nomor 2987)

Bahaya-bahaya Syirik

Perbuatan syirik sangat berbahaya. Berikut ini beberapa bahaya yang akan menimpa orang-orang pelaku syirik.

Pertama, syirik adalah kezhaliman yang nyata. Allah berfirman, “Innasy syirka ladzlumun adziim (sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar).” [QS. Luqman (31): 13]. Mengapa disebut kezhaliman yang besar? Sebab dengan berbuat syirik seseorang telah menjadikan dirinya sebagai hamba makhluk yang sama dengan dirinya yang tidak berdaya apa-apa.

Kedua, syirik merupakan sumber khurafat. Sebab, orang-orang yang meyakini bahwa selain Allah –seperti bintang, matahari, kayu besar dan lain sebagainya– bisa memberikan manfaat atau bahaya, berarti ia telah siap melakukan segala khurafat dengan mendatangi para dukun, kuburan-kuburan angker, dan mengalungkan jimat di lehernya.

Ketiga, syirik adalah sumber ketakutan dan kesengsaraan. Allah berfirman, “Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zhalim.” [QS. Ali Imran (3): 151]

Keempat, syirik merendahkan derajat kemanusiaan si pelakunya. Allah berfirman, “Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” [QS. Al-Hajj (22): 31]

Kelima, syirik menghancurkan kecerdasan manusia. Allah berfirman, “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan. Dan mereka berkata, ‘Mereka itu adalah pemberi syafa`at kepada kami di sisi Allah.’ Katakanlah, ‘Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?’ Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu).” [QS. Yunus (10): 18]

Keenam, di akhirat nanti orang-orang musyrik tidak akan mendapatkan ampunan Allah dan akan masuk neraka selama-lamanya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” [QS. An-Nisaa' (4): 116]

Allah juga berfirman, “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” [QS. Al-Maidah (5): 72]

Sebab-sebab Syirik

Ada tiga sebab fundamental munculnya prilaku syirik, yaitu al-jahlu (kebodohan), dha’ful iiman (lemahnya iman), dan taqliid (ikut-ikutan secara membabi-buta).

Al-jahlu sebab pertama perbuatan syirik. Karenanya masyarakat sebelum datangnya Islam disebut dengan masyarakat jahiliyah. Sebab, mereka tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Dalam kondisi yang penuh dengan kebodohan itu, orang-orang cendrung berbuat syirik. Karenanya semakin jahiliyah suatu kaum, bisa dipastikan kecendrungan berbuat syirik semakin kuat. Dan biasanya di tengah masyarakat jahiliyah para dukun selalu menjadi rujukan utama. Mengapa? Sebab mereka bodoh, dan dengan kobodohannya mereka tidak tahu bagaimana seharusnya mengatasi berbagai persoalan yang mereka hadapi. Ujung-ujungnya para dukun sebagai narasumber yang sangat mereka agungkan.

Penyebab kedua perbuatan syirik adalah dha’ful iimaan (lemahnya iman). Seorang yang imannya lemah cendrung berbuat maksiat. Sebab, rasa takut kepada Allah tidak kuat. Lemahnya rasa takut kepada Allah ini akan dimanfaatkan oleh hawa nafsu untuk menguasai diri seseorang. Ketika seseorang dibimbing oleh hawa nafsunya, maka tidak mustahil ia akan jatuh ke dalam perbuatan-perbuatan syirik seperti memohon kepada pohonan besar karena ingin segera kaya, datang ke kuburan para wali untuk minta pertolongan agar ia dipilih jadi presiden, atau selalu merujuk kepada para dukun untuk suapaya penampilannya tetap memikat hati orang banyak.

Taqliid sebab yang ketiga. Al-Qur’an selalu menggambarkan bahwa orang-orang yang menyekutukan Allah selalu memberi alasan mereka melakukan itu karena mengikuti jejak nenek moyang mereka. Allah berfirman, “Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata, ‘Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.’ Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” [QS. Al-A'raf (7): 28]

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah.” Mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” [QS. Al-Baqarah (2): 170]

Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab, “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” [QS. Al-Maidah (5): 104]

Diambil dari : dakwatuna.com

Mengenang Buya Prof. Dr. Hamka

24/4/2008 | 16 Rabbi al-Thanni 1429 H | Hits: 1.968

Pejuang Tauhid “Waratsatul Anbiya’”

dakwatuna.com - “Ayah hanya takut tidak bisa jawab pertanyaan Munkar Nakir!” Inilah jawaban tegas seorang ayah atas pertanyaan putra kesayangannya mengenai soal keengganannya untuk melakukan seikere (membungkuk ke arah matahari) atas perintah tentara Jepang. Sang ayah adalah tokoh pergerakan dan ulama Minangkabau, Haji Karim Amrullah, yang biasa dikenal dengan sebutan ‘Haji Rasul’.

Terhitung sudah puluhan tahun kenangan pahit itu berlalu. Namun rasa itu seakan masih membekas. Saat tubuh-tubuh kurus kering tanpa alas kaki dibariskan. Saat sengatan matahari pagi membaluri punggung-punggung tanpa pakaian itu. Tak ada sarapan pagi, tak ada ulam dan roti, yang ada hanya caci maki dan cemeti.

Begitulah ritual pagi setiap hari di jaman Jepang, mereka diperintahkan untuk berdiri menghadap ke timur –menghormati dewa matahari– membungkuk untuk menghormati kaisar dan kembali berdiri tegak untuk dijemur di bawah terik matahari. Perintahnya adalah “Kiotskay!” (perhatian), “Kiray!” (membungkuk memberi hormat), “Nowray!” (berdiri tegak).

Masa penjajahan Jepang walaupun tidak berlangsung lama namun membawa akibat penderitaan yang cukup memprihatinkan, seluruh rakyat hidup dalam kondisi kurang pangan dan sandang disertai dengan perlakuan kasar dari bala tentara Jepang terhadap rakyat dengan tidak manusiawi.

Inilah masa paling getir sepanjang perjalanan bangsa ini. Hawa penderitaan ini berembus ke seluruh pelosok tanah air tercinta. Tidak ada bahan-bahan untuk dijadikan pakaian dan makanan. Maka mulailah orang menjadi primitif dengan memakai kain tarok (kain kulit kayu) kulit yang sudah dikupas dari pohonnya dipukul sampai setipis-tipisnya lalu digunting untuk dijadikan baju. Bahkan juga ada yang memakai bahan karung goni. Muka dan lutut orang-orang saat itu bengkak (oedem) sedangkan badan kurus kering akibat busung lapar. Nasi harus dicampur dengan jagung (bukan jagung manis) dan dengan ubi kayu yang dipotong kecil-kecil.

Sejarah mencatat peninggalan utama sang penjajah ‘saudara tua’ yang identik untuk masa kuasa Jepang adalah dengan kerja paksa “romusha”. Konon masa ini kondisi warga lebih berdarah-darah daripada masa penjajah sebelumnya. Tidak hanya perih “mendedikasikan” tenaga untuk memenuhi kebutuhan pembangunan pertahanan wilayah dengan menjadi pekerja romusha, menyediakan tubuh untuk pemuas nafsu seksual penjajah -jughunianfu menjadi pilihan yang tidak terelakkan untuk menghindari kematian.

Artinya, penjajah ini memanfaatkan benar situasi infrastruktur sosial ekonomi budaya yang telah dibentuk oleh penguasa sebelumnya. Bahkan meningkatkan frekuensi optimalisasi “sumber-sumber daya tersedia” dalam waktu yang relatif singkat masa pendudukannya.

