<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7375266540532196859</id><updated>2012-01-04T06:33:00.915+08:00</updated><category term='Kedudukan Ibu dalam Islam'/><category term='Mengenang Mohammad Natsir'/><category term='Bahaya syirik kepada Allah'/><category term='Prinsip Good Governance dan Reinventing Government'/><category term='Hidup ini mudah'/><category term='Filsafat Ilmu'/><category term='Membeli Kebun di Surga'/><category term='Prof. Dr. Hamka'/><category term='Artikel Sistem Informasi Manajemen'/><category term='Guritan Jagad Besemah'/><category term='Riwayat Pekerjaan'/><category term='Allah itu ada'/><category term='Serangan USA ke Indonesia'/><category term='Kisah Nyata'/><category term='KEJADIAN MISTERIUS DI RSCM'/><category term='Mengenang Buya Hamka'/><category term='18 Kiat membahagiakan istri'/><category term='Perguruan Tinggi'/><category term='3 Dimensi Kesempurnaan Islam'/><category term='Konsultasi tesis MAP dan MM'/><category term='Bahagia menurut Islam'/><title type='text'>Hardiyansyah Ahmad</title><subtitle type='html'>"...Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (Q.S. Al-Mujaadalah : 11)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Hardiyansyah Ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05196682395539916812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>41</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7375266540532196859.post-8972251846711879893</id><published>2011-01-17T20:05:00.000+08:00</published><updated>2011-01-17T20:06:49.252+08:00</updated><title type='text'>Pendahuluan</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1. Latar Belakang&lt;br /&gt;Kondisi penyelenggaraan pelayanan publik saat ini masih belum memadai, karena masih banyaknya keluhan dan pengaduan dari masyarakat baik secara langsung maupun melalui media massa, seperti: prosedur yang berbelit-belit, tidak ada kepastian jangka waktu penyelesaian, tidak jelas berapa biaya yang harus dikeluarkan, persyaratan yang  tidak transparan, sikap petugas yang kurang responsif dan lain-lain, sehingga menimbulkan citra yang kurang baik terhadap citra pemerintah dan pemerintah daerah. &lt;br /&gt;Menurut Ismail Mohamad (2003:2) bahwa:&lt;br /&gt;“...permasalahan  utama pelayanan publik pada dasarnya adalah berkaitan dengan peningkatan kualitas pelayanan itu sendiri. Pelayanan yang berkualitas sangat tergantung pada berbagai aspek, yaitu bagaimana pola penyelenggaraannya (tata laksana), dukungan sumber daya manusia, dan kelembagaan.  Dilihat dari sisi pola penyelenggaraannya, pelayanan publik masih memiliki berbagai kelemahan antara lain: kurang responsif, kurang informatif, kurang accessible, kurang koordinasi, birokratis, kurang mau mendengar keluhan/saran/aspirasi masyarakat, dan in-efisien.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan hal tersebut di atas, Feisal Tamin (2004:4) mengatakan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“...kita sungguh menyadari bahwa jajaran aparatur pemerintah memang masih mempunyai berbagai kelemahan dalam penyelenggaraan pelayanan publik dalam berbagai sektor pelayanan. Kelemahan-kelemahan tersebut dapat diketahui melalui pengaduan dan keluhan yang disampaikan masyarakat,  baik secara langsung maupun melalui media massa, antara lain menyangkut sistem dan prosedur pelayanan yang berbelit-belit, tidak transparan, kurang informatif, kurang akomodatif, dan tidak konsisten, sehingga tidak menjamin kepastian hukum, waktu dan biaya serta masih adanya praktek percaloan dan pungutan tidak resmi”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelayanan publik yang ada selama ini memang selalu dihadapkan pada masalah-masalah seperti dikemukakan di atas. Survey yang dilakukan oleh Litbang Kompas terhadap 885 responden dengan tingkat kepercayaan 95% pada tanggal 28 Februari sampai dengan 1 Maret 2007, terungkap bahwa birokrasi Indonesia gagal menjalankan fungsi pelayanan publiknya.  Ketidakpastian waktu menjadi problem bagi masyarakat ketika berurusan dengan birokrasi. Urusan kecil bisa makan waktu yang lama. Inilah fenomena yang dirasakan sebagian besar (62,9%) responden. Menurut mereka, berurusan dengan aparat birokrasi selalu makan waktu lama. Selain ketidakpastian waktu, ketidakpastian biaya menjadi keluhan warga ketika berurusan dengan birokrasi. Tidak sedikit warga yang menyogok aparat birokrasi demi kelancaran urusannya. Dari fenomena ini, lebih dari separuh (58%) responden menganggap aparat birokrasi gampang disuap. Pencitraan tersebut, bisa jadi, dipicu juga oleh ketidakpuasan responden terhadap etos kerja birokrasi selama ini. Sebagian besar responden menyatakan tidak puas dengan kelambatan birokrasi dalam melayani urusan publik. Penilaian yang sama juga diungkapkan 65,3% responden terhadap efektivitas kerja birokrasi. Sementara untuk kedisiplinan, kecermatan, dan kesigapan kerja, sebagian besar responden masih kecewa.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari sekian banyak pelayanan publik yang dilakukan oleh pemerintah daerah, satu diantaranya adalah pelayanan izin mendirikan bangunan atau disingkat IMB.  Kepemilikan IMB merupakan hal yang sangat urgen. Tanpa IMB, maka bangunan yang didirikan menjadi tidak legal. Karena tidak legal, maka pemerintah daerah berhak untuk  menghentikan proses pembangunan tersebut dan apabila bangunan tersebut telah didirikan, ternyata tidak memiliki IMB, maka pemerintah daerah pun berhak untuk merobohkan bangunan tersebut.  Sudah sangat sering media memberitakan bagaimana pemerintah daerah melalui polisi pamong praja (Pol-PP) menghancurkan atau merobohkan  bangunan yang telah berdiri namun tidak memiliki IMB.&lt;br /&gt;Seharusnya setiap kali melakukan proses pembangunan (fisik), mulai dari mendirikan bangunan baru, mendirikan bangunan tambahan pada bangunan yang sudah ada dan atau mengubah sebagian atau seluruh bangunan yang sudah ada harus terlebih dahulu mendapatkan IMB, dengan demikian diharapkan seluruh bangunan yang telah berdiri memenuhi teknik konstruksi, estetika serta persyaratan lainnya sehingga tercipta suatu rangkaian bangunan yang layak dari segi keselamatan, kesehatan, kenyamanan, keindahan dan interaksi sosial.&lt;br /&gt; Namun kenyataan menunjukkan, masih sangat banyak masyarakat yang melakukan atau mendirikan bangunan tidak melakukan permohonan untuk memperoleh IMB. Sehingga banyak bangunan yang berdiri tidak memiliki IMB. Sebenarnya masyarakat sangat memerlukan IMB, tetapi seringkali terhambat pada bentuk pelayanan yang menyulitkan, prosedur yang berbelit-belit dan biaya yang tidak jelas serta sulit terjangkau, sehingga mereka tidak mau mengurus IMB.&lt;br /&gt;Berbagai upaya telah diusahakan untuk memperlancar proses pelayanan IMB, namun masih sering dijumpai kendala-kendala yang perlu terus menerus diatasi, agar masyarakat pemohon IMB memperoleh kepastian waktu, biaya, maupun tenaga yang diperlukan. Karena berdasarkan pengamatan, dalam pelaksanaan pelayanan perizinan, terutama IMB dirasakan oleh masyarakat masih memiliki banyak kelemahan yang diduga dapat menciptakan berbagai peluang penyimpangan, seperti mekanisme dan prosedur pelayanan yang panjang, tidak ada kepastian waktu penyelesaian dan biaya tinggi; kurangnya transparansi informasi, baik mengenai ketentuan, mekanisme prosedur, persyaratan maupun proses penyelesaiannya; dan kurang profesionalnya pelayanan yang diberikan oleh aparat.&lt;br /&gt;Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ony Ariyanti (2008) tentang “Kualitas Pelayanan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) pada Dinas Penataan dan Pengawasan Bangunan Provinsi DKI Jakarta”, diperoleh kesimpulan sebagai berikut: &lt;br /&gt;Pertama, bahwa telah terjadi kesenjangan (gap) antara kualitas pelayanan yang diharapkan dengan yang dirasakan (kenyataan). Artinya, petugas pelayanan IMB masih belum dapat memberikan pelayanan yang dapat memuaskan para konsumen IMB.  Kedua, secara keseluruhan, konsumen merasa kurang puas terhadap pelayanan yang mereka rasakan/terima. Ketidakpuasan tersebut, terutama disebabkan oleh faktor (1) waktu penyelesaian pelayanan yang tidak pasti; (2) kurangnya ketulusan dan kesungguhan petugas pelayanan dalam menyelesaikan permasalahan konsumen; (3) akurasi dokumen atau persyaratan pelayanan; (4) relatif lambatnya pelayanan diberikan oleh petugas pelayanan; (5) kurang tanggapnya petugas pelayanan dalam memenuhi kebutuhan konsumen; (6) sarana/fasilitas pelayanan yang kurang memadai; (7) kurang nyamannya lingkungan tempat pelaksanaan pelayanan; (8) kurang mampunya petugas dalam memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan konsumen; (9) kurang ramahnya petugas pelayanan dalam memberikan pelayanan; (10) ketidaksesuaian waktu/jam kerja petugas pelayanan dalam memberikan pelayanan; dan (11) sebagian besar konsumen kurang merasakan adanya perhatian khusus dari petugas pelayanan kepada konsumen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena tersebut hampir terjadi diberbagai kantor pelayanan publik, termasuk yang terjadi pada Dinas Tata Kota Palembang, sebagai instansi yang berwenang mengurus dan mengeluarkan IMB di lingkungan Kota Palembang. Hal itu tercermin dari data yang menunjukkan bahwa masih sangat banyak bangunan di Kota Palembang yang tidak/belum memiliki IMB. Padahal banyak sekali keterkaitan antara IMB dengan berbagai macam jenis perizinan yang lain. Apabila tidak memiliki IMB maka akan bermasalah pada pengurusan perizinan lainnya, karena IMB menjadi salah satu syarat untuk mendapat berbagai macam jenis perizinan yang ada. Misalnya, untuk mendapatkan surat izin tempat usaha perdagangan atau izin usaha industri, maka harus terlebih dahulu memperoleh IMB, sebagai salah satu syaratnya.  Bahkan bagi masyarakat yang berhubungan dengan perbankan dan menjadikan tanah dan bangunannya sebagai jaminan saat meminjam sejumlah uang kepada pihak bank, pihak bank menjadikan IMB sebagai salah satu syarat agar masyarakat mendapat pinjaman dana/uang kepada bank. Artinya, betapa berharga dan pentingnya IMB bagi masyarakat dan akan sangat bermasalah apabila tidak memiliki IMB, bukan saja berguna bagi keabsahan (legalitas) bangunan yang didirikan, tetapi menyangkut kelancaran berbagai bentuk pengurusan perizinan dan persyaratan lainnya. &lt;br /&gt;Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Palembang Nomor 13 Tahun 2004 Tentang Pembinaan dan Retribusi Perizinan Bangunan, bahwa setiap mendirikan bangunan wajib memiliki IMB, tujuannya adalah agar bangunan yang didirikan oleh masyarakat dapat tertata dengan baik dan memenuhi persyaratan, layak digunakan, dan tidak merusak lingkungan. Upaya mewujudkan program pembangunan atau pengembangan kota serta manfaat ruang kota secara optimal, seimbang dan serasi agar tercipta kondisi kota yang tertib dan teratur. Manfaat IMB bagi masyarakat adalah: (1) bangunan yang memiliki IMB dapat meningkatkan nilai ekonomis bangunan; (2)  dapat dijadikan sebagai jaminan atau agunan; dan (3) dari aspek legalitas mendapat perlindungan hukum.&lt;br /&gt;Sejak diberlakukannya Peraturan Daerah (Perda) Kota Palembang Nomor 11 Tahun 1996 tentang Izin Mendirikan dan Membongkar Bangunan, dan Peraturan  Daerah Nomor 13 Tahun 2004 tentang Pembinaan dan Retribusi Perizinan Pembangunan, ternyata baru menghasilkan capaian angka kepemilikan IMB sebesar 35,10%  atau 88.538 bangunan dari total jumlah bangunan di Kota Palembang sebanyak  252.246 (lihat Tabel 1.1.).  Angka tersebut menjadi indikasi kuat bahwa pelayanan perizinan IMB di Kota Palembang belum optimal dalam mencapai tujuannya.  Dengan kondisi demikian, potensi keributan/konflik atau bentrokan antara masyarakat dengan aparat pemerintah kota, terutama dengan satuan polisi pamong praja (Sat Pol PP) sangat mungkin terjadi. Beberapa bentrokan yang sempat diberitakan media massa, antara lain:&lt;br /&gt;“...tiga tempat usaha perbengkelan las dan servis AC yang terletak di Jalan Demang Lebar Daun Palembang, terpaksa dibongkar paksa oleh gabungan polisi Pamong Praja dan satuan Sabhara Poltabes Palembang. Upaya eksekusi yang sempat menarik perhatian sejumlah warga ini berjalan cukup tegang karena pemilik rumah memberikan perlawanan dan tidak bersedia rumahnya dibongkar petugas. Bahkan petugas yang berjumlah sekitar seratus orang ini nyaris terluka dilempar pemilik rumah dengan botol minuman dan batu. Menurut Kepala Kantor Polisi Pamong Praja Kota Palembang Drs. Marwan Hasmen, ketiga bangunan tersebut melanggar sempadan jalan serta tidak memiliki IMB. &lt;br /&gt;Kemudian, Koran Seputar Indonesia (Sindo) juga melaporkan bentrokan antara Sat Pol PP dengan warga masyarakat:&lt;br /&gt;“Tindakan tegas Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang yang membongkar paksa sejumlah bangunan liar di area galian golongan C Alang-Alang Lebar (AAL), berbuntut panjang. Korban Asmadi menceritakan, sebelum dia menjadi bulan-bulanan dan sasaran amukan anggota Satpol PP, terlebih dahulu anggota Satpol PP yang dipimpin Ka Satpol PP melakukan pembongkaran base camp berukuran 4 x 8 meter, tempat penampungan bahan material untuk pembangunan rumah toko (ruko) miliknya. Alasan Satpol PP membongkar base camp dari papan itu, karena bangunan tersebut liar lantaran tidak memiliki izin mendirikan bangunan (IMB). Padahal, gudang yang dibangun tersebut sifatnya hanya sementara dan setiap pembangunan sebuah proyek pasti ada gudang untuk menyimpan bahan material. Akhirnya korban Asmadi melaporkan Ka Satpol PP ke polisi.” &lt;br /&gt;Bentrokan serupa dalam skala kecil yang tidak sempat diberitakan media massa sudah sering terjadi. Terutama di kawasan-kawasan pemukiman baru dan daerah pinggiran Kota Palembang. Apabila kesadaran masyarakat terhadap IMB masih rendah dan pelayanan IMB juga masih buruk, maka tidak menutup kemungkinan kejadian serupa akan terus berulang. &lt;br /&gt;Tabel 1.1.&lt;br /&gt;Jumlah Bangunan yang telah dan yang belum memiliki IMB di Kota Palembang Tahun 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. Kualifikasi Bangunan Jumlah Persentase&lt;br /&gt;1. Bangunan yang memiliki IMB 88.538 35,10&lt;br /&gt;2. Bangunan yang belum/tidak memiliki IMB 163.708 64,90&lt;br /&gt; Jumlah total bangunan 252.246 100&lt;br /&gt;Sumber : Dinas Tata Kota Palembang, 2009&lt;br /&gt;Tabel 1.1. di atas menunjukkan bahwa pelaksanaan pelayanan IMB masih belum baik. Atau dengan kata lain terdapat kesenjangan antara harapan (das Sein) dengan kenyataan (das Sollen) dalam pelayanan IMB di Kota Palembang. Harapannya, seluruh bangunan atau setiap kali masyarakat mendirikan bangunan harus mendapatkan IMB terlebih dahulu, namun kenyataan (realitas) menunjukkan masih sangat banyak, yakni 64,90% bangunan yang tidak memiliki IMB atau masyarakat yang tidak mengurus IMB saat mendirikan bangunan. Berdasarkan pengamatan peneliti di lapangan, dari segi komunikasi bahwa masih banyak masyarakat (pemohon) yang tidak mengerti tentang bangunan seperti apa saja yang harus memiliki IMB. Selama ini yang diketahui masyarakat hanyalah “bangunan baru” saja yang harus diurus IMB-nya, padahal menurut ketentuan Bab II Pasal 2 ayat (2) Perda Kota Palembang No. 13 Tahun 2004, mendirikan “bangunan tambahan pada bangunan yang sudah ada” dan “mengubah sebagian atau seluruh bangunan yang sudah ada”, juga harus mendapatkan IMB. &lt;br /&gt;Selain itu, banyak masyarakat juga tidak tahu tentang sanksi bagi pendirian bangunan tanpa izin, masyarakat juga banyak yang belum paham bagaimana cara, proses dan prosedur memperoleh IMB, berapa lama waktu yang diperlukan untuk proses pengurusan IMB, serta berapa besarnya tarif retribusi untuk memperoleh IMB dimaksud. Berkaitan dengan hal tersebut, menurut beberapa pemohon, hal ini disebabkan karena kurangnya informasi dan komunikasi yang disampaikan secara tertulis oleh aparatur (pemerintah daerah), seperti petunjuk/papan informasi dan brosur tentang mekanisme permohonan IMB. Sedangkan informasi dan komunikasi secara lisan yang disampaikan oleh petugas (pegawai) dianggap kurang jelas, sehingga terkesan kurang paham, kurang terbuka dan tidak transparan. Disamping itu, pelayanan yang dilakukan juga dirasakan kurang ramah.&lt;br /&gt;Demikian dari beberapa fenomena tersebut di atas, tidak hanya mengidentifikasikan masih belum optimalnya kualitas pelayanan IMB yang diberikan oleh Dinas Tata Kota Palembang, sekaligus juga menggambarkan belum optimalnya fungsi  komunikasi pemerintahan di lingkungan Dinas Tata Kota dalam melayani pemohon IMB. Apabila kualitas pelayanan IMB  yang diberikan oleh Dinas Tata Kota Palembang tidak ditingkatkan, maka akan menimbulkan citra negatif dan rendahnya tingkat kepercayaan publik kepada Dinas Tata Kota Palembang khususnya dan kepada Pemerintahan Kota Palembang pada umumnya, dan pada akhirnya berpotensi menjadi bahan keributan (bentrokan) antara aparat Pemerintah Kota, terutama antara Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) dengan warga masyarakat.&lt;br /&gt;Urgensi melakukan penelitian tentang kualitas pelayanan IMB di lingkungan Dinas Tata Kota Palembang adalah: (1) Visi Dinas Tata Kota Palembang yang ingin mewujudkan Palembang sebagai kota internasional, berbudaya dan sejahtera melalui penataan kota yang ideal, dan terpadu berpedoman kepada rencana tata ruang yang berkesinambungan. Antara lain dilakukan dengan: “menyusun dan melaksanakan sumber informasi dan pedoman pembangunan kota secara lengkap; mensosialisasikan rencana tata ruang kota dan perizinan secara transparan; dan meningkatkan teknis dan prosedur pelayanan (kepada masyarakat)”. (2) Fungsi komunikasi, terutama sosialisasi tentang mekanisme prosedur pelayanan, sehingga merupakan salah satu persyaratan bagi munculnya persepsi yang sama dalam melakukan pelayanan, nampak belum optimal. Terutama pemohon yang berasal dari kawasan pemukiman baru dan berbagai permasalahan pada bangunan di pinggiran kota; (3) Pelayanan IMB berkaitan dengan persyaratan untuk memperoleh pelayanan perizinan lainnya, sehingga akan melibatkan instansi dan lembaga lainnya; (4) Masih banyak keluhan dan masih jarang terjadi adanya pengurusan IMB yang selesai pada batas waktu yang ditentukan; (5) Masih banyak yang menilai bahwa kinerja pelayanan IMB belum dapat terlaksana secara optimal dan dapat dipercaya sesuai dengan harapan, bahkan terkesan seolah-olah disengaja oleh pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan, sehingga membawa dampak orang “enggan” untuk mengurus IMB; (6) Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja pelayanan IMB antara lain adalah: prosedur persyaratan, jangka waktu, biaya, sumberdaya manusia, sumber pembiayaan, prasarana/sarana kerja, data-data pertanahan, dan persyaratan lainnya yang terkait dengan pelayanan; (7) Tuntutan masyarakat untuk mendapat pelayanan dan informasi secara cepat seiring pesatnya perkembangan bidang teknologi informasi, bukan lagi merupakan hal yang sulit untuk diwujudkan; dan (8) Sudah waktunya layanan perizinan, termasuk IMB tidak dipersulit, agar visi Dinas Tata Kota Palembang dapat terwujud.&lt;br /&gt;Berkenaan dengan hal tersebut, melalui penelitian ini peneliti bermaksud mengungkapkan dan menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan masih belum optimalnya pelayanan IMB di Kota Palembang. Pemikiran tersebut diarahkan untuk memperoleh eksplanasi tentang ketidaksesuaian antara harapan dan realita dalam rangka mencari penyebab dan pengaruh  yang ditimbulkan oleh komunikasi pemerintahan tersebut terhadap kualitas pelayanan IMB. Oleh karena itu, untuk memastikan apakah kualitas pelayanan IMB yang digambarkan melalui fenomena tersebut besar atau tidak dipengaruhi oleh komunikasi pemerintahan dan seberapa besar pengaruhnya, maka peneliti menganggap perlu untuk menetapkan problem statement dalam rencana usul penelitian ini.&lt;br /&gt;1.2. Rumusan Masalah&lt;br /&gt;Berdasarkan fenomena-fenomena yang diungkapkan dalam latar belakang penelitian, maka dapat dikemukakan pernyataan masalah  (problem statement)  penelitian sebagai berikut: “Belum diketahui seberapa besar Pengaruh Komunikasi Pemerintahan terhadap Kualitas Pelayanan IMB di Kota Palembang”. Berdasarkan  problem statement  ini, maka peneliti mengemukakan pertanyaan penelitian (research question) sebagai berikut: “Seberapa besar pengaruh komunikasi pemerintahan terhadap kualitas pelayanan IMB di Kota Palembang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;1.3.1. Maksud Penelitian&lt;br /&gt;Maksud penelitian ini adalah untuk menguji secara empirik serta untuk menemukan fakta-fakta, dan mengkaji secara ilmiah pengaruh komunikasi pemerintahan terhadap kualitas pelayanan IMB pada Dinas Tata Kota Palembang. Selain itu juga untuk mengukur besarnya pengaruh komunikasi pemerintahan terhadap kualitas pelayanan IMB pada Dinas Tata Kota Palembang. &lt;br /&gt;1.3.2 Tujuan Penelitian&lt;br /&gt; Penelitian ini bertujuan untuk:&lt;br /&gt;1) Memperoleh eksplanasi faktual terhadap terjadinya fenomena yang menyebabkan belum optimalnya kualitas pelayanan melalui analisis empirik terhadap dimensi-dimensi variabel komunikasi pemerintahan terhadap kualitas pelayanan izin mendirikan bangunan pada Dinas Tata Kota Palembang. &lt;br /&gt;2) Menemukan besarnya pengaruh komunikasi pemerintahan yang ditentukan dimensi-dimensinya terhadap kualitas pelayanan IMB, sehingga dapat menemukan suatu konsep baru sebagai upaya peningkatan kualitas pelayanan IMB pada Dinas Tata Kota Palembang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4.   Kegunaan Penelitian&lt;br /&gt;Kegunaan penelitian ini diharapkan dapat berguna, baik bagi pengembangan ilmu (teoritis) maupun bagi aspek guna laksana (praktis).&lt;br /&gt;1.4.1. Aspek Teoritis&lt;br /&gt; Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran atau masukan bagi pengembangan ilmu-ilmu administrasi secara multi dimensional, terutama yang berkaitan dengan kualitas pelayanan publik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4.2. Aspek Praktis&lt;br /&gt;Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi, bahan pertimbangan, dan rekomendasi bagi Pemerintah Kota Palembang umumnya dan Dinas Tata Kota khususnya dalam upaya peningkatan kegiatan komunikasi pemerintahan (dengan segala dimensinya), yang juga sekaligus sebagai upaya memperbaiki kualitas pelayanan izin mendirikan bangunan pada Dinas Tata Kota Palembang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7375266540532196859-8972251846711879893?l=hardiyansyah-ahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/feeds/8972251846711879893/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7375266540532196859&amp;postID=8972251846711879893' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/8972251846711879893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/8972251846711879893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/2011/01/pendahuluan.html' title='Pendahuluan'/><author><name>Hardiyansyah Ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05196682395539916812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7375266540532196859.post-9125018903984365360</id><published>2010-10-28T06:49:00.001+08:00</published><updated>2010-10-28T06:49:41.687+08:00</updated><title type='text'>Sombong karena Ilmu</title><content type='html'>&lt;table width="100%" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;div class="g" id="_1288218009664"&gt;&lt;h2&gt;Sombong karena Ilmu: Juhala’ Mengaku Fuqaha’&lt;/h2&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;div class="g" id="_1288218009665"&gt;&lt;p&gt;Di  dalam kitab-kitab salaf, terutama dalam studi hadits dan akhlaq, bab  yang pertama kali diulas adalah bab ilmu. Ini mengindikasikan urgensi  (fadhilah) ilmu dalam Islam. Islam dan segala aspeknya dibangun atas  dasar ilmu. Oleh sebab itu, para penganutnya didorong untuk selalu  belajar dan mengambil pelajaran. Allah sendiri menegaskan: “&lt;em&gt;Katakanlah:  Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak  mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima  pelajaran&lt;/em&gt;.” (QS. Az-Zumar: 9)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Membangun pribadi dalam Islam  adalah membangun semangat keilmuan. Namun seorang penuntut ilmu wajib  mempelajari adab dan akhlak telebih dahulu. Tujuannya agar jiwanya  ditanamkan etika kepantasan dan batinnya terjaga dari penyakit hati.  Bila penuntut ilmu langsung terjun menggeluti halal-haram misalnya tanpa  mendalami akhlak, perangainya cenderung keras tak beretika. Itulah  sebabnya kenapa para salaf menganjurkan belajar adab dan akhlak sebelum  menuntut ilmu tertentu. Begitulah seharusnya. Isilah hati dengan adab,  baru mengisi otak dengan ilmu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Orang yang berilmu rentan  dihinggapi penyakit sombong apalagi dengki. Dia sombong memandang rendah  kemampuan orang lain. Yang bertitel Doktor meremehkan lulusan S2 dan  S1. Pejabat Rektor menganggap para dekan dan dosen berkualitas di  bawahnya. Bila sudah sombong sudah pasti dengki. Setiap orang pintar  dianggap saingan. Bila salah satu rekan mengeluarkan buku baru, dia  kaget bagai tersengat listrik. Tak lama kemudian bukunya pun terbit.  Alasannya supaya dianggap tidak kalah produktif menulis.&lt;/p&gt;&lt;div class="i"&gt;&lt;p&gt;Kini  prilaku sombong tidak saja menjangkiti para dosen atau guru besar,  tetapi juga para mahasiswa. Termasuk sebagian mahasiswa studi Islam.  Akibat salah ajaran dan salah baca, mereka jadi sok pinter. Mereka yang  ilmunya masih sedikit sudah besar kepala. Membaca Arab gundul saja belum  becus sudah merasa master dalam bahasa Arab. Hobbi mereka berdebat  tanpa ilmu. Semua hal diperdebatkan dan dikritisi. Masih juhala’ mengaku  sudah fuqaha’. Masih payah berlagak ’allamah. Sungguh sayang bila ilmu  tidak diimbangi dengan pembersihan jiwa. Ilmu malah jadi benalu, alat  kesombongan. Jangan heran, bila mahasiswa sekarang dengan fasih  mengeritik Imam Syafi’i atau Imam Al-Ghazali. Tepat sekali apa yang  disampaikan Oleh Syaikh Zainuddin Abdul Madjid dalam wasiatnya,&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="h"&gt;&lt;div class="i"&gt;&lt;p&gt;Aduh sayang,&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="h"&gt;&lt;div class="i"&gt;&lt;p&gt;Pemuda sekarang berlenggak lenggok&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="h"&gt;&lt;div class="i"&gt;&lt;p&gt;Berasa diri gagah dan elok&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="h"&gt;&lt;div class="i"&gt;&lt;p&gt;Ulama Aulia diolok-olok&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="h"&gt;&lt;p&gt;”Belum bertaji sudah berkokok”&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="i"&gt;&lt;p&gt;Para  mahasiswa itu tidak takut mengucap kata-kata kasar terhadap para ulama  salaf. Para sahabat pun tidak jarang dilecehkan kehormatannya. Contoh  kasus, mereka mengekor para Orientalis yang meragukan orisionalitas  Al-Qur’an dan Al-Hadits. Oleh karena itu mereka sangat mendukung ide  ”Dekonstruksi Al-Qur’an” atau ide pembacaan dan penafsiran ulang  kitab-kitab klasik. Mereka membeo para orientalis yang menentang segala  hal yang absolut. Betapa sangat lucu, mereka mengapresiai kaum Kuffar  dengan menghina ulama-ulama Islam. Padahal kaum orientalis itu berusaha  keras untuk meruntuhkan keyakinan kaum Muslim, bahwa al-Quran adalah  Kalamullah, bahwa al-Quran adalah satu-satunya Kitab Suci yang suci,  yang bebas dari kesalahan.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="h"&gt;&lt;div class="i"&gt;&lt;p&gt;Aduh sayang,&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="h"&gt;&lt;div class="i"&gt;&lt;p&gt;Baru saja mendapat ijazah&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="h"&gt;&lt;div class="i"&gt;&lt;p&gt;Menyangka diri sudah ’allamah&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="h"&gt;&lt;div class="i"&gt;&lt;p&gt;Tidak menghirau guru dan ayah&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="h"&gt;&lt;p&gt;”Mencabik mudah menjahit susah”&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;DR.  Adian Husaini, MA merasa miris melihat fenomena ini. ”Semestinya,  sebagai orang yang mengaku Muslim, tentu ayat-ayat al-Quran itu menjadi  pegangan hidup dan pedoman berpikirnya. Sebab, al-Quran adalah landasan  utama keimanan seorang Muslim. Jika tidak mau mengakui kebenaran  al-Quran, untuk apa mengaku Muslim! Konsistensi berpikir semacam ini  sangat penting, sehingga tidak memunculkan kerancuan dan ketidakjujuran  dalam beragama. Bagi kaum Kristen yang percaya Injil, tentu akan menolak  al-Quran. Itu sudah normal dan wajar. Aneh, kalau seorang tetap mengaku  Kristen, tetapi pada saat yang sama juga mengaku percaya kepada  kenabian Muhammad saw dan kebenaran al-Quran.” rilisnya dalam sebuah  artikel beliau di Hidayatullah.com&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ilmu itu menurut Wahb bin  Munabbih bagai air hujan. Ia turun dari langit manis dan suci. Lalu ia  dihisap oleh akar-akar banyak pohon hingga berubah sesuai dengan rasa  buahnya. Bila pahit, maka akan bertambah pahit. Bila manis, akan semakin  manis. Demikian juga ilmu, tergantung motivasi dan perangai orang yang  menuntutnya. Orang yang sombong bertambah sombong. Yang tawadhu’ semakin  tawadhu’. Ini karena orang yang dulunya bodoh lalu termotivasi oleh  kesombongan, ketika memperoleh ilmu, dan ternyata dapat diandalkan  sebagai prestisenya, semakin sombonglah ia. Adapun yang berhati-hati  dengan ilmunya, ketika ilmunya bertambah dan ia sadar hajatnya pada ilmu  telah terpenuhi, ia makin berhati-hati. Mau’izhatul Mukminin 175&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ilmu  yang hakiki adalah ilmu yang sejauh mana ia diraih, semakin mendekatkan  kepada Allah, bukan malah menjauh. Semakin dalam diteliti, makin dalam  pula cintanya pada-Nya. Semakin berhasil mengidentifikasi hal-hal yang  baru, semakin besar kekaguman pada-Nya. Goresan tangannya mengajak  mengenal Allah. Uraian kata-katanya menggambarkan ketawadhuan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ilmu  yang hakiki merupakan kendaraan pribadi menuju taqwa. Ia seolah payung  pelindung dari derasnya godaan dunia yang fana. Ia melahirkan keberanian  terhadap kebatilan penguasa namun melahirkan ketakutan kepada Sang  penguasa sejati. ” &lt;em&gt;Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”&lt;/em&gt;(QS. Fatir: 28)&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;div class="b" id="_1288218009666"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;div class="g" id="_1288218009667"&gt;Habib Ziadi,&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;div class="g" id="_1288218009668"&gt;&lt;em&gt;Mahasiswa Ma'had Aly An-Nu'aimy Jakarta&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7375266540532196859-9125018903984365360?l=hardiyansyah-ahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/feeds/9125018903984365360/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7375266540532196859&amp;postID=9125018903984365360' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/9125018903984365360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/9125018903984365360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/2010/10/sombong-karena-ilmu.html' title='Sombong karena Ilmu'/><author><name>Hardiyansyah Ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05196682395539916812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7375266540532196859.post-1904791596020939459</id><published>2010-10-28T06:47:00.000+08:00</published><updated>2010-10-28T06:48:08.388+08:00</updated><title type='text'>Melenyapkan Kesombongan dengan Jalan Kesederhanaan</title><content type='html'>&lt;h2 id="title" class="judul"&gt;Melenyapkan Kesombongan dengan Jalan Kesederhanaan&lt;/h2&gt;     &lt;div id="tanggal" class="margin-10-10"&gt;Sabtu, 04/09/2010 16:49 WIB | &lt;a class="text-link" href="http://www.eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/send/muhammad-pizaro-novelan-tauhidi-konselor-muslim-melenyapkan-kesombongan-dengan-jalan-kesederhanaan"&gt;email&lt;/a&gt; | &lt;a class="text-link" href="http://www.eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/cetak/muhammad-pizaro-novelan-tauhidi-konselor-muslim-melenyapkan-kesombongan-dengan-jalan-kesederhanaan"&gt;print&lt;/a&gt; | &lt;a class="text-link" href="http://www.addthis.com/bookmark.php?url=http://www.eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/muhammad-pizaro-novelan-tauhidi-konselor-muslim-melenyapkan-kesombongan-dengan-jalan-kesederhanaan.htm"&gt;share&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;      &lt;p&gt;Kadang tak bisa kita pungkiri sampai saat ini ada sebersit cahaya  sombong lagi angkuh dalam diri kita. Suatu saat, kita pernah terjebak  merasa menjadi individu paling hebat. Ada kalanya, mulut kita pun tanpa  sadar kerap berucap, tahu apa seseorang tentang sesuatu yang kita  bicarakan. Tak jarang sesekali kita pun turut jua memakai jalur menghina  pengetahuan orang di sekeliling kita, merendahkan derajat status  sosialnya, padahal kita tahu orang-orang itu dalam hatinya terluka walau  sepetik ucap yang sudah terlontar dari bibir kita. Sadarkah ego kita  bahwa mereka sebenarnya adalah saudara, teman, dan orangtua kita sendiri  yang disaat bersamaan menahan tangisnya melihat perangai takabur buah  hati tercintanya tumbuh menjadi dewasa. Naudzubillah. Semoga kita selalu  diampuni oleh Allah dari segala tumpukan dosa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Betapa Sombong Dapat Menjatuhkan Kita&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika kita mau menyisakan ruang berfikir bijak sejenak saja, kita akan  terhantar pada satu pertanyaan, apakah segala intan permata lengkap  dengan kesempunaan fisik dan aqli kita berada pada wilayah penguasaan  kita sendiri? Apakah sempat melintas dalam keheningan kalbu kita untuk  menjiwai bahwa segala atribut yang kita sombongkan berada pada genggaman  mutlak jiwa kita? Jika iya, bukankah kita hidup awalnya dari setetes  mani hina yang kemudian diangkat derajatnya oleh Allahu ta’ala. Bukankah  sekiranya kita jua lahir dari rahim seorang bunda, tanpa setitik andil  cahaya kejumawaan yang kita banga-banggakan saat ini. Jika itu yang  sedang kuatnya tertanam dalam kepribadian kita, hati-hati saudaraku,  teramat mungkin kita sedang berada pada fase takabur, baik pada diri  sendiri, lingkungan, dan bahkan Allahuta’ala. Naudzubillah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah telah menunjukkan betapa segala yang kita miliki bisa luluh  lantah diambil oleh Sang Maha Pencipta walau sekuat-kuatnya menahan.  Kisah Fir’aun dan jasadnya yang masih tampak hingga detik ini adalah  bukti Allah ingin memberi filosofi sederhana namun langka bagi  pecintaNya. Betapa glamoritas dunia amatlah sempit dan niscaya tak dapat  diperthankan barang secuilpun. Sebab itu, renungilah ketika Allah  menjatuhkan sebuah ayat sebagai pengingat agar hambaNya tidak ikut lupa&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Maka pada hari ini, Kami selamatkan badanmu (fir’aun) supaya  kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan  sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan  Kami.”&lt;/em&gt;(QS.Yunus:92).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lalu, Rasulullah SAW pun senantiasa menyertakan sifat takabur umatnya  dalam sorotan hadis-hadis menyentuh beliau. Dalam salah satu ucapan  Nabiyullah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abdullah bin Mas’ud  RA, Beliau menarik bentuk penyakit hati seperti takabur dalam ganjaran  yang menjauh dari cicipan surga,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;”Tidaklah masuk surga orang yang di dalam hatinya ada penyakit  kibr (takabbur) meskipun hanya seberat dzarroh (terdapat seberat atom  dari kesombongan).&lt;/em&gt; “&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bayangkan, demi sebuah untaian hikmah bagi manusia sampai akhir  zaman, Allah pun sampai-sampai harus mengawetkan jasad Fir’aun agar kita  berfikir bahwa kesombongan diri terhadap Allah memiliki ganjaran yang  tidaklah sedikit. Begitu jua dengan Rasulullah yang hingga begitu haru  membirunya menyeret pengandaian takabur walau sekecil biji sawi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Namun sebenarnya apakah arti dari takabur (sombong) tersebut? Dr.  Amin An-Najar mengutip perkataan Al-Raghib Al-Isfahani bahwa kata كبر  تكبر, danاستكبر adalah tiga kata yang memiliki kesamaan makna. كبر  (takabbur) adalah keadaan seseorang yang merasa takjub dengan dirinya  sendiri. Ketakjuban tersebut adalah memandang bahwa dirinya lebih besar  dan lebih agung dari dirinya sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari pengertian di atas kita dapat disimpulkan bahwa sombong ialah  sikap berlebih karena merasa diri kita mempunyai banyak kelebihan dan  menganggap orang lain mempunyai banyak kekurangan. Memandang diri dari  kaca mata kebesaran dan kemuliaan dunia serta memandang orang lain dari  kaca mata kerendahan dan kehinaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Semakin kita merasa diri sempurna, semakin kita akan lupa esensi  bahwa akhirat adalah tujuan semata dan dunia adalah gelas durhana.  Semakin kita menggangap diri adalah Sang Juara, niscaya semakin sulit  kita untuk ikhlas saat kekalahan menyapa. Jika hal tersebut langgeng  dalam sela batin kita, yang timbul hanyalah rasa capek, letih, cemas,  gelisah, karena sejatinya kita ini terpenjara. Terpenjara oleh nafsu  fatamorgana. Terpenjara atas pengharapan aliran tepuk tangan manusia.  Kalau saudah begitu, kita tak ubahnya akan selalu diperbudak hawa nafsu  dunia untuk tampil paripurna dengan apapun caranya. Padahal yang selama  ini yang kita pakai adalah topeng, topeng untuk menutup kelemahan kita,  bukan diri sejatinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Untuk itu, ingatkah saudaraku sebuah kisah percakapan iblis dengan  Allahuta’ala yang dikemudian saat bersamaan iblis jatuh hina dengan  perkara yang serupa: sombong merasa asal usul kejadiannya dari bahan  yang mulia. Allah berfirman: &lt;em&gt;"Apakah yang menghalangimu untuk  bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawablah iblis "aku  lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan aku dari api sedang Dia Engkau  ciptakan dari tanah&lt;/em&gt;"(QS, al-A’raf [7]: 12.).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Melenyapkan Sifat Sombong dengan Kesederhanaan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada dasarnya mengentaskan sikap sombong butuh keberanian dalam diri  kita. Tidak perlu merasa gengsi, keki, apalagi malu. Ingatlah dampak  yang akan kita rasakan saat detik pertama sombong hilang dalam jiwa  kita, diganti kehangatan Allah yang memeluk jantung kalbu kita.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rumus sederhana menjadi kaya adalah dengan melaksanakan lawan  katanya, yakni kesederhanaan. Seorang ulama bisa menjadi pribadi yang  dihiasi ilmu, karena selalu menganggap ilmu yang dikuasai belumlah  seberapa. Seorang pelari dapat mencapai garis finish, sebab ia sadar  kakinya belum menyentuh batas akhir. Kholifah Umar Bin Khathtab RA mampu  tampil memikat umat di Jabiah saat menemui Abu Ubaidah sebab karena  kedatangannya yang justru hanya bermodalkan pribadi sederhana: berbaju  kasar, bahkan berjalan dibawah unta yang sedang diduduki pelayannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hal itu sontak membuat para masyarakat Jabiah terkejut sekaligus  terpukau. Bagaimana mungkin seorang Kholifah Umat Islam berlevel dunia  berjalan kaki sedang pelayannya asyik menunggangi unta. Apakah pelayan  itu kurang ajar? Tentu tidak, hal itu dapat terlaksana karena sistem  pergantian jam menaiki unta yang dilakukan keduanya saat menuju kota.  