Cerita perlawanan saat masa pendudukan ini tidak banyak rekamnya. Cukup sulit menemukan perlawanan yang ada, kemungkinan terbesar adalah karena jargon Jepang sebagai ‘Saudara Tua’ yang syarat pengharapan untuk lepas dari belenggu penguasa Belanda telah memperangah seluruh elemen warga. Haji Karim Amrullah, yang juga kondang dengan sebutan ‘Haji Rasul’ itu, tentu saja salah satu pengecualian. Beliau menolak mentah-mentah perintah yang berkonotasi ‘menyembah matahari’ itu. Ia pun sadar sepenuhnya akan risiko atas penyikapannya itu.

Penyikapan seorang yang bertauhid, yang sadar akan hakikat kemerdekaan. Kemerdekaan atau kebebasan adalah inti dari ajaran tauhid. Boleh di bilang, wacana seputar kebebasan hampir diidentikkan dengan hak pembelaan manusia ketika berhadapan dengan sebuah kekuatan yang membelenggunya. Ia seolah tersekat oleh sesuatu yang bersifat profan, privaci dan sekuler. Hampir jarang –jika tidak ingin disebut tidak sama sekali– ia dikaitkan dengan anugerah Sang Pencipta yang sesungguhnya teramat trasenden. Spirit tauhidullah inilah yang telah melahirkan sikap penolakannya terhadap ajakan seikere -khususnya-dan penjajahan itu sendiri, yang dinilainya tidak lain adalah perampasan kemerdekaan yang menjadi fitrah setiap insan.

Pada situasi inilah tauhid yang telah jauh menghujam dalam jiwa telah menemukan relevansinya. Jika tauhid yang kita kenal dengan ungkapan “Tiada tuhan selain Allah”, yang secara teologis sering dijabarkan dengan ungkapan, “tidak ada sesembahan yang sesungguhnya patut disembah, kecuali Allah”. Kalimat ini, sebenarnya memberikan semacam blue print kepada kita tentang makna pembebasan yang hakiki. Pembebasan dari penghambaan atas tuhan-tuhan yang absurd (tidak mutlak), menuju kepada kebenaran mutlak (Tuhan; Allah Swt).

Sebab jika sasaran penghambaan mengalami bias atau terfragmentasi kepada sekian tuhan, maka akan terbayang betapa ekspresi kebebasan manusia semakin sempit dan akhirnya mengalami pemasungan sama sekali. Maka sangatlah tepat jika pada awal kalimat tauhid dimulai dengan lafadz “Lâ Ilâha illa Allah ” yang mengindikasikan pesan “protes” yang keras atas penghambaan kepada segala macam tuhan. Menuju kepada hakekat Tuhan yang memberikan kebebasan tersebut (”I:â Allah”). Hal ini dapat kita telisik melalui al-Qur’an surat Quraisy ayat 4, di mana penggambaran Tuhan di sana sangat jelas sebagai Dzat yang Maha Pembebas dari segala macam bentuk ketakutan, baik ketakutan dari kelaparan, ketiranian, pemasungan hak, kediktatoran, penindasan baik politik ataupun karakter, serta segala bentuk kebobrokan nilai lainnya.

Tampaknya menginternalisasi betul tauhid dalam jiwa Syaikh Haji Rasul ini. Dan semua ini sejalan dengan wejangan dari Al-Ghazali (w. 505 H / 1111 M). Hujjatul Islam itu mengatakan bahwa ulama seharusnya mampu menciptakan jarak dengan penguasa (umara’). Ulama yang baik dan lurus tidak mendatangi para penguasa, pemerintah atau birokrat selama ada celah untuk menghindarinya. Mereka senantiasa memelihara diri dari kemungkinan dampak yang muncul akibat hubungan tersebut.

Al-Ghazali nampaknya memberikan semacam peringatan dini (early warning) tentang betapa sulitnya melepaskan diri dari kepungan kondisi psikis apabila jarak itu tidak sama sekali. Sebab, hal tersebut dapat berpengaruh pada sikap kaum ulama terhadap penguasa.

Inilah sesungguhnya kemandirian sikap seorang ‘ulama. Seperti diketahui, belakangan ini peran ‘ulama sebagai handasah ijtima’yyah -rekayasa social–penggerak ataupun anashir at-taghyiir (agent of change) dalam sebuah perubahan sosial seperti sedang mengalami mati suri. Sebabnya, mungkin zaman sudah berubah tapi sang ‘ulama tak mau beradaptasi. Tetapi amat mungkin jika karakteristik ‘ulama tak seperti dulu lagi. Mereka lebih suka men(di)dekati dengan kekuasaan ketimbang menjadi pelayan umat.

Tak lagi menyuarakan ‘amar ma’ruf nahi munkar. Padahal melawan para penindas yang rakus sesungguhnya juga amar ma’ruf nahi munkar. Atau menentang birokrat yang rajin memperkaya diri sendiri. Namun, kedua hal ini seperti tak terbukti sekarang ini.

Kita tahu sendiri bahwa tak ada suara lantang ‘ulama menentang cuci tangannya Lapindo Brantas dalam kasus lumpur panas di Sidoarjo. Tak ada fatwa ulama menentang penggusuran di mana-mana. Tak ada pula rekomendasi khusus perdagangan perempuan, termasuk pengiriman TKW kecuali setelah didesak di sana-sini.

Jeritan rakyat yang dipaksa untuk menghentikan penggunaan minyak tanah karena lebih ‘bermanfaat’ jika dijual kepada swasta, nyaris tak terdengar. Yang ada hanya gemuruh dan gegap gempita ceramah ‘ulama di acara-acara seremonial. Atau paling tidak menjadi penceramah di rumah pejabat yang tak ada nuansa dakwahnya sama sekali. Bahkan, sebagiannya kini bak selebritis. Susah dicari dan acapkali mementingkan materi.

Namun Syaikh Haji Rasul telah menunjukkan keyakinannya terhadap nilai ‘akidah’, maka perintah memberi hormat kepada dewa matahari itu tidak dilakukannya. Keteguhan sikap Haji Karim Amrullah itulah yang kemudian oleh putranya Hamka terus diwarisi sepanjang usia. Berkali-kali dalam situasi genting ia berani menyatakan diri menolak hal apa pun yang melanggar nilai dasar agama, meskipun itu berarti membuka lebar pintu penjara.

Syeikh Abdul Karim bin Amrullah-yang dikenal sebagai Haji Rasul-seorang ulama pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau. Haji Rasul tercatat sebagai orang pribumi pertama yang mendapat gelar doktor honoris causa dari Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Dialah ayahanda dari Prof. Dr. Hamka.

Syeikh Haji Rasul berayahkan seorang ‘ulama pula yaitu Syeikh Muhammad Amrullah Tuanku Abdullah Saleh. Berarti beliau inilah yang melahirkan dua orang tokoh besar di Nusantara. Seorang adalah anak beliau sendiri, Dr. Syeikh Haji Abdul Karim Amrullah. Dan yang seorang lagi adalah cucu beliau, Syeikh Abdul Malik Karim Amrullah atau nama mesra yang biasa dipanggil orang, ‘Buya Hamka’.

Bila kita telusuri karakter ketiganya, sejak dari kakek (Tuan Kisa-i), ayah (Syeikh Haji Abdul Karim Amrullah) dan cucu (Buya Hamka) secara global memiliki kesamaan dalam semangat ad-da’wah ilallah.