Padahal kalau kita berfikir nyaman, amat mungkin Kholifah Umar dengan  segenap kuasanya merasa diri besar dan menindas pelayan itu untuk selalu  mengawasinya mengendarai unta selama waktu perjalanan. Namun Kholifah  Umar tahu betul esensi jabatan sejati, yakni dengan merapatkan makna  amanah yang kecil di mata Allah didekatkan dengan sikap tawadhu yang  mampu menembus ulu tawadhu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Oleh karena itu, kesederhanaan Kholifah Umar pun selalu dikaitkan  dengan itikad takwa penuh rasa syukur. Saat tiba di Jerusalem pasca  perjalanan dari Jabiah, beliau dengan pakaian teramat sahaja dihadapan  materialisme Bizantium lalu mendirikan shalat pada tempat dimana Nabi  Daud dipercaya melaksanakan ibadah tersebut sebelumnya. Hal itu kemudian  menusuk hati masyarakat Romawi Bizantium dengan kekaguman luar biasa  lantas berucap bahwa “Kami tidak akan menyesali untuk menyerahkan kunci  kota Jerusalem kepada kaum yang memang taat pada Tuhannya”. Tahukah  engkau saudaraku, karena sikap sahaja itulah rakyat Jerusalem berubah  menjadi sangat yakin bahwa Umat Islam-lah yang memang layak menduduki  wilayah suci yang terkenal sakral tersebut. Dan kita juga tidak boleh  lupa, Kholifah Umar bin Khaththab RA lah yang pernah bertutur dan  ucapannya itu akan dikenang selamanya, “Jika ada dua umat Nabi Muhammad,  salah satu yang masuk nereka adalah aku” Padahal justru Kholifah  Umar-lah yang dijamin masuk surga. Subhanallah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Cerita lain jua turut dilukis oleh keteladanan Rabbani Baginda Nabi  Muhammad SAW. Pada suatu ketika baginda Rasulullah menjadi imam solat.  Para sahabat merasa aneh jika melihat pergerakan Rasulullah antara satu  rukun ke satu rukun yang lain teramat sukar sekali. Sesekali mereka  mendengar suara menggerutup yang tak lazim seolah-olah sendi-sendi pada  tubuh baginda yang mulia Rasulullah bergeser antara satu sama lain.  Sayidina Umar yang menaruh curiga perihal keadaan baginda tersebut  langsung bertanya setelah selesai sholat, “Ya Rasulullah, kami melihat  seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, tuan sakitkah  ya Rasulullah?”. Rasulullah lantas menjawab “Tidak, ya Umar.  Alhamdulillah, aku sehat dan segar” Umar lantas mengejar, “Ya  Rasulullah… mengapa setiap kali tuan menggerakkan tubuh, kami mendengar  seolah-olah sendi bergesekan di tubuh tuan? Kami yakin engkau sedang  sakit…” desak Umar penuh cemas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan para sahabat amat terkejut tatkla menyaksikan perut Rasulullah  yang kempis seraya dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil buat  menahan rasa lapar. Ternyata batu-batu kecil itulah yang menimbulkan  bunyi-bunyi halus setiap kali bergeraknya tubuh baginda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bayangkan seorang Nabi rela menahan lapar dengan lingkaran batu  kerikil yang mendekap tubuhnya demi sebuah nilai amanah kepemimpinan  yang tak terkira. Kita dapat belajar bahwa beliau bukanlah tipe yang  takabur meratapi dirinya adalah seorang pembesar agama Islam. Beliau  berkembang menjadi tipikal bagaimana sebuan nafas kesederhanaan mampu  menaklukan rimba takabur dalam satu kibasan kesahajaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hingga Umar bin Khattab tidak tega melihat kholifahnya dalam kondisi  yang tidak sepatutnya, “Ya Rasulullah! Adakah bila tuan menyatakan lapar  dan tidak punya makanan, kami tidak akan mendapatkannya buat tuan?”  Lalu baginda menjawab dengan lembut, “Tidak para sahabatku. Aku tahu,  apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi apakah akan aku jawab  di hadapan Allah nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban  kepada umatnya? Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah buatku, agar  umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi  tiada yang kelaparan di Akhirat kelak.” Subhanallah&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bagi kita yang selalu merasa jijik dan malu bersanding dengan orang  yang berada dua-tiga level dibawah kita, mungkin kisah ini mampu  menaklukan ego kotor itu. Dalam catatan lain, kesahajaan Baginda  Rasulullah pernah mengemuka pada setting dimana beliau tanpa canggung,  gengsi, keki dan malu sedikitpun makan di sebelah seorang tua yang penuh  kudis, miskin dan kotor. Tidak ada sumpah serapah menyeringai, beliau  malah turut nikmat menyantap rezeki Allah yang turun kepadanya. Lalu  beliau pun pernah penuh rasa kehambaan membasuh tempat yang dikencingi  orang Badui di dalam masjid sebelum menegur dengan lembut perbuatan itu.  Kecintaannya yang tinggi terhadap Allah SWT dan rasa kehambaan dalam  diri Rasulullah SAW menolak sama sekali rasa egositis meski status tidak  lagi dibawah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Terapi Kesombongan menurut Al Ghazali&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebab itu, Ulama besar Abdul Hamid Al-Ghazali akhirnya merumuskan  sebuah pendekatan agar sebongkah kesombongan mampu lenyap dalam hati  kita. Caranya tidaklah sulit yakni dengan pertama-tama menumbangkan  pohon kesombongan dari akarnya yang tertancap di dalam hati, yakni  dengan jalan mengenal diri sendiri dan Allah sebagai Sang Pencipta. Jika  kita sudah mengenal diri dan Allah, kita akan menyadari betapa manusia  itu tidak selayaknya memiliki sifat sombong. Kita ditakdirkan menghamba  dan lebih tinggi dari makhluk lainnya, jadi tidak perlu memaksakan diri  untuk memulia-muliakan pribadi dan memaksa tampil untuk terlihat jumawa  di hadapan khalayak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lalu langkah kedua adalah dengan mencegah supaya kesombongan yang  sudah terkikis tidak kembali menghantui jiwa kita. Dengan secara praktis  kita juga dapat menerapkan disiplin kepatuhan dan tunduk secara nyata  kepada Allah SWT. Oleh, karena itu, Al Ghazali merumuskan beberapa hal  yang bisa kita tempu, sebagaimana sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Jika kita sombong karena keturunan hendaknya mengobati diri dengan  senantiasa mengenali kembali keturunan sejati kita, yaitu debu dan air  mani.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Andai bangkai sombong karena kecantikan menerpa, hendaklah kita  lebih banyak melihat kepada apa yang terkandung dalam batin kita bukan  pada lahirnya saja.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apabila kita digerogoti rasa sombong karena kekuatan, dapat diobati  dengan pengetahuan bahwa penyakit akan membuat kita sekejap terkulai  lemah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lalu jika kita selalu terkait akan kesombongan karena harta dan  kekayaan dapat diobati dengan menumbuhkan kesadaran bahwa harta  kekayaan, pendukung dan pengikut itu suatu saat akan meninggalkan. Itu  pasti bukan? Dan kita tidak membawa apa-apa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lantas, pada suatu kita sombong akan ilmu yang kita miliki, dapat  diobati dengan cara pertama-tama menumbuhkan kesadaran pada pribadi kita  bahwa Allah SWT memaklumi orang yang bodoh dan sama sekali justru tidak  memaklumi orang yang mempunyai pengetahuan. Kedua dengan menyadari  segenap diri bahwa kesombongan itu hanya pantas dimiliki oleh Allah SWT  saja. Dan Allah saja yang Maha Pencipta tidak sombong, Ia selalu  meluakan lapangan ilmu bagi setiap hambanya yang mau mengejar.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Terakhir apabila kita sombong karena titel ketekunan ibadah kita,  dapat diobati dengan cara mengharuskan diri kita supaya dapat bersikap  rendah hati pada semua orang. Bukankah iman dan amal selalau berkaitan  dengan amal? Sudah seharusnya karena begitulah Rasulullah menampakkan  keteladanannya.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt;Semoga dengan ini kita selalu dijauhkan dari prasangka sombong yang  hanya akan menyebabkan bertambahnya deretan penyakit hati yang sudah  menumpuk dalam jiwa kita. Lagipula, buat apa kita sombong, toh kita  masih menumpang di bumi Allah dan jika tidak hati-hati, kesombongan  jualah yang memakan kita di akhirat nanti. Semoga kita diselamatkan dari  ganasnya siksa Allah kelak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;"Kecuali orang yang bertobat dan beramal saleh, maka mereka akan  Allah gantikan keburukannya dengan kebaikan. Adalah Allah Maha Pengampun  dan Maha Penyayang &lt;/em&gt;(QA, al-Furqân: 70)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;, Konselor Muslim&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7375266540532196859-1904791596020939459?l=hardiyansyah-ahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/feeds/1904791596020939459/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7375266540532196859&amp;postID=1904791596020939459' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/1904791596020939459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/1904791596020939459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/2010/10/melenyapkan-kesombongan-dengan-jalan.html' title='Melenyapkan Kesombongan dengan Jalan Kesederhanaan'/><author><name>Hardiyansyah Ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05196682395539916812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7375266540532196859.post-6513052112419717008</id><published>2010-10-28T06:27:00.000+08:00</published><updated>2010-10-28T06:30:09.002+08:00</updated><title type='text'>SOMBONG DAN PENGARUHNYA DALAM KEHIDUPAN</title><content type='html'>&lt;div id="owner_nav_wrapper"&gt;  &lt;div class="owner_nav" id="owner_nav"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt;                        &lt;div class="itemboxsub"&gt;&lt;table width="100%" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="icon" width="24"&gt;&lt;img alt="Blog Entry" title="Blog Entry" src="http://images.multiply.com/multiply/icons/clean/24x24/journal.png" width="24" height="24" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="cattitle"&gt;&lt;a rel="bookmark" href="http://andisopiyan.multiply.com/journal/item/90/SOMBONG_DAN_PENGARUHNYA_DALAM_KEHIDUPAN"&gt;SOMBONG DAN PENGARUHNYA DALAM KEHIDUPAN&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="itemsubsub"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;   &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Sombong  atau yang sering kita kenal dengan istilah kibr, takabur dan istikbar,  ketiganya hampir semakna, merupakan suatu kondisi seseorang di mana ia  merasa lain dari yang lain (dengan keadaan tersebut) sebagai pengaruh  i’jab (kebanggaan) terhadap diri sendiri, yaitu dengan adanya anggapan  atau perasaan, bahwa dirinya lebih tinggi dan besar daripada selainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Maka tidak akan berlaku sombong, kecuali orang yang merasa dirinya  besar dan tinggi, dan ia tidak merasa tinggi atau besar, kecuali karena  adanya keyakinan, bahwa dirinya memiliki keunggulan, kelebihan dan  kesempur-naan yang dengannya ia menganggap berbeda dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ada beberapa sebab yang mendorong seseorang menganggap dirinya lebih  unggul daripada orang lain, sehingga melahirkan kesombongan dalam jiwa,  yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Sombong dengan Ilmu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebagian  thalib ilmu atau orang yang diberi pengetahuan oleh Allah, namun malah  justru menjadikan dirinya sombong. Ia merasakan dirinyalah yang paling  pandai (alim), menganggap rendah orang lain, menganggap bodoh mereka dan  selalu ingin agar dirinya mendapatkan penghormatan, pelayanan dan  fasilitas khusus dari mereka. Dia memandang, bahwa dirinya lebih mulia,  tinggi dan utama di sisi Allah daripada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua faktor yang menyebabkan seseorang menjadi sombong dengan ilmunya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertama,&lt;/b&gt;  Ia mencurahkan perhatian terhadap apa yang ia anggap sebagai ilmu,  padahal hakikatnya ia bukanlah ilmu. Ia tak lebih sebagai data atau  informasi yang direkam dalam otak yang tidak memberikan buah dan hasil,  karena ilmu yang sesungguhnya akan semakin membuat ia kenal siapa  dirinya dan siapa Rabbnya. Ilmu yang hakiki akan melahirkan sikap  khosyah (takut kepada Allah) dan tawadhu’ (rendah hati), bukan sombong,  sebagai-mana firman Allah Subhannahu wa Ta'ala ,&lt;br /&gt;“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Faathir : 28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ke dua,&lt;/b&gt;  Al-khoudl fil ilm yaitu belajar dengan tujuan agar dapat berbicara  banyak, berdebat dan menjatuhkan orang dengan kepiawaian yang  dimilikinya, sehingga orang menilainya sebagai orang alim yang tak  terkalahkan ilmu-nya. Selayaknya ia lebih dahulu memperbaiki hati dan  jiwanya, membersihkan dan menatanya, sehingga tujuan dalam mencari ilmu  menjadi benar dan lurus. Karena merupakan karakteristik khas dari ilmu,  bahwasanya ia menjadikan pemiliknya bertambah takut kepada Allah dan  tawadhu’ terhadap sesama manusia. Ibarat pohon tatkala banyak buahnya,  maka ia semakin merunduk dan merendah, sehingga orang akan dengan lebih  mudah mendapatkan kebaikan dan manfaat darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang, apabila  telah hobi mengumbar omongan, bantah-bantahan dan debat kusir, maka  ilmunya justru akan melemparkannya kepada kedudukan yang rendah dan  pengetahuan yang dimilikinya tidak akan membuahkan hasil yang baik,  sehingga keberkahan ilmu tidak tampak sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Sombong dengan Amal Ibadah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kesombongan ahli ibadah dari segi keduniaan adalah ia menghendaki,atau  paling tidak membuat kesan, agar orang lain menganggapnya sebagai orang  yang zuhud, wara’, taqwa dan paling mulia di hadapan manusia. Sedangkan  dari segi agama adalah ia memandang, bahwa orang lain akan masuk neraka,  sedang dia selamat darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ahli ibadah apabila ada  orang lain yang membuatnya jengkel atau merendahkannya, maka terkadang  mengeluarkan ucapan, “Allah tidak akan mengampunimu atau, “Kamu pasti  masuk neraka” dan yang sejenisnya. Padahal ucapan-ucapan tersebut  dimurkai Allah, yang justru dapat menjerumuskannya ke dalam neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Sombong dengan Keturunan (Nasab)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang mendapati kesombongan dalam hati karena nasabnya, maka hendaknya ia segera mengobati hatinya itu.&lt;br /&gt;Jika seseorang akan mencari nasabnya, maka perhatikan firman Allah berikut ini,&lt;br /&gt; “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang  memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan  keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).” (QS. 32:7-8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Inilah nasab manusia yang sebe-narnya, kakeknya yang terjauh adalah  tanah, dan nasabnya yang terdekat adalah nuthfah alias air mani. Jika  demikian keadaannya, maka tak selayaknya seseorang sombong dan merasa  tinggi dengan nasabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Sombong dengan Kecantikan/Ketampanan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kesombongan seperti ini banyak terjadi di kalangan para wanita, yaitu  dengan menyebut-nyebut kekurangan orang lain, menggunjing dan  membicarakan aib sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya orang yang sombong dengan  kecantikannya ini banyak menengok ke dalam hatinya. Untuk apa anggota  tubuh yang indah, namun hati dan perangai buruk, padahal tubuh secantik  apa pun pasti akan binasa, hancur dan hilang tak tersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum  lagi kalau orang mau merenungi, bahwa selagi masih hidup, maka mungkin  saja Allah berkehendak untuk mengubah kecantikan atau ketampanannya,  misalnya dengan mengalami kecelakaan, sakit kulit, kebakaran dan lain  sebagainya, yang dapat menjadikan rupa yang cantik menjadi buruk. Maka  dengan kesadaran seperti ini, insya Allah rasa sombong yang ada dalam  hati akan terkikis dan bahkan tercabut hingga ke akar-akarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. Sombong dengan Harta&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Yaitu dengan memandang rendah orang fakir dan bersikap congkak terhadap  mereka. Ini disebabkan harta yang dimilikinya, perusahaan-perusahaan  yang banyak, tanah dan bangunan, kendaraan mewah, perhiasan dan lain  sebagainya. Kesombongan karena harta termasuk kesombongan karena faktor  luar, dalam arti bukan merupa-kan potensi pribadi orang yang  bersang-kutan. Berbeda dengan ilmu, amal, kecantikan atau nasab,  sehingga apabila harta itu hilang, maka ia akan menjadi hina  sehina-hinanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. Sombong dengan Kekuatan dan Kegagahan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Orang yang mendapatkan karunia seperti ini hendaknya menyadari, bahwa  kekuatan adalah milik Allah seluruhnya. Hendaknya selalu ingat, bahwa  dengan sedikit sakit saja akan membuat badan tidak enak, istirahat tidak  tenang. Kalau Allah menghendaki, seekor nyamuk pun dapat membuat  seseorang sakit dan bahkan hingga menemui ajalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang  mau memikirkan ini semua, yaitu sakit dan kematian yang bisa datang  kapan saja dan kepada siapa saja, maka sudah sepantasanya tidak angkuh  dan takabur dengan kekuatan dan kesehatan badannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;7. Sombong dengan Banyaknya Keluarga, Kerabat atau Pengikut.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kesombongan jenis ini juga merupakan kesombongan yang disebabkan faktor  luar, bukan karena kelebihan yang dimiliki oleh yang bersangkutan. Dan  setiap orang yang sombong karena sesuatu yang bukan dari kelebihan dan  keunggulan dirinya sendiri, maka dia adalah sebodoh-bodoh manusia.  Bagai-mana mungkin ia sombong dengan sesuatu yang bukan merupakan  kelebih-an dirinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PENGARUH KESOMBONGAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kesombongan memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan, dan  pengaruh-pengaruh tersebut tampak dalam gerak-gerik anggota badan, cara  berjalan, berdiri, duduk, berbicara dan diamnya seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara pengaruh-pengaruh yang tampak dari sikap kesombongan adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; * Orang yang sombong kalau toh mau berjalan bersama-sama orang lain,  maka ia selalu minta paling depan dan semua orang harus ada di  belakangnya. Konon Abdur Rahman bin Aufz, kalau sedang berjalan bersama  para pembantunya, maka tidak ketahuan ada disebe-lah mana, ia tidak  pernah menonjolkan diri harus berada paling depan supaya semua orang  melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Orang sombong jika berada di suatu majlis,  biasanya minta diistimewakan, diperlakukan lain daripada yang lain.  Kemudian ia akan sangat senang kalau semua orang mendengarkan yang ia  katakan dan sangat benci kalau ada orang lain mengalihkan pembicaraan  kepada selainnya. Maunya semua orang harus membenarkan dan menerima apa  yang ia katakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Termasuk pengaruh sifat sombong adalah  memalingkan muka dari sesama muslim, atau melihat dengan pandangan sinis  dan merendahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Kesombongan juga berpengaruh bagi seseorang  dalam ucapan, gaya bicara dan nada intonasinya. Bahkan terkadang  mencerminkan ketidaksopanan, misalnya seorang murid atau mahasiswa  menghardik gurunya, karena ia merasa anak seorang pejabat atau tokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; * Kesombongan juga akan mempe-ngaruhi gaya jalan seseorang, misalnya  sambil membusungkan dadanya, atau berjalan dengan dibuat-buat agar  menarik perhatian orang lain. Allah Subhannahu wa Ta'ala telah  berfirman,&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan  sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi  dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. 17:37)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; * Kesombongan juga berpengaruh di dalam kehidupan rumah tangga.  Biasanya orang yang dalam hatinya ada kesombongan akan enggan  mengerjakan pekerjaan rumah, walau hanya sepele. Hal ini berbeda dengan  sikap tawadhu’ yang diajarkan oleh Rasulullah Salallahu alaihi wa salam.  Aisyah radiallahuanha meriwayatkan, bahwa Rasul Allah Subhannahu wa  Ta'ala biasa membantu istri beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Merupakan pengaruh  kesombongan juga, bahwasanya ia membuat seseorang enggan membawakan  barang atau sesuatu ke rumahnya, meskipun bukan hal yang berat, misalnya  saja barang belanjaan. Alizberkata, “Seseorang tidak akan berkurang  kesempurnaannya dengan membawakan sesuatu untuk keluarganya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*  Kesombongan juga mempengaruhi gaya berpakaian seseorang, yaitu ia  berpakaian dengan tujuan pamer dan supaya terkenal, atau dengan pakaian  yang melanggar ketentuan syar’i, seperti isbal (memanjangkan celana di  bawah mata kaki) bagi laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Orang yang sombong biasanya  sangat senang apabila ia datang, lalu orang-orang berdiri untuk  menghormat-nya. Padahal para shahabat apabila datang Rasulullahsaw  kepada mereka, maka mereka tidak berdiri untuk beliau, hal ini  dikarenakan mereka tahu, bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam  membenci hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Orang yang dalam hatinya ada kesombongan  tidak akan mau mengunjungi orang lain, tidak mau mengucapkan salam lebih  dahulu, minta supaya diprioritaskan dan tidak mau mendahulukan  kepentingan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Kesombongan juga akan mengakibatkan  seseorang tidak memandang adanya hak orang lain pada dirinya. Sementara  itu ia beranggapan, bahwa ia memiliki hak yang banyak atas selainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7375266540532196859-6513052112419717008?l=hardiyansyah-ahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/feeds/6513052112419717008/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7375266540532196859&amp;postID=6513052112419717008' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/6513052112419717008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/6513052112419717008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/2010/10/sombong-dan-pengaruhnya-dalam-kehidupan.html' title='SOMBONG DAN PENGARUHNYA DALAM KEHIDUPAN'/><author><name>Hardiyansyah Ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05196682395539916812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7375266540532196859.post-5515284179513383233</id><published>2010-10-28T06:26:00.000+08:00</published><updated>2010-10-28T06:27:28.315+08:00</updated><title type='text'>Cara-cara Agar Kita Terhindar Dari Sifat Sombong</title><content type='html'>&lt;h1&gt;Cara-cara Agar Kita Terhindar  Dari Sifat Sombong&lt;/h1&gt;   &lt;p&gt;&lt;a href="http://majelisvirtual.com/wp-content/uploads/2010/04/images4.jpeg"&gt;&lt;img class="alignleft size-full wp-image-175" title="images" src="http://majelisvirtual.com/wp-content/uploads/2010/04/images4.jpeg" alt="" width="81" height="116" /&gt;&lt;/a&gt;Tidak  akan keluar sifat sombong kecuali tidak ada sesuatu yang lebih  besar/agung kecuali Allah SWT dan apa-apa yang telah di besarkan oleh  Allah swt.  Melihat sifat manusia memanglah sangat sulit ada yang tampang dhohir nya  baik tetapi di hatinya  sangatlah busuk untuk melihat sifat sesorang  dengan cara mudah yaitu melihat di ujung2 kematiannya apabila  kematiannya baik(khusnulkhotimah) maka semua yang ada pada dhohir dan  batin orang tersebut sangatlah baik dan kebalikannya apabila meninggal  dunianya dalam keadaan jelek(su'ulkhotimah) maka benar2 dhohir dan batin  orang tersebut sangatlah jelek bahkan di dalam hadits banyak sekali  yang menerangkan tentang hal ini !  Jangan sampai kita sering meremehkan karena belum tentu di penutup hidup  orang itu jelek sebab Allah swt maha membolak-balik HATI ! dan dalam  hal ini sangat lah banyak orang yang terkecoh pada kesoombongan nya,  maka pikirkan lah kematianmu dari pada engkau membangga-bangga dirimu  pikir kan apa modal mu kelak di akherat nanti  Berikut sebab-sebab kesombongan yang di banggakan seseorang  : 1. ilmu (sungguh sangat banyak sekali orang yang tergila-gila dengan  ilmunya sampai-sampai dia menyombongkan diri,padahal ilmu yang ia miliki  sangatlah sedikit) 2. ibadah (sangat banyak sekali orang yang membanggakan ibdahnya kepada  orang lain padahal ibadanya cuman sedikit) 3. Keturunan (sangatlah banyak orang yang menyombongkan diri akibat dari  keturunan) 4. Keindahan atau kecantikan/kegantengan 5. Harta (sangatlah banyak orang yaang tergila-gila dengan harta  sampai-sampai is lupa menyedekahkan kepada orang lain) 6. Kekuatan/kekuasaan (sangatlah banyak orang yang kita jumpai di  sekitar kita akibat  kekeuuasaan yang ia miliki sampai2 ia berani  sombong karena semata itu semata itu hanya sebentar karena akan datang  ajal yang akan menjemput nya) 7. Pengikut (karena pengikut banyaak banyak sekali oranhg yaang  menyombongkan diri)  Maka mari kita jauhkan sifat sombong Meskipun kita memiliki keahlian  yang sangat luar biasa Berikut ukuran sifat sombong bagi Al-imam  Al-ghazali : Orang sombong suka berkata Saya-saya dan orang sombong  merupakan orang yang ingin memimpin sesuatu baik di suatu acara maupun  di suatu  perkumpulan atau di suatu organisasi dan selalu tidak mau  menerima perkataan orang lain (menganggap orang lain lebih rendah  darinya) dan selalu tidak mau di nasehati Dan ciri2 orang yang mulia  yaitu meninggal dunia dalam keadaan khusnul khotimah(amien) dan jangan  sampai kita selalu membanggakan diri sendiri karena didiri kita tidak  ada yang bisa kita Banggakan . Berikut  Tata Cara  Agar kita terhindar dari sifat sombong : 1. Memandang orang lain yang lebih mulia Dari pada kita 2. Tuduhlah dirimu Bahwa engkau sering melakukan Kejelekan karena itu  merupakan saah satu dari cara untung menghilangkan sifat sombong 3. Pandanglah orang lain dengan sifat-sifat baik 4. Seandainya engkau melihat orang yang maksiat maka cantum kan dihatimu  bahwa orang yang melakukan maksiat itu tidak mengetahui maksiat yang  dilakukan itu sangatlah berdosa 5. Dan bila engkau melihat orang kafir disana pun engkau tidak boleh  sombong karena suatu sa'at mereka akan diberi hidayah dan taufik oleh  Allah sehingga dia masuk islam dan meninggal dalam ke adaan khusnul  khotimah.  Di dalam dunia ini ada 2 ujung , ujung yang pertama adalah ujung yang  selalu membanggakan diri (takabbur) dan jarum yang ke 2 yaitu orsng yang  terlalu merendahkan diri (pesimis) maka untuk menjaga dari ujung2 ini  adalah dengan kita Tawaddhu sampai tawaddhu tersebut menjadi ringan pada  diri kita dan jangan sampai kita bertawaddhu dengan  berpura-pura/terpaksa maka kita tidak akan mendapat Fadhilah dari  tawaddhu tersebut  Maka dengan ini perlunya kita memiliki sifat tawadhu kepada Allah,  dan  ikhlas ridho karena Allah dan menganggap bahwa tidak ada ada yang lebih  Agung Dan maha besar kecuali Allah swt  "WASSALAM"  (Penceramah: Ust Abdul Qodir Mauladawilah) (Kitab: Bidayatul hidayah (karangan Al-imam alghazali)) (Penulis: admin MajelisVirtual.com)  Pemberitahuan; anda juga dapat mengirimkan artikel islam atau artikel  tentang teknologi ke email kami yaitu : majelisvirtual@yahoo.com atau  majelisvirtual@mail.com  "Sekian Terima Kasih Atas Kunjungan Anda" Semoga Allah memberikan Hidayah,taufik dan maunah kepada kita semu&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7375266540532196859-5515284179513383233?l=hardiyansyah-ahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/feeds/5515284179513383233/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7375266540532196859&amp;postID=5515284179513383233' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/5515284179513383233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/5515284179513383233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/2010/10/cara-cara-agar-kita-terhindar-dari.html' title='Cara-cara Agar Kita Terhindar Dari Sifat Sombong'/><author><name>Hardiyansyah Ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05196682395539916812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7375266540532196859.post-951146494852776390</id><published>2010-10-05T10:23:00.000+08:00</published><updated>2010-10-05T10:24:29.155+08:00</updated><title type='text'>Universitas Terbaik di Indonesia 2010</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHardi%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHardi%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHardi%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:668212140; 	mso-list-template-ids:1496232790;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	font-family:Symbol;} @list l1 	{mso-list-id:1061514149; 	mso-list-template-ids:-460797160;} @list l1:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	font-family:Symbol;} @list l2 	{mso-list-id:1124690539; 	mso-list-template-ids:-1822554104;} @list l2:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	font-family:Symbol;} @list l3 	{mso-list-id:1195459722; 	mso-list-template-ids:1190969558;} @list l3:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	font-family:Symbol;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;Universitas Terbaik di Indonesia 2010 versi Webometrics&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;To the point aja…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Berikut ini daftar &lt;b&gt;Universitas Terbaik di Indonesia&lt;/b&gt; per Januari 2010 yang masuk dalam jajaran &lt;b&gt;8000 Universitas Unggulan di Dunia&lt;/b&gt; menurut penilaian &lt;a href="http://www.webometrics.info/" target="_blank"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:blue;" &gt;Webometrics.&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;1* 562** Universitas Gadjah Mada (UGM)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;2* 661** Institut Teknologi Bandung (ITB)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;3* 815** Universitas Indonesia (UI)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;4* 854** Universitas Kristen Petra (PETRA)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;5* 1025** Universitas Gunadarma (UG)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;6* 1256** Universitas Negeri Malang (UM)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;7* 1315** Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;8* 1585** Universitas Sebelas Maret (UNS)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;9* 1628** Universitas Airlangga (UNAIR)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;10* 2026** Universitas Brawijaya (UNBRA)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;11* 2059** Universitas Diponegoro (UNDIP)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;12* 2162** Universitas Pertanian Bogor (IPB)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;13* 2236** Universitas Padjadjaran (UNPAD)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;14* 2298** Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;15* 2337** Universitas Sriwijaya (UNSRI)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;16* 2422** Universitas Islam Indonesia (UII)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;17* 2471** Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;18* 2616** Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK AMIKOM)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;19* 2692** Universitas Lampung (UNILA)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;20* 2704** Institut Teknologi Telkom (IT TELKOM)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;21* 3135** Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;22* 3157** Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;23* 3223** Universitas Hasanuddin (UNHAS)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;24* 3302** Universitas Mercu Buana (UMB)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;25* 3307** Universitas Sumatera Utara (USU)&lt;br /&gt;26* 3473** Universitas Jember (UNEJ)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;27* 3481** Universitas Udayana (UNUD)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;28* 3620** Universitas Bina Nusantara (BINUS)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;29* 3724** Universitas Negeri Semarang (UNNES)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;30* 3926** Universitas Surabaya (UBAYA)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;31* 4163** Universitas Budi Luhur (BL)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;32* 4613** Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (UNIKA ATMA JAYA)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;33* 4660** Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;34* 4667** Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;35* 4729** Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;36* 4803** Universitas Sanata Dharma (USD)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;37* 4816** Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;38* 4878** Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;39* 5275** Universitas Kristen Maranatha (MARANATHA)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;40* 5496** Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;41* 5768** Universitas Trisakti (TRISAKTI)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;42* 5955** Universitas Riau Beranda (UNRI)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;43* 6076** Universitas Ahmad Dahlan (UAD)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;44* 6193** Universitas Tarumanagara (UNTAR)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;45* 6385** Universitas Dian Nuswantoro (DINUS)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;46* 6405** Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;47* 6412** Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;48* 6486** Institut Sains dan Teknologi Akprind (AKPRIND)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;49* 6696** Universitas Terbuka (UT)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;50* 6697** Universitas Negeri Jakarta (UNJ)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Keterangan:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;*Ranking di Indonesia **Ranking di dunia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;A = Naik peringkat dunia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;A &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;=      Turun peringkat dunia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;A = Pendatang baru dalam daftar dunia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Universitas Paramadina keluar dalam daftar dunia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Webometrics&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt; &lt;b&gt;Pemeringkatan Universitas di Dunia&lt;/b&gt; berawal dari sebuah inisiatif dari Cybermetrics Lab, sebuah kelompok riset milik Consejo Superior de Investigaciones Científicas (CSIC), penelitian publik terbesar di Spanyol.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dewan Riset Spanyol CSIC adalah bagian utama di antara organisasi penelitian dasar pertama di Eropa. CSIC berdiri pada tahun 2006 dari 126 pusat-pusat dan lembaga-lembaga di seluruh Spanyol.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;CSIC melekat pada Departemen Pendidikan dan tujuan utamanya adalah untuk mempromosikan penelitian ilmiah untuk meningkatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tingkat negara yang akan memberikan kontribusi untuk meningkatkan kesejahteraan warga negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;CSIC juga berperan penting dalam pembentukan peneliti dan teknisi baru dalam berbagai aspek dari ilmu pengetahuan dan teknologi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7375266540532196859-951146494852776390?l=hardiyansyah-ahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/feeds/951146494852776390/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7375266540532196859&amp;postID=951146494852776390' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/951146494852776390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/951146494852776390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/2010/10/universitas-terbaik-di-indonesia-2010.html' title='Universitas Terbaik di Indonesia 2010'/><author><name>Hardiyansyah Ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05196682395539916812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7375266540532196859.post-7676836674568291823</id><published>2010-10-05T10:19:00.000+08:00</published><updated>2010-10-05T10:20:56.304+08:00</updated><title type='text'>10 kota Terpadat di Indonesia</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHardi%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="Edit-Time-Data" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHardi%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_editdata.mso"&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHardi%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHardi%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves&gt;false&lt;/w:TrackMoves&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} span.msoIns 	{mso-style-type:export-only; 	mso-style-name:""; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single; 	color:teal;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;10 kota Terpadat di Indonesia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;Visited 2997 times, 2 so far today &lt;a href="http://selebsexy.com/10-kota-terpadat-di-indonesia/"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:blue;" &gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" alt="" href="http://selebsexy.com/10-kota-terpadat-di-indonesia/" style="'width:24pt;" button="t"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Hardi/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" class="largeSnapshot" shapes="_x0000_i1025" border="0" width="32" height="32" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt; &lt;!-- google_ad_client = "pub-1027596469987347"; /* 468x15, created 7/2/10 */ google_ad_slot = "5433452779"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 15; google_language = "en"; //--&gt; &lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt; &lt;/script&gt;&lt;script src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/expansion_embed.js"&gt; &lt;/script&gt;&lt;script src="http://googleads.g.doubleclick.net/pagead/test_domain.js"&gt; &lt;/script&gt;&lt;script&gt; google_protectAndRun("ads_core.google_render_ad", google_handleError, google_render_ad); &lt;/script&gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="imgb" spid="_x0000_i1031" type="#_x0000_t75" alt="http://contry.files.wordpress.com/2009/10/indonesia.jpg" style="'width:332.25pt;height:265.5pt;visibility:visible;mso-wrap-style:square'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Hardi\LOCALS~1\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image002.jpg" title="indonesia"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Hardi/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image002.jpg" alt="http://contry.files.wordpress.com/2009/10/indonesia.jpg" shapes="imgb" border="0" width="443" height="354" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;Tak dapat dipungkiri bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang mempunyai penduduk yang sangat banyak (peringkat 4 negara penduduk terbesar di Dunia) dan semakin hari jumlah penduduk Indonesia makin bertambah. Hal ini kemudian juga berpengaruh pada kepadatan penduduk di kota-kota besar di Indonesia. Sehingga kota-kota besar di Indonesia menjadi kota padat yang penuh dengan populasi penduduk.