Walau sebenarnya dalam pemahaman dan langkah-langkah perjuangan mereka terdapat perbedaan-perbedaan yang cukup kentara. Seperti misalnya Sang Kakek Tuan Kisa-i tetap mengamalkan Thariqat Naqsyabandiyah, pengikut Mazhab Syafie. Pemahaman Islam Tuan Kisa-i kalau sekarang dikelompokkan sebagai kaum tradisonalislah. Karena gerakan tajdid belum tersebar luas.

Anak beliau, Syeikh Haji Abdul Karim Amrullah, adalah seorang pelopor dan termasuk tokoh besar dalam gerakan tajdidnya Jamaludin Al Afghani. Syeikh Haji Abdul Karim Amrullah menolak amalan Thariqat Naqsyabandiyah, sekaligus menolak doktrin ‘taqlid’, tetapi lebih cenderung kepada pemikiran Syeikh Muhammad Abduh.

Sementara Buya Hamka lebih memilih bersikap moderat. Dalam beberapa tulisan kadang-kadang mengecam ‘Kaum Tua’, kadang-kadang membenarkannya. Demikian halnya dengan ‘Kaum Muda’. Bahkan dalam penilaian tasawuf,

Tuan Kisa-i atau Syeikh Muhammad Amrullah yang lahir pada malam Kamis 6 Rajab 1256 H/4 September 1840 M. Beliau wafat pada 1327 H/1909 M. Nama ayahnya-jadi buyutnya Buya Hamka– adalah Tuanku Abdullah Saleh. Tuanku Abdullah Saleh bergelar ‘Tuanku Syeikh Guguk Katur’ dan bergelar juga ‘Ungku Syeikh Tanjung’. Beliau seorang alim murid Abdullah Arif. Abdullah Arif bergelar juga dengan nama ‘Tuanku Pariaman’ dan ‘Tuanku Nan Tuo di Koto Tuo, IV Koto’.

Buya Hamka menulis, yang didengar dari ayahnya, tentang Tuanku Abdullah Saleh: ‘’Kata ayah saya: ‘Engku Syeikh Suku Tanjung atau Tuanku Guguk Katur itu adalah seorang ulama yang sangat besar perhatiannya kepada Ilmu Tasawuf sehingga kitab Hikam Ibnu ‘Athaillah beliau hafal di luar kepala. Beliau pun seorang cerdik ahli adat, sehingga bukan saja urusan agama yang ditanyakan orang kepada beliau, bahkan juga urusan adat’. Tambah ayahku pula: ‘Pelajaran Imam al-Ghazali tentang khalawat sangat termakan oleh beliau Tuanku Syeikh Guguk Katur atau Engku Suku Tanjung itu. Lantaran itu beliau lebih suka berkhalawat di suraunya di Guguk Katur’.” (Lihat Ayahku cetakan ketiga, Djajamurni, Jakarta, 1963, hlm. 46.)

Buya HamkaSelanjutnya Buya Hamka menulis,”Kepada murid yang soleh inilah tertarik hati gurunya Tuanku Syeikh Pariaman, sehingga setelah anaknya Siti Saerah menjadi gadis remaja, beliau ambillah Tuanku Suku Tanjung itu menjadi menantu.” (Lihat Ayahku, hlm. 46-47.)

Dari petikan di atas dapat disimpulkan bahwa kedua belah pihak, baik dari pihak ibu maupun dari pihak ayah, Syeikh Muhammad Amrullah adalah ulama dan tokoh yang terkenal dalam masyarakat. Kakek beliau, atau ayah ibunya, Abdullah Arif atau ‘Tuanku Pariaman’ atau ‘Tuanku Nan Tuo di Koto Tuo, IV Koto’ adalah salah seorang yang menyebarkan Islam di beberapa tempat di Minangkabau dan merupakan pahlawan yang gigih melawan Belanda dalam Perang Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol.

Kalau ditelusuri lebih dalam ada kesinambungan yang kuat pada perjalanan kehidupan para tokoh yang penuh berkah ini. Bagaimana sebuah prinsip, keyakinan dan kesalehan itu dapat bertahan lama dari generasi ke generasi. Bahkan pada tingkat ketokohan yang luas. Pewarisan nilai kesalehan dan kejuangan menjadi arah yang jelas akan perjuangan dakwah di bumi pertiwi ini.

Peralanan hidup seperti inilah yang Rasulullah saw sabdakan, “Apabila Allah menghendaki kebaikan terhadap sebuah keluarga, Allah berikan kepada mereka kepahaman dalam agama, yang muda menghormati yang tua, kasih sayang menjadi anugerah dalam kehidupan mereka, pengeluaran mereka ekonomis dan diberi kemampuan untuk mengetahui aib diri lalu bertaubat dari kesalahan, sebaliknya, jika Allah menghendaki selain itu mereka akan dibiarkan saja.” Daruquthni dari Anas ra.

Banyak orang tidak menyadari kalau anak adalah salah satu pemimpin dan pewaris umat dan bumi yang jadi pijakannya ini. Hanya karena masih tertutup dengan baju anak. Seandainya apa yang ada dibalik bajunya dibukakan kepada kita, niscaya kita akan melihat mereka layak disejajarkan dengan para pemimpin. Akan tetapi, sunnatullah menghendaki agar tabir itu disibak sedikit demi sedikit melalui pendidikan. Namun, tidak semua pendidikan berhasil kecuali dengan strategi matang dan berkelanjutan.

Kita harus mulai dari diri sendiri menggerakkan segenap daya, kekuatan, pengorbanan dan kesiapsediaan menyalakan pelita pencerdasan kehidupan bangsa. Tunas-tunas bangsa harus diselamatkan dalam pembinaan yang benar, agar jangan sampai seperti burung yang tidak bisa terbang karena sayapnya patah duluan oleh terkaman hama lingkungan yang begitu ganas. Perubahan besar lahir dari ideal yang besar. Untuk mencapai tujuan itu dibutuhkan kebersamaan, energi yang besar dan pribadi-pribadi agung nan teguh, tahan banting, berani mengambil resiko serta senantiasa seia-sekata dalam visi dan perjuangan.

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” Ath-Thuur:21

Oleh: Aidil Heryana, S.Sosi


27 Maret 2009

Guritan Jagad Besemah

AMU BETUAH TUNGGULAH DUSUN

GURITAN JAGAT BESEMAH 1948-1949

Iluk gale mangkal guritan

iluk gale mangkal pantunan

guritan ini kite batasi

peristiwa jagat besemah

bukan li luat enggaghi lahat

bukan dik linjang enggaghi lintang

bukan dik intim enggaghi kikim

bukan dik cinte pade jawe

jangan ragu kurang sebase

peti e guritan sastra lame

Wayang suluk ade di jawe

wayang kulit tinggi mutunye

bukan ”puisi” asak isi

bukan ”prosa” nuntut jasa

bukan ”ambisi” endak kersi

bukane jasa endak ingatkah

kite gali kebudayaan

Sekedar kandik sumbangan

enggaghi denie lah kebelisan

lah banyak digik be-tuhan

dide pacak same nggah sajak

dide semegi nggah sejarah

Bukanye syair padang pasir

nyantuk nian pantunan lame

bukan gi tebu tulah manis

lalang dipadang manis pule

bukan gi ghindu tulah nangis

saghak bekundang nangis pule

Ribang ngah kundang ende lah pulang

embak ini ade diserge

nurut ajaran agame kite

kini lah enjadi tulang belulang

ade di padang alang-alang

ade di bukit luang sempit

ade di utan sangkar macan

ade di sungai tebengkalai

ade di jalan dik keruan

Cukup empat penjuru bumi

banyak lawangan ende lah mati

sangkan sesame endak bejage

lambat dik urung mati pule

Sate bedantum lansemen di selangis

metraliur lah encaur

diselang-selang li senampang

selat selawang ngah mortier

kapal kecapung maliaghung

dagum-dagum ngumban kah bom

diiring surat ultimatom

ngajung pasukan nyerah kiah

ughang tebace pade layang

jangankah nyerah tambah marah

kantor pos lah bumi angus

gunung dempu lah enjadi abu

karang dale tigha engkase

ghumah gadai lah jeme lihai

tangsi polisi lah makan api

lah mutung dikit ghumah sakit

Raban Nawi di tebat gunung

anju belanju ke endikat

ngaruh pasukan di pulau pinang

kalu gi ade lum setuju

luk itu nian perhitungan

cengki belande jalan ini

dik sangke liwat rantau unji

danau melukut laju direbut

li belande belum tumbuh janggut

matik penjurit Manap disini

Singgah di talang gelung sakti

di matang ubar nyususun baghisan

pasukan Satar ade disini

nyelah beperang ramai tadi

Simanjuntak laju cak ningkak

encakagh lukak munuh banyak

itulah die pemude batak

lah pacak kuntau pacak cekak

tegouw limbouw di padang karet

Yahya bahar ade disini

Tiap simpangan lah di tunggu

beserangaan senjate berat

selat selawang ngah geranat

belage pule rurah ini

kene belande pecah due

kute lah enjadi iruk babuk

laung kerebai mintak tulung

pekik dak kecik lah sengkiap

gale sekulah tutup gale

cine bedagang tutup pule

takut ade penjahat perang

encakagh lukak bande santai

ughang belanje balik berenggut

ngipati anak sesughangan

nunui benunui arat emburut

letupan tambah rami saje

ade besebut bese siwe

nyebut diwe kayangan endap

mantau diwe kayangan tinggi

dimane diwe tughun beruguk

diwate tughun bekambangan

mintak tulung mintak gimbaghi

ughang beperang rimbak ini

Pasangkah ujud ngah panede

asap kemenyan jangan putus

lawangan masuk simburan agung

ughang mapakkah perang rami

Ade nian lawangan sughang

die beperang rimbak ini

rambut menjadi saghang udang

tulang becerai dalam sungai

enjadi duguk penunggu lubuk

enjadi jin penunggu rantau

dide dikecas disedingkan

mulahe endie anak lanang

Ade pule lawangan sughang

besak tinggi sedaguk-daguk

besak tinggi sedinggam-dinggam

luk jaguk niti kemughu

luk gajah niti pematang

jaguk diketing jaguk tangan

berungsang bulu tangan kanan

kumis celakau nanduk buang

warang kalungan nyambar dagu

dadenye ijuk sekakap

sejembing pule dibelakang

untai mecakah palak kambing

dai luk badas lembak dusun

Ade agi lawangan sughang

lengan bulat lelubun buntu

pusaran tige sare bandung

tukup gending baling telinge

lidah itam dipangkal lidah

turunan diwe di kayangan

dide mati ukum penjere

penjere angkat denga sanak

Li laku lelawangan

mengamuk menggile-gile

pantak sudup ulagh berenang

pantak ke endap ngene tinggi

pantak selubang ngene due

selawi rebah diadapan

selawi rebah dibelakang

empuk luk itu muni kate

letupan tambah rami saje

Meriam meletup gunduk

timbal letupan dilayaran

luk telap selinca enjadi

pengelu ngambang kelayaran

hasil beperang jerang ini

dide kah ngitung rugi belande

kite ngitung ende kite kiah

Lah macam-macam penengaghan

singkat ende ngesit luke dikit

singkat ende enggeham luke dalam

ade ende te-enduk luke tukuk

ade cak ingking luke keting

singkat nenunjang kah matilah

ade kemindum mandi daghah

tangan embak tulah mintak garam

keting embak tulah enjejak gaung

masih sempat nyampaikan pesan

mantauwi kance due tige

Wahai kundang duduklah kudai

aningi pesanku ini

enduk nggah bapak cengki nangis

dide mustaghil sampai pingsan

binikah ngejut jande mude

anak empai tige bulan

badan dik urung sampun madam

sekilan tanah tahankan kinah

jangan kuturi perjuangan

lah banyak ige li kureban

kalu pesanku diabaikan

pintak pinteku dik dianingi

kamu ku dawe endi serege

ngape nian senampur itu

metu semirap abang iju

bedekul yak sebuku

Bedejid ngangkat timbangan

nyawelah kisah ditangkaran

lah ade kopral ninggal

sengkiap Yahya teghetap

empuk Idrus lah maju terus

biase perang Nurdin Lenggang

ilang sesaat li lah penat

lah munuh banyak Simanjuntak

empuk luk itu muni kate

ujunge masih mundur gale

kantap pandange bunyi letupan

pasukan ngulang ngatur langkah

dikire musuh lah ngelipat

tekejut nian enggaghi behete

belande lah ade dalam kute

ade penjurit enggucuh dinding

ade sersan gileng pale

wan mane kenan itu masuk

semalam suntuk dide tiduk

itulah pat ngah arunge

Ini pasukan lah bepengalaman

lah banyak makan garam perang

lawan inggeris endi pelembang

kantap belande lah dalam kute

Satar belelak ke ulu ayik

Nawi masuk pagar gunung

Yahya Bahar ke impit bukit

tanjung agung badah beritung

pelajaran enjadi pangkalan

laju betapak ke babatan

Ading malang ibang aghi

mimpi bupati Amaludin

perisuk wedana Wani

lah katun ughang bebani

bahan makanan endak kumpulkan

jangan pusing kate Basuning

gi ade beghas dalam kaling

pasukan sebar dimane-mane

mangke dik sukagh ngatur makan

perang gi lame mangke nege

Batalion enam belas lah saye panas

empuk Yunus berenggut kughus

batalion lah endak diurus

banyak pule pikir serius

Rasad keliling idar jagat

banyak perwira ende ngiringkah

embatak bedil Amancik Adil

terus beguyur haji Mansur

lah cukup sabar kate Oemar

dikirim kambangan Kaghim

Kaghim Kadir Abdullah Kadir

empuk Rubani tulah nanti

Kalu-kalu endak besemangai