&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;dari data sensus, diperoleh data 1o kota terpadat (dihitung berdasarkan jumlah penduduk berbanding luas wilayah) :&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;1. Jakarta(8.792.000)&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta, Jakarta Raya) adalah ibu kota negara Indonesia. luasnya adalah sekitar 740 km²; dan penduduknya berjumlah 8.792.000 jiwa. kota jakarta juga merupakan salah satu kota terpadat di Dunia&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;2. Surabaya(3.282.156)&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;Kota Surabaya adalah ibukota Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Dengan jumlah penduduk metropolisnya yang mencapai 3 juta jiwa, Surabaya merupakan pusat bisnis, perdagangan, industri, dan pendidikan di kawasan Indonesia timur. luas wilayah kota surabaya adalah 374,36 km2&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;3. Bandung(2.771.138)&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;Kota Bandung adalah ibu kota provinsi Jawa Barat. Kota ini pada zaman dahulu dikenal sebagai Parijs van Java (bahasa Belanda) atau “Paris dari Jawa”. Karena terletak di dataran tinggi, Bandung dikenal sebagai tempat yang berhawa sejuk. Hal ini menjadikan Bandung sebagai salah satu kota tujuan wisata. Luas Kota Bandung adalah 16.767 hektare.&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;4. Medan(2.036.018)&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;Kota Medan (daerah tingkat II berstatus kotamadya) adalah ibu kota provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Medan merupakan pintu gerbang wilayah Indonesia bagian barat dan juga sebagai pintu gerbang bagi para wisatawan untuk menuju objek wisata Brastagi di daerah dataran tinggi Karo, objek wisata Orangutan di Bukit Lawang, Danau Toba, serta Pantai Cermin. Kota Medan memiliki luas 26.510 Hektar.&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;5. Bekasi(1.940.308)&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;Kota Bekasi, adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini terletak di sebelah timur Jakarta; berbatasan dengan Jakarta di barat, Kabupaten Bekasi di utara dan timur, Kabupaten Bogor di selatan, serta Kota Depok di sebelah barat daya. Bekasi merupakan salah satu kota penyangga Jakarta selain Tangerang, Bogor, dan Depok; serta menjadi tempat tinggal para komuter yang bekerja di Jakarta. Kota Bekasi terdiri atas 12 kecamatan, yang dibagi lagi atas 56 kelurahan. Luas kota bekasi 210,49 Km2.&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;6. Tanggerang(1.488.666)&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;Kota Tangerang terletak di Provinsi Banten, Indonesia, tepat di sebelah barat kota Jakarta, serta dikelilingi oleh Kabupaten Tangerang di sebelah selatan, barat, dan timur. Tangerang merupakan kota terbesar dan terpenting di Provinsi Banten serta kedua terbesar di kawasan perkotaan Jabotabek setelah Jakarta. Luas kota tanggerang 164.54 km2.&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;7. Semarang(1.352.869)&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;Kota Semarang adalah ibukota Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Semarang merupakan salah kota yang dipimpin oleh walikota. Kota ini terletak sekitar 466 km sebelah timur Jakarta, atau 312 km sebelah barat Surabaya. Semarang berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Demak di timur, Kabupaten Semarang di selatan, dan Kabupaten Kendal di barat. Luas kota semarang 225,17 km².&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;8. Depok(1.339.263)&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;Kota Depok, adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini terletak tepat di selatan Jakarta, yakni antara Jakarta-Bogor. Kota Depok terdiri atas 6 kecamatan, yang dibagi menjadi 63 kelurahan. 200.29km2.&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;9. Palembang(1.323.169)&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;Kota Palembang adalah salah satu kota besar di Indonesia sekaligus merupakan ibu kota dari Provinsi Sumatra Selatan. Palembang adalah kota terbesar kedua di Sumatra setelah Medan. Kota ini dahulu pernah menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya sebelum kemudian berpindah ke Jambi. Bukit Siguntang, di Palembang Barat, hingga sekarang masih dikeramatkan banyak orang dan dianggap sebagai bekas pusat kesucian di masa lalu. Luas kota palembang 102.47km2.&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;10. Makassar(1.168.258)&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;Kota Makassar (dahulu daerah tingkat II berstatus kotamadya; dari 1971 hingga 1999 secara resmi dikenal sebagai Ujungpandang atau Ujung Pandang) adalah sebuah kotamadya dan sekaligus ibu kota provinsi Sulawesi Selatan. di pesisir barat daya pulau Sulawesi, menghadap Selat Makassar. Makassar dikenal mempunyai Pantai Losari yang indah. Luas kota makassar 128,12 km².&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7375266540532196859-7676836674568291823?l=hardiyansyah-ahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/feeds/7676836674568291823/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7375266540532196859&amp;postID=7676836674568291823' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/7676836674568291823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/7676836674568291823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/2010/10/10-kota-terpadat-di-indonesia.html' title='10 kota Terpadat di Indonesia'/><author><name>Hardiyansyah Ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05196682395539916812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7375266540532196859.post-9021699222654387418</id><published>2010-10-04T23:30:00.000+08:00</published><updated>2010-10-04T23:33:08.057+08:00</updated><title type='text'>Wilayah Besemah Tempo Doeloe</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHardi%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHardi%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHardi%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Wilayah Besemah Tempo Doeloe&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Pangeran Sido Kenayan dengan Depati Lang Bidaro membagi tapal batas tanah Pasemah dengan Palembang. Dimulai dari Way Umpu titik di penyebrangan Bant&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;n, terus di Batu Banjar, laju di gunung Seminung Ranau, dari situ turun Naurebo [terletak ditengah gunung Seminung Ranau], laju di pematang Sengang tengah Ranau, Laju terus tengah laman dusun Kuripan, ‘mungga Bukit Nanti, turun di Muare Kemumu [Kisam], mungga di tangan Bukit Nanti terus di Pematang Galang turun di Lubuk Muara Cendawan, laju di Batu Bindoe Muara Enim, dari situ mungga Bukit Campang di Pagar Gunung, turun di Ayiek ijuk, terus di Lubuk Muara Senangsangan Mulak Ulu, laju di Danau Batu, turuhan di Arahan Tungku Tiga, netak Bubungan Arahan Tiga, laju di Padang Tamba, mungga bukit Kuantjung Berghuk, dari situ terus di Petai Campang Due Bukit Ulu Pangi (Kikim), dari situ laju di Sialang Pating Besi di Bukit Sanggul, terus di Bukit Rindu Ati Bengkulu, turun di Padang Tjupak, terus di Ulu Tuban, titik di teluk Merampuyan, laju di Padang Muara Selibar Ulu Bengkulu, turun di Laut Besar, sampai di Tampaan Gadak Sebelah Ulu, yang tersebut ini tanah bumi dikasihkan oleh Pangeran Sido Kenayan pada orang Pasemah. Dari situ ke sebelah ilir Pangeran Sido Kenayan dengan Depati Lang Bidaro yang punya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Waktu itu tanah Pasemah masih rimba semuanya. Semua orang bikin ladang darat [ume]. Dibelakang ini tanah Pasemah jadi padang membuat siring untuk lahan sawah. Dan lagi aturan Pasemah kalau sawah angkitan 100 bake harganya 100 gulden.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Tanah yang sudah dibuka, kemudian ditinggalkan (talang), boleh digarap orang lain asal ada kata mufakat (berunding). Orang yang tidak bikin sawah tidak dihukum Sultan Palembang. Jika ada tanah yang bisa dibikin sawah,bu kan Pesirah yang membagi tanah itutapi orang yang bikin sawah sendiri, lebih dahulu dikasih tahu Pesirah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Awal sejarah pemerintahan tradisional di Besemah tidak terlepas dari sistem pemerintahan Kesultanan Palembang. Kaitan atau hubungan antara Kesultanan Palembang dengan daerah-daerah diwilayah kekuasaannya dikatakan oleh Robert Heine Gildern (1982). “ di Asia Tenggara Ibukota Kesultanan Palembang bukan saja merupakan pusat politis dan kebudayaan dari suatu kerajaan dan masyarakat sekitarnya, juga merupakan pusat magis dari kerajaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7375266540532196859-9021699222654387418?l=hardiyansyah-ahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/feeds/9021699222654387418/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7375266540532196859&amp;postID=9021699222654387418' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/9021699222654387418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/9021699222654387418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/2010/10/wilayah-besemah-tempo-doeloe.html' title='Wilayah Besemah Tempo Doeloe'/><author><name>Hardiyansyah Ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05196682395539916812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7375266540532196859.post-8634740160614982919</id><published>2010-10-04T23:28:00.001+08:00</published><updated>2010-10-28T06:52:29.629+08:00</updated><title type='text'>Judul Disertasi</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHardi%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="Edit-Time-Data" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHardi%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_editdata.mso"&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHardi%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHardi%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves&gt;false&lt;/w:TrackMoves&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:595.45pt 841.7pt; 	margin:4.0cm 3.0cm 3.0cm 4.0cm; 	mso-header-margin:49.65pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapedefaults ext="edit" spidmax="2050"&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapelayout ext="edit"&gt;   &lt;o:idmap ext="edit" data="1"&gt;  &lt;/o:shapelayout&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:14pt;"&gt;PENGARUH KOMUNIKASI PEMERINTAHAN TERHADAP KUALITAS PELAYANAN IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;PADA DINAS TATA KOTA PALEMBANG&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:14pt;"&gt;THE INFLUENCE OF GOVERNMENT COMMUNICATIONS TO SERVICE QUALITY BUILDING LICENSE AT &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:14pt;"&gt;CITY PLANNING DEPARTMENT PALEMBANG&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:14pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;Oleh&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hardiyansyah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;                    170130080009&lt;span style=""&gt;                     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:14pt;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:14pt;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;DISERTASI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:10pt;"&gt;Untuk memperoleh gelar Doktor dalam Ilmu-Ilmu Sosial&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:10pt;"&gt;pada Universitas Padjadjaran Bandung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:10pt;"&gt;Dengan wibawa Rektor Universitas Padjadjaran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:10pt;"&gt;Prof. Dr. Ir. H. Ganjar Kurnia, DEA.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:10pt;"&gt;Sesuai dengan Keputusan Senat Komisi I/Guru Besar Universitas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:10pt;"&gt;Dipertahankan pada tanggal&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;2010&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:10pt;"&gt;di Universitas Padjadjaran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;" wrapcoords="-251 0 -251 21355 21600 21355 21600 0 -251 0" fillcolor="window"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Hardi\LOCALS~1\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image001.png" title=""&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Hardi/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image002.gif" shapes="_x0000_s1026" width="115" align="left" height="110" hspace="12" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:14pt;"&gt;PROGRAM PASCASARJANA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:14pt;"&gt;UNIVERSITAS PADJADJARAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:14pt;"&gt;BANDUNG&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:14pt;"&gt;20&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14pt;"&gt;10&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:14pt;"&gt;PENGARUH KOMUNIKASI PEMERINTAHAN TERHADAP KUALITAS PELAYANAN IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;PADA DINAS TATA KOTA PALEMBANG&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:14pt;"&gt;THE INFLUENCE OF GOVERNMENT COMMUNICATIONS TO SERVICE QUALITY BUILDING LICENSE AT &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:14pt;"&gt;CITY PLANNING DEPARTMENT PALEMBANG&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:14pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;Oleh&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hardiyansyah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;170130080009&lt;span style=""&gt;                     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:14pt;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:14pt;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;DISERTASI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:10pt;"&gt;Untuk memenuhi salah satu syarat ujian guna memperoleh &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:10pt;"&gt;gelar Doktor dalam Ilmu-Ilmu Sosial, Konsentrasi Ilmu Administrasi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:10pt;"&gt;Telah disetujui oleh Tim Promotor pada tanggal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:10pt;"&gt;seperti tertera di bawah ini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:10pt;"&gt;Bandung, .....................................2010&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Prof. Dr. Drs. H.A. Djadja Saefullah, M.A., Ph.D.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ketua Tim Promotor&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border-collapse: collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="width: 175.5pt; padding: 0cm 5.4pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Prof. Dr. Drs. Josy Adiwisastra&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Anggota Tim Promotor&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 42.55pt; padding: 0cm 5.4pt;" width="57" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 189.75pt; padding: 0cm 5.4pt;" width="253" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dr. Drs. H. Amin Ibrahim, M.A.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Anggota Tim Promotor&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7375266540532196859-8634740160614982919?l=hardiyansyah-ahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/feeds/8634740160614982919/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7375266540532196859&amp;postID=8634740160614982919' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/8634740160614982919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/8634740160614982919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/2010/10/v-behaviorurldefaultvml-o.html' title='Judul Disertasi'/><author><name>Hardiyansyah Ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05196682395539916812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7375266540532196859.post-7596791390042261545</id><published>2010-10-04T23:23:00.001+08:00</published><updated>2010-10-04T23:24:36.334+08:00</updated><title type='text'>SEJARAH MUDZAKARAH ULAMA ABAD KE 17 DI PERDIPE-PAGARALAM</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHardi%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHardi%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHardi%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter 	{mso-style-priority:99; 	mso-style-link:"Footer Char"; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 234.0pt right 468.0pt; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.MsoNoSpacing, li.MsoNoSpacing, div.MsoNoSpacing 	{mso-style-priority:1; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} span.FooterChar 	{mso-style-name:"Footer Char"; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:Footer; 	mso-ansi-font-size:11.0pt; 	mso-bidi-font-size:11.0pt;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:4.0cm 66.25pt 72.0pt 4.0cm; 	mso-header-margin:35.45pt; 	mso-footer-margin:35.45pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1072585611; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:62147224 39635656 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:49.5pt; 	text-indent:-31.5pt;} @list l1 	{mso-list-id:1584677775; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-163541322 39635656 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 	{mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:49.5pt; 	text-indent:-31.5pt;} @list l2 	{mso-list-id:1605645744; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1949293254 -822476152 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 	{mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:48.0pt; 	text-indent:-30.0pt;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;SEJARAH MUDZAKARAH ULAMA ABAD KE 17&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt; DI PERDIPE-PAGARALAM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;ABSTRAK&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Tim Pelacakan Sejarah ini dibentuk oleh Panitia Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu pada bulan Agustus 2007 lalu. Tugasnya adalah menemukan fakta apakah benar pada abad ke 17 masehi telah berkumpul para ’ulama di Sumatera Selatan untuk bermudzakarah? Sejumlah pertanyaan penting yang harus dijawab antara lain : apa latar belakangnya mudzakarah tersebut; siapa saja tokohnya; dimana lokasinya; dan apa isi mudzakarah tersebut; hasil-hasilnya; serta pengaruhnya terhadap ummat Islam khususnya di Rumpun Melayu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Untuk menjawab berbagai pertanyaan awal di atas, maka dalam tim ini dibentuk dua bidang tugas. Pertama, bertugas untuk menggali fakta dari literatur atau tulisan sejarah di buku, internet, serta asip-arsip kuno di perpustakan dan di masyarakat. Kedua, melalui wawancara langsung dengan pakar sejarah dari Perguruan Tinggi, Musium Purbakala, serta tokoh masyarakat yang merupakan keturunan dari pelaku sejarah. Juga dilakukan tinjauan langsung ke lokasi sejarah di daerah Perdipe. Tim ini bekerja sekitar dua bulan sejak dibentuk. Kemudian hasil penelitian ini telah disampaikan pada Musyawarah Pleno ke 1 DP3MU September 2007 lalu di Auditorium Yayasan AKUIS Pusat, Banyuasin, Sumatera Selatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Berdasarkan Hasil Pelacakan Sejarah yang telah dilakukan, maka ada beberapa bukti sejarah yang ditemukan :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -17.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Pada tahun 1650 masehi atau 1072 hijriyah telah bertemu sekitar 50 ’ulama di Perdipe, Sumatera Selatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -17.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -17.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Mereka berasal dari wilayah Rumpun Melayu yang meliputi Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Semenanjung Malaka, Fak-Fak- Papua, Ternate, dan Kepulauan Mindanau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -17.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -17.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Hasil Mudzakarah ini memunculkan perluasan dakwah Islam yang berakibat terkikisnya faham anismisme dan budaya jahiliyah di masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -17.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -17.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Munculnya kader-kader mujahid yang mengadakan perlawan terhadap penjajah Eropa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -17.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -17.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Terjadinya perluasan wilayah Islam yang ditandai dengan munculnya Kesultanan yang baru yang masing-masing saling bekerjasama secara baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -17.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;A. Siapakah Tokoh Sentral pada Mudzakarah ’Ulama Serumpun Melayu abad 17 M&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Berdasarkan arsip kuno berupa &lt;i style=""&gt;kaghas&lt;/i&gt; (tulisan dengan huruf ulu diatas kulit kayu) yang ditemukan di Dusun Penghapau, Semende Darat, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan yang diterjemahkan pada tahun 1974 oleh Drs. Muhammad Nur (ahli purbakala Pusat Jakarta), ada beberapa catatan sejarah. Bahwa pada tahun 1072 Hijriyah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;atau 1650 Masehi telah ada seorang tokoh ’Ulama yang bernama Syech Nurqodim al-Baharudin yang bergelar Puyang Awak yang mendakwahkan Islam di daerah dataran Gunung Dempo Sumatera Selatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Menurut buku &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;”Jagad Besemah Libagh Semende Panjang”, Terbitan Pustaka Dzumirah, Karya K&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;H. Drs. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Thohlon &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Abdurrauf, dinyatakan bahwa pada abad ke 14 – 17 Masehi, kaum Imperialis dan Kapitalis Eropa (Portugis, Inggris, dan Belanda) telah merompak di lautan dan merampok di daratan yang diistilahkan dalam bahasa melayu, yaitu mengayau. Mereka dengan taktik devide et impera berusaha memecah-belah penduduk di Rumpun Melayu yang berpusat di Pulau Jawa dan Semenanjung Malaka. Maka para waliullah di daerah tersebut dengan dipelopori oleh Syech Nurqodim al-Baharudin pada tahun 1650 M / 1072 H menggelar musyawarah yang berpusat di Perdipe (Sekarang masuk wilayah Kota Pagar Alam, Dataran Gunung Dempo, Sumatera Selatan). Tujuan musyawarah ini antara lain guna menyusun kekuatan bagi persiapan perang bulan sabit merah untuk menumpas ekspansi perang salib di Asia Tenggara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Masih menurut beliau, bahwa kosa kata ”belanda” konon adalah sebutan bahasa melayu untuk orang &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;N&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;etherlands. Kata belanda berasal dari dua suku kata ”belah” (memecah) dan ”nde” (keluarga), maknanya ”tukang memecah-belah keluarga”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Berbeda maknanya dengan kata ”semende” dari dua suku kata ”same” (satu) dan ”nde” (keluarga), maka maknanya ”satu keluarga” yaitu persaudaraan mukmin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;B. Siapakah Syech Nurqodim al-Baharudin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Syech Nurqodim al-Baharudin adalah cucu dari Sunan Gunung Jati dari Putri Sulungnya Panembahan Ratu Cirebon yang menikah dengan Ratu Agung Empu Eyang Dade Abang. Syech Nurqodim al-Baharudin kecil, beserta ketiga adiknya dididik dengan aqidah Islam dan akhlaqul karimah oleh orang tuanya di Istana Plang Kedidai yang terletak di tepi Tanjung Lematang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Sewaktu remaja beliau digembleng oleh para ’ulama dari Aceh Darussalam yang sengaja didatangkan ayahnya. Ketika tiba masanya menikah beliau menyunting gadis dari Ma Siban (Muara Siban), sebuah dusun di kaki Gunung Dempo yang memiliki situs Lempeng Batu berukir Hulu Balang menunggang Kuda dengan membawa bendera Merah Putih (lihat buku ”5000 tahun umur merah putih” karya &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Prof. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;M&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;r.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; Muhammad Yamin). Setelah bermufakat, beliau sekeluarga beserta adik-adiknya, keluarga dan sahabatnya membuka tanah di Talang Tumutan Tujuh, sebagai wilayah yang direncanakan beliau untuk menjadi Pusat Daerah Semende.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Menurut salah seorang keturunan beliau yang masih ada sekarang-TSH Kornawi Yacob Oemar, dalam sebuah makalahnya dinyatakan bahwa, Syech Baharudin adalah pencipta adat Semende. Sebuah adat yang mentransformasi perilaku rumah&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;tangga Nabi Muhammad SAW. Beliau juga pencetus falsafah &lt;i style=""&gt;”jagad besemah libagh semende panjang”,&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yaitu ”Negara Demokrasi” pertama di Nusantara (1479-1850). Akan tetapi ”negara” itu runtuh akibat peperangan selama 17 tahun (1883-1850) malawan kolonial Belanda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Sebelum ke Tanah Besemah, Syech Baharudin bermukim di Pulau Jawa dan hidup satu zaman dengan Wali Songo. Beliau sangat berpengaruh di di bahagian tengah dan selatan Pulau Jawa. Sedangkan Wali Songo pada masa sebelum berdirinya Kerajaan Bintoro Demak memiliki pengaruh di Pantai Utara Pulau Jawa. Tertulis dalam Kitab Tarikhul Auliya, bahwa untuk mendirikan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa-yaitu Demak, maka ada 16 orang wali bermusyawarah di Masjid Demak termasuk pula Syech Baharudin dan beberapa wali dari Pulau Madura.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Dalam musyawarah itu Sunan Giri menginginkan agar dibentuk suatu negara Kerajaan dengan mengangkat Raden Fatah sebagai raja /sulthan dengan alasan negara baru tersebut tidak akan diserbu balatentara Majapahit, mengingat Raden Fatah adalah anak dari raja Majapahit. Konon dari 16 wali tersebut, 9 orang yang mendukung pendapat ini dan tujuh orang yang berbeda pemahaman dalam strategi dakwahnya termasuk Syech Baharudin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Syech Baharudin (Puyang Awak) menginginkan suatu daulah seperti Madinah al Munawarah pada masa R&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;sulullah SAW. Namun demi menjaga persatuan ummat Islam yang kala itu jumlah belum banyak, beliau memutuskan untuk hijrah (melayur) ke Pulau Sumatera. Dari tanah Banten beliau menyeberang ke Tanjung Tua-ujung paling selatan Pulau Sumatera. Kemudian menyusuri pesisir timur, yaitu daerah Ketapang-Menggala-Komering-Palembang-Enim dan &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;iba di Tanah Pasemah lalu menetap disana tepatnya di Perdipe.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Disepanjang perjalanan, sebagai seorang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mubaligh beliau selalu mendatangi tempat-tempat dimana masyarakat masih belum mengenal agamaTauhid dan akhlaqul qarimah, untuk mengajarkan nilai-nilai ajaran Islam dengan metode yang sangat sederhana yaitu memepergunakan kultur budaya masyarakat setempat sehingga dapat dimengerti dengan mudah oleh seluruh lapisan masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Dalam kehidupan bermasyarakat beberapa suku di perdalaman Sumatera Bagian Selatan, Puyang Awak adalah penyebar agama Islam yang sangat kharismatik. Nama beliau menjadi legenda dari generasi ke generasi terutama sikap beliau yang menunjukkan rasa peduli dan kasih sayang yang sangat tinggi terhadap semua makhluk ciptaan Allah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Di tanah Pasemah pada waktu itu, Puyang Awak melihat pola hidup masyarakat sangat jauh dari kehidupan yang &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;slami.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Adanya praktek-praktek perbudakan dikalangan masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Perampokan dan penjarahan ba&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;h&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;kan penculikan terhadap wanita dan anak-anak dari suku-suku lain disekitar B&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;semah [dalam bahasa &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Be&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;semah disebut ’nampu’] untuk dijadikan budak [dalam bahasa &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;P&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;asemah disebut ’pacal’], dianggap suatu kebanggaan. Bahkan ada satu keluarga besar yang memiliki ratusan ekor kerbau dan sapi serta puluhan orang p&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;cal, pada waktu ia mengadakan suatu pesta pernikahan anaknya, dengan pesta besar-besaran dengan menyembelih puluhan ekor sapi dan kerbau. Untuk menambah ’kebanggaan’ dari keluarga tersebut, maka diumumkan bahwa yang punya hajatan juga akan ’menyembelih seorang pacal’. Suatu bentuk kedzaliman yang melebihi perbuatan kaum jahiliyah Suku Quraisy di Kota Mekkah pada zaman &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;N&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;abi Muhammad SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Pola hidup masyarakat B&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;semah yang liar, zalim, dan biadab seperti itu, bukan hanya diceritakan kembali secara turun-tumurun dari generasi ke generasi, melainkan tercatat pula pada tulisan-tulisan kuno aksara &lt;i style=""&gt;ka-ga-nga&lt;/i&gt; yang dijadikan benda-benda pusaka oleh tua-tua adat dari suku-suku sekitar Besemah, antara lain di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;daerah Enim. Intinya memperingatkan warga agar berhati-hati dan selalu waspada terhadap kedatangan para perampok dari Besemah yang sering menjarah harta benda serta menculik wanita dan anak-anak mereka. Bahkan selain itu Marco Polo [abad&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;12], &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;membuat catatan khusus tentang Besemah yang berbunyi.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;.&lt;i style=""&gt;’Basma, where the people’s like a beast withuot law or religion...’&lt;/i&gt; [Besemah, penduduknya bagaikan binatang buas, tanpa aturan atau agama]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Puyang Awak yang memperhatikan kehidupan suku Besemah yang liar, zalim tanpa hukum dan agama tersebut, justru berpendapat bahwa di tanah Besemah inilah tempat yang tepat untuk menyebarkan ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari Kitab Suci Al-Qur’an yang diturunkan ALLAH SWT&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kepada nabi Muhammad SAW, untuk meng-agama-kan masyarakat yang belum beragama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Akan tetapi perlu kita fahami bahwa metode yang dipergunakan oleh Puyang Awak dalam menyebarkan ajaran Islam yang mendasar tersebut, tidak mempergunakan bahasa Arab, melainkan beliau rumuskan kedalam bahasa Pasemah yang cukup dikenal sampai saat ini yaitu ’falsafah GANTI nga TUNGGUAN&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;[Akhlakul Karimah].&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;C. Hubungan Darah Syaikh Baharudin dengan Sunan Gunung Jati&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Mengutip dari buku ”Kisah Walisongo”, Karya Baidhowi Syamsuri, terbitan Apollo Surabaya didapatkan data sebagai berikut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Adalah dua orang putra Prabu Siliwangi bernama Pangeran Walang Sungsang dan Putri Rara Santang belajar Dinul Islam kepada Syaikh Idlofo Mahdi atau Syaikh Dzathul Kahfi-seorang Ulama dari Baghdad yang menetap di Cirebon dan mendirikan Perguruan Islam. Karena kedua anak Raja Siliwangi tersebut tidak mendapat izin dari sang ayah, maka mereka melarikan diri ke Gunung Jati untuk belajar tentang Islam. Setelah cukup lama menuntut ilmu, keduanya diperintahkan sang syaikh untuk membuka hutan di selatan Gunung Jati yang kemudian dijadikan pedukuhan yang akhirnya menjadi ramai. Tempat ini kemudian dinamakan ”Tegal Alang-Alang” dan Pangeran Walang Sungsang diberi gelar ”Pangeran Cakra Buana” serta&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;diangkat sebagai pimpinannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Syaikh Kahfi atau Datuk Kahfi memerintahkan kepada kedua muridnya tersebut untuk menunaikan haji ke Mekkah dilanjutkan dengan belajar Islam kepada Syaikh Bayanillah. Akhirnya Rara Santang menikah dengan seorang penguasa Mesir keturunan Bani Hasyim yang bernama Sultan Syarif Abdullah-dikenal juga dengan Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda. Rara Santang namanya diganti dengan Syarifah Mudaim. Dari pernikahan ini lahirlah dua orang putra, Syarif Hidayatullah dan adiknya Syarif Nurullah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Setelah Sultan Syarif Abdullah wafat, kedudukannya digantikan oleh putra keduanya Syarif Nurullah, karena putra pertamanya Syarif Hidayatullah tidak suka naik takhta dan lebih memilih pulang ke tanah Jawa beserta ibunya untuk mendakwahkan Islam. Syarif Hidayatullah inilah yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati yang bersama-sama Senopati Demak Bintoro, yaitu Fatahillah yang melakukan penyerangan dan pengusiran Bangsa Portugis dari Sunda Kelapa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Sedangkan Pangeran Cakra Buana setelah tinggal tiga tahun di Mesir kembali ke Jawa dan mendirikan negeri baru yaitu Caruban Larang. Prabu Siliwangi sebagai penguasa Jawa Barat telah merestui tampuk pemerintahan putranya ini dan memerinya gelar ”Sri Manggana”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Dalam perjalanan dakwahnya, Sunan Gunung Jati telah sampai ke negeri Cina, dimana terdapat undang-undang yang melarang rakyatnya memeluk Islam. Disana beliau membuka praktek sistem pengobatan. Setiap yang datang berobat diajarinya berwudhu dan sholat. Orang cina kemudian mengenalnya sebagai sinshe dari jawa yang sakti dan berilmu tinggi. Akhirnya banyak diantara penduduknya memeluk Islam, termasuk seorang menteri Cina bernama Pai Lian Bang. Bahkan Kaisar Cina meminta Sunan Gunung Jati untuk menikahi putrinya yang bernama Ong Tien. Sunan Gunung Jati tidak mau mengecewakan sang kaisar, maka pernikahan tersebut dilangsungkan, kemudian ia pulang ke Jawa beserta Ong Tien.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Keberangkatannya ke Jawa dikawal dua Kapal Kerajaan yang dikepalai murid Sunan Gunung Jati, Pai Lian Bang. Kapal yang ditumpangi oleh Sunan Gung Jati berangat lebih dahulu dan singgah di Sriwijaya karena tersiar kabar bahwa adipati Sriwijaya yang berasal dari Majapahit bernama Ario Damar atau Ario Abdillah (nama Islamnya) telah meninggal dunia. Makam beliau dapat kita lihat sampai sekarang di Jalan Ariodillah Palembang. Sedangkan Ario Abdillah ini adalah anak tiri dari Fatahillah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Karena kedua putra dari Ario Abdillah telah menetap di Jawa, maka Sunan Gunung Jati mengharapkan agar rakyat Sriwijaya berkenan mengangkat Pai Lian Bang sebagai adipati supaya tidak ada kekosongan kepemimpinan. Pai Lian Bang tidak menolak atas pengangkatannya, ia berkata : ”...seandainya bukan Sunan Gunung Jati sebagai guruku yang menyuruhku, maka aku tidak akan mau diangkat menjadi adipati...”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Dengan bekal ilmu selama menjadi menteri di Cina, Pai Lian Bang berhasil membangun Sriwijaya. Pesantren dan madrasah benar-benar dikembangkannya dan beliau menjadi Guru Besar d&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;lam Ilmu Ketatanegaraan. Murid-muridnya cukup banyak yang datang dari Pulau Jawa dan Sumatera&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;termasuklah seorang cucu Sunan Gunung Jati dari Putrinya Panembahan Ratu yang dinikahi oleh Danuresia (Empu Eyang Dade Abang) yang bernama Syaikh Nurqodim al Baharudin (di sumsel dikenal dengan Puyang Awak). Pada akhirnya setelah Pai Lian Bang wafat, Sriwijaya diganti nama menjadi PALEMBANG yang diambil dari nama PAI LIAN BANG.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;D. Latar Belakang Mudzakarah ’Ulama Serumpun Melayu Tempo Dulu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Setiap ulama yang shohih dapat dikenali langkah-langkahnya yang senatiasa menyusuaikan dengan panduan Alqur-an dan sunnah Rasul. Demikian pula analisis kami terhadap gerakan yang dibangun Syaikh Nurqodim al-Baharudin. Dengan segala keterbatasannya selaku manusia biasa dan dengan kesemangatannya selaku hamba Allah yang diberi amanah ke’ulamaan beliau telah berupaya membangun tata kehidupan masyarakat madani yang di contohkan Rasulullah Muhammad SAW.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Inilah latar belakang pokok mudzakarah tersebut yaitu ingin mewujudkan tata kehidupan masyarakat yang diatur dengan Syariat Dinullah dengan panduan dari Rasulnya. Beliau tidak bermaksud membangun kekuasan dengan sistem kerajaan. Namun masyarakat madani yang tunduk pada kepemimpinan Allah dan Rasul dengan ’Ulama sebagai Ulil Amrinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Kemudian dengan melihat situasi dan kondisi perkembangan Islam di Eropa, Afrika, Asia, hingga wilayah Nusantara memberikan peluang yang besar kepada para ’ulama untuk menyebarkan ajaran Islam ke seluruh dunia, sehingga memberi corak tersendiri dalam kehidupan bermasyarakat. Terciptanya kestabilitasan dan perbaikan sistem kehidupan yang meliputi aspek sosial, budaya, ekonomi, pemerintahan dan keamanan, militer dan ilmu pengetahuan merupakan salah satu &lt;i style=""&gt;effect &lt;/i&gt;positif penyebaran melalui Dakwah dan Jihad.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Di rumpun &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;M&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;elayu, khususnya setelah terjadi kekosongan kekuasaan di wilayah Sumatera Selatan akibat runtuhnya kekuasaan Sriwijaya dan Majapahit, dan terjadinya peralihan kekuasaan dari kerajaan Demak ke Pajang dan Mataram, sementara di wilayah Besemah (Pagaralam) masyarakat mengalami disintegrasi nilai-nilai kebudayaan yang mengakibatkan terciptanya kekacauan dalam sistem kehidupan sosial kemasyarakatan sehingga mereka kehilangan norma dan aturan yang mengatur tatanan kehidupan sosial. Hal ini yang menjadi faktor kedua dan mengilhami proses penyebaran Islam di wilayah Besemah dan Semendo oleh para ’ulama melalui proses mudzakarah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Demikianlah dua latar pokok munculnya pertemuan ulama pada masa itu, yaitu &lt;i style=""&gt;ittiba&lt;/i&gt; kepada panduan Allah dan Rasul dengan gambaran dalilnya antara lain Surah al Anfal ayat 72, mengenai perintah iman, hijrah dan jihad. Selanjutnya kedua, yaitu kondisi dunia dan ummat yang menghendaki para ’ulama agar bersepakat mengangkat Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;E. Lokasi dan Hasil Keputusan Mudzakarah Ulama Tempo Dulu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Keberadaan dan kegiatan dakwah yang dilakukan beliau lama-kelamaan mulai tersebar. Bahwa di daerah Batang Hari Sembilan telah ada seorang aulia yang bernama Syaikh Nur Qodim Al Baharudin. Banyaklah penghulu agama / pemuka agama dari berbagai daerah berdatangan memenuhi ajakan Puyang Nur Qodim untuk bermukim di Talang Tumutan Tujuh akhirnya diresmikanlah oleh Puyang Ratu Agung Empuh Eyang Dade Abang menjadi ”dusun Paradipe” (para penghulu agama) tahun1650 M / 1072 H sekarang dinamakan dusun Tue. Dari perluasan daerah inilah disebut wilayah &lt;i style=""&gt;jagad Semende Panjang Besemah Libagh&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Kegiatan pembukaan wilayah oleh Syaikh al Baharudin antara lain :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -17.