kini lah masuk ke peghangai

Ajung Tatung ke tanjung kurung

trip Yunus lah ughang usung

lah matik tige kene kepung

Ajung Selamat ke tanjung tebat

kambangan Adenan lah berangkat

Kuba jati lah ditunggui

Naik bukit kambangan Hamid

jalan pinggir kambangan Munir

jarak sekilu enggaghi kute

dik di tinggalkah lame ige

lah endak ketujuh aghi ninting

ngabigh delapan malam panjang

kuntang kuing di tengah ghimbe

beghalawan ditengah utan

tanggal tujuh januaghi

ughang betempur di tegou wangi

peratu Suhir lalu mati

mati Akip di tegou wangi

amu damenye masih wangi

lah ngulang ngadang Nurdin Lenggang

lah perang pule ulu lintang

ughang di jarai kene serang

berimpit nunggu impit bukit

lah sare jeme dalam kute

lah ughang bakar los pasar

lah banyak tekabahr mudar

embalas sersan Ali Aras

Empuk luk itu muni kate

Ali Aras lah kene pule

timbak belande di pagardiwe

tughun kesungai endak minum saje

banyak sersan ende bambahan

betatai di sungai dendan

kalu kite dik salah ingat

kejadian perang jemahat

idar belande kah ngelipat

lantsmen di pasang jarak dekat

kalu ade letupan umang

lantsmen di taghik dik di anyang

itulah kude sak endi kundang

tande belande tulah datang

betempur laju malam siang

Kene belande tambah garang

nginak kance banyak tekangkang

kene lantsmen mantai petang

ade keting lah tepelanting

ade balung lah tekerintung

jeghih tanggungan idung mancung

di ayik kapogh ughang kepung

empai senampur sejerang panjang

bantuan lah ade datang

idung mancung lah ngulang nyerang

igak beligak aghi malam

datang bantuan endi pagaralam

tentera mundur ke pangkalan

tujuan nyusun laporan

enggaghi kemendan besangkutan

Ading malang ibang aghi

luk kate di pencau-pencau

bang kate di pumpong-pumpong

empai senampur sejerang panjang

kapal terbang melaye-laye

kapal terbang melaye tinggi

jikunye tinggi enggangsar langit

jikunye endap enggangsar tanah

ngebom kemane nian die

kalu endak ngebom jagat aceh

ade pasukan ende dipilih

Kalu endak ngebom minangkabahu

lah ade pasukan sangi alau

kalu endak ngebom ke bengkulu

wan itu jalan ke bengkulu

tunak kundu raban Barlian

empuk pule raban Nawawi

temiwak kambangan Jarab

empuk pule kambangan Lani

dide die ngebom kesane

ngebom kemane nian die

Kalu endak ngebom jagat lampong

wan itu jalan teluk betung

tunak kundu kambangan Nurdin

empuk pule raban Sai sohar

temiwak pasukan laba

dide die ngebom kesane

ngebom kemane nian die

kalu endak ngebom simpang sindir

wan itu jalan simpang sindir

tunak kundu Dani Efendi

kalu endak ngebom ke pelembang

disini die lah menang

Kalu endak ngebom fron utara

di lubuk linggau lah bedaghah

besak petulung raban Surongsong

belum kalah raban Alamsah

masih gi kuat Hutabarat

Kalu endak ngebom jeme jambi

Harun Sohar ade disini

dide die ngebom kesini

ngebom kemane nian die

Kalu endak ngebom sektor tengah

embak ini ade di besemah

kapal terbang melaye-leye

kapal terbang melaye tinggi

kalu endak ngebom kute lahat

kute ini lah die dapat

kalu endak ngebom gumai ulu

wan itu jalan gumai ulu

tunak kundu Oemar Ibrohi

die ngebom kesane

Luk kate dipencau-pencau

bang kate dipumpong-pumpong

empai seterap sepenginang

empai senampur jerang tulah

luk kelik menungsang alam

luk ibas teluncogh tinggi

die lah ngebom tanjung sakti

bom ende umban pertame kali

tanggal 9 februaghi

Delapan ijat rikinan kumpi

due ratus kilogham bukane ragam

ukuran berat ende terdapat

empuk pule raban di jarai

lah kene bom ughang lihai

betatai ughang di padang petai

enjadi pangkalan pelajaran

pesirah Simbat lah diangkat

pelantikan ditengah utan

musik siamang matang panjang

resepsi belum tereti

Sidik Adim depati Hasyim

empuk pule kiaji Ruhim

betahan haji Burhan

kalu lawangan di sesini

lain pengembak ngah pemakai

endi kecik semule alip

endi abang semirap kuku

sate lah pacak reti kate

sate lah pandai mau rike

ikat bekencang dimajukah

sembayang kelime-lime

sembayang kelime waktu

sekali kenan mengebang

nulak bang baye dibumi

Due kali kenan mengebang

nulak bang baye dilangit

tige kali kenan mengebang

nangkali serebe tajam

empat kali kenan mengebang

nangkali serebe bise

lime kali kenan mengebang

nentukan talu dengan jaye

Sidik Adim depati Hasyim

itulah pelang pengunian

badah ughang mintak kate

Luk kate di pencau-pencau

bang kate di pumpong-pumpong

sangkan di pencau li lah gasip

mule di pumpang li endak gancang

abiskah kudai panggung ini

ganjur guritan ke pangkalan

sape diktau ngah pangkalan

badahe ditangah himbe haye

dide banyak jeme ende pacak

cuman pasukan besangkutan

Tokoh civiel tokoh pelitik

empuk pule tokoh militer

same ngatur siasat perang

tentara kite belum ulung

bukan didikan akademi

bukan ahli perang wilayah

belum matang taktik gerela

najin luk itu kite yakin

kemenangan cengki enggaghi kite

Sughang dik ade mintak gaji

jusianye beghebut pangkat

bukan pule endek agung cepat

lah nyambur daghah gigit pacat

Ading malang ibang aghi

ditengah ghimbe cecap ning

disane ughang berunding

disini banyak dokumen perang

tesimpan dengan care sayang

tetulis beghape nyawe melayang

banyak giape anak umang

Sape jeme di perintah

sape jeme diragukah

banyak giape ende lah jande

banyak giape rete mampus

sape jeme di curigai

sape jeme di perintah

banyak lawangan ende lah mati

banyak lah rete ende lah mampus

tementatar suaghe mesin

anye bukan senamping mesin

adu beradu ngah mesiu

ini suaghe mesin tulis

diketik li jaghi manis

dide pule kalah raminye

enggaghi letupan digaghis depan

Banyak jeme ngantati nasi

dide bemalas ngantati beghas

dide bemulai ngantati gulai

gudang beghas ade di talang

sayur mayur di dalam kandang

kebile aghi sirap petang

banyak berangkat pegi ngadang

Ade nian lawangan surang

awak itam setilan itam

sampul abang di liagh-e

begeram siluk endak nerekam

tetawe siluk nyemun saje

kalu nasu patiannye

sukagh encakagh empak’annye

Makan lemak tinggali pegi

kalu kah perang kawai kinah

empuk luk itu muni kate

amu ati luk ati nabi

jusianye amukah pembuhong

kete sepatah endak tuntungi

benase pule amukah hianat

nyerah pantangan penjurit angit

kebile pule kah dik angit

celane sesetel basah kehing

makan petang dide pagian

tiduk dimane dangau bughuk

amu ade rukuk sebatang

ughang empat seseme ngisap

Berkat petulung diwe

dide disambar penyakit nular

bungok betambah bungok saje

nyantuk dipantun ughang nian

burung puyuh dibawah aghe

pungguk bemuni aghi malam

teguh-teguh ngancing dua he

siamang bukit ngibal malam

Ade nian lawangan sughang

duduk ngelamun sirap petang

duduk berupuk numpang kah dagu

ati tangan ngentak kebual

jeriji ngentak pakualis

ribangkah kance ende giade

ribangkah kundang pegi ngadang

mane rupuk an lawangan sughang

wahai kamu gegale kundang

sangkan badan duduk temenung

bukan teghingat ngah kecapung

bukan li semang ka beperang

bukan li takut ngayapi maut

bukan li geme ngah belande

bukan li sayang ngaghi rete

ade nian kebingsal sutik

Cukup menusuk jantung ati

makan koreban perasaan

minggu belakang madukah rasan

embubou sembilan bulan depan

enjadi penggantin bulan aji

kalu luk ini kah kan datange

nyantuk nian pantunan jeme

bukan kendak depati Sadan

kendak depati penantian

bukane nian kendak badan

kendak sukat ngah bagian

li laku lawangan sughang

Kalu pasukan pegi ngadang

die berangkat enggaghi tunang

sangkan berangkat enggaghi tunang

nunggui janji mangke tenang

kalu beperang dide menang

sumur benyawe tunggu tunang

Ading malang ibang aghi

luk kate dipencau-pencau

kantap betemu ngan penjadinye

mintak maap ngan kamu mamak

bukan benagh embatak dik embilang

kami ade keperluan

endak ngajak budak perejake

embantu baghisan palang merah

sate te aning pade kate

tedenagh pade ceritenye

Encungak kelangit langit tinggi

nunduk kebawah kepedakan

alang semele tumbak ini

anak lanang lah mati perang

anak betine luluk kah ngiring pule

anye empuk makmane kinah

aku endak mantau mamak aji

empai seterap sepenginang

empai senampur jerang tulah

bedekul yak jeme tue

wak aji datang giringan diwe

sate kenan masuk ke dalam

tesenyum tetawe nyerah

ngaghi kadar Allah taala

Duduk selepak selepanggung

mane tutur mamak aji

duduk-duduklah kudai nakan

dak kecik masih nanak enggulai

tegerebap suaghe ayam di tenggaghe

tekiuk muni ayam daghe

nanak enggulai nyembelih ayam

merling mate anak mude

lah ngaghap nian keputusan

kisah ini dide kah panjang

cuman pesan wak aji tadi

Bepesan ngah kamu banyak

angkanlah die kelawai kecik

endak mintak tulung di lindungi

kami dik ade kan melarang

iluk-iluk li ngatur langkah

jangan nyakiti ati jeme

jangan ade kate telanjur

besumbar menabuk dade

bande jeme jangan dikulagh

kele ade kesude annye

kalu dik nurut kate itu

diwe luat diwate benci

kusar endawai

Ading malang ibang aghi

lah endak ketige bulan ninting

ngabigh ke empat bulan panjang

di kirim kambangan Wasim

bekumpul raban Zainul

ngemendan kambangan Adenan

murid datang Samiri datang

empuk Hambali datang pule

tahan bedadar pasukan Satar

lah banyak mati pasukan Nawi

masih betatai singe berantai

tetap betahan harimau selatan

itulah dame pasukan

Bilang bukit tunggu penjurit

bilang utan ade pasukan

empuk luk itu muni kate

merege masih masuk inye

kambangan mamak belande

bilang merege di tunggunye

Di jarai ade pasukan lihai

banyak belande tegulung pandai

embak tulah pule muare gelumpai

disini die betatai

Di pajar bulan die betahan

mayor martin enjadi kemendan

kalu merege lubuk buntak

tunggu belande pangkat besak

Empuk pule pelang kenidai

di tunggu belande lihai

gunung dempu ngah bumi agung

dik di tinggalkan idung mancung

Empuk pule seberang endikat

tunggu belande besak pangkat

empuk pule di tanjung tebat

dusun bangke ngah gunung liwat

laju di tunggu li selamat

amu camat di tanjung tebat

bejalan belanju cepat

becakagh beghas mangke dapat

Piagam sempat beragam

asak giade beghas sijat

masih tetap betikad bulat

empuk belande ngajung tunduk

sughang lum ade ende lah ngakuk

Li laku lawangan sughang

badahe tunduk ade nian

tunduk nga endung nga bapang

tunduk enggi Allah menurunkan

sebut palak masih gi bulat

kantap dik nyembah pade lawan

Empuk luk itu muni kate

pagar gunung mulai bingung

kaleng beghas lah banyak ampong

tengkiang lah lame kusong

ughang di mulak dik kah pengung

asak merdike jangan urung

Lah pisak nunggu di mulak

lah bingung nunggu di ketagung

lah bingung nunggu pagar gunung

ughang dialau li kecapung

van Mook lah terus ngamuk

van der Plas lah saye buas

jagat aceh lah diapahe

jagat besemah embak tulah pule

Ading malang ibang aghi

ade nian lawangan sughang

kenan tedesak laju tarak

tarak bukane mintak nomor

angke beghape keluagh kele

tarak luk ini larangan diwe

endak agung dide betembai

endak kaye dide bemule

tarak bukane mintak nomor

betape bukan encakagh rete

cuma sutik saje pintaan

mak mane mangke ngusir belande

Kemampak bukane bulan

kemenjar bukane mate aghi

suaghe ade lantang dide

ngenjukkah ucap ngah tungguan

pekik menyapu aban putih

tungguan nabi Sulaiman

ambik suaghe nabi Daud

lepas tungguan nabi Musa

lah nyamar tuan penyamar

mane tutur tuan penyamar

selandap batang selindip

selindip batang maye-maye

kesatu endap kedue indip

ketige lembah paghibase

kalu tekecak kate itu

rusak adak benase dide

Mudik melangkah endi peghajang

Allah kasih Muhammad sayang

Melikat pangku paliare

li laku lawangan sughang

sekali die ngentam tanah

tige kali gempe sepagi

gigir gening kayangan endap

gigir gening kayangan tinggi

tegogh limbogh di lekipali

ngape denie kuncang kighap

belum diangkat pengguruan

masih melikat enggimbar badan

due kali meggilik badan

tetegar tunjuk kelaut

Enggerandang laut belah due

ngapunglah ikan lumbe-lumbe

bulang-baling seluang remas

dide tetahan keangatan

tegogh limbogh di jagat jawe

besemah tambah kuncang kighap

belum diangkat pengguruan

tige kali menggilik badan

tetegar tunjuk kelangit

bedelap mataghi pajam

remancap bintang mate taun

kemindum bulan malam lime

sujud segale rumput teratai

ngangguk segale bulan bintang

empai diangkat pengguruan

wong seng arep tikam bedegan

musuh tuale tuntung pejere

ku gantung penjere

seribu pitung puluh

sia kekiri dan ke kanan

macetlah gale pengelu lawan

hak katenye Allah

Itu tungguan di lepaskan

Ading malang ibang aghi

dang senarung tampo itu

banyak pasukan lah kurang makan

ade enjualkah atap kalangan

tejual atap jeramba dendan

ghumah sekolah di tawarkan

tukar ngah beghas kandik makan

empuk luk itu muni kate

ngangguk gale rie penggawe

lah setuju pesirah kite

bukane liar kate Kandar

bukan diktaktor kate Bedur

cukup dipikir kate Manasir

empat sersan tetap betahan

najin gghapat lah kurang makan

najin celane lah tampitan

masih maju dik besepatu

dindak nyerah penjurit satu

makai akal sang piatu

due tige embuat setuyu

ditanjul ngah akagh bulu

diajung itam kandik baju

sate diugak tige setuyu

laju disiram ngah pengelu

tebudi belande maju

abis pengelu li setuyu

Ading malang ibang aghi

luk kate dipencau-pencau

bang kate dipumpong-pumpong

mule dipencau li lah gasip

sangkan dipumpong li endak gancang