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Pembukaan dusun dan Wilayah Pertanian Pagar&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;uyung yang dipimpin oleh Puyang Ahmad Pendekar Raje Adat Paga&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;rr&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;uyung dari Tanah Minang&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;abau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -17.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -17.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Pembaharuan dusun serta pemekaran Wilayah Peghapau yang dipimpin oleh Puyang Prikse Alam, dan Puyang Agung Nyawa beserta Puyang Tuan Kuase Raje Ulieh dari negeri Cina yang nama aslinya Ong Gun Tie&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -17.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -17.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Pembukaan Dusun dengan pemukiman di dusun Muara Tenang oleh Putra Sunan Bonang dari Jawa. Di Tanjung Iman oleh Puyang Same Wali, di Padang Ratu oleh Puyang Nakanadin, di Tanjung Raye oleh Puyang Regan Bumi dan Tuan Guru Sakti Gumai serta di Tanjung Laut oleh Puyang Tuan Kacik berpusat di Perdipe&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -17.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -17.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Pemekaran pembukaan wilayah Marga Semende, Muare Saung dan Marga Pulau Beringin&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(OKU).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -17.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -17.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Pembukaan wilaya&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;h&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; Marga Semende Ulu Nasal dan Marga Semende Pajar Bulan Segirin Bengkulu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -17.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -17.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Pembukaan dusun dan wilayah pertanian di Lampung yakni Marga Semende Waitenang, Marga Semende Wai Seputih, Marga Semende Kasui, Marga Semende Peghung dan Marga Semende Ulak Rengas (Raje Mang Kute) Muchtar Alam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Pendiri Adat Semende&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 49.5pt; text-align: justify; text-indent: -31.5pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;               &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;a. Ratu Agung Umpu Eyang Dade Abang (Bapak Nur Qodim – Puyang Awak).&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;b.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; Puyang Awak Syaikh Nurqodim Al Baharudin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 49.5pt; text-align: justify; text-indent: -31.5pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;               &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Puyang Mas Penghulu Ulama Panglima Perang dari Gheci Mataram Jawa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 49.5pt; text-align: justify; text-indent: -31.5pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;               &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Ahmad Pendekar Raje Adat Pagaruyung dari Minang Kabau (Sumbar).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 49.5pt; text-align: justify; text-indent: -31.5pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;               &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Puyang Sang Ngerti Penghulu Agama dari Tebing Rindu Ati Bangkahulu (Bengkulu).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 49.5pt; text-align: justify; text-indent: -31.5pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;               &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Puyang Perikse Alam dari Lubuk Dendan Mulak Besemah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 49.5pt; text-align: justify; text-indent: -31.5pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;               &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Puyang Agung Nyawe.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 49.5pt; text-align: justify; text-indent: -31.5pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;               &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Puyang Lurus Sambung Ati dari gunung Puyung Banten Selatan Jabar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 49.5pt; text-align: justify; text-indent: -31.5pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;8.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;               &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Tuan Kuase Raje Ulie Depati Penanggungan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 49.5pt; text-align: justify; text-indent: -31.5pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;9.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;               &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Puyang Lebi Abdul Kahar dari Pulau Panggung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 49.5pt; text-align: justify; text-indent: -31.5pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;10.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Tuan Mas Pangeran Bonang Muara Tenang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 49.5pt; text-align: justify; text-indent: -31.5pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;11.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Regan Bumi Nakanadin samewali Tanjung Raya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 49.5pt; text-align: justify; text-indent: -31.5pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;12.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Tuan Kecil dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tanjung Laut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Mengenai hasil keputusan yang di dapat, antara lain adalah munculnya rumusan kesepakatan ulama mengenai tahapan waktu kaderisasi ummat dan masa tegaknya daulah Islam di Rumpun Melayu. Rumusan ini menggunakan bahasa melayu setempat yang tercatat sampai saat ini dan mengandung pesan yang amat kuat, yaitu &lt;i style=""&gt;”Tujuh Ganti Sembilan Gilir”.&lt;/i&gt; Terjemahnya adalah tujuh generasi dan sembilan masa pergiliran Kesultanan”. Satu generasi adalah sekitar 40 tahun sehingga makna tujuh ganti adalah 280 tahun masa pengkaderan atau persiapan ummat ummat Islam untuk bangkit dan mengusir penjajah dari Eropa. Terbukti sekitar 300 tahun kemudian dari tahun 1650 penjajah belanda angkat kaki dari negeri ini. Kemudian Kesultanan Mataram sebagai pusat komunikasi dari kesultanan lain di rumpun melayu diberi batas amanah sampai ke&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;9 kepemimpinan untuk selanjutnya menegakkan Syariat Islam secara total.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Data mengenai ulama yang hadir antara lain 40 ulama Malaka yang berangkat dari Johor, utusan Mataram Raden Seto dan Raden Khatib dan beberapa utusan lain dari Pagaruyung dan beberapa dari wilayah Rumpun Melayu lainnya. Lokasi Mudzakarah Ulama ini adalah di Dusun Perdipe (Para Dipo; para penghulu agama).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Demikianlah sekelumit data yang diperoleh, setelah dilakukan eksplorasi data literatur dan lapangan. Namun demikian segala sumber keterangan apabila bukan bersumber selain alqur-an akan ditemua ikhtilaf (perbedaan) seperti yang dijelaskanN&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;a dalam Surah Annisa 82. Maka kami pun membuka segala kesempatan untuk melengkapi, mengkoreksi dan meluruskan data sejarah ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Sumber: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;http://www.al-ulama.net/home-mainmenu-1/articles/103-sejarah-mudzakarah-ulama-abad-ke-17.html&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7375266540532196859-7596791390042261545?l=hardiyansyah-ahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/feeds/7596791390042261545/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7375266540532196859&amp;postID=7596791390042261545' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/7596791390042261545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/7596791390042261545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/2010/10/sejarah-mudzakarah-ulama-abad-ke-17-di.html' title='SEJARAH MUDZAKARAH ULAMA ABAD KE 17 DI PERDIPE-PAGARALAM'/><author><name>Hardiyansyah Ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05196682395539916812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7375266540532196859.post-2425153828337869301</id><published>2010-03-13T15:38:00.001+08:00</published><updated>2010-03-13T15:38:46.877+08:00</updated><title type='text'>Lagu “Bingkai Kehidupan”</title><content type='html'>&lt;h2&gt;Lagu &lt;strong&gt;“Bingkai Kehidupan”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Artis &lt;strong&gt;“Shoutul Harokah”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt; Mengarungi Samudra &lt;em&gt;Kehidupan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kita Ibarat Pada Pengembara&lt;br /&gt;Hidup ini Adalah Perjuangan&lt;br /&gt;Tiada Masa Tuk Berpangku Tangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap Tetes Peluh dan Darah&lt;br /&gt;Tak Akan Sirna Ditelan Masa&lt;br /&gt;Segores Luka Dijalan Allah&lt;br /&gt;Kan Menjadi Saksi Pengorbanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ghayatuna&lt;br /&gt;Ar-rasul Qudwatuna&lt;br /&gt;Al-quran Dusturuna&lt;br /&gt;Al-jihadu Sablluna&lt;br /&gt;Al-mautu fi Sabilillah Asma Amanina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Adalah Tujuan &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD4"&gt;Kami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Al-quran Pedoman Hidup Kami&lt;br /&gt;Jihad Adalah Jalan Juang Kami&lt;br /&gt;Mati Di Jalan Allah Adalah&lt;br /&gt;Cita-cita Kami Tertinggi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7375266540532196859-2425153828337869301?l=hardiyansyah-ahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/feeds/2425153828337869301/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7375266540532196859&amp;postID=2425153828337869301' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/2425153828337869301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/2425153828337869301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/2010/03/lagu-bingkai-kehidupan.html' title='Lagu “Bingkai Kehidupan”'/><author><name>Hardiyansyah Ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05196682395539916812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7375266540532196859.post-471087182458405771</id><published>2010-03-13T15:27:00.000+08:00</published><updated>2010-03-13T15:28:25.503+08:00</updated><title type='text'>Ketika Turis Asing Kepincut Besemah</title><content type='html'>&lt;div class="judul_artikel"&gt;Ketika Turis Asing Kepincut Besemah&lt;/div&gt;                         &lt;div class="c_blue_kompas font11 pb_10 pt_3"&gt;Kamis, 8 Oktober 2009 | 17:05 WIB&lt;/div&gt;             &lt;div class="right w310 pl_10 pb_10 pt_10"&gt;&lt;!-- s: images --&gt;         &lt;div class="img310"&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2009/10/08/1704285p.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;         &lt;div class="font10 c_abu" align="right"&gt;SHUTTERSTOCK&lt;/div&gt;         &lt;!-- e: images --&gt;         &lt;div class="c_abu font11 pt_5"&gt;        Ilustrasi         &lt;/div&gt;                 &lt;!-- s: terkait --&gt;                 &lt;div class="pd_5 hl_1 c_orange"&gt;&lt;strong&gt;TERKAIT:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;       &lt;div class="list_4 hl_1 c_blue_kompas pb_10 bl_1"&gt;      &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://regional.kompas.com/read/2009/10/07/11270756/Membayangkan.Pesona.Laut.Sawu"&gt;Membayangkan Pesona Laut Sawu&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://regional.kompas.com/read/2009/10/05/0857383/Bedanya.Wisman.dan.Wisnus.Menikmati.Merapi"&gt;Bedanya Wisman dan Wisnus Menikmati Merapi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://regional.kompas.com/read/2009/10/04/14542178/Berburu.Emas.di.Ballarat"&gt;Berburu Emas di Ballarat&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://regional.kompas.com/read/2009/09/16/09055888/Mudik..Rekreasi..dan.Nikmatnya.Rasa.Telur.Asin"&gt;Mudik, Rekreasi, dan Nikmatnya Rasa Telur Asin&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://regional.kompas.com/read/2009/09/14/09163879/Menonton.Upacara.Potong.Kerbau.di.Tepian.Barito"&gt;Menonton Upacara Potong Kerbau di Tepian Barito&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;       &lt;/div&gt;                 &lt;!-- e: terkait --&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="isi_berita pt_5"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PAGAR ALAM, KOMPAS.com &lt;/strong&gt;— Indonesia adalah negara kaya. Tidak hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga kaya terhadap aneka budaya dan panorama alamnya. Namun, banyak keindahan alam dan keunikan tradisi Indonesia yang belum terpublikasikan secara luas ke dunia internasional. Meski begitu, toh ada juga wisatawan-wisatawan mancanegara yang memiliki "penglihatan" tajam dan kepincut dengan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bradley J McDonell, seorang warga negara Amerika Serikat, jatuh cinta pada Pagar Alam. Ia sengaja datang ke Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan (Sumsel), untuk mempelajari bahasa Besemah yang digunakan masyarakat setempat.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;"Memang bukan hanya dari segi bahasa yang menarik untuk dipelajari melainkan juga seni budaya Besemah," kata Bradley J McDonell, di Pagar Alam, Rabu (7/10).     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan, memang cukup jauh perbedaan antara adat istiadat warga Indonesia, terutama suku Besemah, dengan kehidupan di Negeri Paman Sam, terutama terkait hubungan kekerabatan.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;"Namun kalau di lingkup Suku Besemah, semua jalinan keluarga, meskipun hubungan darahnya sudah jauh, masih tetap terjalin dengan baik. Hal ini terbukti dari setiap ada acara syukuran yang lebih banyak dilakukan karena hubungan kekerabatan," kata dia.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Menurut dia, daerah Besemah memiliki kekayaan yang cukup banyak, bukan hanya dari sektor pariwisata alam, melainkan juga budaya, sejarah, dan seni. "Meski demikian, hal ini masih perlu digali dan dilestarikan. Kalau tidak, akan semakin tergilas dengan budaya modern," ungkap dia lagi.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Menurut dia, sekarang ini sudah sulit untuk bisa menemukan orang yang paham dan mengetahui betul tata bahasa Besemah, termasuk seni budaya yang banyak dilakukan pada zaman dahulu.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;"Di daerah Besemah banyak dikenal seni tutur, &lt;em&gt;guritan&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;berejong&lt;/em&gt;, dan gitar tunggal, tapi saat ini sudah mulai tergilas dengan musik modern seperti organ tunggal dan kesenian lainnya," ungkap dia yang dalam beberapa hari berada di Pagar Alam sudah fasih berbicara bahasa Besemah.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Dalam memahami budaya Besemah, yang paling penting adalah mengetahui bahasa dan mampu memahami tata bahasa yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Sementara itu, menurut budayawan Besemah, Satarudin, memang banyak seni budaya dan adat asli Besemah yang sudah hilang atau ditinggalkan. Menurut dia, selain kalah bersaing dengan budaya modern, orangtua yang mengajarkan budaya dan adat istiadat kepada anak-anaknya juga sudah jarang sekali ditemui.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;               &lt;!--&lt;span class="c_red font12"&gt;&lt;a href="#"&gt;/ halaman berikutnya&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;--&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7375266540532196859-471087182458405771?l=hardiyansyah-ahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/feeds/471087182458405771/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7375266540532196859&amp;postID=471087182458405771' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/471087182458405771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/471087182458405771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/2010/03/ketika-turis-asing-kepincut-besemah.html' title='Ketika Turis Asing Kepincut Besemah'/><author><name>Hardiyansyah Ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05196682395539916812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7375266540532196859.post-2235945672910560378</id><published>2010-03-13T15:11:00.001+08:00</published><updated>2010-03-13T15:11:45.621+08:00</updated><title type='text'>Sejarah Singkat Etnis Besemah</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color:#339966;"&gt;1.1 Tradisi Megalitik dalam Lintasan Prasejarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timbulnya kebudayaan bersama-sama dengan adanya manusia pertama yang menggunakan akalnya. Sejarah kebudayaan meliputi waktu yang sama penjangnya dengan sejarah umat manusia, dari manusia yang pertama hingga waktu sekarang. Waktu yang panjang itu dalam sejarah manusia dibagi atas tiga zaman, yaitu zaman prasejarah, zaman protosejarah, dan zaman sejarah (Kherti, 1953:2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan budaya manusia pada masa prasejarah secara umum digambarkan berupa tahapan-tahapan yang memiliki-ciri tertentu. Budaya masyarakat prasejarah Indonesia dibagi menjadi tiga tingkatan penghidupan, yaitu pertama, masa berburu dan mengumpulkan makanan; masa bercocok tanam; dan tiga, masa kemahiran teknik (perundagian). Adanya tahapan perkembanganbudaya dengan cirri-ciri tertentu, kadangkala tidak ditemukan di semua wilayah. Beberapa wilayah di antaranya tidak memiliki temuan dari periode yang paling tua, tetapi memiliki tinggalan budaya yang lebih muda, seperti di Tanah Besemah kebudayaan prasejarah yang dilaluinya dalam bentuk kebudayaan Batu Besar (Megalitikum).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli memperkirakan budaya megalitik yang masuk .ke Indonesia melalui dua gelombang besar. Gelombang pertama, yang disebut megalitik tua, diperkirakan masuk ke Indonesia sekitar 2.500-1.500 tahun sebelum Masehi, ditandai oleh pendirian monument-monumen batu seperti menhir, Undak batu, dan patung-patung simbolis-monumental. Gelombang kedua disebut sebagai megalitik muda yang direkirakan masuk ke Indonesia sekitar awal abad pertama sebelim Masehi hingga abad-abad pertama Masehi (Sartono, 1987:224). Monumen-monumen yang mewakili kelompok tinggalan Megalitik muda antra lain berupa monument peti kubur batu, dolmen dan sarkofagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan megalitikum tersebut hamper diseluruh kepulauan Indonesia. Bentuk banggunan kuno ini bermacam-macam dan meskipun sebuah bentuk berdiri sendiri ataupun beberapa merupakan satu kelompok. Maksud utama dari pendirian bangunan tersebut tidak luput dari latar belakang pemujaan nenek-moyang, dan pengharapan kesejahteraan bagi yang hidup, serta kesempurnaan bagi si mati (Poesponegoro, 1982:189). Banguan yang paling tua dengan bentuk tersebut dapat diduga umurnya secara nisbi (relaif). Bentuk-bentu tempat penguburan dapat berupa dolmen, peti kubur batu, bilik batu, dan lain-lain. Di tempat kuburan-kuburan semacam itu bisanya terdapat berbagai batu besar lainya sebagai pelengkap pemujaan nenek-moyang, seperti menhir, patung nenek-moyang, batu saji, batu lumping, batu lesung, batu batu damon, tenbok batu atau jaln yang berlapis batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bentuk megalitik tadi mempunyai fungsi lain, misalnya dolmen, yang memiliki variasi bentuk yang tidak berfungsi sebagai kuburan, tetapi bentuk-bentuk yang menyerupai dolmen, dibuat untuk pelinggih roh atau persajian. Dolmen berfungsi sebagai pelinggih dikalangan masyarakat megalitik yang telah maju serta digunakan sebagai tempat duduk oleh kepala suku atau raja-raja, dan dipandang sebagai tempat keramat dalam melakukan pertemuan-pertemuan maupun upacara-upacara yang berhubungan dengan pemujaan arwah leluhur. Hal ini jelas sekali memperlihatkan suatu kepercayaan bahwa yang masih hidup dapat memperoleh berkah dari hubungan magis dengan nenek moyang memalui bagunan megalitik tersebut sebagai medium (Poesponegoro, 1982:196). Sebagai contoh, limping batu (lesung batu) dan batu dakon, sering didapatkan di lading atau sawah dan di pinggir-pinggir dusun, yang penempatannya mungkin bertujuan untuk mendapatkan kekuatan magis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2 Megalik Besemah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Sumatera, bangunan megalitik terdapat di bagian selatan pulau tersebut, yang di dataran tinggi Tanah Besemah. Daerah ini terleak di antara Buki tBarisan dan Pegunungan Gumay, di lereng Gunung Dempo (3173 m). Peninggalan situs megalitik di daerah ini pernah dilaporkan oleh Ullman tahun 1850, Tombrink tahun 1870,Engelhard tahun 1891, Krom tahun 1918, Westernenk tahun 1922, dan Hoven tahun 1927, yang hamper semuanya beranggapan bahwa bangunan-bangunan tersebut merupakan peninggalan Hindu. Pada tahun 1929, van Eerde mengunjungi tempat tersebut, ia berbeda pendapat dengan angggapan-anggapan terdahulu. Van Eerde menyatakan, bahwa peninggalan megalitik di Besemah tidak pernah dipengaruhi oleh budaya Hindu, tetapi masih termasuk dalam jangkauan masa prasejarah. Bentuk megalitik tampak nyata pada peninggalan tersebut seperti pada menhir, dolmen, dan lain-lain. Kemudian van der Hoop melakukan penelitian yang lebih mendalam selama kurang lebih 7 bulan di Tanah Besemah, ia menghasilkan Publikasi lengkap tentang megalit di daerah tersebut. Publikasi ini sampai kini masaih sangat berharga bagi penelitian situs-situs megalit di Tanah Besemah. Van Heerkeren telah membuat ikhtisar tentang penemuan-penemuan megalitik di Indonesia, termasuk di Sumatera Selatan, sedangkan Peacock mencoba membahas megalit Besemah ini dari sudut pandang sejarah dan fungsinya dalam usaha penelahan kehdupan social masa lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang pasti, di Tanah Besemah, Sumatera Selatan, pernah ada budaya yang hidup dan berkembang dalam lintasan prasejarah.Hal ini terbukti dengan banyaknya peninggalan budaya megalitik yang tersebar, misalnya di dusun Tegurwangi (batu beghibu dan lain-lain), gunungmigang (batu rang, batu kitap dan lain-lain), Gunung kaye (batu bupean / kubus dan batu pidaran/dakon), simpang pelajaran (batu pidaran, dan lain-lain), situs Muarapayang (batu perahu, peti kubur batu dan lain-lain), Tanjung-aghe (batu jeme dililit ulagh, peti kubur batu dan lain-lain), Talangtinggi Gunung Dempo (peti kubur batu), Keban-agung (batu jelapang), Belumay (batu nik kuanci dan peti kubur batu), Tebingtinggi, Lubukbuntak (batu jeme) Nanding (batu gung), Geramat Mulak Ulu (batu bercoret), Semende (batu tapak puyang awak), Pagaralam-Pagargunung (batu ghuse, batu bekatak, dan lain-lain), Kuteghayewe (batu gajah, peti kubur batu, batu kursi dan lain-lain), Pulaupanggung, Impit Bukit (batu jeme ngilik anak) Pajarbulan, Tanjungsakti (batu tiang/menhir), Genungkerte, Tanjungsakti (batu kawah), Baturancing (batu kebau tanduk runcing) dan lain-lain.&lt;br /&gt;Peninggalan megalitik yang terdapat di Besemah terutama berupa menhir, dolmen, peti kubur batu, lesung serta patung-patung batu yang bergaya statis dan dinamis (Kherti, 1953:30). Menhir adalah sebuah batu tegak, yang sudah atau belum dikerjakan dan diletakkan dengan sengaja di suatu tempat untuk memperingati orang yang telah mati. Benda tersebut dianggap sebagai medium penghormatan, menampung kedatangan roh sekaligus menjadi symbol dari orang-orang yang diperingati. Di Besemah ditemukan menhir berdiri tunggal atau berkelompok, membentuk formasi temugelang, persegi atau bujursangkar dan sering bersama-sama dengan bangunan lainnya, seperti dolmen, peti kubur batu atau lainnya. Di Karangdalam ditemukan menhir polos setinggi 1,6 meter, berdiri di atas undak batu. Di atas undak batu ini terdapat pula sebuah batu berlubang seperti batu lumping. Di dusun Tegurwangi, banyak ditemukan menhir polos dengan tinggi maksimal 1,5 meter di dekat dolmen, patung-patung dan peti kubur batu. Menhir yang lebih kecil setinggi 0,4 meter yang berdekatan dengan undak batu ditemukan di dusun Mingkik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pengamatan van der Hoop, dolmen yang paling baik terdapat di Batucawang. Papan batunya berukuran 3 x 3 m dengan tebal 7 cm, terletak di atas 4 buah batu penunjang. Salah satu dolmen yang digalinya di Tegurwangi, diduga berisi tulang-tulang manusia, tetapi tulang dan benda-benda lain yang dianggap sebagai bekal kubur tidak ditemukan. Selain dolmen-dolmen, di daerah Besemah banyak ditemukan patung batu yang diduga merupakan patung manusia. Di antara dolmen-dolmen, terdapat juga dolmen yang papan batunya ditunjang oleh 6 buah batu tegak. Tradisi setempat menyatakan bahwa tempat ini merupakan pusat aktivitas upacara ritual pemujaan nenk moyang. Di daerah ini ditemukan juga dolmen bersama-sama menhir. Temuan-temuan lainnya terdapat di Pematang dan Pulaupanggung (Sekendal). Di dua tempat ini ditemukan palung batu. Daerah temuan lain adalah dusun Nanding, Tanjung-aghe, Pajarbulan (tempat ditemukannya dolmen dan menhir bersama dengan lesung batu, Gunungmigang, Tanjungsakti dan Pagardiwe (Kherti, 1953;30).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubur berundak adalah kuburan yang dibuat di atas sebuah bangunan berundak yang biasanya terdiri dari satu atau lebih undak-undak tanah, dengan tebing-tebing yang diperkuat dengan batu kali. Di dusun Mingkik ditemukan sebuah bangunan berundah dua, dengan tebing-tebing yang diprukuat dengan batu kali. Tinggi undak bawah 1,5 m dengan luas dataran berukuran 4 x 3,5 m. di dataran kedua didapatkan 2 buah batu tegak dengan sebuah batu kali berbentuk segi-empat. Di Karangdalam ditemukan bangunan batu berundak yang tiap datarannya dilapisi dengan papan batu dan banyak diantaranya belubang-lubang kecil. Di atas susunan batu berundak ini berdiri sebuah menhir setinggi 1,6 meter. Temuan di dusun Keban-agung yang mungkin berasal dari zaman yang lebih muda berupa sebuah kubur batu berundak dengan empat buah nisan yang diukir dengan pola daun (arabesk) dan pola burung. Nisan lainnya berbentuk manusia yang dipahat secar sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peti kubur batu adalah kubur berupa sebuah peti yang dibentuk dari enam keping papan batu; terdiri dari dua sisi panjang, dua sisi lebar, sebuah lantai dan sebuah penutup peti. Papan-papan batu tersebut disusun secara langsung dalam lubang yang telah disiapkan terlebih dahulu. Peti kubur batu sebagian besar membujur dengan arah timur-barat. Temuan peti kubur batu yang paling penting terdapat di dusun Tegurwangi, sebuah daerah yang memang kaya dengan situs megalit seperti dolmen, menhir dan patung-patung.&lt;br /&gt;Selain Van der Hoop, penelitain tentang peti kubur batu ini dilakukan juga oleh peneliti C.C. Batenberg dan C.W.p. de Bie. Van der hoop, sendiri telah meggali salah satu peti yang berada di Teguwangi, yang diagap peling besar di antara-antara peti kubur batu lainnya. Ia berhasil menemukan benda-benda yang penting yang diagaap sebagai bukti peninggal dari pendukung tradisi peti kubur batu. Pemukaan atas tutup peti kubur batu berada 25cm dibawah permukaan tanah, dan tutup peti kubur batu ini terdiri dari beberapa papan batu. Sela – sela antara batu – batu penutup dan antara penutup dengan peti tersebut disi dengan batu – batu kecil. Diantara papan – papan penutup, yang paling besar berukuran panjang 2,5m. lantai peti yang agak melambai dengan arah timur barat, terdiri dari 3 papan batu. Sisa – sisa tidak terdapat dalam peti – peti yang penuh dengan tanah dan pasir itu. Lapisan tanah selebar 20 cm dari atas peti, berisi temuan – temuan, sseperti 4 butir manik – manik merah berbentuk selindik, sebuah manik berwarna hijau transparan berbentuk heksagonal tangkup, sebuah paku emas berkepala bulat dan ujung yang tumpul, sebuah manik berwarna kuning keabu – abuan dua buah mekanik berwarna biru serta sebuah fragment perunggu selain itu masih ditemukan manik – manik dalam berbagai bentuk sebanyak 63 buah. Didalam peti kubur batu yang lainnya yang pernah dibuat oleh Batenburg, ditemukan beberapa buah manik – manik berwarna kuning dan sebuah mata tombak dari besi yang telah sangat berkarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didalam peti kubur batu yang ditemukan oleh de Bie, terdapat sebuah lempengan perunggu berbentuk segiempatyang mengembung di bagian tengah. Selanjutnya de Bie menemukan peti kubur batu rangkap di tanjung-aghe yang terdiri dari dua ruang sejajar berdampingan, dipisahkan oleh dindingyang di lukis dengan warna-warna hitam, putih, merah, kuning, dan kelabu.lukisan ini menggambarkan manusia dan binatang yang distilir. Antra lain tampak gambar tangan dengan tiga jari, kepala kerbau dengan tanduknya, dan mata kerbau yang di gambarkan dengan lambang-lambangnya, mempunyai hubungan dengan konsepsi pemujaan nenek-moyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temuan-temuan megalitik yang paling menarik di Tanah Besemah adalah arca-arca batu yang dinyatakan oleh von Heine Geldern bergaya “dinamis”. Arca-arca ini juga menggambarkan bentuk-bentuk binatang, seperti gajah, harimau, dan moyet. Kelihatan bentuk-bentuk arca yang membulat. Dapat ditfsirkan bahwapendukung budaya megalitik mekanikdi sini memilih bahannya sesuai dengan bentuk arca yang akan dipahat; kemudian pemahatan arca itu disesuaikan lagi dengan bentuk asli batunya. Plastisitas seni arca yang menonjol menandakan keahlian si pemahat. Sebagian besar arca-arca tersebut mewujudkan seorang lelaki bertutup kepala berbentuk topi baju, bermata bulat yang menonjol dengan dahi yang menjorong, yang semuanya memperlihatkan cirri ras Negrito. Arca-arca ini selanjutnya memakai gelang tangan dan karung, sedangkan pedang pendek yang lurus dan runcing tergantung di pinggang. Bagian kaki, dari betis sampai pergelangan kaki, tertutup oleh lilitan pembalut kaki. Kadang-kadang dipundak tampak “ponco”, yaitu selembar kaki penutup punggung, seperti yang bias dipakai oleh orang Amerika Latin.&lt;br /&gt;Arca-arca ini tersebar di Kabupaten Lahat dan Kota Pagaralam, seperti Karangindah, Tinggiari Gumai, Tanjungsirih, Padang Gumay, Pagaralam, Tebatsementur (Tanjungtebat), Tanjunng Menang-Tengahpadang, Tanjungtebat, Pematang, Ayik Dingin, Tanjungberingin, Geramat Mulak Ulu, tebingtinggi-Lubukbuntak, Nanding, Batugajah (Kutaghaye Lame), Pulaupanggung (Sekendal),Gunungmigang, Tegurwangi, Airpur. Penemuan yang paling menarik adalah megalitik yang dinamakan “Batugajah”, yakni sebongka batu berbentuk bulat telur, berukuran panjang 2,17 m dan dipahat pada seluruh permukaannya. Bentuk batunya yang asli hamper tidak diubah, sedangkan pemahatan objek yang dimaksud disesuaikan dengan bentuk batunya. Namun, plastisitas pahatannya tampak indah sekali. Batu dipahat dalam wujud seekor gajah yang sedang melahirkan seekor binatang antara gajah dan babi-rusa, sedangkan pada ke dua bela sisinya dipahatkan dua orang laki-laki. Laki-laki sisi kiri gajah berjongkok sambil memegang telinga gajah, kepalanya dipalingkan ke belakang dan bertopi. Perhiasan berbentuk kalung besar yang melingkar pada lehernya,begitu pula pada betis tampak tujuh gelanng. Pada ikat pinggang yang lebar tampak pedang berhulu panjang, sedangkan sebuah nekara tergantung pada bahunya. Pada sisi lain (sisi kakan gajah)dipahatkan seorang laki-laki juga, hanya tidak memakai pedang. Pada pergelangan tangan kanan, terdapat gelang yang tebal, pada betis tampak 10 gelang kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temuan batu gajah dapat membatu usaha penentuan umur secara relative dengan gambar nekara itu sebagai petunjuk yang kuat, selain petunjuk-petunjuk lain seperti pedang yang mirip dengan belati Dong Son (Kherti, 1953:30), serta benda-benda hasil penggalian yang berupa perunggu (Besemah, gangse) dan manik-manik. Dari petunjuk-petunjuki diatas, para ahli berkesimpulan bahwa budaya megalitik di Sumatera Selatan, Khususnya di Kabupaten Lahat dan Kota Pagaralam, berlangsung pada masa perundagian; pada masa ini teknik pembuatan benda logam mulai berkembang. Sebuah nekara juga dipahatkan pada arca dari Airpuar. Arca ini melukiskan dua orang prajurit yang berhadp-hadapan, seorang memegang tali yang diikatkan pada hidung kerbau, dan orang yang satunya memegang tanduknya. Kepala serigala (anjing), tampak di bawah nekara perunggu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain temuan-temuan di atas terdapat pula benda-benda migalitik berupa batu palung dan batu lesung. Batu palung adalah jambangan batu yang berbentuk panjang dengan sudut-sudut membulat. Jambangan ini fungsinya dipergunakan untuk menyimpan tulang-tulang manusia, seperti yang dilakukan di Nias. Batu-batu palung antara lain terdapat di Pajarbulan (Impit Bukit ), Gunungmigang, Tebatgunung, dusun Pagaralam, dan Pulaupanggung (Sekendal). Di beberapa tempat batu-batu palung tersebut, dibentuk seperti tubuh manusia, bahkan didekat Tebat Beluhu, sebuah palung dipahatkan bersama-sama dengan arca manusia, seolah-olah manusia tersebut memeluk palung. Arca tersebut berbentuk seperti arca-arca yang umumnya terdapat di daerah Besemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batu lesung adalah sebungkah batu yang diberi lubang sebuah atau klebih, dengan diameter lubang dan dalam rata-rata 15 cm.permukaan batu yang rata dibagi dalam empat ruang oleh bingkai-bingkai. Kadang-kadang tiap ruang berlubang. Penduduk setempatmengatakan bahwa batu-batu tersebut pada zaman dahulu digunakan untuk menumbuk padi-padian. Batu lesung seperti ini ditemukan pada tempat-tempat kompleks bangunan megalitik. Di Besrmah, batu tersebut dinamakan batu lesung atau lesung batu, ditemukan antara lain di Tanjungsirih, Geramat (Mulak Ulu), Tanjung-aghe, Tebingtinggi, Lubukbuntak, Gunungmigang, danPajarbulan Impit Bukit.di luar daerah Besemah ditemukan pula peninggalan-peninggalan megalitik, yaiti di daerah Lampung, Baturaja, Muarakomering dan Pugungraharjo, antara lain berupa arca-arca nenek moyang, seperti yang ditemukan di Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selai situs-situs yang disebutkan diatas, pada tahun 1999-2002 Balai Arkeologi Palembang melakukan penelitian lanjutan di situs Muarapayang yang merupakan salah satu kompleks situs prasejarahdi Tanah Besemah. Temuan yang didapat berupa pecahan periuk, kendi tanah liat, fragmen keramik asing, tempayan kubur, kerangka manusia, alat-alat batu, bagunan megalitik, benteng tanah, makam puyang, dan sebagainya (Indriastuti, 2003:1). Situs Muarapayang sebagai salah satu situs pemukiman pra-sejarah telah dikenal sejak tahun 1932 oleh peneliti van der Hoop yang pernah menerbitkan buku berjudul “Megalitic Remain in South Sumatra”. dalam buku tersebut di uraikan tentang adanya penemuan sebuah dolmen di dusun Muarapayang. Informasi tentang tinggalan-tinggalan budaya dari situs Muarapayang tanpak nyata, seperti tinggalan berupa kompleks bagunan megalik, kompleks kubur tempayan, dan benteng tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelanjutan tradisi megalitik pada umumnya masih ditempat-tempat lainnya di Indonesia yang berkembang dalam corak-corak local dan kondisi masa sekarang. Di Tanah Besemah yang telah beragama islam dan telah bayak menerima pengaruh budaya dari luar, agak sulit untuk menentukan kebiasaan-kebiasaan yang berasal dari zaman megalitik. Tetapi kadang-kadang nuasa tradisi prasejarah ini masih tampak nyata di tempat yang masih kuat tradisinya masih melekat beberapa aspek kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3 Lukisan Purba di Besemah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bidang seni, tradisi megalitik di Besemah telah mengenal seni lukis yang berkualitas tinggi, baik dari segi bentuk maupun dari tata warna. Gaya naturalis serta gaya-gaya stilir telah muncul pada berbagai dinding kubur batunya yang dapat dilihat di situs megalitik Tanjung-aghe, megalitik Tegurwangi, dan megalitik Kutaghaye Lembak. Lukisan purba di dusun Tanjung-aghe ditemukan pertama kali oleh Van der Hoop (Hoop, 1932), sedangkan yang di dusun Tegurwangi dan dusun Kuteghaye Lembak ditemukan oleh penduduk sekitar tahun 1987. lukisan-lukisan tersebut mempunyai perpaduan warna yang menunjukkan bukti bahwa pembuatnya sudah mempunyai teknik yang berkualitas tinggi dalam penguasaan tata warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut hasil analisis bentuk yang dilakukan Hoop, lukisan dari kubur batu Tanjung-aghe menggambarkan seorang manusia yang mengendarai seekor kerbau yang mengacu pada bentuk antropomorpik (bentuk manusia) dan bentuk fauna baik jenis kerbau maupun kera. Pada lukisan dari kubur batu Tegurwangi dan Kuteghaye Lembak, juga memiliki kualitas tinggi baik dipandang dari sudut estetika maupun symbol yang melatarbelakanginya. Tampaknya lukisan tersebut merupakan suatu pesan dari pelukisnya dalam bentuk symbol yang mengacu pada perilaku dan kehidupan religius masa itu. Analisis laboratories yang dilakukan oleh Samidi, dari Direktorat perlindungan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, berhasil mengungkapkan tentang bahan-bahan yang digunakan memakai warna hitam, merah, putih dan kuning. Warna merah dalam pada masa prasejarah telah menduduki tempat yang sangat penting. Warna merah telah banyak digunakan dalam upacara-upacara prosesi penguburan. Pada berbagai kubur dari masa prasejarah dalam gua maupun yang ditemukan di kyokkenmodinger (sampah kerang) sering dijumpai adapt menabur dengan warna merah. Tampaknya penggunaan warna cat dalam llukisan purba telah memiliki suatu makna dan kaidah yang sudah menjadi kesepakatan. Dalam berbagai pola luas pada masa purba atau sampai pada masa kini pun warna-warna tersebut masih tetap mempunyai arti tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Objek-objek lukisan purba di Besemah di atas adalah manusia, fauna, flora, benda buatan manusia dan alam. Lukisan manusia digambarkan dengan susunan anatomi yang lengkap terdiri dari kepala, leher, badan, kaki dan berbagai anggota badan, seperti hidung, mata, mulut dan lain-lain secara lengkap. Walaupun demikian penggambaran tokoh manusia dibuat dalam proporsi yang tidak sebenarnya, antara lain posisi kepala terlalu e depan, sehingga objek lukisan seolah-olah bongkok. Demikian pula kadang-kadang badan terlalu gemuk dan leher pendek, penggambaran kaki seorang tokoh biasanya lebih pendek dibandingkan dengan anggota badan lainnya. Tokoh manusia banyak yang menunjukkan bentuk fisik seperti fisik orang Negro. Di dalam kkubur batu di dusun Tegurwangi, tokoh manusia ada yang digambarkan seperti seorang wanita dengan payudara yang besar. Tampaknya dalam bidang seni ada kesejajaran dalam tingkat keahlian antara seni lukis dan seni pahat. Hal ini tampak dari hasil pahatan dalam bentuk arca maupun dalam bentuk lukisan yang menghasilkan bentuk dan proporsi manusia yang hamper sama. Dalam seni lukis tokoh manusia juga di gambarkan dengan posisi bongkok dan dengan bibir lebar yang tebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukisan dalam bentuk binatang (fauna) terdiri dari binatang liar dan binatang-binatang yang telah dibudidayakan. Binatang liar, antara lain, adalah harimau (pengamatan Teguh Asmar), burung hantu (pengamatan Haris Sukendar), dan ular. Sedang binatang yang telah dibudidayakan, antara lain, lukisan kerbau. Lukisan binatang ini tampaknya erat sekali dengan pemahaman pendukung tradisi megalitik dengan lingkungan. Binatang yang menjadi objek lukisan terdapat di hutan belantara Besemah. Seperti juga pada tinggalan-tinggalan arca, maka lukisan purba Besemah mempunyai maksud yang hamper sama, yaitu bertujuan sebagai harapan terjadinya keakraban antara manusia dengan binatang hutan yang ganas. Kalau Hoop mendeskripsikan lukisan kerbau di dusun Tanjung-aghe menggambarkan seorang manusia mengendarai kerbau, sedangkan Teguh Asmar mendeskripsikan lukisan kerbau pada dinding pintu masuk salah satu kubur batu di Kute-ghaye. Selanjutnya, Asmar mengatakan bahwa kerbau dilukiskan kepala, leher, badan, seta kaki dengan penampilan yang tidak proporsional. Tanduknya hanya kelihatan satu, melengkung ke atas dan berwarna putih. Badannya begitu pendek diteruskan gambaran kaki kanannya yang memanjang kearah bawah, sedangkan kaki kirinya hanya tampak sampai separuh paha. Melihat bawahnya terlukis sebuah motif yang tidak jelas, karena warna lukisan banyak yang hilang. Kecuali tanduk dan selempang leher, kerbau diberi warna hitam dengan warna kontras putih (Asmar, 1990). Kemungkinan yang dikira Asmar kerbau itu adalah badak, karena “tanduk”nya satu dan melengkung ke atas dan badannya begitu pendek, serta mempunyai selempang leher.