ade pasukan medu sayak

jemenye banyak kanak-kanak

masih sekulah ungkusi mamak

kalu nak nginak semangate

melebihi setue ghimbe

endak daging tulah rupuk annye

bukane daging sapi daghe

daging pideral keluat jeme

enah anak kerebai mane

kalu ade jeme betanye

die cuman tetawe saje

seluk adak nanggung kebingung

seluk dide nanggung penane

lembut tulang nginak cengehe

Raban TRIP kete Kemadip

embak tulah pule kate Saghip

banyak pelajar laju enggabung

nyagu nulis nyagu beritung

laju encakagh lukak bombung

gghapat tekedan idung mancung

udim perang laju nyemantung

Empuk luk itu muni kate

sate tekantap perang nege

laju ngulang sekulah gale

lah banyak pule bekance

abiskah kudai panggung ini

ganjur guritan babak sane

amu li kawan babak sane

Kambangan mamak belande

ade ughang amsterdam

lah nyusuk ke pagaralam

pasukan nanye nambah saje

ditambah pule li jeme kite

empuk itam belande juge

titulah gghapat sumbar kanye

empuk luk itu muni kate

belum bise memerintah

belum beghani ngajung kuli

jaman kontelir pegang setir

kalu beghani cube-nube

ade melikat nyambar nyawe

orang keling bekeliling

baju itam ngibal malam

gerilawan dik jauh ige

gghapat sampai ke palak tangge

mucung geranat pasang kanye

singkat ughang beresik juge

ghulih geranat due tige

Banyak belande masang jeghat

ditanjul betali kawat

titu di pasang bilang jambat

ade sapi laju teghanyat

laju mati laju dik sempat

endik makan lemak gulai lezat

najin kance lah banyak wapat

Almarhum Bamim laju dik ngudim

namatkah sekolah tingkat pertame

anak lanang gi sughang tulah

almarhum Paal tulah meninggal

bujang bedengkang berambut sedang

gunting sirongan masih tekentang

mayat dimakam sirap petang

Di pajar bulan gadis korban

di gelung sakti rakyat mati

empuk Semit endi impit bukit

luke lum ghadu lah berimpit

abiskah kudai panggung ini

guritan ganjur ke tanjung sakti

Tanjung bukanlah asak tetanjung

disane kumpul pemimpin agung

ngatur tiori A.K. Gani

kenan keliling propinsi

residen Rozak gemerasak

empuk tue gi pacak nimbak

gghapat pule ampir tejebak

untung duit pacak encitak

duit dicetak di tanjung sakti

itu diatur li Rusnawi

Kambangan raban polisi

ade lanang endi sukabumi

komisaris pangkat pasti

lah ade pule lanang jati

Taslim Ibraghim ade disini

Keresidenan ngalih sini

pusat kemendan Bambang Oetoyo

kini lah nunggu ayik keghuh

itu besemah ayik keghuh

keghuh ayik keghuh rupukan

ngatur tiori endak melawan

ngatur siasat mangke cepat

kemenangan pacak di dapat

Kodam IV ade disini

territorium waktu ini

batalion ade di dusun

pagar bunge ngah tanjung kurung

disitu pusat pemerintahan

disitu banyak lelawangan

disane ughang tetap betahan

Ade nian binteng alam

titu dibuat ughang kelam

binteng bedame jeramba genting

disitulah badah betahan

banyak lawangan kurang makan

empuk pule pesenjatean

anye dik ade kemampiran

empuk belande buas melawan

jeme beghani tetaruhan

belumkah liwat empuk sitan

apelagi serdadu upahan

Ading malang ibang aghi

ade tekujat kawe manak

ijate kuning lagi besak

entah sape mule pertame

ghulih bibit kebilan jeme

bukane jeme kite saje

empuk belande kebilan pule

itu bahan export utame

kate jeme ende bekuase

benagh ngah dide dik tau kite

amu kabahr awar genawar

itu sumber devisa kite

emuk luk itu muni kate

digik tehingat enggaghi mamak

nemuka bibit ijat besak

Enjadi insiyur sekolah adak

sumber devisa jeme besak

dide benagh ade salahe

amu di enjuk tande jase

Ade pule ayik ende panas

ngulu tulung di ayik deghas

bukan sarjana ende mengulah

bukan insinyur ende mengatur

itu kendak Allah taala

Kalu titu diusahakan

sumber devisa endi eropa

kambangan paghiwisata

kah banyak datang endi eropa

Ading malang ibang aghi

kalu ughang di tanjung sakti

adat masih tepegang kuat

jeme sehendi ngah sehepat

kecik nurut ende tue ngipat

ughang betemu enggaghi Tenar

Tenar dame tenar jemenye

Ading malang ibang aghi

lah endak keenam bulan ninting

ngibagh ketujuh bulan panjang

gendang gepuh di tengah himbe

perang lum kina tande nege

anak ngah bini tinggal gale

Dide jelas tuape kabahre

keresidenan di tanjung sakti

dide tesebut nomer urut

dide tedaftar di markas besar

dide tetulis di meja tulis

Cuman pantun karang guritan

satu-satunye kecamatan

sampai dik ade kemampiran

abis tau empat sembilan

empuk luk itu muni kate

Banyak ibuk payah berupuk

lah banyak pule kurang tiduk

laki dimane kebile nyubuk

jehih tanggungan raban ibuk

empuk luk itu muni kate

asap kemenyan dide putus

masangkan ujud ngah penede

terasul kalu ngulang kumpul

tesangi kalu ngulang menang

ghumah salah sughang panglime

betekuk bukan engkas rukuk

belubang bukan engkas kumbang

engkas peluru sanampang mesin

nyaris matik ughang selusin

kalu dide salah ingatan

itu nyelah ghumah Barlian

Barlian ade di lais

ughang di ghumah laju nyaris

nyaris madam nyaris tenggelam

kebile aghi sirap malam

banyak ngeluagh baju itam

die lah nuju pagaralam

Ganjur guritan ke pedalaman

sangkan bejuluk pedalaman

itu daerah lah kemasukan

bukane masuk iblis setan

bukane pule kesurupan

masuk belande embabi bute

Ading malang ibang aghi

jangan beragam kate Agam

kance Sejaim matik udim

ughang ketawan sesarean

empuk Bedur jeghih tanggungan

jeme ghapat ngighim sumbangan

dicatat gale li kaki tangan

Pengelu panggil dikighimkan

kighiman anip endi pedalaman

sape dik tau engaghi Anip

agen besak lah ughang intip

kaki tangan sepade rinip

selalu ngintai ngah nyelinip

lauk kate di pencau-pencau

bang kate di pumpong-pumpong

ganjur guritan ke babatan

Yahya bahar ngulang tekedan

luluk kah lage same kawan

Batalion tige delapan

lah banyak sesat rupuk an

Taslim raban C.P.M

musi Oeloe rumbungan tuju

kereje sangkan lah embak itu

ade pesirah endi lah puna

sintimen merajalela

jabalan ngakuk lawangan

penjahat ngakuk bepangkat

bandit lah ngkakuk perajurit

gegale sape dik kah sempit

Kalu ughang di pedalaman

luk pantun ghempan diarisan

pengebah enjadi kebingung

kemarau enjadi karang tangis

sangkan ujan enjadi kebingung

takutkah kemarau sambar banyu

sangkan kemarau enjadi karang tangis

takutkah hempan lahap api

ditengah bentak gajah merah

di tepi tenye kumpi

Alakah murah rege nyawe

lebih murah endi rege kawe

sate lah enggegham langau ijang

dik kawan ade ende lawan ade

ende enjadi kaki tangan

banyak ende dindak campur tangan

lah banyak pule ende ketawan

Anip melapor ngah kemendan

lah banyak pule timbul bimbang

perang dide belukak menang

lah tunak ughang tunggu tunang

tunak basangu rasan dide

tunak embak lepu bawah batu