&lt;br /&gt;Lukisan burung hantu merupakan lukisan yang indah di kubur batu Kute-ghaye. Walaupun indah, tetap menimbulkan perdebatan di antara arkeolog Hari Sukendar dengan Asmar. Hari Sukendar mengatakan bahwa lukisan itu menggambarkan burung hantu yang memiliki kuku panjang dan runcing, bagian muka (paruh dan mata) digambarkan secara jelas, sedangkan menurut Asmar bahwa binatang yang dimaksud adalah harimau. Tetapi menurut masyarakat setempat “burung hantu” tersebut adalah burung gerude (garuda). Selain lukisan “burung hantu” di dinding sebelah kiri, di dekat pintu masuk kubur batu adalah lukisan palak nage (kepala naga). Arca-arca dalam tradisi megalitik biasanya digunakan sebagai sarana untuk menjaga keselamatan, khususnya “keselamatan” si mati dalam mencapai dunia arwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung Sunaryo telah menemukan lukisan purba yang menggambarkan seperti serigala atau harimau dalam satu bidang dengan seorang objek lukisan manusia. Lukisan ini ditemukan tahun 1987 di kubur bilik batu Tegruwangi. Tetapi saying sekali, lukisan itu telah hilang. Dari pengamatan Haris Sukendar, lukisan fauna di megalitik Besemah dalam bentuk fisiknya dibagi menjadi dua bagian yaitu (1) Lukisan realistis, lukisan digambar sesuai dengan bentuk aslinya, seperti lukisan burung hantu, (2) Lukisan bersifat stilir, lukisan yang digambarkan dengan bentuk yang bergaya, tetapi mempunyai makna seperti objek aslinya, seperti lukisan kerbau di dusun Tanjung-aghe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti juga pada seni pahat, seni lukis kerbau ditemukan pada dinding kubur batu yang membuktikan bahwa kerbau telah dikenal dan dibudidayakan dalam tradisi megalitik di Besemah. Kerbau dalam tradisi megalitik ini menjadi binatang utama. Dalam berbagai upacara penting, kerbau selalu berperan yang digunakan sebagai binatang kurban yang disembelih baik untuk keperluan berkaitan dengan kepercayaan (belifs), yaitu sebagai kendaraan arwah ketika menuju alam arwah atau sebagai konsumsi manusia itu sendiri. Selain itu, kerbau juga merupakan symbol harkat dan martabat seseorang. Lukisan kerbau pada tradisi megalitik di Besemah menunjukkan bahwa masyarakatnya telah akrab dengan binatang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukisan jenis flora ada yang dihubungkan dengan kesuburan atau hanya sekedar estetika. Objek lukisan flora dalam megalitik kebanyakan menggambarkan motif sulur atau jenis tanaman yang merambat (menjalar), lukisan dengan objek flora dalam kubur batu di Besemah mayoritas bermotif sulur. Bagaimana dengan pola-pola hias pada menhir di Besemah? Tampaknya masih terlalu sulit untuk mengetahui motif hias sulur dalam tradisi megalitik di Besemah sebagai estetika semata, karena belum diketahui makna religiusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4 Megalitik Besemah dan Pengaruh Budaya Luar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya dalam kurun waktu yang panjang ,memperlihatkan ada pekembangan kemajuan dalam tradisi megalitik. Arca megalitik besemah tampil begitu indah dan perhiasan tubuh (kalung dan gelang kaki) .arca mengalitik besemah telah mengakomodasikan segalah aspek yang bernilai tinggi yang datang dari luar . pahatan sudah menujukan keterampilan teknik yang mengandung unsur bermacan –macam budaya yang telah menyentu. Indikasi yang menujukan unsur-unsur budaya luar terletak pada berbagi bagian tubu serta pakaian dan hiasanya .Bagian bagian yang menujukan pengaruh budaya luar dapat di lihat pada bagian tutup kepala ,bentuk fiik tubuh ,perlengkap pakain ,dan pakainnya .hal ini dapat di lihat seperti pada pahatan sebagi berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Pada seni pahat Besemah muncul gejalah pengaruh budaya Eropa (yunani) seperti dalam pahatan (goresan)di situs mengelitik Tegurwangi Lame terdapat took-toko yang di gambarkan dengan tutup kepala yang berumbai-rumbai dan hiasan dalm bentuk bulatan-bulata yang menyerupai perlengkapan pakaian seradut Romewi.&lt;br /&gt;2.Pada acara –acara megalit Besemah di pulaupagung (Sekendal ),Tajungsiri, Muaradue gumay ulu ,dan lain- lain tertdapat pahatan yang menggambarkan pakaian ponco yang di gunakan oleh suku-suku bangsa di Amerika.Sementara pada bagian kaki ,ada pahatan–pahatan yang menggambarkan penutup kaki yang oleh R.P Soejono dikatakan kaos kaki&lt;br /&gt;3.Arca-arca megalitik di Besemah banyak yang digambarkan mengenakan pelengkap pakaian, seperti adanya pahatan nekara perunggu, belati atau pedang. Pahatan ini menggambarkan alat-alat kelengkapan hidup yang pada awalnya dimiliki oleh orang-orang yang tinggal di daerah Dong-son, Vietnam (Soejono, 1982-1983;Gildern, 1945).&lt;br /&gt;4.Teguh Asmar menyatakan adanya pengaruh luar khususnya dari segi bentuk tubuh (fisik) arca-arca megalitik yang seolah-olah menggambarkan bentuk prototif orang Negro, dengan ciri-ciri hidung pesek dan bibir tebal. Dalam temuan terakhir di situs Kute-ghaye, ada arca yang dipahatkan berambut keriting yang digambarkan dengan bentuk melingkar.&lt;br /&gt;5.Sementara peneliti Ullman, Westenenk, Tombrink, dan lain-lain, cenderung mengatakan arca-arca megalitik Besemah dipengaruhi budaya India. Mereka menyatakan bahwa peninggalan itu dipengaruhi oleh budaya Hindu (Ullman 1850, Westenenk, 1921, Tombrink 1872).&lt;br /&gt;6.Temuan lukisan kepala naga pada dinding kubur batu di Kute-ghaye menunjukkan pengaruh budaya Cina. Oleh van Heekeren mengatakan kubur-kubur batu yang monumental di dusun Kute-ghaye diduga berasal dari Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pendapat-pendapat di atas, menyatakan bahwa hasil budaya megalitik di Besemah sudah berhubungan dengan budaya luar dengan tingkat akulturasi yang sangat kompleks. Hal itu menandakan bahwa pendukung budaya megalitik Besemah sudah menguasai pengetahuan yang sangat tinggi yang dapat menyaring dan menyeleksi budaya luar yang baik dan benar.&lt;br /&gt;Ciri-ciri pahatan megalitik Besemah yang menunjukkan tanda-tanda masuknya budaya luar, sudah menunjukkan pola pikir nenek moyang pada dataran tersebut begitu fleksibel. Mereka menganggap masuknya unsur-unsur asing tidak akan melenyapkan budaya terdahulu (asli), tetapi justru masuknya budaya asing dipandang sebagai unsur yang dapat memperkaya budaya sendiri. Sikap toleran ini sangat mempengaruhi hasil cipta (karya), rasa, dan karsa (budaya) nenek moyang. Hal ini dapat dibuktikan dengan tampilnya budaya material dalam bentuk megalitik yang sangat dinamis, yang berhasil menampilkan peninggalan budaya Batu Besar yang sangat unik, langka, dan penuh dengan kreasi-kreasi baru yang keluar dari lingkungan lama yang statis.&lt;br /&gt;Selain ditemukan arca megalitik dinamis yang mengandung kebebasan bagi pemahatnya, ditemukan pula arca statis yang pada intinya mencerminkan budaya lama yang sulit berubah. Arca Muaradue dan Mingkik merupakan contoh situs megalitik yang masih asli belum memperoleh pengaruh-pengaruh luar yang datang kemudian. Bentuk arca Muaradue masih sederhana yang dapat dikelompokkan ke dalam jenis menhir. Arca semacam ini banyak digunakan dan berkaitan dengan penguburan. Berhubung ditancapkan ke dalam tanah, bagian bawah arca tidak diberi kaki. Arca statis yang ditemukan di dusun Mingkik ini belum diketahui untuk tanda kubur atau tidak, karena tanda-tanda ada penguburan pada lokasi berdirinya arca batu belum ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5Pendukung Budaya Megalitik Besemah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau berbicara mengenai kebudayaan Megalitikum di Tanah Besemah, kita masih menyisakan pertanyaan apakah benar pendukung budaya batu besar adalah nenek moyang orang besemah sekarang ini?. Atau dengan kata lain apakah ada keterkaitan dengan asal-usul orang Besemah?.&lt;br /&gt;Teguh Asmar, seorang peneliti megalitik telah mencoba mengadakan penelitian terhadap pendukkung megalitik. Berdasarkan bentuk fisik arca-arca Besemah serta lukisan-lukisan pada dinding kubur batu, Asmar mengambil kesimpulan bahwa nenek-moyang pendukung megalitik Besemah adalah dari ras negroid. Alasannya didasari oleh bentuk-bentuk dan cirri-ciri fisik arca Besemah yang, antara lain, berbibir tebal dan hidung pesek. Ia mengatakan bahwa tentunya pendukung megalitik Besemah paling tidak mempunyai cirri yang menyerupai bentuk yang digambarkan pada arca megalitik maupun lukisan-lukisan pada dinding kubur batu.&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk fisik dari tokoh-tokoh yang digambarkan pada kubur batu adalah pendek dan dengan bagian tubuh yang besar kandal (tambun). Apa yang tampak pada cirri-ciri fisik arca megalitik Besemah merupakan penggambaran nyata dari bentuk fisik pendukung tradisi megalitik. Walaupun pendapat Teguh Asmar belum memperoleh pembuktian yang otentik tetapi hal ini merupakan sumbangan pemikiran yang bermanfaat dalam usaha mengungkapkan dari ras mana penduduk Besemah masa lalu. Namun menurut penulis, gambaran mengenai cirri-ciri fisik patung seperti yang digambarkan Teguh Asmar tersebut, hamper dapat dikatakan tidak sesuai dengan ciri-ciri fisik orang Besemah yang hidup sekarang ini.&lt;br /&gt;Sedangkan Koentjaraningrat (1979:1-17) menyatakan dalam teori mengenai persebaran penduduk manusia prasejarh, ia tidak menyebut sedikit pun mengenai asal-usul suku Besemah, yang dibicarakan adalah orang Irian, Kalimatan, Sulawesi, Flores, dan beberapa suku lainnya.&lt;br /&gt;Selanjutnya pendapat Surdjanto Puspowardoyo tentang latar belakang benda-benda peninggalan masa lalu yang menyatakan bahwa hasil budaya manusia mengandung nilai-nilai simbolik yang harus diterjemahkan dan diungkapkan peneliti secara signifikan (Kusumawati, 2003:170-171). Sebagai contoh gambar cap tangan pada dinding gua dan ceruk di Indonesia bukan hanya bertujuan untuk memperoleh nilai ektetika seni, tetapi menurut van Heekeren, menggambarkan perjalaan arwah yang meraba-raba mencari jalan yang menuju kea lam arwah. Berangkat dari pendapat ini maka dalam mengungkapkan siapa dan dari ras mana nenek-moyang pendukung megalitik Besemah harus dicari pula menurut nilai-nila simbolok di belakang cap tangan tersebut&lt;br /&gt;Menariknya, kesimpulan para pakar bahwa pencipta tradisi megalitik Besemah terdiri dari dua latar belakang kebudayaan. Latar belakang budaya yang lebih awal menciptakan bentuk menhir, dolmen, serta arcatambaon primitif; dan yang berlatarbelakang kebudayan mengngelombang kedua, kemungkinan datang dari daratan Timur Asia tahun 200 sebelum masehi sampe 100 sebelum masehi (Hanafiah,2000:x).Kelompok yang terakhir ini,menurut Robert Heine-Geldern,ermasuk melahirkan budaya pahat patung khas seni Besemah dan stone cist grave (peti buku kubur).&lt;br /&gt;Beberapa arca menunjukan adanya karakteristik dari kedua kelompok tersebut.kedua gaya itu dapat bertemu dan melembur di Besemah. Dapat di mengerti bahwa beberapa monument dari gaya yang lebih tua masih dapat di ciptakan pada periode yang sama pada perkembangan zaman pahat patung perunggu.Gambaran itu dapat dengan jelas pada arca batu gaja,yang dulu berada di dekat Lapangan Merdeka (Alun-alun Kota Pagaralam),tepatnya di tempat yang sekarang berdiri”Gedoeng Joeang’45” dan Masjid Taqwa Kata Pagaralam. Arca ini menampilkan gajah yang duduk,ditunggangi oleh seorang pahlawan yang digambarkan memakai kalung perunggu dengan pedang besar panjang serta gederang perunggu di punggungnya.Barang kali arca batu gajah merupakan suatu gambaran bahwa nenek-moyang orang Besemah adalah pejuang dan pahlawan.jika di kaitkan dengan kegigihan dan keberanian pejuang-pejuang Besemah pada waktu perang di Benteng penandingan,Benteng Menteralam,Benteng Tebatseghut,dan lain-lain gambaran di atas bener adanya.&lt;br /&gt;Arca biasanya menggabarkan atau mengabadikan seorang tokoh yang dianggap memiliki kekuatan seorang dewa.pada candi-candi Hindu terdapat arca-arca yang mengambarkan dewa Ciwa,Brahma dan wisnu.Arca Ciwa,misalnya kadang digambarkan dengan tangan yang banyak dan dewa yang berkepala bamyak mempunyai latar belakang yang simbolek.Demilian juga pada arca-arca di Besemah memiliki makna sebagai symbol.kebiasaan pada masa prasejarah biasanya sangat mengagungkan nenek-moyangnya dan mempersentasikanya dalam bentuk arca-arca nenek moyang’sebagai usaha anak-cucunya yang ingin mengabadikan leluhurnya agar selalu dikenang.Jadi,berdasarkan pendapat diatas,dapat dikatakan bahwa kaitan pendukung migalitik di Tanah Besemah dengan nenek moyang jeme Besemah sekarang ini perlu pengkajian dan penelitian yang lebih mendalan lagi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color:#339966;"&gt;&lt;br /&gt;SUKU BESEMAH SELAYANG PANDANG&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color:#339966;"&gt;&lt;br /&gt;2.1Letak Geografis dan Alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah Besemah terletak di kaki Bukit Barisan. Daerahnya meluas dari lereng-lereng Gunung Dempo ke selatan sampai ke Ulu sungai Ogan ( Kisam ), ke barat sampai Ulu alas ( Besemah Ulu Alas ), ke utara sampai ke Ulu Musi Besemah ( Ayik Keghuh ),dan ke arah timur sampai Bukit Pancing, Pada masa Lampik Empat Merdike Due, daerah Besemah sudah dibagi atas Besemah Libagh, Besemah Ulu Lintang, Besemah Ulu Manak, dan Besemah Ayik Keghuh. Meskipun nama-namanya berbeda, namun penduduknya mempuyai hubungan atau ikatan kekerabatan yang kuat ( genealogis )&lt;br /&gt;Daerah Besemah merupakan dataran tinggi dan pegunungan yang bergelombang. Ketinggian wilayah sangat bervariasi, dari ketinggian sekitar 441 meter dpl ( diatas permukaan laut ) sampai dengan 3.000-an meter lebih dpl. Daerah dataran tinggi 441 meter samapi dengan 1.000 meter dpl, sedangkan daerah berbukit dan bergunung ( bagian pegunungan ) berada pada ketinggian di atas 1.000 meter hingga 3.000 meter lebih dpl. Titik tertinggi adalah 3.173 meter dpl, yaitu puncak Gunung Dempo ( Bos, 1947:35 ), yang sekaligus merupakan gunung tertinggi di Sumatera Selatan. Daerah Gunung Dempo dengan lereng-lerengnya pada sisi timur dan tenggara mencakup 58,19 % dari luas wilayah Kota Pagar Alam sekarang yang 633,66 hektar ( Bappeda, 2003 : 7-12 ).&lt;br /&gt;Bukit dan gunung yang terpenting di wilayah Kota Pagar Alam, antara lain adalah Gunung Dempo ( 3.173 m), Gunung Patah, ( 2.817 m ), Bukit Raje Mendare, Bukit Candi, Bukit Ambung Beras, Bukit Tungku Tige ( Tungku Tiga ), dan Bukit Lentur. Bagian wilayah kota yang marupakan dataran tinggi, terutama bagian timur, umumnya disebut “ Tengah Padang”. Daerah pusat Kota Pagar Alam yang meliputi kecamatan Pagaralam Utara dan Kecamatan Pagaralam Selatan atau wilayah bekas Marga Sumbay Besak suku alundue terletak pada ketinggian rata-rata 600 samapai 3.173 meter dpl.&lt;br /&gt;Daerah Besemah dialiri sejumlah sungai. Satu diantaranya adalah sungai Besemah ( Ayik Besemah ). Pada zaman dahulu, keadaan alamnya sangat sulit dilewati, menyebabkan daerah ini jarang didatangi oleh Sultan Palembang atau wakil-wakilnya ( raban dan jenang ). Kondisi alam yang cukup berat ini menyebabkan sulitnya pasukan Belanda melakukan ekspedisi-ekspedisi militer untuk memadamkan gerakan pelawanan orang Besemah.&lt;br /&gt;Mengenai keadaan alam Besemah pada permulaan abad ke-19, menurut pendatang Belanda dari karangan van Rees tahun 1870 melukiskan.&lt;br /&gt;Sampai dengan tahun 1866 ada rakyat yang mendiami perbukitan yang sulit di datangi di sebalah tenggara Bukit Barisan yang tidak pernah menundukkan kepalanya kepada tetangga walaupun sukunya lebih besar. Walau hanya terdiri dari beberapa suku saja, mereka menanamkan dirinya rakyat bebas merdeka. Dari barat daya sulit ditembus oleh orang-orang Bengkulu, dari tiga sudut lain dipagari oleh gunung-gunung yang menjulang tinggi dan ditutupi oleh hutan rimba yang lebat dan luas di daerah pedalaman Palembang .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2Asal-usul, Kepercayaan, dan Mata Pencarian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang masih belum jelas dari mana sebenarnya asal-usul suku Besemah. Apakah teori-teori tentang perpindahan penduduk yang diikuti sekarang berlaku juga bagi suku Besemah, masih diliputi kabut rahasia. Namun yang jelas, jauh ( berabad-abad ) sebelum hadirnya mitos Atung Bungsu, di Tanah Besemah, di lereng Gunung Dempo dan daerah sekitarnya, telah ada masyarakat yang memiliki kebudayaan ( tradisi megalitik ) sebagaimana telah diuraikan pada bab terdahulu dan bukti-bukti budaya megalitik di Tanah Besemah itu sampai sekarang masih ada. Tetapi permasalahannya, apakah jeme Besemah sekarang ini adalah keturunan dari pendukung budaya megalitik tersebut ?&lt;br /&gt;Menurut Ahad, juraytue puyang Kedung Gunung Samat di Rempasay bahwa sebelum kedatangan Atung Bungsu ke daerah di sekitar Gunung Dempo, telah datang bergelombang dan berturut-turut suku-suku atau bangsa-bangsa itu adalah jeme Kam-kam, jeme Nik dan jeme Nuk, jeme Ducung, jeme Aking,dan jeme Rebakau, jeme Sebakas ; jeme Rejang dan jeme Berige. Pada masa tanah di sekitar Gunung Dempo diduduki oleh jeme Rejang dan jeme Berige, datanglah Atung Bungsu.&lt;br /&gt;Dari cerita orang tua (jeme- jeme tue ), secara fisik jeme Nik dan jeme Nuk memiliki badan yang tinggi besar, hidung mancung, dan kulit putih kemerahan. Jeme Ducung perawakan tubuknya kecil, pendek tetapi memiliki kelincahan. Jeme Aking juga tinggi besar, kekar, kulitnya merah keputihan, dan memiliki pendirian yang keras. Jeme Rebakau berperawakan sedang, dan jeme Sebakas postur tubuhnya seperti orang-orang Melayu sekarang. Demikian pula jeme Rejang dan jeme Berige tidak jauh beda dengan jeme Sebakas. Ahad mengatakan bahwa orang Besemah sekarang diperkirakan merupakan keturunan dari berbagai suku-suku diatas, namun keturunan yang paling dominant berasal dari puyang Atung Bungsu.&lt;br /&gt;Menurut cerita rakyat di Besemah, Atung Bungsu datang ke Besemah pada saat tempat ini sudah di diami oleh suku Rejang dan Berige. Ia sampai berdialog dengan salah seorang pimpinan suku Rejang yang bernama Ratu Rambut Selaku dari Lubuk Umbay yang masing-masing merasa berhak atas Tanah Besemah. Mulai sumpah, akhirnya Ratu Rambut Selake mengakui bahwa yang lebih berhak adalah Atung Bungsu. Ucapan Atung Bungsu itu kira-kira sebagai berikut, “Jikalau bulak, jikalau buhung, tanah ini aku punye, binaselah anak cucungku”.&lt;br /&gt;Sedangkan M.Zoem Derahap, yang dijuluki Pak Gasak, dusun Negeri Kaye, Tanjung Sakti, bercerita bahwa rakyat Lubuk Umbay yang dipimpin Ratu Rambut Selake setelah mengakui Tanah Besemah milik Atung Bungsu mereka lalu diberi kedudukan sebagai Sumbay dalam Jagat Besemah, tetapi tidak masuk dalam system pemerintahan Lampik Empat Merdike Due. Sumbay mereka itu dinamakan Sumbay Lubuk Umbay.&lt;br /&gt;Sebagai masyarakat Besemah percaya bahwa kedatangan Atung Bungsu itu bersama Diwe Semidang (Puyang Serunting Sakti) dan Diwe Gumay. Diwe Gumay menetap di Bukit Seguntang Palembang, sedangkan Diwe Semidang pada mulanya juga tinggal di Bukit Seguntang, lalu pagi menjelajah sembilan batanghari sampai akhirnya menetap di suatu tempat yang disebut Padang Langgar (Pelangkeniday). Keturunan kesebelas dari Diwe Gumay, yaitu Puyang Panjang sebagai Juray Kebalik-an baru menetap dibagian ilir Tanah Besemah, yaitu di Balai Buntar ( Lubuksempang).&lt;br /&gt;Selain cerita rakyat yang tetap hidup dan berkembang di Besemah, mengenai asal- usul suku Besemah, seorang pengelana bangsa Inggris, E.Presgrave, yang mengunjungi daerah Besemah, memberikan cerita dalam The Journal Of The Indian Archipelago (Harian dari Kumpulan India) sebagai berikut (Gramberg, 1867:351-352).&lt;br /&gt;“….., sewaktu kerajaan Majapahit runtuh, seorang kakak laki-laki dan seorang adik perempuan dengan banyak pengikut, telah meninggalkan Majapahit dan mendarat di Pantai Timur Sumatera. Adik perempuannya menempatkan dirinya di Palembang, dimana ia dalam waktu singkat telah menjadi ratu yang terpandang ; kakaknya (Atung Bungsu), yang lebih jauh masuk ke pedalaman, menetapkan diri di Lembah dari Passumah yang subur. Dengan demikian tanah ini diduduki dan dihuni para pendatang ini.&lt;br /&gt;Mitos atau cerita mengenai Puyang Atung Bungsu terdapat beberapa versi yang diantara lain dapat kita baca dalam “Soerat Assal Oerang Mendjadikan Djagat Passumah” dengan kode ML 608 (BR.157.VIII) dan kode ML 234 yang ada di perpustakaan Museum Nasional, Jakarta. Sumber dengan kode ML 234 ditulis oleh Muhammad Arif dari dusun Benuakeling tanggal 28 November 1898 yang disalinnya dari suatu kitab orang dusun Tanahpilih, Marga Sumbay Ulu Lurah Benuakeling, yaitu Pangeran Samadil. Sumber data ini, sebelumnya disalin kembali oleh Muhammad Tayib yang pernah magang di kantor Kontrolir dari Bandar tanggal 25 Januari 1889. Jadi, sumber ini sudah disalin beberapa kali. Sumber aslinya dalam bentuk huruf Arab Gundul (Surat Melayu) yang kemudian ditulis dalam bentuk huruf latin.&lt;br /&gt;Adalagi sumber yang ditulis oleh A. Grozali Mengkerin, juga dari dusun Benuakeling yang berjudul “Benuakeling Puting Jagat Besemah”. Selanjutnya ada lagi versi lain, misalnya yang ditulis oleh Musa dari dusun Muara Siban, M.S. Panggarbesi, Abdullah (Bedul) dusun Gelungsakti, dan beberapa tulisan lainnya. Cerita tentang Puyang Atung Bungsu ini banyak dibumbui dengan cerita-cerita yang berbau mistik, irrasional dan sulit diterima oleh akal sehat. Pada umumnya cerita tentang Atung Bungsu ini terdapat persamaan, bahwa tokoh ini berasal dari Kerajaan Majapahit dan dua orang anaknya, Bujang Jawe (Bergelar Puyang Diwate) dan Riye Rekian. Atung Bungsu dan keturunannya dianggap genre yang menjadikan “Jagat Besemah”. Konon, menurut cerita, kata “Besemah” berasal dari cerita istri Atung Bungsu yang Bernama Putri Senantan Buwih (anak Ratu Benuakeling) yang ketika sedang mencuci beras di sungai, bakul berasnya dimasuki ikan semah (ML, 608:5).&lt;br /&gt;Salah seorang keturunan Bujang Jawe (Puyang Diwate) bernama puyang Mandulake (Mandulike) yang berputra lima orang, yaitu (1) Puyang Sake Semenung atau Semanung (menjadikan anak keturunan Pagargunung), (2) Puyang Sake Sepadi, melalui anaknya Singe Bekkurung yang bertempat tinggal di dusun Benuakeling menjadikan Marga Tanjung Ghaye, Sumbay Ulu Lurah, Sumbay Besak, Sumbay Mangku Anum, dan Sumbay Penjalang, (3) Puyang Sake Seratus menjadikan anak keturunan Bayuran (Kisam), (4) Puyang Sake Seketi (mati bujang, tidak ada keturunan). Puyang Singe Bekurung mempunya anak Puyang Pedane. Puyang Pedane beranak Puyang Tanjung Lematang. Puyang ini kemudian beranak tiga orang, yaitu Puyang Riye Lisi, Riye Ugian, dan Riye Lasam. Puyang Riye Lisi pindah ke Kikim menjadikan anak Merge Penjalang di Besemah Libagh, dan Puyang Riye Lasam menjadikan keturunan Sumbay Ulu Lurah.&lt;br /&gt;Tentang asal-usul suku Besemah, versi lalin menceritakan bahwa ada seorang “Wali Tua” dari salah satu anggota keluarga Kerajaan Majapahit berangkat ke Palembang, kemudian kawin dengan Putri (anak) Raja Iskandar yang menjadi Raja Palembang. Salah satu keturunan inilah yang bernama Atung Bungsu yang pada suatu ketika berperahu menyelusuri sungai Lematang dan akhirnya sampai di sungai yang belum diketahui namanya, tempatnya menetap dinamakan Benuakeling . Di sungai itu, Atung Bungsu melihat banyak ikan semah yang mengerumuni bekas-bekas makanan yang dibuang ke sungai. Atung Bungsu menceritakan kepada istrinya bahwa di sungai banyak ikan semah-nya. Konon katanya, nama ikan inilah yang menjadi cikal-bakal asal-usul nama “Besemah” yang artinya “sungai yang ada ikan seah-nya”. Sungai itulah yang sampai sekarang dikenal dengan nama Ayik Besemah diantara dusung Karanganyar dengan dusun Tebatgunung Baru sekarang. Jadi, ada beberapa versi cerita mengenai ikan semah sebagai asal nama Besemah, di antaranya versi Atung Bungsu dan versi Senantan Buih.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;                  &lt;span class="article_seperator"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7375266540532196859-2235945672910560378?l=hardiyansyah-ahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/feeds/2235945672910560378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7375266540532196859&amp;postID=2235945672910560378' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/2235945672910560378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/2235945672910560378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/2010/03/sejarah-singkat-etnis-besemah.html' title='Sejarah Singkat Etnis Besemah'/><author><name>Hardiyansyah Ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05196682395539916812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7375266540532196859.post-8754469131140779284</id><published>2010-03-13T15:06:00.000+08:00</published><updated>2010-03-13T15:08:10.309+08:00</updated><title type='text'>Asal-usul, Kepercayaan, dan Mata Pencarian Orang Besemah</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;color:#339966;" &gt;Asal-usul, Kepercayaan, dan Mata Pencarian Orang Besemah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang masih belum jelas dari mana sebenarnya asal-usul suku Besemah. Apakah teori-teori tentang perpindahan penduduk yang diikuti sekarang berlaku juga bagi suku Besemah, masih diliputi kabut rahasia. Namun yang jelas, jauh ( berabad-abad ) sebelum hadirnya mitos Atung Bungsu, di Tanah Besemah, di lereng Gunung Dempo dan daerah sekitarnya, telah ada masyarakat yang memiliki kebudayaan ( tradisi megalitik ) sebagaimana telah diuraikan pada bab terdahulu dan bukti-bukti budaya megalitik di Tanah Besemah itu sampai sekarang masih ada. Tetapi permasalahannya, apakah jeme Besemah sekarang ini adalah keturunan dari pendukung budaya megalitik tersebut ?&lt;br /&gt;Menurut Ahad, juraytue puyang Kedung Gunung Samat di Rempasay bahwa sebelum kedatangan Atung Bungsu ke daerah di sekitar Gunung Dempo, telah datang bergelombang dan berturut-turut suku-suku atau bangsa-bangsa itu adalah jeme Kam-kam, jeme Nik dan jeme Nuk, jeme Ducung, jeme Aking,dan jeme Rebakau, jeme Sebakas ; jeme Rejang dan jeme Berige. Pada masa tanah di sekitar Gunung Dempo diduduki oleh jeme Rejang dan jeme Berige, datanglah Atung Bungsu.&lt;br /&gt;Dari cerita orang tua (jeme- jeme tue ), secara fisik jeme Nik dan jeme Nuk memiliki badan yang tinggi besar, hidung mancung, dan kulit putih kemerahan. Jeme Ducung perawakan tubuknya kecil, pendek tetapi memiliki kelincahan. Jeme Aking juga tinggi besar, kekar, kulitnya merah keputihan, dan memiliki pendirian yang keras. Jeme Rebakau berperawakan sedang, dan jeme Sebakas postur tubuhnya seperti orang-orang Melayu sekarang. Demikian pula jeme Rejang dan jeme Berige tidak jauh beda dengan jeme Sebakas. Ahad mengatakan bahwa orang Besemah sekarang diperkirakan merupakan keturunan dari berbagai suku-suku diatas, namun keturunan yang paling dominant berasal dari puyang Atung Bungsu.&lt;br /&gt;Menurut cerita rakyat di Besemah, Atung Bungsu datang ke Besemah pada saat tempat ini sudah di diami oleh suku Rejang dan Berige. Ia sampai berdialog dengan salah seorang pimpinan suku Rejang yang bernama Ratu Rambut Selaku dari Lubuk Umbay yang masing-masing merasa berhak atas Tanah Besemah. Mulai sumpah, akhirnya Ratu Rambut Selake mengakui bahwa yang lebih berhak adalah Atung Bungsu. Ucapan Atung Bungsu itu kira-kira sebagai berikut, “Jikalau bulak, jikalau buhung, tanah ini aku punye, binaselah anak cucungku”.&lt;br /&gt;Sedangkan M.Zoem Derahap, yang dijuluki Pak Gasak, dusun Negeri Kaye, Tanjung Sakti, bercerita bahwa rakyat Lubuk Umbay yang dipimpin Ratu Rambut Selake setelah mengakui Tanah Besemah milik Atung Bungsu mereka lalu diberi kedudukan sebagai Sumbay dalam Jagat Besemah, tetapi tidak masuk dalam system pemerintahan Lampik Empat Merdike Due. Sumbay mereka itu dinamakan Sumbay Lubuk Umbay.&lt;br /&gt;Sebagai masyarakat Besemah percaya bahwa kedatangan Atung Bungsu itu bersama Diwe Semidang (Puyang Serunting Sakti) dan Diwe Gumay. Diwe Gumay menetap di Bukit Seguntang Palembang, sedangkan Diwe Semidang pada mulanya juga tinggal di Bukit Seguntang, lalu pagi menjelajah sembilan batanghari sampai akhirnya menetap di suatu tempat yang disebut Padang Langgar (Pelangkeniday). Keturunan kesebelas dari Diwe Gumay, yaitu Puyang Panjang sebagai Juray Kebalik-an baru menetap dibagian ilir Tanah Besemah, yaitu di Balai Buntar ( Lubuksempang).&lt;br /&gt;Selain cerita rakyat yang tetap hidup dan berkembang di Besemah, mengenai asal- usul suku Besemah, seorang pengelana bangsa Inggris, E.Presgrave, yang mengunjungi daerah Besemah, memberikan cerita dalam The Journal Of The Indian Archipelago (Harian dari Kumpulan India) sebagai berikut (Gramberg, 1867:351-352).&lt;br /&gt;“….., sewaktu kerajaan Majapahit runtuh, seorang kakak laki-laki dan seorang adik perempuan dengan banyak pengikut, telah meninggalkan Majapahit dan mendarat di Pantai Timur Sumatera. Adik perempuannya menempatkan dirinya di Palembang, dimana ia dalam waktu singkat telah menjadi ratu yang terpandang ; kakaknya (Atung Bungsu), yang lebih jauh masuk ke pedalaman, menetapkan diri di Lembah dari Passumah yang subur. Dengan demikian tanah ini diduduki dan dihuni para pendatang ini.&lt;br /&gt;Mitos atau cerita mengenai Puyang Atung Bungsu terdapat beberapa versi yang diantara lain dapat kita baca dalam “Soerat Assal Oerang Mendjadikan Djagat Passumah” dengan kode ML 608 (BR.157.VIII) dan kode ML 234 yang ada di perpustakaan Museum Nasional, Jakarta. Sumber dengan kode ML 234 ditulis oleh Muhammad Arif dari dusun Benuakeling tanggal 28 November 1898 yang disalinnya dari suatu kitab orang dusun Tanahpilih, Marga Sumbay Ulu Lurah Benuakeling, yaitu Pangeran Samadil. Sumber data ini, sebelumnya disalin kembali oleh Muhammad Tayib yang pernah magang di kantor Kontrolir dari Bandar tanggal 25 Januari 1889. Jadi, sumber ini sudah disalin beberapa kali. Sumber aslinya dalam bentuk huruf Arab Gundul (Surat Melayu) yang kemudian ditulis dalam bentuk huruf latin.&lt;br /&gt;Adalagi sumber yang ditulis oleh A. Grozali Mengkerin, juga dari dusun Benuakeling yang berjudul “Benuakeling Puting Jagat Besemah”. Selanjutnya ada lagi versi lain, misalnya yang ditulis oleh Musa dari dusun Muara Siban, M.S. Panggarbesi, Abdullah (Bedul) dusun Gelungsakti, dan beberapa tulisan lainnya. Cerita tentang Puyang Atung Bungsu ini banyak dibumbui dengan cerita-cerita yang berbau mistik, irrasional dan sulit diterima oleh akal sehat. Pada umumnya cerita tentang Atung Bungsu ini terdapat persamaan, bahwa tokoh ini berasal dari Kerajaan Majapahit dan dua orang anaknya, Bujang Jawe (Bergelar Puyang Diwate) dan Riye Rekian. Atung Bungsu dan keturunannya dianggap genre yang menjadikan “Jagat Besemah”. Konon, menurut cerita, kata “Besemah” berasal dari cerita istri Atung Bungsu yang Bernama Putri Senantan Buwih (anak Ratu Benuakeling) yang ketika sedang mencuci beras di sungai, bakul berasnya dimasuki ikan semah (ML, 608:5).&lt;br /&gt;Salah seorang keturunan Bujang Jawe (Puyang Diwate) bernama puyang Mandulake (Mandulike) yang berputra lima orang, yaitu (1) Puyang Sake Semenung atau Semanung (menjadikan anak keturunan Pagargunung), (2) Puyang Sake Sepadi, melalui anaknya Singe Bekkurung yang bertempat tinggal di dusun Benuakeling menjadikan Marga Tanjung Ghaye, Sumbay Ulu Lurah, Sumbay Besak, Sumbay Mangku Anum, dan Sumbay Penjalang, (3) Puyang Sake Seratus menjadikan anak keturunan Bayuran (Kisam), (4) Puyang Sake Seketi (mati bujang, tidak ada keturunan). Puyang Singe Bekurung mempunya anak Puyang Pedane. Puyang Pedane beranak Puyang Tanjung Lematang. Puyang ini kemudian beranak tiga orang, yaitu Puyang Riye Lisi, Riye Ugian, dan Riye Lasam. Puyang Riye Lisi pindah ke Kikim menjadikan anak Merge Penjalang di Besemah Libagh, dan Puyang Riye Lasam menjadikan keturunan Sumbay Ulu Lurah.&lt;br /&gt;Tentang asal-usul suku Besemah, versi lalin menceritakan bahwa ada seorang “Wali Tua” dari salah satu anggota keluarga Kerajaan Majapahit berangkat ke Palembang, kemudian kawin dengan Putri (anak) Raja Iskandar yang menjadi Raja Palembang. Salah satu keturunan inilah yang bernama Atung Bungsu yang pada suatu ketika berperahu menyelusuri sungai Lematang dan akhirnya sampai di sungai yang belum diketahui namanya, tempatnya menetap dinamakan Benuakeling . Di sungai itu, Atung Bungsu melihat banyak ikan semah yang mengerumuni bekas-bekas makanan yang dibuang ke sungai. Atung Bungsu menceritakan kepada istrinya bahwa di sungai banyak ikan semah-nya. Konon katanya, nama ikan inilah yang menjadi cikal-bakal asal-usul nama “Besemah” yang artinya “sungai yang ada ikan seah-nya”. Sungai itulah yang sampai sekarang dikenal dengan nama Ayik Besemah diantara dusung Karanganyar dengan dusun Tebatgunung Baru sekarang. Jadi, ada beberapa versi cerita mengenai ikan semah sebagai asal nama Besemah, di antaranya versi Atung Bungsu dan versi Senantan Buih.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7375266540532196859-8754469131140779284?l=hardiyansyah-ahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/feeds/8754469131140779284/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7375266540532196859&amp;postID=8754469131140779284' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/8754469131140779284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/8754469131140779284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/2010/03/asal-usul-kepercayaan-dan-mata.html' title='Asal-usul, Kepercayaan, dan Mata Pencarian Orang Besemah'/><author><name>Hardiyansyah Ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05196682395539916812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7375266540532196859.post-1398264116621608826</id><published>2010-03-13T14:54:00.000+08:00</published><updated>2010-03-13T14:56:01.741+08:00</updated><title type='text'>Muhammad Saman Loear, Guritan of Raden Suane</title><content type='html'>&lt;div id="item_body" class="bodytext" author="pagaralamindah" is_pmrepliable="1" author_possessive="pagaralamindah's"&gt;&lt;center style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;"&gt;&lt;span style="font-size:+2;"&gt;GURITAN OF RADEN SUANE&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/center&gt;  &lt;center style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;center style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/center&gt;  &lt;center style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/center&gt;  &lt;center style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/center&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Comic Sans MS;" &gt;&lt;span style="font-size:+1;"&gt;Pesona Kata dari Besemah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Comic Sans MS;" &gt;&lt;span style="font-size:+1;"&gt;Industri hiburan menyerbunya hingga sekarat. Seorang pakar Amerika tertarik menerjemahkannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Comic Sans MS;" &gt;&lt;span style="font-size:+1;"&gt;Kalau kami di Pagar Alam,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Comic Sans MS;" &gt;&lt;span style="font-size:+1;"&gt;televisi terang siang dan malam,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Comic Sans MS;" &gt;&lt;span style="font-size:+1;"&gt;tapi rasa di hati masih kasihan,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Comic Sans MS;" &gt;&lt;span style="font-size:+1;"&gt;rakyat di Jarai belum kebagian,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Comic Sans MS;" &gt;&lt;span style="font-size:+1;"&gt;gambarnya masih 'ndak karuan,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Comic Sans MS;" &gt;&lt;span style="font-size:+1;"&gt;padahal perlu pemerataan,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Comic Sans MS;" &gt;&lt;span style="font-size:+1;"&gt;tolonglah disaksikan,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Comic Sans MS;" &gt;&lt;span style="font-size:+1;"&gt;oleh Bapak Menteri Penerangan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;"&gt;&lt;span style="font-size:+1;"&gt;MENIKMATI lantunan guritan oleh M. Saman Loear itu, Presiden Soeharto serta sejumlah menteri tertawa dan bertepuk tangan. Sastra lisan yang disindirkan di depan Pak Harto dan rombongan yang berkunjung ke Muara Enim, Sumatera Selatan, Mei 1991, itu menggelitik hati. Lucu, tapi tanpa membuat kuping merah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;"&gt;&lt;span style="font-size:+1;"&gt;Kini kekayaan seni suku Besemah dari Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, itu tampil pula dalam Festival Sriwijaya di Palembang, 6-20 Juni. Seperti halnya hikayat Betawi, didong Aceh, takna' lawe' Dayak, wor Irian Jaya, ataupun gegur itan Jawa, guritan adalah seni bertutur berbentuk prosa liris dengan langgam yang purba tapi menarik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;"&gt;&lt;span style="font-size:+1;"&gt;Tapi ketika ekses pembangunan datang, sastra lisan pun sekarat diserbu beragam industri hiburan. Kehadiran guritan di Festival Sriwijaya pun -jika mau jujur- tak lebih dari sekadar sebuah seremoni kenangan. "Pada suku Besemah pun tak lagi bergaung," kata Saman, penggurit berusia 67 tahun, kepada Budi Pristiwanto dari Gatra. Ican, seorang dara Lahat, malah berkata, "Oh, guritan, saya pernah mendengar kata itu, tapi tak tahu seperti apa."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;"&gt;&lt;span style="font-size:+1;"&gt;Guritan pernah populer saat selepas panen, atau kala kenduri pernikahan atau ketika purnama menerangi jagat Besemah pada abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-20. Ada yang berupa ajaran moral, nasihat, adat, perjuangan, kepahlawanan, dan kisah kerajaan masa silam -berbeda dengan guritan berbahasa Indonesia yang dimodifikasi Saman tadi. Ceritanya pun panjang sehingga menghabiskan waktu dari usai magrib sampai lewat tengah malam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;"&gt;&lt;span style="font-size:+1;"&gt;Dulu pertunjukan dilakukan penggurit sembari duduk bersila, dengan tangan berlipat di atas sambang -alat dari bambu kering berdiameter 9 sentimeter sepanjang dua jengkal. Alat itu dilubangi persis di depan mulut penggurit agar suaranya bisa bergaung. Bagai seni suara murni, penggurit mengolah suaranya demi memuaskan indra pendengaran penonton. Meskipun tengah melukiskan suasana gemas atau kecut, laku fisik dan ekspresi wajah penggurit datar saja.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;"&gt;&lt;span style="font-size:+1;"&gt;Modal penggurit adalah napas panjang dan kelancaran bertutur. Warna suaranya yang monoton sesungguhnya melodius, dan bergema bagaikan perpaduan membaca mantra, senandung, dan gumam. Teramat penting adalah teknik mengatur suara dan napas dalam melantunkan bait-bait cerita yang panjang. Bayangka n jika setiap bait bisa terdiri dari 10 hingga 20 baris, sedangkan setiap baris terdiri dari 3 hingga 6 kata.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;"&gt;&lt;span style="font-size:+1;"&gt;Jika kira-kira napas tak sampai, maka bait tersebut diakhiri dengan ucapan ai bak titik atau koma dalam tulisan. Tapi kata ai itu tak diucapkan saat napas tersengal-sengal. Penggurit ulung memakainya kala napas hanya cukup untuk satu baris lagi -itu pun tidak pada posisi cerita di "tengah jalan". "Agar plot kisah tak terputus tak keruan," kata Saman Loear.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;"&gt;&lt;span style="font-size:+1;"&gt;Amir Hamzah, anggota DPRD Lahat, masih terkenang betapa guritan bisa menghanyutkan perasaan pendengar. Gaek berusia 74 tahun ini masih teringat pada sebuah cerita sedih, yang bisa membuat mata penonton sembab. Jika ada perseteruan, lalu tokoh putih dikalahkan tokoh hitam, penonton bisa gemas. "Tanpa disadari, tangan kita bisa meninju lantai," kata Amir. Cerita lucu membuat orang terkekeh-kekeh pula.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;"&gt;&lt;span style="font-size:+1;"&gt;Kekuatan guritan adalah pada pembacaannya. Syairnya mungkin bisa menjemukan -bahkan juga bagi komuni tas Besemah masa kini- karena logat dan semantiknya datang dari ruang dan waktu yang jauh di masa lalu. Tetapi kita boleh bertanya: kenapa teks-teks guritan dari mulut penggurit bisa bertenaga, dan bahkan mempesona pendengarnya di masa lampau?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;"&gt;&lt;span style="font-size:+1;"&gt;Realitas pada masa silam itu agaknya bisa menjadi ufuk bagi para penyair, atau pembaca cerita pendek dan bahkan penulis dialog sinetron, agar kata-katanya bisa pula kuat meyakinkan pendengar. Boleh pula menjadi referensi bagi pejabat yang berpidato, teks iklan di televisi, atau tulisan di pelbagai media cetak, agar tak lagi hambar dan kehilangan daya pikat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;"&gt;&lt;span style="font-size:+1;"&gt;Mungkin karena pesona guritan itulah Saman dan antropolog William Collins Ph.D, dari University of California, Los Angeles, Amerika Serikat, mentranskripsikan satu naskah guritan bertajuk Raden Suane Tanjung Larang setebal 442 halaman ke dalam bahasa Besemah dan Inggris pada 1990. Orang asing jauh-jauh datang menengoknya, sementara kita baru mengundangnya ke sebuah festival, yang semoga tak "hura-hura" belaka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;"&gt;&lt;span style="font-size:+1;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;"&gt;&lt;span style="color:#66ffff;"&gt;&lt;span style="font-size:-1;"&gt;Nomor 30/III, 14 Juni 1997&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;"&gt;&lt;span style="color:#66ffff;"&gt;&lt;span style="font-size:-1;"&gt;www.gatra.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7375266540532196859-1398264116621608826?l=hardiyansyah-ahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/feeds/1398264116621608826/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7375266540532196859&amp;postID=1398264116621608826' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/1398264116621608826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/1398264116621608826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/2010/03/muhammad-saman-loear-guritan-of-raden.html' title='Muhammad Saman Loear, Guritan of Raden Suane'/><author><name>Hardiyansyah Ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05196682395539916812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7375266540532196859.post-4684755713329957035</id><published>2010-03-13T14:50:00.000+08:00</published><updated>2010-03-13T14:52:26.608+08:00</updated><title type='text'>Muhammad Saman Loear, Tokoh Guritan Jagad Besemah</title><content type='html'>Di kaki Gunung Dempo, tahun 1971, William A Collin iseng memutar kaset&lt;br /&gt;guritan pemberian teman barunya. Volumenya disetel agak keras. Alunan&lt;br /&gt;lagu itu memancing penduduk setempat berkerumun, dari semula satu&lt;br /&gt;orang yang menguping sampai akhirnya berjumlah puluhan. Calon doktor&lt;br /&gt;antropologi University of California, Los Angeles, ini heran, mengapa&lt;br /&gt;orang desa yang berjarak 294 km barat daya Palembang itu begitu&lt;br /&gt;bersemangat mendengar guritan.&lt;br /&gt;Ia menjadi makin penasaran ketika melihat seorang ibu menangis&lt;br /&gt;tersedu-sedu mendengar cerita dari kaset itu. Collin bertanya panjang&lt;br /&gt;lebar kepada Muhammad Saman Loear, teman barunya, yang tak lain adalah&lt;br /&gt;artis pelantun guritan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Binatang'' apa guritan itu? Apa isi ceritanya? Mengapa dapat&lt;br /&gt;mengharu-biru pendengarnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan pokok Collin yang semula meriset suku Besemah, Pagaralam,&lt;br /&gt;Lahat, Sumatera Selatan, dia sisihkan dan beralih mengobservasi&lt;br /&gt;guritan. Itulah seni sastra yang ternyata hampir punah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 200.000 warga suku Besemah, hanya ada empat orang yang pakar&lt;br /&gt;dalam bidang itu. Itu pun sudah berusia lebih 70 tahun. Saman sendiri&lt;br /&gt;waktu itu hanyalah seorang pelantun dan pernah membuat sebuah cerita&lt;br /&gt;guritan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang bule akhirnya kembali ke Amerika dengan membawa kaset dan buku&lt;br /&gt;guritan karangan Saman. Dia menyelesaikan disertasi doktornya yang&lt;br /&gt;berjudul A Study of People of South Sumatera, Besemah. Tentang teman&lt;br /&gt;barunya itu disinggung sedikit di halaman sembilan. Dari Amerika,&lt;br /&gt;Collin berpesan agar Saman menyelamatkan guritan dari kepunahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GURITAN adalah seni prosa lirik berbentuk cerita panjang yang&lt;br /&gt;ditembangkan. Isinya banyak mengandung falsafah, sejarah, dikemas&lt;br /&gt;dalam bentuk sastra. Saman tidak mengatahui dari mana asal usul&lt;br /&gt;guritan dan siapa penciptanya. Yang diketahui, sejak abad ke-18&lt;br /&gt;guritan sudah populer di daerahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penembangan guritan biasanya dilakukan pada acara tertentu selama&lt;br /&gt;semalam suntuk. Misalnya, pada musibah, waktu panen padi, kopi atau&lt;br /&gt;saat bulan purnama. Fungsinya sebagai pengibur keluarga yang mendapat&lt;br /&gt;musibah atau sekadar hiburan malam bulan purnama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat bulan purnama musim panen, perempuan desa mulai mengayam tikar&lt;br /&gt;di lapangan terbuka dengan penerangan api unggun. Orang-orang, tua-&lt;br /&gt;muda besar-kecil tumpah ruah di situ. Penggurit pun mulai beraksi&lt;br /&gt;melantunkan cerita. Yang mengayam dapat hiburan, sedangkan muda-&lt;br /&gt;mudinya saling berkenalan. Di kalangan muda, guritan dikenal sebagai&lt;br /&gt;ajang cari jodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dibandingkan dengan kesenian lain, guritan mirip pagelaran&lt;br /&gt;wayang kulit, namun tanpa alat peraga. Kisah Raden Suane misalnya,&lt;br /&gt;mengandung cerita kehidupan, watak manusia dan model pemimpin negeri&lt;br /&gt;dari masa ke masa. Kisah ini dibumbui kisah cinta dan perang yang&lt;br /&gt;dirangkai dalam babak demi babak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujung ceritanya happy ending. Namun kelak-kelok menuju akhir sungguh&lt;br /&gt;dahsyat. Penonton yang mengira sang bintang bakal bahagia pada babak&lt;br /&gt;kedua harus bersabar. Atau si tokoh jahat yang dikira sudah habis&lt;br /&gt;masih bertahan sampai akhir. Begitu kira-kira penggalan Raden Suane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEWAT bantuan dana dari Collin, tahun 1972, Saman mulai menyelamatkan&lt;br /&gt;guritan. Ia mendatangi satu per satu pakar tua guritan seperti Cik&lt;br /&gt;Ait, Manajin, Diku Guru Agung dan Ungsan Sandar Angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh kelihatannya, dalam perjalanan wawancara dan mengumpulkan data,&lt;br /&gt;satu persatu narasumbernya meninggal dunia. Misalnya, Cik Ait&lt;br /&gt;meninggal dunia persis sepekan setelah kisah Raden Suane dikasetkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk merekam kisah Raden Suane diperlukan sembilan pita kaset&lt;br /&gt;berdurasi 90 menit. Sementara untuk membuat buku setebal 442 halaman&lt;br /&gt;itu, menghabiskan dana Rp 50 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena narasumber keburu wafat, tidak semua kisah guritan dapat&lt;br /&gt;diselamatkan. Lima judul tidak utuh diselamatkan. Kalau mau disusun,&lt;br /&gt;harus digali ulang karena datanya masih terserak di sana-sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1988, Collin kembali ke Indonesia sebagai dosen tamu sosiologi&lt;br /&gt;antropologi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Saat itulah&lt;br /&gt;guritan Raden Suane dirampungkan. Saman menyusunnya dalam bahasa&lt;br /&gt;daerah, sementara Collin dalam bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penuturan Collin, buku The Guritan of Raden Suane sudah&lt;br /&gt;disebar di hampir seluruh perpustakaan Universitas yang ada fakultas&lt;br /&gt;sastranya di Amerika. Nama Saman pun terukir di sana. Collin sempat&lt;br /&gt;berjanji membuat cerita dalam bentuk novel dan film. Namun, mimpi itu&lt;br /&gt;belum terwujud. Kelanjutan hubungan dengan pria Amerika itu malah&lt;br /&gt;terputus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeninggal Collin, Saman masih berusaha keras melengkapi judul-judul&lt;br /&gt;yang sempat dikumpulkan. Cerita guritan Remas Panji Marademak dan&lt;br /&gt;Raden Pengantin sudah diberkas dengan biaya pribadi. Untuk biaya&lt;br /&gt;mengumpulkan data itu saja, Saman menghabiskan dua ton kopi hasil&lt;br /&gt;panen dari kebunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, untuk mencetak dalam bentuk buku seperti kisah Raden&lt;br /&gt;Suane dia terbentur dana. Pernah Saman menawarkan kepada pemerintah&lt;br /&gt;daerah setempat, namun kurang ditanggapi. Kalaupun ada, biaya yang&lt;br /&gt;diberikan sangat kecil, tidak sepadan dengan biaya yang dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, Saman terus berkarya. Acap dia terlihat di dusun-&lt;br /&gt;dusun. Berbincang-bincang dengan para tetuanya. Dengan tekun&lt;br /&gt;mengumpulkan kata-kata nasihat peninggalan suku Besemah. Dengan susah&lt;br /&gt;payah dia menyusun buku yang diberi judul Petatah Petitih Suku&lt;br /&gt;Besemah, yang kemudian diterbitkan. Kerja keras lainnya adalah&lt;br /&gt;menerbitkan buku Aksara Daerah Surat Ulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini Saman tengah mengumpulkan modal untuk menerbitkan buku Jeme&lt;br /&gt;Merdike, Perlawanan Rakyat Besemah terhadap Kekuasaan Belanda pada&lt;br /&gt;Abad Ke-18.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAMAN lahir April 1933. Tanggalnya tidak tahu pasti. Pendidikannya&lt;br /&gt;cuma tamatan Tsanawiyah (setingkat SLTP). Sejak di sekolah dasar dia&lt;br /&gt;memang sudah tertarik akan guritan. Saman kecil tahan tidak tidur&lt;br /&gt;semalaman demi mendengar kisah guritan yang dilantunkan. Sesampai di&lt;br /&gt;rumah dia kerap mengingat-ingat kisah dan mencoba melantunkan sendiri.&lt;br /&gt;Tidak heran ketika di Tsanawiyah dia sudah menjadi seorang penggurit,&lt;br /&gt;walau belum sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat perang gerilya merebut kemerdekaan Saman menjadi tentara pelajar&lt;br /&gt;dengan pangkat kopral. Satu hal yang diingatnya persis, di waktu&lt;br /&gt;senggang dia kerap menggurit di sekeliling prajurit. Setelah diberi&lt;br /&gt;doping sastra itu, biasanya prajurit langsung semangat lagi. ''Seperti&lt;br /&gt;prajurit Suane yang tidak mau menyerah terhadap lawan,'' kata Saman&lt;br /&gt;sembari terkekeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai perang, Saman sempat merantau ke Lampung. Kemudian melanjutkan&lt;br /&gt;perjalanan ke Jakarta tahun 1954 sampai 1958. Pada tahun 1958 dia&lt;br /&gt;kembali ke Pagaralam. Namun ketika PRRI meletus, rencana kembali ke&lt;br /&gt;Jakarta batal karena transportasi Pagaralam-Jakarta putus. Ditambah&lt;br /&gt;lagi, dia ketemu dengan gadis Sundarmi yang kini mendampinginya&lt;br /&gt;sebagai istri dengan enam orang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa sekarang yang penuh dengan gejolak di setiap daerah, Saman&lt;br /&gt;menasihati pemerintah untuk mempelajari budaya dan sosiologi&lt;br /&gt;masyarakat setempat. Saman juga mengritik cara menyampaikan pelajaran&lt;br /&gt;sejarah di sekolah yang dinilainya kering. Padahal dengan cara-cara&lt;br /&gt;budaya dan seni daerah seperti guritan atau wayang, pelajaran sejarah&lt;br /&gt;akan lebih menarik bagi siswa karena lebih mudah dicerna. (syahnan Saman, Budaya, Sosiologi...Kompas/syahnan)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7375266540532196859-4684755713329957035?l=hardiyansyah-ahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/feeds/4684755713329957035/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7375266540532196859&amp;postID=4684755713329957035' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/4684755713329957035'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/4684755713329957035'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/2010/03/muhammad-saman-loear-tokoh-guritan.html' title='Muhammad Saman Loear, Tokoh Guritan Jagad Besemah'/><author><name>Hardiyansyah Ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05196682395539916812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7375266540532196859.post-1861731014356789898</id><published>2010-03-13T14:49:00.001+08:00</published><updated>2010-03-13T14:49:48.397+08:00</updated><title type='text'>Arman Idris, Pejuang Guritan Besemah</title><content type='html'>&lt;div class="font36 c_black"&gt;Arman Idris, Pejuang Guritan Besemah &lt;/div&gt;                                      &lt;!-- end judul + lead --&gt;                             &lt;!-- end headline --&gt;                       &lt;!-- isi berita --&gt;                  &lt;p&gt;Kamis, 11 Maret 2010 | 02:56 WIB&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;Wisnu Aji Dewabrata/ M Zaid Wahyudi/ Buyung Wijaya kusuma&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;lead&gt;&lt;/lead&gt;Ketika Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan, mekar dari induknya, Kabupaten Lahat, pada 2003, para pemerhati kesenian di daerah itu sadar bahwa seni prosa lirik dari suku Besemah yang disebut guritan nyaris tak memiliki penerus. Sampai Arman Idris, seniman yang hidup dari gitar akustik, mengambil inisiatif menghidupkan minat remaja untuk menyenangi seni sastra lisan tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semangat Arman untuk memopulerkan guritan sangat jelas terlihat ketika tim Jelajah Musi 2010 bertemu dengannya. Bukan hanya membawa sebuah gitar, melainkan dia juga membawa pakaian daerah, yang sering digunakan saat manggung&lt;text w="9036m" small="0" mode="0" jmp="0m" it="0" h="9036m" gray="100" f="601" co="K" bd="0" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Regular" modedata="0"&gt;&lt;/text&gt;, dalam tas anyaman daun lontar khas Pagar Alam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Saya sangat senang jika bertemu dengan orang yang memiliki minat terhadap budaya kami, terutama guritan. Soalnya, kami harus melawan kemajuan zaman yang dapat membuat kesenian daerah, seperti guritan yang tidak memakai alat musik ini, menjadi luntur,” ujar Arman.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ayah dari empat anak dan kakek dari enam cucu ini juga rela menampilkan kesenian guritan untuk pengambilan gambar liputan multimedia untuk Kompas dan Kompas TV di kaki bukit Gunung Dempo. Kawasan yang masih termasuk wilayah Pagar Alam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Meskipun Arman hanya melantunkan dua syair tentang Kota Pagar Alam dengan durasi sekitar 15 menit, semua orang yang menyaksikan sangat puas. Ini terutama karena keseriusan dan kejernihan suara Arman. Dia tampil dengan dialek yang khas dan orisinal dari kesenian guritan Besemah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keseriusan Arman setiap tampil melantunkan guritan sama seperti saat memperkenalkan kesenian itu kepada para siswa sekolah menengah atas (SMA) di kotanya. Hasilnya, siswa di beberapa sekolah sudah membentuk sanggar yang aktif berlatih kesenian guritan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat ditanya mengenai jumlah siswa yang sudah mendapatkan ilmu darinya, Arman mengatakan, tidak dapat menghitungnya. Selama ini dia sudah mendatangi 20 sekolah di Pagar Alam untuk menyosialisasi guritan, sekaligus melatih jika ada siswa yang sudah menyatakan minatnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Saya memulai dengan meminta izin pihak sekolah mengumpulkan siswa di aula untuk memperkenalkan kesenian guritan yang merupakan kekayaan suku Besemah di Pagar Alam. Biasanya dari satu sekolah ada beberapa orang yang tertarik, kemudian menjadi cikal bakal sebuah sanggar,” kata Arman, yang memiliki bakat alami karena tak ada yang mengajari dirinya bermain musik atau menyusun syair.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kepada para siswa, Arman selalu menjelaskan isi dari syair guritan yang banyak mengandung falsafah atau sejarah yang dikemas dalam bentuk sastra. Guritan biasanya ditembangkan pada acara tertentu selama semalam suntuk, dalam suasana duka atau suka. Misalnya, saat musibah atau usai panen. Tujuannya, untuk menghibur keluarga yang mendapat musibah atau sekadar hiburan pada malam bulan purnama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Rajin ikut lomba&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tentang kecintaannya terhadap guritan, Arman bercerita mengenai masa mudanya. Waktu itu, ia gemar mengikuti lomba gitar tunggal, alias bertutur sambil bermain gitar. Ini merupakan salah satu kesenian yang populer di Sumsel. Ia berlomba dengan modal keahlian bermain gitar yang sudah dikuasainya sejak duduk di bangku kelas dua sekolah dasar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah menjuarai berbagai lomba di Pagar Alam, Kabupaten Lahat, hingga Palembang, ia menyadari bahwa berkesenian tak sekadar untuk mendapatkan piagam sebagai sang juara. Ini juga tak hanya untuk hidup, tetapi bagaimana kesenian itu bisa hidup dan bertahan di tengah masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Dulu, tak ada orang yang peduli bagaimana kelestarian seni guritan, termasuk saya yang puas sebagai juara dan dipanggil di mana-mana. Sampai saya berpikir harus ada yang menggantikan orang-orang terdahulu yang membawakan guritan,” ujar Arman yang juga pengurus adat Besemah, Pagar Alam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dia mulai sibuk memenuhi undangan pertunjukan secara komersial pada 2003. Arman semakin menyadari sulitnya menemukan penerus guritan, apalagi mempertahankan kesenian tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perkembangan industri musik pop di Tanah Air amat memengaruhi minat generasi muda Pagar Alam untuk menekuni guritan. Awalnya, dia pesimistis bagaimana mengalahkan minat anak-anak muda pada musik pop dengan guritan, yang penembangnya adalah para orang tua.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hal paling sulit saat mengajarkan kepada anak didik adalah bagaimana mengarang syair yang harus dilakukan spontan, tatkala naik panggung. Syair harus disesuaikan dengan keadaan penonton yang akan mendengarkan tembang itu. Arman masih menyimpan ratusan syair yang ditulis tangan menjelang naik ke panggung.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Menguasai kondisi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seniman guritan, menurut Arman, harus mengetahui segala hal yang berkaitan dengan kondisi masyarakat. Dengan demikian, ia juga mesti punya waktu menonton televisi, mendengarkan radio, membaca koran, sampai ngobrol di warung kopi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia mencontohkan dengan menembang sekitar satu menit, dengan sesekali menyebut kata ”century”. Seusai menembang ia mengatakan, syair yang dia lantunkan itu bercerita tentang kasus Bank Century yang menggunakan uang negara triliunan rupiah, tetapi tak ada yang bertanggung jawab. Padahal, ada rakyat kecil yang dihukum karena mencuri kaus bekas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Arman telah memperlihatkan kepiawaian dalam seni yang menuntut penciptaan syair secara spontan, dengan gaya bertuturnya yang mengalir tatkala bicara soal Pagar Alam. Semua pertanyaan tentang kota yang dipagari Bukit Barisan itu, dapat dijawabnya dengan lengkap.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia terbiasa bercerita panjang karena syair guritan harus dikarang dengan cepat. ”Biasanya kalau ada undangan untuk tampil, saya baru diberitahu tuan rumah saat di lokasi. Jadi, saya harus sesuaikan syair guritan dengan kebutuhan penonton pas menjelang naik panggung.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Akan tetapi, membuat syair panjang secara spontan bukan berarti mengabaikan daya tarik dari isi ceritanya. Misalnya, saat dia diminta tampil di panggung pilkada sewaktu Alex Noerdin, yang kini Gubernur Sumsel, berkampanye di Pagar Alam tahun 2008. Penonton yang biasanya ingin dihibur penyanyi dangdut, terpaku pada penampilan Arman dan menuntut tambahan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Waktu pilkada, saya diminta panitia tampil tujuh menit saja karena banyak artis. Tetapi, penontonnya mau saya tambah lagi jadi 15 menit,” ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kenangan itu membuat Arman optimistis, warga suku Besemah di Pagar Alam masih antusias mempertahankan kesenian guritan. Itulah yang membuat dia tetap setia berjuang untuk guritan, mewujudkan mimpinya membangun sanggar tempat melatih anak-anak muda.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;ARMAN IDRIS&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;&lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;&lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;• Lahir: Dusun Tanjung Aro, Pagar Alam, Sumatera Selatan, 1 Juni 1955&lt;br /&gt; &lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;• Pendidikan: &lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;- SD sampai SMP di Pagar Alam &lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;- SMA (kelas satu)&lt;br /&gt; &lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;• Istri: Sadmiyana (52)&lt;br /&gt;&lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;• Anak: &lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;- Lindarti (32) &lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;- Ivan (30) &lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;- Santi (26) &lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;- Andrianus (22)&lt;br /&gt;&lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;• Aktivitas: &lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;- Sebagai petani dan berkegiatan seni &lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;- Seniman seni budaya Kota Pagar Alam&lt;br /&gt; &lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;• Organisasi: &lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;- Ketua Sanggar Seni Budaya Pagar Alam &lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;- Pelestari Budaya Adat&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7375266540532196859-1861731014356789898?l=hardiyansyah-ahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/feeds/1861731014356789898/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7375266540532196859&amp;postID=1861731014356789898' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/1861731014356789898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/1861731014356789898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/2010/03/arman-idris-pejuang-guritan-besemah.html' title='Arman Idris, Pejuang Guritan Besemah'/><author><name>Hardiyansyah Ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05196682395539916812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7375266540532196859.post-9005688078641136194</id><published>2010-03-13T14:28:00.000+08:00</published><updated>2010-03-13T14:29:10.402+08:00</updated><title type='text'>Seni Tutur Besemah yang Nyaris Punah</title><content type='html'>&lt;div class="judul_artikel"&gt;Seni Tutur Besemah yang Nyaris Punah&lt;/div&gt;                         &lt;div class="c_blue_kompas font11 pb_10 pt_3"&gt;Selasa, 9 Maret 2010 | 09:00 WIB&lt;/div&gt;             &lt;div class="right w310 pl_10 pb_10 pt_10"&gt;&lt;!-- s: images --&gt;         &lt;div class="img310"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;         &lt;div class="font10 c_abu" align="right"&gt;KOMPAS/EDDY HASBY&lt;/div&gt;         &lt;!-- e: images --&gt;                          &lt;!-- s: terkait --&gt;&lt;!-- e: terkait --&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt; - Perkembangan dunia komunikasi, informasi, dan hiburan membuat sastra tutur sebagai warisan budaya nenek moyang semakin terdesak. Jika tetap dibiarkan tanpa upaya pelestarian yang berarti, media pewarisan nilai dan tradisi masyarakat-masyarakat adat itu terancam punah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hal itu juga dialami seni tutur suku Besemah di kawasan Kota Pagar Alam, Kabupaten Lahat, dan Kabupaten Empat Lawang di Sumatera Selatan. Besemah juga disebut Pasemah, istilah warisan Belanda terhadap suku Besemah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketua Lembaga Adat Besemah Haji Akhmad Amran di Pagar Alam, Selasa (16/2) lalu, mengatakan, dari delapan jenis seni tutur Besemah, semua nyaris ditinggalkan, bahkan tidak dikenali lagi oleh warganya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seni tutur yang saat ini sedang gencar diperkenalkan kembali adalah guritan. Isi dari guritan biasanya menggambarkan tentang sejarah perjuangan, sanjungan kepada pahlawan, legenda, kisah hidup seseorang, atau cerita rakyat yang diguritkan atau dibawakan dalam bentuk nyanyian. Karena dinyanyikan, cerita-cerita itu menjadi enak didengar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salah satu seni tutur yang paling sulit berkembang adalah tangis ayam atau berimbai. Seni ini hanya diungkapkan dalam kondisi kesedihan yang sangat sendu. Jenis ini biasanya dinyanyikan oleh ibu atau nenek pada pagi hari yang teringat kematian anak atau cucunya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ratap kesedihan itu terdengar oleh kaum perempuan lain di sekitarnya. Alhasil, ratapan individu itu berkembang menjadi ratapan kolektif yang dinyanyikan secara bersama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Tangis ayam paling sulit berkembang karena memang hanya dinyanyikan pada saat tertimpa musibah besar saja. Walau irama lagu tangis ayam sangat mendayu-dayu dan enak didengar, namun karena tujuan dan situasinya sangat tidak mengenakkan, seni ini jarang dituturkan lagi,” tutur Amran.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Betembang&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain guritan dan tangis ayam, seni tutur Besemah lain yang nyaris hilang adalah betembang, tadut, ngicik panjang, andai-andai, rejung besemah, dan meringit.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Betembang umumnya dinyanyikan orang dengan keras dalam suasana mencekam di hutan untuk mengusir sepi. Nyanyian ini juga dimaksudkan untuk mengusir binatang buas, setidaknya menjauh, dan sebagai petunjuk kepada orang lain di hutan bahwa ada dia di tempat itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tadut adalah seni tutur baru yang masuk setelah Islam masuk ke wilayah dataran Besemah. Ia menjadi sarana penyebaran agama dan dakwah Islam yang efektif karena masyarakat saat itu masih buta huruf.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Adapun ngicik panjang adalah tuturan yang berupa senda gurau berbentuk obrolan panjang dan dilakukan minimal oleh dua orang. Model ini banyak menggunakan bahasa sindiran.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rejung besemah adalah seni tutur yang mengungkapkan kesedihan, jengkel, putus asa, dan kesusahan. Seni ini mirip dengan tangis ayam, tetapi tingkat kesedihannya tidak semendalam tangis ayam dan lagunya lebih datar dibandingkan dengan tangis ayam yang lebih mendayu-dayu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara meringit adalah seni tutur ringan yang isinya sekadar mengisi kekosongan semata. Bentuk tuturan ini juga bisa dinyanyikan sambil bekerja dengan ungkapan bebas. Seni tutur ini juga dapat dibawakan tanpa perlu ada orang yang mendengarkannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari seluruh bentuk seni tutur Besemah tersebut, hanya ngicik panjang, andai-andai, dan meringit yang dibawakan tanpa lagu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penurunan penggunaan seni tutur Besemah dimulai sejak invasi Jepang ke Pagar Alam tahun 1943. Berbagai seni tradisi, termasuk seni tutur, tertekan karena banyak pekerja seni yang tewas atau menjadi romusa. Alat-alat kesenian mereka, baik alat musik maupun pakaian, banyak yang dijual karena impitan ekonomi yang parah saat itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hilangnya pekerja seni membuat lambat laun berbagai seni tradisi itu sulit diteruskan dan menghilang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada masa pemerintahan Orde Baru, kata Amran, kondisi seni tradisi Pagar Alam makin terpuruk. Pagar Alam, yang ketika itu menjadi bagian dari Kabupaten Lahat, membuat seni tradisi kota tersebut tergencet oleh seni tradisi Lahat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah Pagar Alam menjadi kota otonom tahun 2001, kesadaran untuk melestarikan berbagai seni tradisi itu muncul kembali. Namun, untuk menghidupkannya kembali bukan perkara mudah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Arman Idris, pengajar seni guritan di sejumlah sekolah di Pagar Alam, mengatakan, rata-rata seni menjadi pekerjaan sampingan bagi pekerja seni di daerah tersebut. Pekerjaan utama mereka adalah menjadi petani, khususnya kopi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk fokus pada pengembangan seni jelas tidak mungkin karena memang pekerjaan seni belum bisa menghasilkan. Ditambah lagi, tidak ada tunjangan apa pun dari pemerintah setempat bagi mereka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk melestarikan seni tutur Besemah, khususnya guritan, Arman memperkenalkannya kepada anak-anak sekolah di Pagar Alam dalam bentuk pelajaran tambahan dan pembentukan sanggar-sanggar seni. Kini, secara perlahan, guritan mulai banyak dilakukan anak-anak muda Pagar Alam walau masih terbatas. Namun, langkah itu setidaknya dapat menyelamatkan salah satu jenis seni tutur Besemah. &lt;strong&gt;(Zaid Wahyudi/Buyung Wijaya Kusuma)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7375266540532196859-9005688078641136194?l=hardiyansyah-ahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/feeds/9005688078641136194/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7375266540532196859&amp;postID=9005688078641136194' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/9005688078641136194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/9005688078641136194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/2010/03/seni-tutur-besemah-yang-nyaris-punah.html' title='Seni Tutur Besemah yang Nyaris Punah'/><author><name>Hardiyansyah Ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05196682395539916812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7375266540532196859.post-2452182286978825404</id><published>2010-03-13T14:21:00.002+08:00</published><updated>2010-03-13T20:53:43.126+08:00</updated><title type='text'>Rumah Baghi Besemah</title><content type='html'>&lt;h2&gt;Rumah Baghi Besemah: Rumah Berukir Falsafah Hidup &lt;/h2&gt;&lt;div style="PADDING-RIGHT: 10px; FLOAT: left"&gt;&lt;div style="PADDING-BOTTOM: 5px; PADDING-LEFT: 0px; WIDTH: 298px; PADDING-RIGHT: 0px; PADDING-TOP: 0px"&gt;&lt;div style="WIDTH: 298px; MARGIN-BOTTOM: 5px" id="loadarea"&gt;&lt;img border="0" alt="" src="http://www.kompas.com/data/photo/2010/03/12/1855289p.jpg" width="298" /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: right; FONT: 9px arial; MARGIN-BOTTOM: 0px; COLOR: rgb(102,102,102); font-size-adjust: none; font-stretch: normal" id="boxpoto"&gt;&lt;a style="FONT: 9px arial; COLOR: rgb(102,102,102); TEXT-DECORATION: none; font-size-adjust: none; font-stretch: normal" href="http://properti.kompas.com/read/xml/2010/03/12/08023263/Baghi.Besemah.Rumah.Berukir.Falsafah.Hidup#"&gt;KOMPAS/Buyung Wijaya Kusuma&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="FONT: 11px arial; MARGIN-BOTTOM: 0px; COLOR: rgb(51,51,51); font-size-adjust: none; font-stretch: normal" id="boxtitle"&gt;Rumah baghi besemah yang berusia ratusan tahun di Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan, hingga saat ini masih bertahan karena menggunakan material kayu yang kuat.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="article_body"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;Jumat, 12/3/2010 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;KOMPAS.com &lt;/strong&gt;- Berkunjung ke Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan, belum lengkap jika tidak menyinggahi salah satu rumah tradisional (baghi) suku Besemah. Selain desain arsitektur yang menarik, fisik bangunan yang usianya ratusan tahun itu mengundang kekaguman bagaimana rumah tersebut dibangun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hal itu terutama bila melihat 15 buah tiang kayu penyangga bangunan berukuran 30 sentimeter x 30 sentimeter, enam tiang penyangga teras rumah berbentuk bulat dengan diameter sekitar 60 sentimeter, dan papan kayu rumah dengan ketebalan sekitar 5 sentimeter. Kita pasti akan bertanya-tanya, bagaimana orang-orang pada masa lalu mengangkut kayu-kayu raksasa tersebut dari dalam hutan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Oleh karena itu, tak salah jika Pemerintah Kota Pagar Alam memasukkan rumah-rumah tradisional Besemah sebagai obyek wisata, selain benda-benda megalitikum dan wisata alam Gunung Dempo. Jumlah baghi besemah memang tidak banyak karena hanya orang-orang yang memiliki strata sosial tinggi dan punya banyak uang yang mampu membangun rumah tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Biaya ukir rumah bisa mencapai sepertiga dari biaya total pembangunan rumah,” kata pemilik baghi besemah, Musa Akib (69), di Kelurahan Pagar Wangi, Dempo Utara, Pagar Alam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mengenai bagaimana kayu dikumpulkan, Musa mengatakan kisah pembangunan rumahnya mengandung cerita mistis. Konon saat rumah akan dibangun, warga di sekitarnya dilarang keluar rumah pada malam hari karena akan ada pengiriman kayu. Setelah itu, keesokan paginya, kayu-kayu tiang yang dibutuhkan sudah ada di lahan pembangunan rumah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Musa adalah generasi kelima pemilik baghi tersebut. Rumah yang terletak di tengah sawah itu diperkirakan berumur lebih dari 200 tahun. Namun, rumah yang sudah tak dihuni itu masih terlihat kokoh. Warna hitam kayu juga terlihat masih baru dan alami, tanpa dicat. Dulu, atap rumah terbuat dari daun ijuk.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagian dalam rumah baghi tidak memiliki sekat sama sekali. Bagian inti rumah berukuran 8 meter x 8 meter. Ruang ini berfungsi sebagai ruang keluarga, ruang tidur, sekaligus tempat menerima tamu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Ukiran&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketua Lembaga Adat Besemah Haji Akhmad Amran mengatakan, rumah baghi yang diukir disebut sebagai rumah tatahan (ukiran), sementara rumah yang tak diukir disebut rumah gilapan. Kualitas kayu rumah yang diukir juga jauh lebih baik dibandingkan dengan rumah yang tak memiliki ukiran.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Bentuk kedua rumah itu sama. Hanya ada tidaknya ukiran yang membedakan karena keberadaan ukiran merupakan cerminan status sosial pemilik rumah yang tinggi,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam motif ukiran juga terkandung doa dan harapan. Motif bunga dalam posisi vertikal merupakan pengharapan bahwa rezeki pemilik rumah akan terus naik. Sementara motif bunga horizontal menjadi perlambang persatuan dan gotong royong.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Motif ukir lain yang unik adalah bubulan yang berbentuk lingkaran. Motif ukir yang biasanya terletak di dinding samping rumah itu merupakan simbol persatuan yang kuat di antara sesama penghuni rumah. Bagian tengah bubulan umumnya terdapat lubang yang digunakan sebagai tempat mengintip penghuni rumah terhadap kondisi dan suasana di luar rumah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Musa mengaku, sejumlah orang telah menawar untuk membeli rumahnya, tetapi dia tidak akan pernah tertarik berapa pun harga yang ditawarkan. Sikap Musa mewakili banyak orang Pagar Alam yang menganggap tempat tinggal sebagai tempat bersatunya keluarga untuk tumbuh lebih maju, seperti falsafah hidup dari setiap ukiran yang ada di dinding baghi besemah. &lt;strong&gt;(Wisnu Aji Dewabrata/M Zaid Wahyudi/Buyung Wijaya Kusuma/KOMPAS Cetak)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7375266540532196859-2452182286978825404?l=hardiyansyah-ahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/feeds/2452182286978825404/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7375266540532196859&amp;postID=2452182286978825404' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/2452182286978825404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/2452182286978825404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/2010/03/rumah-baghi-besemah.html' title='Rumah Baghi Besemah'/><author><name>Hardiyansyah Ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05196682395539916812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7375266540532196859.post-7337226772081065797</id><published>2010-03-13T14:19:00.002+08:00</published><updated>2010-03-13T14:26:21.810+08:00</updated><title type='text'>Besemah, Tanah Para Leluhur</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;div class="w1100 bg_besar" align="left"&gt;&lt;div class="ml_50 mr_50 pl_20 pr_20 pt_20 pb_10"&gt;&lt;div class="w310 h100 left pl_150" align="center"&gt;     &lt;/div&gt;            &lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;          &lt;/div&gt; &lt;!-- end header --&gt;  &lt;!-- neck--&gt; &lt;div class="ml_50 mr_50 h38 brd_1 brd_r_0 bg_color1 font12 c_grey ovr_hid"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;!-- end neck--&gt; &lt;!-- =================================================== END BATAS ATAS=================================================== --&gt;    &lt;!-- =================================================== DAERAH  =========================================================== --&gt; &lt;div class="ml_50 mr_50 pl_20 pr_20 pt_15 pb_15"&gt;  &lt;div class="font11 c_blue mg_0 pd_0 mid_navi ml_10"&gt;   &lt;br /&gt;   &lt;/div&gt; &lt;/div&gt;  &lt;!-- ===================================================  DAERAH  =========================================================== --&gt;     &lt;!-- ===================================================  BODYLINE  =========================================================== --&gt; &lt;div class="ml_50 mr_50 pl_20 pr_20"&gt;  &lt;!-- kolom kiri --&gt; &lt;div class="left w650"&gt;    &lt;!-- headline--&gt;         &lt;div class="w650"&gt;          &lt;div&gt;                          &lt;div class="w600 ml_10 pt_15 pb_15 pl_20 pr_20 bg_artikel_top"&gt;                                      &lt;div class="fix"&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/06/03043232/besemah.tanah.para.leluhur#"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2010/03/06/3719381p.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;                                         &lt;div class="bg_color2 font10 c_grey pt_5 pb_5" align="right"&gt;KOMPAS/EDDY HASBY&lt;/div&gt;                     &lt;div class="font10 bg_color2 mt_2 pd_5"&gt;Kepala Balai Arkeologi Palembang Nurhadi Rangkuti sedang mengamati kompleks megalitik di Desa Gunung Megang, Kecamatan Gunung Megang, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, Rabu (17/2).