tunak luk lepang bawah batang

Ade nian lawangan sughang

diajung berenti li penjadi

anakku kalang anak keli

anak kejubang bawah batang

anakku bukan ghulih embeli

ghulih nede di bulan bintang

lah sebesak itu badan

lah setue itu nyawe

sekali adak pantau dame

idang dipantau malang tulah

kereje sangkan lah embak itu

li kundu badan pulanan

Yak mekukul tulah mangkal

demam malam anju belanju

badan lah kene lumpuh karang

kalu dide nemu benantu

lilaku lawangan sughang

embetuk tue meregam kenyang

embak pialing nyantap besi

mingguk adak miring dik ade

sepatah belum juge nimbal

lambat pelayun nimbal juge

nimbal kundu jurai tue

Nakan malang lawangan sughang

kalu kikabah belum pacak

kalu kabah belum tau

ade nian pepandin iluk

ade nian pepandin ringkih

rasan lah ude ku pajun paju

ughang bekule kantap galak

kalu bekule dengan kite

same turun same embuluran

ke gunung pacak same naik

ke lembah pacak same turun

same-same kundu beturun

same-same di tumbang ratu

putih peteri tekelipin

Anak ratu selimbur buih

kelawai bujang bangse kare

au nimbal lawangan sughang

engguk nian benagh kate mamak

putih peteri tekelipin

digik becele becelake

digek becuntoh dilayaran

mane beganding di segare

cuman ade celake dikit

amat-amat celake besak

putih peteri tekelipin

gumbak ikal bejumpung putih

jaghi sepuluh kurung lime

peruman jande kate jeme

Badan dek sanggup mati dulu

dindak kabah enggi gadis itu

ade agi pepandin iluk

ade agi pepandin ringkih

rasan lah ude dipajun-paju

ughang bekule kantap galak

kalu bekule dengan kite

Same-same kundu peturun

kundu peturun lebak intan

turusan diwe di kayangan

dide dibayang langit agi

puteri kuncup bunge melur

anak ratu tanjung auran

kelawai ulu balang lame

Au nimbal lawangan sughang

kamu ngetakah panggung itu

puteri kuncup bunge melur

digik becele becelake

digik becuntoh di layaran

mane beganding disegare

cuman ade celake dikit

amat-amat celake besak

besak tinggi bekain singkat

bejalan nerada bulan

peruman rengis kate jeme

badan dik sanggup dimaraghi

Au nimbal jurai tue

dindak kabahh ngah gadis itu

ade agi pepandin iluk

ade agi pepandin ringkih

rasan lah ude dipajun paju

ughang bekule kantap galak

kalu bekule kantap galak

kalu bekule dengan kite

same ke luang tunggang ayik

same-same ditumbang ratu

itam manis puteri arab

anak bangsawan di kayangan

sape dik tau itam manis

lah banyak bujang tekelindan

banyak lawangan ende ngemendan

kalu betemu peteri arab

iluk kah jerang lalu lame

Semalam laju due malam

igak beligak nambang bulan

isir kekisir laju naun

laju dik dapat jalan balik

kene merujung itam manis

empuk luk itu muni kate

li laku lawangan sughang

embentuk tue meregam kenyang

siluk nanye batu genam

mingguk adak miring dikade

Empai senampur sejerang panjang

lambat pelayun nimbal juge

nimbal kundu lawangan sughang

mane tutur lawangan sughang

engguk nian benagh kate kamu

itam manis puteri arab

digik becele becelake

digik becuntoh di layaran

mane beganding di segare

cuman ade celake dikit

amat-amat celake besak

itam manis puteri arab

panjang lah tunjuk endi jeghiji

kebile makan cucuk cecal

badan dik sanggup makan tighah

Ading malang ibang aghi

metu sirang pejadinye

kalu luk itu kate kabah

kabah ngetakah panggung itu

kambangan mamak belande

bukane batan pepegan

cagak setue tinjak besak

ngetam buaye enggimbar batang

kalu malu betambah malu

malu betambah bingung masih

sape dik tau lawangan sughang

encericit peluh dikening

tegenang peluh diselangke

melawan di ati-ati

melawan diati kecik

kalu bukan kate pejadi

kenanlah nimbak sampai mati

Luk kate dipencau-pencau

bang kate dipumpang-pumpang

li laku lawangan sughang

kisur tumit ganjur bejalan

dielah turun parelaman

kah ngulang balik ke pasukan

empuk luk itu muni kate

dang senarung tempu itu

sikuk penjurit diadu kalah

due kopral disabung mati

tige sersan disabung balui

bilang fron lah kemasukan

care frontal digik medal

Tihah encakagh lukak ngimbang

ade bagian pacak menang

mane rupuk-an lawangan sughang

dide ku menang lambat balik

dimane keputat ati

dimane keribang badan

kan kutuntut di layaran

kan kucaghi di segare

kalu beperang dide menang

malu ngah empaan ngah imbean

malu ngah kundang katin turun

tige kali tuhun denie

malunye masih ngali ambang

tihah ku badan mutih mate

iluk lah badan mutih tulang

mutih tulang banyak empak-an

mutih mate jarang imbean

bukan langguk bukan tekebur

iluk lah badan hancur lebur

tihah diatur li diktatur

Ading malang ibang aghi

kah endak ketujuh bulan ninting

ngabigh delapan bulan panjang

kapal lah ngulang melaye-laye

kapal ngulang melaye tinggi

jikunye tinggi ngangsar langit

jikunye endap ngangsar tanah

ngebom kemane nian die

belum puput karangan sebutan

belum abis karangan siwe

luk kelik menungsang alam

luk ibus teluncur tinggi

die lah ngebom tanjung sakti

pengembom kedue ini

bom ende umban enjadi selawi

tanggal due puluh empat juli

rebah rimpung di tanjung sakti

ini serangan abis-abisan

itulah nurut perhitungan

letak senjate lah di umumkan

cace pire kate kemendan

tapi lum ade pelaksanaan

tambah sangat pertempuran

belande ngambik kesempatan

Cacak dik tau ngah pengumuman

asak merusak endik patian

kalu belande lah kebelisan

digik peduli sape lawan

tihah nurutkah kendak sitan

Waktu tekedan tempu itu

banyak ughang ngucap ghuleh

bom ende dide sampai meletup

laju enjadi lantsmen kutak

berkat keahlihan jeme persenjatean

laju enjadi lantsmen kutak

berkat keahlian jeme persenjatean

laju banyak nambah korban

enggaghi belande di pedalaman

mulyono laju besak taruh

embuat senjate banyak munuh

sate tekantap perang menang

lah jeme laju linjang

banyak pasukan ngulang datang

ke tanjung sakti die ngumbang

ngambik lantsmen pulang petang

laju berangkat ngadang

Ade ende masih hizbullah

ini kendak allah ta’ala

ade masih be-pe-er-i

jemenje tahan pule mati

ade pesindo ngah napindo

jemenje dide kurang taro

tebentuk pule ende pe-pe-i

ini barisan endi puteri

tugas utame nyiapkan nasi

lempar lemang digek tebilang

gulai teghung lah penuh tuntung

gulai kacang lah penuh tepang

amu taghuk tulah telungguk

amu sambal kandik kopral

Ude lah ude dikumpulkan

diantatkah dide bemubil mewah

gerubak sapi lah jadilah

sukagh jeme lah melupekah

peluh janiah ngah Seleha

Suriah kundang Nurmah

Subaidah kundang Khodijah

Baya lah kundang enggaghi Mina

Subiarti nunjuk-i nyanyi

kalu endak nginak bukit ini

ade gambare enggaghi kami

srikandi jagat besemah

ngenjuk spirit empuk dikit