&lt;/div&gt;                 &lt;/div&gt;          &lt;/div&gt;                   &lt;!-- judul + lead --&gt;          &lt;div class="pl_24 pr_0 pb_15"&gt;              &lt;div class="font10a c_orange"&gt;TANAH AIR&lt;/div&gt;              &lt;div class="font36 c_black"&gt;Besemah, Tanah Para Leluhur&lt;/div&gt;                           &lt;/div&gt;           &lt;!-- end judul + lead --&gt;                  &lt;/div&gt;           &lt;!-- end headline --&gt;                       &lt;!-- isi berita --&gt;         &lt;div class="font14n pl_25 pr_24" style="line-height: 18px;"&gt;         &lt;p&gt;Sabtu, 6 Maret 2010&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p align="center"&gt;&lt;byline&gt;&lt;/byline&gt;&lt;strong&gt;Wisnu Aji Dewabrata dan buyung Wijaya Kusuma&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yopi, petani kopi dari Desa Talang Pagar Agung, Kecamatan Pajar Bulan, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, tak pernah menyangka kalau di bawah kebun kopi yang setiap hari dilaluinya terdapat peninggalan megalitik berupa bilik batu. Dua bilik batu yang letaknya bersebelahan itu ditemukan pada Desember tahun 2009.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Pemilik kebun ini Pak Lukman. Suatu hari dia bermimpi kalau di bawah batu besar di kebunnya ada sesuatu. Pak Lukman mengikuti perintah mimpinya dan menemukan dua bilik batu ini,” kata Yopi, pekan terakhir Februari lalu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menemukan peninggalan megalitik melalui mimpi adalah cerita yang umum di masyarakat. Apa pun cerita yang beredar dari mulut ke mulut, kenyataannya memang banyak penemuan peninggalan megalitik di Kabupaten Lahat dan Kota Pagaralam. Peninggalan megalitik Besemah berwujud bilik batu, batu berlubang (lumpang), arca, batu tegak, dan dolmen.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Wilayah Lahat dan Pagaralam adalah bagian dari Pegunungan Bukit Barisan di pantai barat Sumatera. Kedua kawasan itu sampai ke sebagian wilayah Bengkulu disebut sebagai kawasan Besemah (Pasemah). Besemah merupakan daerah pegunungan subur untuk pertanian sehingga tak heran bila kawasan itu menjadi pusat permukiman sejak ribuan tahun lalu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Peninggalan megalitik Besemah mulai diteliti tahun 1930-1931 oleh Van der Hoop dari Belanda. Buku karya Van der Hoop berjudul &lt;text w="9036m" small="0" mode="0" jmp="0m" it="1" h="9036m" gray="100" f="602" co="K" bd="0" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Italic" modedata="0"&gt;&lt;/text&gt;Megalithic Remains in South Sumatera (1932) merupakan buku babon yang mengulas megalitik Besemah secara lengkap.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Tujuh bilik&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lebih dari 50 tahun setelah Van der Hoop menulis bukunya, pada tahun 1988 ditemukan lagi tujuh bilik batu di Desa Kotaraya Lembak, Kecamatan Pajar Bulan, Kabupaten Lahat. Tujuh bilik batu itu tersembunyi di bawah tanah di antara rimbunnya kebun kopi. Penemuan tujuh bilik batu merupakan penemuan peninggalan megalitik terbesar di kawasan Besemah dari segi jumlah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di dalam salah satu bilik batu, sampai saat ini masih bisa dilihat lukisan berbentuk kepala naga. Lukisan tersebut dibuat di atas batu dengan menggunakan warna merah dan putih.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penemuan peninggalan megalitik terbaru adalah dua bilik batu di Desa Talang Pagar Agung pada Desember 2009. Ukuran ruangan di dalam kedua bilik batu sekitar 2 x 1,5 meter dengan ketinggian 1,8 meter. Penemuan itu istimewa karena di dalam bilik batu ditemukan arca kepala manusia setinggi 30 sentimeter.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di Desa Pulaupanggung, Kabupaten Lahat, pada 2009 juga ditemukan sebuah lumpang batu yang terkubur di kedalaman satu meter di tengah kebun kopi. Lumpang tersebut diukir berbentuk ular yang sedang menelan anak kecil. Warga yang menemukan lumpang batu itu juga mengaku mendapat mimpi sebelum menggali tanah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lokasi penemuan lumpang batu tidak jauh dari lokasi tiga arca megalitik berbentuk manusia yang sudah diteliti oleh Van der Hoop. Untuk mencegah kerusakan, warga memasang pagar bambu di sekeliling situs.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di dinding bilik batu Talang Pagar Agung, terdapat lukisan berbentuk lingkaran, lukisan tangan manusia, dan lukisan seekor binatang mirip kadal. Di bagian atapnya ada lukisan berbentuk pola anyaman.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ayu Kusumawati dan Haris Sukendar dalam buku &lt;text w="9036m" small="0" mode="0" jmp="0m" it="1" h="9036m" gray="100" f="602" co="K" bd="0" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Italic" modedata="0"&gt;&lt;/text&gt;Megalitik Bumi Pasemah Peranan Serta Fungsinya menyebut, di kawasan Besemah terdapat sedikitnya 20 lokasi peninggalan megalitik. Tersebar di areal seluas 80 kilometer persegi. Nama-nama daerah tempat peninggalan megalitik adalah Tinggihari, Tanjungsirih, Pulaupinang, Lubukbuntak, Pulaupanggung, Air Puar, Tebing tinggi, Geramat, Mingkil, Nanding, Tebatsibentur, Tanjung Arau, Tegur Wangi, Belumai, Kotaraya Lembak, Muaradua, Bandaraji, Gunungkaya, Muara Tebu, dan Pagaralam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Banyaknya peninggalan megalitik di Besemah adalah suatu petunjuk bahwa kawasan itu telah dihuni manusia setidaknya sejak 2.500 tahun sebelum Masehi. Pahatan detail dan halus berarti masyarakat Besemah saat itu sudah mengenal logam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Peneliti Balai Arkeologi Palembang, Kristantina Indriastuti, berpendapat, bilik batu ataupun arca di Besemah dibangun untuk tujuan religius. Di dalam tanah itulah mereka melakukan ritual. Bentuk arca manusia, seperti di situs Tegurwangi dan situs Pulaupanggung, menurut Kristantina, adalah khas Besemah. Cirinya, bentuk manusia yang digambarkan dalam arca bertubuh tambun, bibir tebal, dan hidung pesek.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Arca-arca megalitik Besemah dibuat dengan alat semacam pahat dari logam. Jelaslah bahwa peninggalan megalitik Besemah eksis pada masa perundagian atau lebih kurang 2.500 tahun sebelum Masehi. ”Bentuk manusia dalam arca Besemah adalah figur manusia yang hidup di Besemah pada masa itu. Figur arca itu bukan menggambarkan wujud para dewa atau nenek moyang,” kata Kristantina.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia berpendapat, masyarakat Besemah yang menciptakan arca dan bilik batu adalah penduduk asli, bukan pendatang dari luar Sumatera. Cikal bakal manusia yang hidup di Besemah kemungkinan berasal dari manusia goa yang hidup 5.000-9.000 tahun sebelum Masehi. Bekas-bekas kehidupan manusia goa ditemukan di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumsel. Jadi, kebudayaan manusia goa jauh lebih tua dari kebudayaan manusia Besemah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kuat dugaan bahwa masyarakat Besemah yang menciptakan bilik batu dan arca batu itu tidak pernah berpindah tempat. Dataran rendah Sumsel baru berkembang setelah masuknya pengaruh Kerajaan Sriwijaya pada abad VII Masehi dan masuknya pengaruh Islam. &lt;bell&gt;&lt;/bell&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;credit&gt;&lt;/credit&gt;&lt;strong&gt;(M Zaid Wahyudi)&lt;/strong&gt;&lt;textmetadata&gt;&lt;/textmetadata&gt;&lt;textlinkedpage number="15"&gt;&lt;/textlinkedpage&gt;&lt;textlinkedpage number="1"&gt;&lt;/textlinkedpage&gt;&lt;/p&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;/div&gt;         &lt;!-- end isi berita --&gt;                                        &lt;!-- komentar --&gt;              &lt;div class="mt_20"&gt;       &lt;div class="brd_b_1"&gt;      &lt;!--s:rating and share --&gt;         &lt;form id="rateform" name="rateform" method="post" action="document.rateform,'http://cetak.kompas.com/read/rate"&gt;         &lt;div style="border-top: 1px solid rgb(238, 238, 238); padding: 5px 0pt; margin-top: 20px;"&gt;         &lt;div class="toolartikelkiri"&gt;                  &lt;script&gt;         function fbs_click() {u=location.href;t=document.title;window.open('http://www.facebook.com/sharer.php?u='+encodeURIComponent(u)+'&amp;t='+encodeURIComponent(t),'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');return false;}&lt;/script&gt;&lt;style&gt; html .fb_share_link { padding:0px 0 0 20px; margin-top:5px; height:16px; background:url(http://static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif?2:26981) no-repeat top left; font:normal 11px arial; }&lt;/style&gt;&lt;br /&gt;        &lt;/div&gt;                      &lt;div class="toolartikel"&gt;                 &lt;span id="ratespan"&gt;                                     &lt;select name="selRate"&gt;                   &lt;option value="" selected="selected"&gt;- Beri Rating Artikel -&lt;/option&gt;                   &lt;option value=""&gt;----------&lt;/option&gt;                   &lt;option value="5"&gt;Sangat Baik&lt;/option&gt;                   &lt;option value="4"&gt;Baik&lt;/option&gt;                   &lt;option value="3"&gt;Cukup&lt;/option&gt;                   &lt;option value="2"&gt;Kurang&lt;/option&gt;                   &lt;option value="1"&gt;Sangat Kurang&lt;/option&gt;                   &lt;/select&gt;                   &lt;input name="txtID" value="400608" type="hidden"&gt;                   &lt;input title="Beri Rating" value="Rate" class="inputbiasa" onclick="validateRatingForm(document.rateform,'http://cetak.kompas.com/read/rate/ff223')" type="button"&gt;                 &lt;/span&gt;                        &lt;a href="javascript:void(0)" title="Font Artikel Kecil" onclick="article_fontSizer('small')" style="font-size: 11px;"&gt;A&lt;/a&gt;               &lt;a href="javascript:void(0)" title="Font Artikel Sedang" onclick="article_fontSizer('medium')" style="font-size: 12px;"&gt;A&lt;/a&gt;               &lt;a href="javascript:void(0)" title="Font Artikel Besar" onclick="article_fontSizer('large')" style="font-size: 14px;"&gt;A&lt;/a&gt;                         &lt;a href="javascript:void(0)" title="Cetak Artikel" onclick="MM_openBrWindow('http://cetak.kompas.com/printnews/xml/2010/03/06/03043232/besemah.tanah.para.leluhur','printhalaman','toolbar=no,location=no,status=yes,menubar=no,scrollbars=yes,width=700,height=500')"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/images/icon_print.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;                &lt;a href="javascript:void(0)" title="Kirim Artikel ke Teman" onclick="MM_openBrWindow('http://cetak.kompas.com/sendnews/xml/2010/03/06/03043232/besemah.tanah.para.leluhur','printhalaman','toolbar=no,location=no,status=yes,menubar=no,scrollbars=yes,width=700,height=500')" id="induk"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/images/icon_mail.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;                       &lt;/div&gt;                       &lt;/div&gt;         &lt;/form&gt;         &lt;!--e:rating and share --&gt;       &lt;/div&gt;       &lt;div class="brd_b_1"&gt;      &lt;!--s:comment--&gt;         &lt;div id="dspcomment"&gt;    &lt;div class="textbesar" style="border-top: 1px solid rgb(238, 238, 238); padding: 15px 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;!-- ===================================================  END FOOTER  =========================================================== --&gt;    &lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt; var gaJsHost = (("https:" == document.location.protocol) ? "https://ssl." : "http://www."); document.write(unescape("%3Cscript src='" + gaJsHost + "google-analytics.com/ga.js' type='text/javascript'%3E%3C/script%3E")); &lt;/script&gt;&lt;script src="http://www.google-analytics.com/ga.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;  &lt;script type="text/javascript"&gt; try { var pageTracker = _gat._getTracker("UA-3374285-23"); pageTracker._trackPageview(); } catch(err) {}&lt;/script&gt;  &lt;script type="text/javascript"&gt; var pageTracker = _gat._getTracker("UA-3374285-1"); pageTracker._initData(); pageTracker._trackPageview(); &lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7375266540532196859-7337226772081065797?l=hardiyansyah-ahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/feeds/7337226772081065797/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7375266540532196859&amp;postID=7337226772081065797' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/7337226772081065797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/7337226772081065797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/2010/03/besemah-tanah-para-leluhur.html' title='Besemah, Tanah Para Leluhur'/><author><name>Hardiyansyah Ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05196682395539916812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7375266540532196859.post-6303001849694303348</id><published>2009-05-03T12:51:00.005+08:00</published><updated>2009-06-18T12:05:35.148+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kedudukan Ibu dalam Islam'/><title type='text'>Kedudukan Ibu dalam Islam</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dan K&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;ami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada duai ibu bapakmu; hanya kepada-Ku engkau akan kembali (Q.S. 31:14-15)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya, atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah!" - Jangan pula engkau membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku! Sayangilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah menyayangi aku semenjak kecil."  (Q.S. 17:23-24)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Sorga terletak       di b&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;awah telapak kaki       ibu (Al-Hadits)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Memandang         dengan kasih sayang dan ramah tamah kepada ibu dan ayah, adalah ibadah (Al-Hadits)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Keridhaan         Allah terletak pada keridhaan kedua orang tua. Kemurkaan-Nya juga         terletak pada kemurkaan mereka (Al-Hadits)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Apabila engkau         ingin Allah memanjangkan umurmu, maka bahagiakanlah kedua orang tuamu (Imam Ja'far Shiddiq)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Ibu ... betapa indah dan sucinya kata ini. Kata yang membawa wanginya keramahan dan cinta kasih ke dalam jiwa, dan membuat kita merasakan kehangatan dan kemurniannya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);"&gt;&lt;span lang="MS"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;img src="http://www.geocities.com/anandito_2000/pics/borninkaba.jpg" width="171" align="left" border="0" height="240" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Dunia Barat sekarang baru menemukan nilai mulia Ibu, sedangkan umat Islam telah berabad-abad mempercayai kedudukannya yang mulia berdasarkan ajaran Ilahi melalui Islam. Islam percaya pada nilai ibu yang luar biasa, dan telah menarik perhatian manusia melalui berbagai ungkapan dan pernyataan. Bahkan Islam menganggap bahwa mencapai tahap akhir kesempurnaan, yakni sorga, tergantung pada kerelaan Ibu. Nabi Muhammad saw bersabda, "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Sorga       terletak di bawah telapak kaki ibu.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;" &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Dalam memuliakan kedudukan ibu, Islam tidak membatasi diri pada nasihat, perintah dan anjuran lisan. Tetapi Islam juga memandang perintah dan larangan ibu sebagai suatu kewajiban untuk dilaksanakan dalam hal-hal tertentu. Misalnya, dalam perkara yang disunnahkan Allah, tetapi berlawanan dengan larangan ibu, maka anak-anak dinasihati untuk menaati larangan ibu mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Apabila seorang anak ingin berpuasa sunnah, atau melakukan perjalanan yang disunnahkan, tetapi ibunya melarangnya, maka wajiblah bagi si anak untuk menaati ibunya. Apabila anak itu melawan kehendak ibunya, maka bukan saja ia tidak memperoleh pahala karena amalnya itu, melainkan ia justru memperoleh dosa dikarenakan penolakannya untuk menaati ibunya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Perkara lain dimana perintah ibu dihormati sebanding dengan perintah Allah ialah apabila perintah Allah berlawanan dengan larangan ibu, dengan syarat bahwa perbuatan itu tidak termasuk dalam perintah yang wajib seperti shalat fardhu atau puasa Ramadhan. Misalnya dalam masalah jihad, orang yang mampu berperang harus ikut serta dalam pertempuran. Tetapi apabila seorang muda memenuhi semua persyaratan untuk pergi jihad, kecuali bahwa ibunya tidak mengizinkannya pergi (dengan syarat bahwa keabsenannya tidak membahayakan umat Islam), maka ia boleh untuk tidak ikut dalam peperangan semata-mata karena larangan ibunya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;blockquote&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;Seorang lelaki datang kepada Nabi seraya berkata, "Wahai Nabi Allah! Saya muda dan kuat, siap bertindak dan berbakti, dan ingin sekali pergi ke medan jihad untuk kemajuan Islam! Tetapi ibu saya tidak membiarkan saya meninggalkannya untuk pergi berperang." Nabi yang mulia bersabda, "Pergilah tinggal bersama ibumu. Saya bersumpah kepada Tuhan yang memilih saya sebagai Nabi, bahwa &lt;b&gt;pahala yang engkau dapatkan untuk         melayaninya meskipun hanya semalam&lt;/b&gt;, dan membahagiakannya dengan         kehadiranmu, &lt;b&gt;jauh lebih besar dari pahala perang jihad selama satu         tahun.&lt;/b&gt;" &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;/blockquote&gt;       &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Islam memandang penghormatan kepada orang tua dan pelaksanaan hak-hak mereka sebagai kewajiban manusia terbesar setelah perintah Ilahi. Al-Quran mengatakan dalam hubungan ini, "Bersyukurlah kamu kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu." (QS 31:14) Perlu diperhatikan bahwa di sini Allah Ta'ala, segera setelah menyebut hak-Nya sendiri, menyebutkan hak kedua orang tua.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;blockquote&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;Seorang lelaki datang kepada Nabi seraya berkata, "Wahai Nabi Allah! Tunjuki saya, kepada siapa saya mesti berbuat baik untuk mendapatkan manfaat yang sempurna atas amal kebajikan saya?" Beliau bersabda, "&lt;b&gt;Berbuat baiklah kepada ibumu&lt;/b&gt;." Lelaki itu bertanya dua kali lagi, "Dan sesudah beliau?" Nabi menjawab, "Kepada ibumu." Lelaki itu bertanya, "Kepada orang lain siapakah saya mesti berbuat baik pula?" Nabi bersabda, "Kepada ayahmu." &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;Seorang lelaki bertanya kepada Imam Ja'far Shadiq (AS): "Apakah ada nikmat yang diperintahkan Allah dalam al-Quran untuk diperlihatkan kepada orang tua?" Imam menjawab, "Itu berarti bahwa engkau harus bersikap baik dan terpuji dalam pergaulan dengan mereka. Tidak memaksa mereka meminta pertolonganmu di saat perlu, bahkan justru engkau &lt;b&gt;berusaha         memenuhi keperluan mereka sebelum mereka memintamu&lt;/b&gt;."&lt;br /&gt;Allah berfirman, "Engkau sekali pun tak akan sampai pada kebaktian (yang sempurna), sebelum engkau menafkahkan sebagian harta yang engkau cintai. Dan apa pun yang engkau nafkahkan, maka sungguh Allah mengetahuinya." (QS. 3:92)&lt;br /&gt;"Jika orang tuamu menyebabkan perasaan tidak senang pada dirimu, maka janganlah engkau (membalas dengan) membuat mereka tak senang. Jika mereka memukulmu, engkau tak boleh (membalas dengan) menyakiti mereka. Bahkan engkau mesti mendoakan mereka, dan &lt;b&gt;tidak melemparkan apapun         selain pandangan cinta dan kasih sayang kepada mereka.&lt;/b&gt; &lt;b&gt;Suaramu         tidak boleh lebih keras&lt;/b&gt; dari mereka, dan engkau &lt;b&gt;tidak boleh         berjalan mendahului mereka&lt;/b&gt;!" &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;Imam Ahlubait yang ke-4 berpesan, "Adalah hak ibumu agar engkau mengingatnya bahwa ia telah mengandungmu dalam rahimnya selama berbulan-bulan. Memeliharamu dengan sari hidupnya. Mengerahkan semua yang ada padanya untuk memelihara dan melindungimu. Ia tidak mempedulikan rasa laparnya, sedangkan engkau diberinya makan sepuas-puasnya. Ia mengalami rasa haus sementara dahagamu dipuaskan. Ia mungkin tak berpakaian, tapi engkau diberinya baju yang baik-baik. Ia mungkin berdiri di panas terik matahari, sementara engkau berteduh. Ia meninggalkan tidurnya yang enak demi tidurmu yang pulas. Ia melindungimu dari panas dan dingin. Ia menanggung semua kesusahan itu demi engkau! Maka engkau layak untuk mengetahui bahwa &lt;b&gt;engkau tak akan mampu bersyukur kepada ibumu secara pantas, kecuali Allah menolongmu dan memberikan keridhaan untuk membalas budinya&lt;/b&gt;." &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;/blockquote&gt;       &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;img src="http://www.geocities.com/anandito_2000/pics/kalig1.jpg" width="182" align="right" border="0" height="224" /&gt;Hak-hak istimewa yang diberikan Islam bagi seorang ibu, adalah karena susah payah yang telah ditanggungnya dalam mengembangkan kehidupan rohani dan jasmani anak-anaknya. Sehingga hanya para ibu yang melaksanakan tugas keibuannya dengan baik, membesarkan dan mendidik anak menjadi bergunalah, yang layak mendapatkan kedudukan dan hak istimewa tersebut. Sedangkan ibu yang justru memilih untuk bersenang-senang, berfoya-foya meninggalkan kewajibannya mengasuh dan mendidik anak, serta membiarkan anaknya di panti asuhan, sesungguhnya telah melakukan kezaliman yang tak termaafkan terhadap anaknya. Oleh karena itu tidaklah pantas ia mengharapkan keutamaan akan hak dan kedudukan Ibu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Ibu-ibu semacam itu bukan saja merusak kebahagiaan anak-anak mereka, tetapi juga memberi pukulan pada masyarakat disebabkan kegagalan mereka mengambil manfaat dari anak-anaknya. Seorang anak yang tidak belajar dari ajaran cinta kasih ibunda, dan yang emosinya tidak dikembangkan dalam pangkuan ibunda, tidak dapat diharapkan untuk menunjukkan kasih sayang di tahun-tahun berikutnya. Lihatlah betapa pribadi-pribadi besar dunia mendapatkan keberhasilan terutama dari pengaruh ibu. Ibu mereka telah melaksanakan tugas penting dan memainkan peranan yang berhasil dalam membina anak-anaknya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;blockquote&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;Jenius besar Islam, almarhum Murtadha Anshari, meratap dengan pedih ketika ibunya meninggal. Sambil berlutut di sisi jenasah ibunya, ia menangis dan mencurahkan air mata. Untuk menghibur dan menyatakan simpatinya, salah seorang muridnya mengatakan, "Tidak pantas engkau yang berkedudukan alim bersikap resah dan mengucurkan air mata, hanya karena kematian seorang perempuan tua." Ulama besar itu mengangkat kepalanya dan menjawab, "Sepertinya engkau belum menyadari kedudukan mulia Ibu. Saya berhutang budi atas kedudukan saya kepada pendidikan yang diberikan Ibu pada saya, dan kerja kerasnya. &lt;b&gt;Ibulah         yang meletakkan dasar kemajuan saya, mengantarkan saya pada kedudukan         sebagai ulama sekarang ini&lt;/b&gt;." &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;/blockquote&gt;       &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Inilah contoh pengaruh ibu kepada anaknya. Betapa banyak ibu yang usahanya sekarang telah menghasilkan suatu sumbangan besar bagi kemajuan para ilmuwan terkenal dunia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;blockquote&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;Thomas Alfa Edison bukan saja gagal menunjukkan bakatnya di masa kanak-kanak, tetapi juga kelihatan sangat bodoh, karena ia mempunyai kepala yang terlalu besar. Keluarga dan kenalannya menganggap ia menderita penyakit kelemahan mental. Pertanyaan-pertanyaan aneh yang sekali-kali ditanyakannya semakin menguatkan anggapan mereka. Bahkan di sekolah, yang hanya dikunjunginya tidak lebih dari tiga bulan, ia dijuluki "si tolol", karena pertanyaan-pertanyaannya yang berulang kali kepada guru. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;Pada suatu hari ia pulang ke rumah dengan berlinang air mata, lalu mengadukan kepada ibunya. Sang ibu membimbing tangan putranya kembali ke sekolah. Kepada guru itu, sang ibu berkata: "Anda tidak tahu apa yang Anda katakan. Anak saya lebih cerdas dari Anda! Inilah letak persoalannya. Sekarang saya akan membawanya pulang, akan saya urus sendiri pendidikannya, dan akan saya perlihatkan kepada Anda, bakat apa sebenarnya yang tersimpan padanya!" Semenjak itu, sang ibu memenuhi janjinya untuk mendidik sendiri putranya itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;Seorang sahabat keluarga Edison menulis berkaitan dengan ini, "Kadang-kadang ketika melewati rumah Edison, saya melihat ibu Edison dan putranya duduk-duduk di ruang depan, sementara sang ibu mengajari anaknya. Tempat itu menjadi ruang kelas dan Edison adalah satu-satunya murid di situ. Isyarat dan gerakan-gerakannya seperti ibunya, ia sangat mencintai ibunya! Ketika ibunya berkata, Edison mendengarkan penuh perhatian seakan-akan perempuan itu lautan ilmu." &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;Sebagai hasil usaha ibunya, sebelum usia 9 tahun, Edison telah membaca karya-karya besar Gibbon, Hume, Plato dan Humerus! Ibu yang bijaksana dan cerdas itu juga mengajarkan geografi, sejarah, matematika dan akhlak. Edison hanya bersekolah selama tiga bulan, dan semua yang dipelajarinya di masa anak-anak didapat dari ibunya. Ibu itulah guru yang sesungguhnya, karena asuhannya bukan saja bagi pendidikan anaknya, tetapi juga untuk menemukan bakat-bakat yang alami dan mengembangkannya. Kemudian ketika Edison menjadi terkenal, ia berkata: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;"Di masa kanak-kanak, saya menyadari betapa bagusnya tokoh seorang Ibu. Ketika guru itu menjuluki saya "tolol", Ibu membela saya. Apabila Ibu tidak mendorong saya, mungkin saya tidak akan menjadi penemu. Menurut Ibu saya, jika orang-orang yang salah jalan setelah dewasa telah mendapatkan pendidikan dan diasuh sebagaimana mestinya, mereka tidak akan menjadi parasit yang tidak berguna dalam masyarakat. Pengalaman yang telah dikumpulkannya sebagai seorang guru telah mengajarkan kepadanya banyak rahasia watak manusia. Sebelumnya saya selalu tak peduli, dan apabila bukan karena perhatian Ibu, kemungkinan besar saya telah menyeleweng dari jalan yang semestinya! Namun &lt;b&gt;ketabahan         Ibu dan kebaikannya, merupakan faktor kuat yang menghalangi saya dari         penyelewengan dan kesesatan&lt;/b&gt;." &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;/blockquote&gt;       &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Dengan kepribadian, simpati dan usahanya, para ibu dapat meletakkan dasar kehidupan bahagia bagi anak-anaknya dan melatih mereka untuk masa depan. Sedangkan para ibu yang teledor dan mementingkan diri sendiri, dengan tindakan salahnya, justru menyeret anak-anaknya kepada kepedihan dan nestapa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Islam dengan jelas menyatakan bahwa salah satu penyebab utama penyelewengan anak-anak, adalah penyelewengan orang tua sendiri. Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa setiap anak memasuki dunia ini dengan wataknya yang suci, siap menerima tauhid dan kebaikan moral, tetapi orang tuanya justru menyeret anak-anak mereka dengan pendidikan ke arah penyimpangan moral, dan kadang juga membawa ke jurang kekafiran dan syirik. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Karena pengaruh orang tua kepada anak-anak yang tak terhindarkan inilah, maka Rasul SAW dan para Imam AS mengajukan banyak saran kepada para orang tua, dan sangat menghargai usaha-usaha mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;blockquote&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;Nabi         Muhammad SAW bersabda, "&lt;b&gt;Hormatilah anak-anakmu&lt;/b&gt;. &lt;b&gt;Ajari         mereka akhlak yang baik&lt;/b&gt;, agar engkau mendapatkan keridhaan Ilahi dan         keselamatan." &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;Beliau         SAW bersabda pula, "Jika engkau &lt;b&gt;melatih anak-anakmu berperilaku         baik dan memberi pendidikan yang semestinya&lt;/b&gt;, maka hal itu &lt;b&gt;lebih         baik daripada memberikan sebagian hartamu setiap harinya di jalan Allah&lt;/b&gt;." &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;Hadits lain menyebutkan bahwa: "apabila seseorang meninggal, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga hal: 1. Jika ia berbuat amal yang selalu membawa manfaat bagi manusia, 2. Jika ia meninggalkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat, 3. &lt;b&gt;Jika ia meninggalkan anak saleh yang         mendoakannya&lt;/b&gt;." &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;/blockquote&gt;       &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Apabila orang tua melaksanakan kewajibannya dengan mendidik anak-anaknya dengan semestinya, maka mereka mendapatkan manfaat sepenuhnya dari hak-hak mereka sebagai orang tua, dan mendapatkan keuntungan berupa keturunan yang baik. Di sini Islam menyeru kepada anak-anak dan menyuruh mereka untuk berbuat baik kepada orang tua.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;blockquote&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;Imam Ja'far Shadiq AS berkata, "Berlaku baik dan sopan kepada orang tua merupakan bukti ketakwaan seseorang. Karena &lt;b&gt;tak ada amal yang         disenangi Allah sebagaimana menghormati orang tua&lt;/b&gt;." &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;Nabi         SAW bersabda, "&lt;b&gt;Pandangan kasih sayang seorang anak kepada orang         tuanya&lt;/b&gt; dipandang sebagai suatu ibadah." &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;Imam Muhammad Baqir AS berkata, "Ada empat hal yang kepemilikannya akan memberikan pada pemiliknya rumah di sorga melalui keridhaan-Nya: 1. Mengasuh anak yatim dan memberikan tempat perlindungan kepada mereka, 2. Berkasih sayang kepada yang tua renta dan tak berdaya, 3. Berbaik hati dan berperilaku ramah kepada orang tua, 4. Berhati lembut kepada bawahan dan pelayan." &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;/blockquote&gt;       &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Islam juga memandang bahwa kebajikan kepada Ibu sebagai suatu jalan yang bermanfaat untuk menghapus dosa seseorang, dan memandang kebaikan kepada Ibu sebagai suatu sarana untuk menyelamatkan dari dosa dan menggapai keridhaan Allah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;blockquote&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;Seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW seraya mengeluh, "Wahai Nabi! Saya telah berbuat banyak dosa dalam hidup ini.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt; Saya telah melakukan segala macam perbuatan jahat. Apakah pintu taubat masih terbuka untuk saya? Apakah Allah masih akan menerima taubat saya?" Nabi bertanya, "Apakah orang tuamu masih hidup?" Lelaki itu mengatakan, "Ya. Ayah saya masih hidup!" Nabi lalu berkata, "Maka pergilah kepadanya dan berbuat baiklah kepadanya (agar dosamu diampuni Allah)." Lelaki itu pamit kemudian keluar. Kemudian Nabi bersabda, "Saya berharap ibunya masih hidup!" [Yang beliau maksudkan ialah bahwa apabila ibunya masih hidup untuk menerima kebajikan anaknya, maka dosa-dosanya akan lebih cepat diampuni.] &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;Seorang lelaki datang kepada Nabi seraya berkata, "Wahai Nabi Allah! Saya dianugerahi Allah seorang anak perempuan. Saya membesarkannya hingga ia dewasa. Suatu hari saya pakaikan baju padanya, saya hiasi dia, lalu saya membawanya ke sebuah sumur dan melemparkannya ke sana! Kata terakhir yang saya dengar diucapkan oleh anak tak berdosa itu adalah, 'Wahai ayahku tersayang!' Sekarang saya bertaubat atas apa yang telah saya lakukan. Bagaimana saya bisa menebus dosa saya? Apa yang harus saya kerjakan untuk menebus dosa itu?" Nabi SAW bertanya, "Apakah ibumu masih hidup?" Lelaki itu menjawab, "Tidak." Nabi bertanya, "Apakah bibimu masih hidup?" Lelaki itu mengatakan, "Ya." Nabi lalu bersabda, "Ia (bibimu) sama dengan Ibu. Pergilah berbuat baik padanya, dengan demikian dosamu akan diampuni!" &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;/blockquote&gt;       &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Dalam Islam, kemarahan dan ketidakpuasan Ibu dipandang sebagai sarana datangnya bencana dan kehancuran. Dalam beberapa riwayat telah dikatakan secara gamblang bahwa orang yang durhaka terhadap orang tuanya tidak akan pernah mencium bau sorga dan tidak akan mencapai kebahagiaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;blockquote&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;img src="http://www.geocities.com/anandito_2000/ensi/Img012.jpg" width="190" align="left" border="0" height="256" /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;Seorang pemuda di masa Nabi telah jatuh sakit dan terbaring tak berdaya di tempat tidur. Nabi pergi menjenguknya dan&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt; mendapatkan ia sakti parah di saat terakhirnya. Nabi berkata padanya, "Akuilah keesaan Allah dan ucapkan kalimat syahadat: &lt;i&gt;Laa ilaaha         illallah&lt;/i&gt;!" Pemuda yang sakit itu menggagap dan tidak dapat mengucapkan kalimat suci. Nabi bertanya pada seorang perempuan yang hadir, "Apakah ia mempunyai ibu?" Perempuan itu menjawab, "Ya. Saya adalah ibunya." Nabi bertanya lagi, "Apakah engkau tidak rela kepadanya?" Perempuan itu mengiyakan, "Ya. Saya tidak rukun dengan dia selama enam tahun!" Nabi meminta perempuan itu memaafkan kesalahan putranya. Perempuan itu berujar, "Wahai Nabi Allah! Saya akan melakukannya demi engkau." Kemudian Nabi menoleh kepada pemuda itu sambil berkata, "Sekarang ucapkanlah &lt;i&gt;Laa ilaaha illallah&lt;/i&gt;." Pemuda itu sekarang dengan         lidah yang bebas mengucapkan kalimat suci itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;Imam Shadiq AS berkata, "Orang yang ingin mengalami kemudahan saat sakaratul maut, hendaklah berbuat kebaikan kepada keluarganya dan memperlakukan ibunya dengan ramah. Sehingga sakaratul maut akan menjadi ringan baginya, dan dalam kehidupan ia tak akan menderita kenistaan." &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;/blockquote&gt;       &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Suatu hal yang perlu diingat ialah pada tanggal 22 Desember telah dipilih sebagai Hari Ibu, dimana diadakan berbagai acara peringatan, puisi-puisi ditulis, hadiah-hadiah diberikan kepada para ibu oleh anak-anaknya. Tentu saja hal itu bagus, tetapi tidaklah cukup acara-acara dan pemberian hadiah itu sebagai penghargaan terhadap usaha para ibu. Haruslah diusahakan juga untuk memberikan penjelasan kepada para ibu tentang tanggung jawab besar mereka, menyadarkan mereka bahwa pengelolaan suatu keluarga dan pendidikan anak-anak termasuk pekerjaan yang paling penting, dibandingkan dengan pekerjaan apa pun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Ibu-ibu harus berusaha memberikan kepada masyarakat anak-anak yang terdidik dengan baik dan mengasuh secara khusus keimanan dan keyakinan mereka. Karena pengalaman telah menunjukkan bahwa anak yang tak beriman bukan saja tak berguna, tetapi juga kadang merugikan dan berbahaya. Kita telah sering membaca tentang anak-anak yang memukul ibu atau ayah mereka, bahkan ada yang membunuhnya. Mengapa demikian?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Pengalaman mengatakan pada kita bahwa tak ada alasan lain bagi pelanggaran dan kejahatan semacam itu, selain kekurangan sandaran iman dan dasar kerohanian. Jika para orang tua ingin mendapatkan kemaslahatan dari anak-anaknya di dunia dan di akhirat, mereka harus memberi perhatian penuh kepada urusan keagamaan dan keimanan anak-anak itu, sebagaimana mereka memperhatikan kesehatan dan pendidikan mereka. Anak-anak pun mesti mengetahui kewajiban mereka terhadap orang tuanya, mengingat bahwa kebahagiaan anak yang sebenarnya adalah tergantung pada keridhaan orang tua.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;blockquote&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;&lt;img src="http://www.geocities.com/anandito_2000/ensi/Img002.jpg" width="191" align="right" border="0" height="256" /&gt;Seorang         lelaki bernama Zakaria ibn Ibrahim berkisah : &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;Dahulu saya seorang Kristen yang kemudian memeluk Islam dan melakukan ibadah haji ke Makkah. Saya beruntung mendapat kehormatan untuk bertemu dengan Imam Shadiq AS dan mengatakan kepadanya bahwa saya baru masuk Islam dari agama Kristen. Imam bertanya: "Keuntungan apa yang engkau dapatkan dari Islam setelah engkau memeluknya?" Saya mengutip ayat al-Quran yang menyatakan: "Sebelumnya engkau tidak mengetahui apakah al-Kitab itu dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Quran itu cahaya yang Kami tunjuki dengannya siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami (QS. 42:52)" &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;Imam itu berkata: "Demikianlah Allah memberi petunjuk kepadamu dan menerangi hatimu dengan cahaya-Nya." Kemudian Imam mendoakan saya agar mendapatkan petunjuk yang lebih banyak. Saya ceritakan pada Imam bahwa orang tua dan kerabat saya beragama Kristen, sedang ibu saya buta. Apakah pantas bagi saya untuk tetap hidup bersama mereka dan bercampur gaul? Imam bertanya, "Apakah mereka makan daging babi?" Saya menjawab, "Tidak." Lalu Imam bersabda, "Tidak ada salahnya engkau bercampur gaul dengan mereka," seraya menambahkan, "Rawatlah ibumu dan berbuat baiklah kepadanya. Apabila ia meninggal, engkau sendirilah yang mengurus penguburannya." &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;Ketika saya kembali dari Makkah dan tiba di Kufah, saya banyak menunjukkan kasih sayang kepada ibu saya sesuai dengan perintah Imam. Saya sendiri yang memberinya makan, mengatur pakaiannya, menyisir rambutnya dan melayaninya dalam berbagai hal. Ketika ibu saya melihat perubahan dalam perilaku saya, beliau berkata: "Anakku, di waktu engkau menganut agama kami, engkau tidak berbuat seperti ini. Apa alasan kasih sayang yang sebesar ini sejak engkau memeluk agama Islam?" Saya menjawab, "Seorang cucu Rasul telah memerintahkan saya untuk berbuat seperti ini." Ibu saya bertanya, "Apakah ia Nabimu?" Saya katakan, "Tidak. Tak ada nabi lain lagi setelah Nabi Muhammad. Ia adalah seorang keturunan Nabi." &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;Ibu saya berkata, "Perintah ini adalah perintah seluruh nabi-nabi, tetapi agamamu lebih baik dari agama saya. Tunjuki saya untuk masuk Islam." Saya mengajarkannya jalan Islam lalu ibu pun masuk Islam. Ibu melakukan sholat zhuhur, ashar, maghrib dan isya, kemudian ibu jatuh sakit di tengah malam. Saya tinggal di sisi ranjang dan merawatnya. Ibu berkata, "Anakku! Ulangilah untuk saya kalimat syahadat Islam." Saya melakukannya dan ibu mengikutinya, kemudian meninggal di malam itu juga. Keesokan harinya penguburan dilakukan oleh sekelompok Muslim sesuai dengan cara Islam, dan saya menguburkannya dengan tangan saya sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;/blockquote&gt;       &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;img src="http://www.geocities.com/anandito_2000/ensi/Img001.jpg" width="187" align="left" border="0" height="256" /&gt;Meninggalnya seorang ibu merupakan kehilangan yang tak dapat ditebus, akan tetapi tatanan Penciptaan menurut Sunnah Ilahi menetapkan bahwa setiap makhluk pasti akan meninggalkan dunia ini. Manusia harus puas dan menyerah kepada kehendak Ilahi dan takdir-Nya. Namun ada kewajiban tertentu yang harus dilaksanakan anak setelah ibunya meninggal, apabila mereka menghasratkan kebahagiaan mereka sendiri. Dengan kata lain, hak orang tua tidak terhenti dengan kematian mereka, dan hak ini mesti dilaksanakan oleh anak-anak mereka setelah meninggalnya orang tua mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;blockquote&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;Imam Ahlubayt yang ke-5 berkata, "Seorang anak mungkin berkebajikan kepada orang tuanya selama hidup orang tuanya. Tetapi mungkin ia tidak membalas hutang budinya kepada mereka setelah mereka meninggal, tidak pula berdoa untuk keselamatannya dan melupakannya sama sekali. Dalam hal ini, anak-anak seperti itu akan digolongkan Allah kepada kategori orang yang berperangai jelek terhadap orang tuanya." &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;/blockquote&gt;       &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Apa yang dapat disimpulkan dari ajaran Islam ini dan dari riwayat-riwayat Islam lainnya ialah bahwa apabila seorang ayah atau ibu terikat hutang, anak-anaknya mesti berusaha membayarkan hutangnya dan mendoakan keselamatannya. Ia harus bersedekah atas nama mereka, memberi makan fakir miskin untuk menyenangkan hati mereka, memperhatikan dan membelai anak yatim, dan melakukan amal baik semacam itu. Pahala amal semacam itu akan diberikan kepada orang tuanya maupun anak-anaknya, dan Allah akan memberkati dan meridhai mereka untuk amal kebajikan dan sedekah itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7375266540532196859-6303001849694303348?l=hardiyansyah-ahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/feeds/6303001849694303348/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7375266540532196859&amp;postID=6303001849694303348' title='13 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/6303001849694303348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/6303001849694303348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/2009/05/kedudukan-ibu-dalam-islam.html' title='Kedudukan Ibu dalam Islam'/><author><name>Hardiyansyah Ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05196682395539916812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7375266540532196859.post-1802796021185164528</id><published>2009-05-03T12:39:00.002+08:00</published><updated>2009-05-03T12:44:40.197+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahagia menurut Islam'/><title type='text'>Konsep Kebahagiaan dalam Islam</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.pesantrenvirtual.com/index.php/hikmah/1216-konsep-kebahagiaan-dalam-islam" class="contentpagetitle"&gt;&lt;/a&gt;Kondisi senantiasa bahagia dalam situasi apa pun, inilah. yang senantiasa dikejar oleh manusia. Manusia ingin hidup bahagia. Hidup tenang, tenteram, damai, dan sejahtera. Sebagian orang mengejar kebahagiaan dengan bekerja keras untuk menghimpun harta. Dia menyangka bahwa pada harta yang berlimpah itu terdapat kebahagaiaan.&lt;span&gt;&lt;/span&gt; Ada yang mengejar kebahagiaan pada tahta, pada kekuasaan. Beragam cara dia lakukan untuk merebut kekuasaan. Sehab menurtnya kekuasaan identik dengan kebahagiaan dan kenikmatan dalam kehidupan. Dengan kekuasaan sesrorang dapat berbuat banyak. Orang sakit menyangka, bahagia terletak pada kesehatan. Orang miskin menyangka, bahagia terletak pada harta kekayaan. Rakyat jelata menyangka kebahagiaan terletak pada kekuasaan. Dan sangkaan-sangkaan lain.&lt;span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p style="margin-top: 12pt; text-align: justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"&gt;Lantas apakah yang disebut"bahagia' (sa'adah/happiness)?&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 12pt; text-align: justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"&gt;Selama ribuan tahun, para pemikir telah sibuk membincangkan tentang kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sesuatu yang ada di luar manusia, dan bersitat kondisional. Kebahagiaan bersifat sangat temporal. Jika dia sedang berjaya, maka di situ ada kebahagiaan. Jika sedang jatuh, maka hilanglah kebahagiaan. Maka. menurut pandangan ini tidak ada kebahagiaan yang abadi dalam jiwa manusia. Kebahagiaan itu sifatnya sesaat, tergantung kondisi eksternal manusia. Inilah gambaran kondisi kejiwaan masyarakat Barat sebagai: "Mereka senantiasa dalam keadaan mencari dan mengejar kebahagiaan, tanpa merasa puas dan menetap dalam suatu keadaan.&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 12pt; text-align: justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"&gt;Islam menyatakan bahwa "Kesejahteraan' dan "kebahagiaan" itu bukan merujuk kepada sifat badani dan jasmani insan, bukan kepada diri hayawani sifat basyari; dan bukan pula dia suatu keadaan hayali insan yang hanva dapat dinikmati dalam alam fikiran belaka. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 12pt; text-align: justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"&gt;Keselahteraan dan kebahagiaan itu merujuk kepada keyakinan diri akan hakikat terakhir yang mutlak yang dicari-cari itu — yakni: keyakinan akan Hak Ta'ala — dan penuaian amalan yang dikerjakan oleh diri berdasarkan keyakinan itu dan menuruti titah batinnya.'&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 12pt; text-align: justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"&gt;Jadi, kebahagiaan adalah kondisi hati yang dipenuhi dengan keyakinan (iman) dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya itu. Bilal bin Rabah merasa bahagia dapat mempertahankan keimanannya meskipun dalam kondisi disiksa. Imam Abu Hanifah merasa bahagia meskipun harus dijebloskan ke penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat menjadi hakim negara. Para sahabat nabi, rela meninggalkan kampung halamannya demi mempertahankan iman. Mereka bahagia. Hidup dengan keyakinan dan menjalankan keyakinan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 12pt; text-align: justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 12pt; text-align: justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"&gt;Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannva. Sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Apakah kamu tidak memahaminya?&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 12pt; text-align: justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"&gt;Menurut al-Ghazali, puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil mencapai ma'rifatullah", telah mengenal Allah SWT. Selanjutnya, al-Ghazali menyatakan:&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 12pt; text-align: justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"&gt;"Ketahuilah bahagia tiap-tiap sesuatu bila kita rasakan nikmat, kesenangan dan kelezatannya mara rasa itu ialah menurut perasaan masing-masing. Maka kelezatan (mata) ialah melihat rupa yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala anggota yang lain dan tubuh manusia. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 12pt; text-align: justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"&gt;Ada pun kelezatan hati ialah ma'rifat kepada Allah, karena hati dijadikan tidak lain untuk mengingat Tuhan. Seorang rakyat jelata akan sangat gembira kalau dia dapat herkenalan dengan seorang pajabat tinggi atau menteri; kegembiraan itu naik berlipat-ganda kalau dia dapat berkenalan yang lebih tinggi lagi misalnya raja atau presiden. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 12pt; text-align: justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"&gt;Maka tentu saja berkenalan dengan Allah, adalah puncak dari segala macam kegembiraan. Lebih dari apa yang dapat dibayangkan&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;oleh manusia, sebab tidak ada yang lebih tinggi dari kemuliaan Allah. Dan oleh sebab itu tidak ada ma'rifat yang lebih lezat daripada ma'rifatullah.&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 12pt; text-align: justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"&gt;Ma'rifalullah adalah buah dari ilmu. Ilmu yang mampu mengantarkan manusia kepada keyakinan. bahwa tiada Tuhan selain Allah" (Laa ilaaha illallah). Untuk itulah, untuk dapat meraih kebahagiaan yang abadi, manusia wajib mengenal Allah. Caranya, dengan mengenal ayat-ayat-Nya, baik ayat kauniyah maupun ayat qauliyah. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 12pt; text-align: justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"&gt;Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang memerintahkan manusia memperhatikan dan memikirkan tentang fenomana alam semesta, termasuk memikirkan dirinya sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 12pt; text-align: justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"&gt;Disamping ayat-ayat kauniyah. Allah SWT juga menurunkan ayat-ayat qauliyah, berupa wahyu verbal kepada utusan-Nya yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw. Karena itu, dalam QS Ali Imran 18-19, disebutkan, bahwa orang-orang yang berilmu adalah orang-orang yang bersaksi bahwa "Tiada tuhan selain Allah", dan bersakssi bahwa "Sesungguhnya ad-Din dalam pandangan Allah SWT adalah Islam."&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 12pt; text-align: justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"&gt;Inilah yang disebut ilmu yang mengantarkan kepada peradaban dan kebahagiaan. Setiap lembaga pendidikan. khususnya lembaga pendidikan Islam. harus mampu mengantarkan sivitas akademika-nya menuju kepada tangga kebahagiaan yang hakiki dan abadi. Kebahagiaan yang sejati adalah yang terkait antara dunia dan akhirat. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 12pt; text-align: justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"&gt;Kriteria inilah yang harusnya dijadikan indikator utama, apakah suatu program pendidikan (ta'dib) berhasil atau tidak. Keberhasilan pendidikan dalam Islam bukan diukur dari berapa mahalnya uang hayaran sekolah; berapa banyak yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri dan sebagainya. Tetapi apakah pendidikan itu mampu melahirkan manusia-manusia yang beradab yang mengenal Tuhannya dan beribadah kepada Penciptanya.&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 12pt; text-align: justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"&gt;Manusia-manusia yang berilmu seperti inilah yang hidupnya hahagia dalam keimanan dan keyakinan: yang hidupnya tidak terombang-ambing oleh keadaan. Dalam kondisi apa pun hidupnya bahagia, karena dia mengenal Allah, ridha dengan keputusanNya dan berusaha menyelaraskan hidupnya dengan segala macam peraturan Allah yang diturunkan melalui utusan-Nya.&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 12pt; text-align: justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"&gt;Karena itu kita paham, betapa berbahayanya paham relativisme kebenaran yang ditaburkan oleh kaum liberal. Sebab, paham ini menggerus keyakinan seseorang akan kebenaran. Keyakinan dan iman adalah harta yang sangat mahal dalam hidup. Dengan keyakinan itulah, kata Igbal, seorang Ibrahim a.s. rela menceburkan dirinya ke dalam api. Penyair besar Pakistan ini lalu bertutur hilangnya keyakinan dalam diri seseorang. lebih buruk dari suatu perbudakan.&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 12pt; text-align: justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"&gt;Sebagai orang Muslim, kita tentu mendambakan hidup bahagia semacarn itu; hidup dalam keyakinan: mulai dengan mengenal Allah dan ridha, menerima keputusan-keputusan-Nva, serta ikhlas menjalankan aturan-aturan-Nya. Kita mendambakan diri kita merasa bahagia dalam menjalankan shalat, kita bahagia menunaikan zakat, kita bahagia bersedekah, kita bahagia menolong orang lain, dan kita pun bahagia menjalankan tugas amar ma'ruf nahi munkar.&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 12pt; text-align: justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"&gt;Dalam kondisi apa pun. maka "senangkanlah hatimu!" Jangan pernah bersedih.&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 12pt; text-align: justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"&gt;"Kalau engkau kaya. senangkanlah hatimu! Karena di hadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit melalui hartamu.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 12pt; text-align: justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"&gt;"Dan jika engkau fakir miskin, senangkan pulalah hatimu! Karena engkau telah terlepas dari suatu penyakit jiwa, penyakit kesombongan yang sering menimpa orang-orang kaya. Senangkanlah hatimu karena tak ada orang yang akan hasad dan dengki kepadamu lagi, lantaran kemiskinanmu..."&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 12pt; text-align: justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"&gt;"Kalau engkau dilupakan orang, kurang masyhur, senangkan pulalah hatimu! Karena lidah tidak banyak yang mencelamu, mulut tak banyak mencacimu..."&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 12pt; text-align: justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"&gt;Mudah-mudahan. Allah mengaruniai kita ilmu yang mengantarkan kita pada sebuah keyakinan dan kebahagiaan abadi, dunia dan akhirat. Amin.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 12pt; text-align: justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"&gt;Sumber : http://www.pesantrenvirtual.com&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7375266540532196859-1802796021185164528?l=hardiyansyah-ahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/feeds/1802796021185164528/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7375266540532196859&amp;postID=1802796021185164528' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/1802796021185164528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/1802796021185164528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/2009/05/konsep-kebahagiaan-dalam-islam.html' title='Konsep Kebahagiaan dalam Islam'/><author><name>Hardiyansyah Ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05196682395539916812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7375266540532196859.post-4003555196666089054</id><published>2009-04-20T10:20:00.002+08:00</published><updated>2009-05-03T12:45:44.683+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='18 Kiat membahagiakan istri'/><title type='text'>18 Kiat Membahagiakan Istri</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;18 Kiat Membahagiakan Istri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka mengokohkan hubungan kekeluargaan dikalangan kaum Muslimin dan menyebarkan tuntunan Islam di dalam pembinaan keluarga, Asosiasi Pelajar Islam di Universitas Alberta, Kanada menerbitkan sebuah ikhtisar berbahasa Inggris terjemahan dari buku yang ditulis dalam bahasa Arab oleh Syaikh Muhammad Abdul Halim Hamid, seorang Ulama asal Mesir alumni Universitas Islam Madinah, Madinah Munawaroh, Saudi Arabia. Buku tersebut adalah How To Make Your Wife Happy (Bagaimana Membahagiakan Istri Anda)&lt;br /&gt;Buku ini adalah salah satu buku terbaik yang pernah penulis baca yang membahas masalah ini. Di dalamnya disajikan dengan lengkap dan rinci, bagaimana cara memenuhi hak dan menunaikan kewajiban kepada istri di dalam aktifitas sehari-hari.&lt;br /&gt;Ikhtisar di bawah ini menjelaskan tanggungjawab utama seorang suami berikut contoh-contoh adab atau prilaku apa yang selayaknya dan seharusnya dilakukan oleh seorang suami terhadap istrinya. Setiap point yang disebutkan di sini, didukung oleh Al Quran dan Assunnah dan prilaku para sahabat, tetapi karena terbatasnya kolom yang tersedia, dalil-dalil tersebut tidak dapat kami sebutkan di sini.&lt;br /&gt;Banyak buku yang hanya membahas kewajiban istri terhadap suami. Sementara pada kenyataannya permasalahan rumah tangga bukan hanya disebabkan oleh tidak terpenuhinya hak-hak suami, tetapi juga dikarenakan banyaknya suami yang belum memenuhi kewajibannya dan menunaikan hak-hak para istrinya. Tulisan ringkas yang diilhami dari ikhtisar yang kami sebutkan di atas ini insyaAllah menjadi penyeimbang, agar para suami pun dapat mengetahui masalah yang penting ini, sehingga rumah tangga yang dibina menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan penuh rahmah.&lt;br /&gt;Apa sajakah yang harus dilakukan Anda sebagai seorang suami kepada istri Anda agar dia berbahagia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Perjumpaan yang manis&lt;br /&gt;Setelah pulang dari bekerja, kuliah atau perjalanan jauh ataupun kegiatan lainnya yang telah memisahkan kalian, lakukan tips berikut ini:&lt;br /&gt;Mulailah dengan salam/sapaan yang baik&lt;br /&gt;Dimulai dari “Assalamu’alaikum” sambil menyunggingkan senyum, dan ikhlaskan hati Anda dan berdoalah kepada Allah untuk istri Anda tersayang. Salam dan senyum adalah sunnah, sedang mendoakan istri adalah kewajiban Anda.&lt;br /&gt;Jabat tangannya kalau perlu cium juga pipinya dan tunda dulu niat Anda untuk menyampaikan berita yang sekiranya tidak akan mengenakkan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ucapkan perkataan yang baik&lt;br /&gt;Dalam bertutur kata dengan istri Anda, pilih kata-kata yang berdampak positif dan hindari yang berakibat negatif. Agar istri Anda mengerti apa yang Anda katakan, ucapkan setiap perkataan dengan jelas dan ulangi kata-kata Anda bila perlu.&lt;br /&gt;Berilah perhatian ketika Anda mendengarkan ucapan atau ceritanya. Hal ini akan membuatnya merasa dihargai, sebagaimana Anda juga merasa dihargai, apabila perkataaan Anda didengarkan dengan baik.&lt;br /&gt;Panggillah dia dengan panggilan mesra yang disukainya, misalnya “sweet heart, honey, sayang, Sholihah dan panggilan mesra lainnya. Kebiasaan ini akan menambah kemesraan hubungan kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bersahabat dan santai&lt;br /&gt;Jangan terlalu sibuk dengan urusan Anda sendiri, sediakan waktu untuk bercengkrama bersamanya. Sampaikan padanya kabar-kabar yang menyenangkan dan selalu ingatkan dia tentang kenangan indah bersamanya. Dalam hal ini jangan terlalu serius, karena akan membuat kaku suasana. Santailah sedikit, jangan perlakukan istri Anda seperti teman sejawat atau bawahan Anda di tempat kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Permainan dan Selingan&lt;br /&gt;Agar kehidupan rumah tangga Anda tidak terlalu monoton, selingi aktifitas Anda berdua dengan senda gurau dan pupuk selera humor Anda. Lakukan permainan dan perlombaan olahraga atau selainnya, ajak dia menonton pertunjukan atau hiburan yang halal dan jauhilah hal-hal yang haram dari pilihan hiburan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Membantunya dalam tugas kerumahtanggaan&lt;br /&gt;Lakukan apa saja yang Anda bisa atau Anda sukai guna menolongnya melakukan tugas rumah tangga, terutama kalau dia sakit atau lelah.&lt;br /&gt;Hal yang juga penting adalah membuatnya merasa dihargai, karena Anda tak pernah lupa memberi penghargaan atas kerja kerasnya di dalam menyelesaikan tugas rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Musyawarah&lt;br /&gt;Biasakan bermusyawarah khususnya dalam memecahkan persoalan keluarga. Buat dia merasa, bahwa pendapatnya adalah amat penting bagi Anda. Oleh karena itu Anda harus mempelajari dan mendengarkan pendapatnya dengan seksama dan Anda harus rela meninggalkan pendapat Anda, serta mengikuti pendapatnya, bila pendapatnya itu benar dan lebih baik.&lt;br /&gt;Berterima kasihlah kepadanya karena telah membantu Anda dengan pendapat yang dikemukakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Ziarahi sesama Muslim&lt;br /&gt;Pilih kerabat dan orang terdekat yang shalih untuk dikunjungi dengan tujuan membina hubungan baik dengannya. Banyak dampak positif dari mengunjungi kerabat dan orang-orang terdekat yang shalih (jangan sia-siakan waktu dalam kunjungan tersebut, gunakan kesempatan bertemu dengan mereka sebaik-baiknya)&lt;br /&gt;Jangan lupa tekankan keharusan mempraktekkan Akhlak Islami di dalam kunjungan Anda.&lt;br /&gt;Guna menjaga hubungan Anda berdua, jangan memaksanya mengunjungi seseorang atau keluarga yang membuatnya tidak nyaman dengan kunjungan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Apa yang harus dikerjakan sebelum dan ketika melakukan perjalanan jauh&lt;br /&gt;Dalam menjalankan tugas Anda sebagai suami atau sebagai bagian dari kewajiaban profesi Anda di kantor/ di tempat kerja, kadangkala Anda harus melakukan perjalanan jauh, meninggalkan anak dan istri Anda. Sebelum melakukan perjalanan jauh hendaknya Anda memperhatikan hal-hal berikut:&lt;br /&gt;- Ucapkan selamat tinggal yang mesra kepada anggota keluarga yang Anda tinggalkan, terutama istri Anda dan ucapkan nasihat-nasihat yang baik sebelum berangkat.&lt;br /&gt;- Bacalah do’a safar.&lt;br /&gt;- Mintalah istri Anda agar selalu mendoakan Anda ketika Anda tidak bersamanya.&lt;br /&gt;- Tinggalkan untuk istri dan anak Anda uang dan kebutuhan keluarga yang cukup&lt;br /&gt;- Pulang sesegera mungkin&lt;br /&gt;- Bawalah oleh-oleh untuknya dan untuk anak-anak kesayangan Anda.&lt;br /&gt;- Hindari pulang di waktu yang tidak diharapkan (ketika dia sedang nyenyak tidur) atau di waktu tengah malam.&lt;br /&gt;- Bawalah istri Anda serta apabila mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Nafkah dalam bidang keuangan&lt;br /&gt;Sebagai suami hendaknya Anda bijaksana di dalam membelanjakan uang sesuai dengan kemampuan finansial Anda. Anda tidak boleh pelit terhadap istri dengan uang Anda dan juga sebaliknya janganlah boros.&lt;br /&gt;Anda akan mendapatkan pahala atas nafkah yang Anda berikan kepada keluarga yang menjadi tanggungan Anda, walaupun hanya sekadar sekerat roti yang diberikan kepada istri hasil dari keringat Anda sendiri (al-hadist).&lt;br /&gt;Dalam rangka menjaga perasaan istri Anda, adalah sangat dianjurkan agar Anda memberinya uang sebelum dia memintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Berbau harum dan berdandan&lt;br /&gt;Ikuti sunnah mencukur rambut yang tumbuh di bagian sekitar kemaluan dan ketiak. Selain itu Anda juga diharapkan untuk selalu menjaga kebersihan dan kerapihan terutama bila Anda berduaan dengannya, Jangan sungkan-sungkan mengoleskan parfum ke tubuhnya ketika Anda hanya berduaan dengannya dan ketika dia tidak ingin ke luar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Hubungan seksual&lt;br /&gt;Adalah kewajiban Anda untuk rutin membiasakannya bila Anda tidak berhalangan melakukannya (misalnya sakit dan lain-lain). Jangan lupa memulainya dengan “bismillah” dan ucapkan doa “allahumma janibnassyaithon…“. Masukkanlah kemaluan Anda di tempat yang selayaknya (jangan di anus) jangan lupa awali dulu dengan “pemanasan” dan sertakan kata-kata mesra. Lanjutkanlah sampai Anda memuaskan keinginan seksualnya (sampai istri Anda orgasme). Hendaknya Anda melakukannya dengan rileks tanpa beban dan perasaan sekadar menunaikan kewajiban dan sertailah cumbu rayu Anda dengan canda.&lt;br /&gt;Kemudian perhatikan hal-hal penting berikut ini:&lt;br /&gt;Jangan “mencampurinya” ketika datang bulan, karena perbuatan tersebut haram hukumnya.&lt;br /&gt;Lakukan apapun yang Anda bisa, tapi jangan merusak suasana dengan menyentuh “rasa malunya dan bayangannya tentang keindahan hubungan seks”. Misalnya: melepaskan pakaian Anda sendiri dan membiarkannya menonton Anda bugil, tetapi hendaknya Anda berdua saling membukakan pakaian pasangan anda, tentu saja dibarengi canda dan rayuan.&lt;br /&gt;Hindari posisi yang membahayakannya, seperti menekan dadanya dan posisi yang bisa menyumbat pernapasannya, terutama kalau Anda mempunyai badan yang berat.&lt;br /&gt;Cari waktu yang cocok dan pertimbangkan segala sesuatunya karena kadangkala istri Anda sakit atau tidak fit karena letih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Menjaga “Dapur Keluarga”&lt;br /&gt;Setiap orang punya privasi yang tak boleh dilanggar. Rumah Tangga pun begitu juga, setiap anggotanya punya rahasia yang tidak pantas diketahui oleh orang lain. Oleh sebab itu, jangan sampai Anda mengungkapkan kepada orang lain informasi rahasia rumah tangga Anda, seperti rahasia ranjang, masalah pribadi istri Anda dan privasi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Bantulah dia di dalam ketaatan kepada Allah&lt;br /&gt;Salah satu tanggung jawab Anda sebagai seorang suami adalah Anda berkewajiban membantu istri di dalam ketaatan kepada Allah. Biasakanlah melakukan hal-hal berikut ini:&lt;br /&gt;- Bangunkan istri Anda di sepertiga malam terakhir dan ajak dia menegakkan shalat Qiyamullail&lt;br /&gt;- Ajari dia apa yang Anda ketahui dari Al Quran dan tafsirnya.&lt;br /&gt;- Ajari dia “Dzikr” (cara untuk mengingat Allah dengan mencontoh Rasulullah) di pagi dan petang.&lt;br /&gt;- Anjurkan istri Anda untuk membelanjakan uangnya di jalan yang diridhoiNya.&lt;br /&gt;- Bawa dia serta ketika mengerjakan haji dan umrah, kalau Anda mampu.&lt;br /&gt;Dalam rangka untuk menjaga sillaturrahim dengan keluarga istri Anda dan persaudaraan Islam dengan kerabat dan teman-temannya lakukan hal-hal berikut ini:&lt;br /&gt;- Ajak dia untuk mengunjungi keluarga dan kerabatnya, terutama orang tuanya.&lt;br /&gt;- Undang mereka untuk mengunjungi istri Anda dan sambutlah dan hidangkan kepada mereka jamuan yang terbaik.&lt;br /&gt;- Beri mereka hadiah di waktu yang spesial, seperti hari Raya dan lain-lain.&lt;br /&gt;- Ulurkan tangan ketika mereka membutuhkan dengan memberikan bantuan baik berupa uang maupun bantuan lainnya.&lt;br /&gt;- Jaga hubungan baik dengan keluarganya setelah Anda ditinggalkan oleh istri Anda apabila dia meninggal dunia mendahului Anda, Dalam hal ini Anda sebagai seorang suami sangat dianjurkan untuk mengikuti sunnah dengan selalu melanjutkan pemberian apapun yang biasa dilakukan oleh mendiang istri kepada siapapun yang biasa diberi ketika hidupnya, terutama dari kalangan teman-temannya dan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Pembelajaran Nilai-nilai Islam dan Pemberian Nasihat&lt;br /&gt;Tanggung jawab Anda sebagai suami yang lainnya adalah Anda berkewajiban memberi pelajaran kepada istri Anda di dalam hal-hal yang mencakup Dasar-dasar Islam, Tugas dan kewajibannya sebagai seorang Istri, Membaca dan menulis bahasa Arab, serta Hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan Wanita.&lt;br /&gt;Anda juga harus mendorong dan mendukungnya untuk menghadiri majelis ta’lim, serta membelikannya buku-buku dan Majalah Islam, kaset-kaset, CD dan VCD yang memuat ceramah dan pelajaran Islam, guna melengkapi perpustakaan pribadi di rumah Anda. Ikuti terus perkembangannya dengan evaluasi yang rutin dan terus menerus, serta berilah nasihat dan spirit jika istri Anda mulai kendor semangat belajarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Cemburu yang proporsional&lt;br /&gt;Cemburu adalah fitrah. Bahkan seorang suami harus cemburu terhadap istrinya, tetapi jangan berlebihan (cemburu buta). Kadang hubungan suami istri jadi kurang enak, karena suami yang tidak punya rasa cemburu ataupun bahkan berlebihan mencemburui istrinya. Maka dari itu patuhi rambu-rambu “cemburu” berikut ini agar rumah tangga Anda langgeng.&lt;br /&gt;- Yakinkan, bahwa dia telah menutupi tubuhnya dengan hijab yang sempurna sebelum meninggalkan rumah. Amat berbahaya apabila Anda sebagai suami tidak cemburu sama sekali manakala istri keluar rumah tapi auratnya terbuka alias tidak tertutup sesuai syariat.&lt;br /&gt;- Batasi pergaulannya, jangan sampai bercampur baur dengan laki-laki yang bukan mahram. Pintu “cemburu buta yang berlebihan” adalah dibukanya kran pergaulan lelaki dan wanita yang bukan mahram, kecuali kalau Anda menganggap wajar bila istri Anda berbicara bebas dengan lelaki asing yang bukan mahramnya.&lt;br /&gt;- Cegahlah perasaan cemburu buta, misalnya dengan menyimak setiap tutur katanya dan jangan sampai salah mengerti apa yang diucapkan sehingga melenceng jauh dari maksud istri Anda sebenarnya. Salah pengertian ini bisa membuat cemburu buta yang akibatnya mengganggu hubungan suami istri.&lt;br /&gt;- Cegahlah istri Anda dari bepergian sendirian ke luar rumah untuk keperluan yang tidak penting.&lt;br /&gt;- Cegahlah istri Anda mengangkat telepon ketika telepon berdering, manakala Anda atau anak laki-laki Anda bersamanya. Ajarilah dia menjawab seperlunya dengan intonasi yang wajar-wajar saja, bila terpaksa harus menjawab telepon dari lelaki yang bukan mahram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Sabar dan Lemah lembut&lt;br /&gt;Masalah rumah tangga adalah sesuatu yang lumrah dalam perkawinan. Yang salah adalah respon yang berlebihan dan membesar-besarkan masalah, hingga kadang ikatan pernikahan menjadi retak. Dalam menghadapi masalah, kadang suaami harus menunjukkan kemarahan kepada istri, misalnya apabila sang istri sudah keluar dari ketaatan kepada Allah dengan menunda-nunda sholat, membangkang, menonton film yang dilarang di Televisi atau bioskop dan lain-lain. Tetapi bila istri Anda menyesali perbuatannya dan menunjukkan i’tikad baiknya, maafkanlah kesalahannya.(baca poin 18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara terbaik untuk mengoreksi kekeliruannya?&lt;br /&gt;Ikuti tips berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, dengan menasihatinya secara bersendirian (jangan di depan anak-anak Anda atau orang lain, guna menjaga perasaannya), baik secara tersirat maupun tersurat. Dan lakukanlah upaya ini berulang kali jangan hanya sekali saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, bila istri Anda belum jera juga, punggungi dia di tempat tidur (untuk menunjukkan perasaan Anda), Dengan catatan, Anda tak perlu pindah dari ranjang tempat Anda biasa tidur bersama ke ranjang lainnya, atau meninggalkan rumah Anda dan pindah ke rumah lainnya ataupun tidak bicara sama sekali dengan istri Anda. Tidak perlu demikian, cukup dengan membelakanginya di tempat tidur, istri Anda sudah merasa, bahwa dia sedang ditegur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi terakhir adalah “memukulnya dengan ringan” (hal ini diperbolehkan). Dalam hal ini Anda harus memperhatikan hal berikut ini:&lt;br /&gt;Adalah merupakan sunnah untuk menjauhi langkah menghukum istri dengan memukulnya, karena Nabi Muhammad tidak pernah memukul wanita (istri-istrinya) atau budak-budaknya.&lt;br /&gt;Anda baru diperbolehkan melakukannya apabila istri Anda sudah keterlaluan dalam ketidak taatannya, misalnya sering menolak berhubungan seksual tanpa alasan yang diperbolehkan, sholat tidak pada waktunya secara terus menerus, meninggalkan rumah tanpa seijin Anda, atau menolak untuk mengatakan apa yang dialaminya ketika dia meninggalkan rumah dan lain-lain.&lt;br /&gt;Langkah di atas tak boleh Anda lakukan, kecuali setelah memunggungi istri Anda di tempat tidur dan setelah membicarakan masalah ini dengannya sebagaimana Al Quran menuntun kita.&lt;br /&gt;Anda tak boleh memukul istri Anda sampai melukainya atau memukul bagian badan yang sensistif, seperti wajah atau kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Maafkan dia dan cela perbuatannya yang buruk dengan wajar&lt;br /&gt;Jangan menjadi pendendam, setiap insan bisa berbuat salah, maafkan istri Anda bila ia melakukan kesalahan, tapi hukum dia dan celalah perbuatannya yang buruk, agar dia tidak mengulanginya lagi. Ini akan melanggengkan hubungan rumah tangga kalian berdua. Dalam hal ini perhatikanlah kiat-kiat berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah kesalahannya yang fatal saja, jangan mengungkit-ungkit kesalahannya yang kecil. Maafkan kesalahannya, tetapi beritahu dia, bahwa perhitungannnya terserah Allah terutama hal-hal yang menyangkut kesalahannya kepada Allah seperti menunda sholat dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat-ingatlah perbuatan baik istri Anda, di ketika dia melakukan kesalahan. Dan camkanlah, bahwa setiap manusia bisa berbuat salah, oleh karena itu carilah selalu alasan untuk memaafkannya, seperti misalnya, mungkin ia lelah, sedih atau sedang labil karena datang bulan, atau komitmennya kepada Islam sedang dalam pertumbuhan atau alasan-alasan masuk akal lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan sekali-kali melontarkan celaan, karena masakannya yang kurang enak, sebagaimana Rasulullah tak pernah sekalipun mencela seorangpun dari istri-istri beliau karena masalah ini. Jika menyukai masakan yang dihidangkan sang istri, beliau memakannya dan jika tak berselera, beliau tak menyantapnya dan tak memberikan komentar sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Anda menyatakan bahwa istri Anda tercinta melakukan kesalahan, cobalah pendekatan lain yang tidak langsung yang mungkin akan lebih efektif daripada teguran langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hindari penggunaan sindiran dan kata-kata sarkasme yang mungkin dapat melukai perasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila musyawarah dan diskusi untuk membicarakan kesalahan istri Anda dianggap jadi solusi terbaik, cari waktu yang tepat dan tunggu sampai Anda bisa menjaga privasi dari keberadaan pihak ketiga yang tak berkepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggulah sejenak dan bersabarlah sampai kemarahan Anda mereda. Ini sangat membantu dalam mengontrol ucapan Anda. Karena biasanya orang yang sedang marah, ucapannya jadi tak terkendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, rinci sudah penjelasan bagaimana cara membahagiakan istri Anda. Pesan kami, jangan cuma mendalami teori yang penting prakteknya!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7375266540532196859-4003555196666089054?l=hardiyansyah-ahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/feeds/4003555196666089054/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7375266540532196859&amp;postID=4003555196666089054' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/4003555196666089054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/4003555196666089054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/2009/04/18-kita-membahagiakan-istri.html' title='18 Kiat Membahagiakan Istri'/><author><name>Hardiyansyah Ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05196682395539916812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7375266540532196859.post-444627061755163895</id><published>2009-04-16T13:49:00.004+08:00</published><updated>2009-05-03T12:46:11.525+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahaya syirik kepada Allah'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;h4&gt;Bahaya Menyekutukan Allah   &lt;/h4&gt;   &lt;span class="postedby"&gt;&lt;/span&gt;Definisi syirik adalah lawan kata dari tauhid, yaitu sikap menyekutukan Allah secara dzat, sifat, perbuatan, dan ibadah. Adapun syirik secara dzat adalah dengan meyakini bahwa dzat Allah seperti dzat makhlukNya. Akidah ini dianut oleh kelompok &lt;em&gt;mujassimah&lt;/em&gt;. Syirik secara sifat artinya seseorang meyakini bahwa sifat-sifat makhluk sama dengan sifat-sifat Allah. Dengan kata lain, mahluk mempunyai sifat-sifat seperti sifat-sifat Allah. Tidak ada bedanya sama sekali. &lt;p&gt;Sedangkan syirik secara perbuatan artinya seseorang meyakini bahwa makhluk mengatur alam semesta dan rezeki manusia seperti yang telah diperbuat Allah selama ini. Sedangkan syirik secara ibadah artinya seseorang menyembah selain Allah dan mengagungkannya seperti mengagungkan Allah serta mencintainya seperti mencintai Allah. Syrik-syirik dalam pengertian tersebut, secara eksplisit maupun implisit, telah ditolak oleh Islam. Karenanya, seorang muslim harus benar-benar berhat-hati dan menghindar jauh-jauh dari syirik-syirik seperti yang telah diterangkan di atas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Contoh bentuk-bentuk syirik ada banyak. Di antaranya, pertama&lt;em&gt;, &lt;/em&gt;menyembah patung atau berhala (&lt;em&gt;al-ashnaam&lt;/em&gt;). Allah swt. menyebutnya dalam ayat berikut ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta. [QS. Al Hajj (22): 30]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya, “Wahai Bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?” [QS. Maryam (19): 42]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menyembah matahari adalah bentuk syirik yang kedua. Allah menolak orang-orang yang menyebah matahari, bulan, dan atau bintang.&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. [QS. Al A'raaf (7): 54]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah”. [QS. Fushshilat (41): 37]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bentuk syirik yang ketiga&lt;em&gt; &lt;/em&gt;adalah&lt;em&gt; &lt;/em&gt;menyembah malaikat dan jin&lt;em&gt;. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan) bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. [QS. Al An'aam (6): 100]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat, “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?” Malaikat-malaikat itu menjawab, “Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka. Bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.”. [QS. Saba' (34): 40-41]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bentuk syirik keempat adalah menyembah para nabi, seperti Nabi Isa a.s. yang disembah kaum Nasrani dan Uzair yang disembah kaum Yahudi. Keduanya sama-sama dianggap anak Allah.&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Orang-orang Yahudi berkata, “Uzair itu putera Allah,” dan orang-orang Nasrani berkata, “Al masih itu putera Allah.” Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?” [QS. At-Taubah (9): 30]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam.” Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. [QS. Al-Maidah (5): 72]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bentuk syirik yang kelima adalah menyembah rahib atau pendeta. Allah berfirman, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adi bin Hatim r.a. pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai hal tersebut, seraya berkata, “Sebenarnya mereka tidak menyembah pendeta atau rahib mereka.” Rasululah saw. menjawab, “Benar, tetapi para rahib atau pendeta itu telah mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, sementara mereka mengikutinya. Bukankah itu tindak penyembahan terhadap mereka?”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bentuk syirik yang keenam&lt;em&gt;, &lt;/em&gt;menyembah &lt;em&gt;Thaghuut&lt;/em&gt;. Istilah &lt;em&gt;thaghuut&lt;/em&gt; diambil dari kata &lt;em&gt;thughyaan&lt;/em&gt; artinya melampaui batas. Maksudnya, segala sesuatu yang disembah selain Allah. Setiap seruan para rasul intinya adalah mengajak kepada tauhid dan menjauhi &lt;em&gt;thaghuut&lt;/em&gt;. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu. Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” [QS. An-Nahl (16): 36].&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan tauhid yang murni tidak akan bisa dicapai tanpa menghindar dari menyembah thaghuut. Allah berfirman, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada thaghuut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS. Al-Baqarah (2): 256]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah bangga dengan orang-orang beriman yang menjauhi thaghuut. “Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku.” [QS. Az-Zumar (39): 17]&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bentuk syirik yang ketujuh adalah menyembah hawa nafsu. Hawa nafsu adalah kecendrungan untuk melakukan keburukan. Seseorang yang menuhankan hawa nafsu, mengutamakan keinginan nafsunya di atas cintanya kepada Allah. Dengan demikian ia telah mentaati hawa nafsunya dan menyembahnya. Allah berfirman, “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” [QS. Al-Furqaan (25): 43]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya, dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” [QS. Al-Jatsiyah (45): 23]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Macam-macam Syirik&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada dua macam syirik, yaitu syirik besar dan syirik kecil. Masing-masing dari kedua macam ini mempunyai dua dimesi: &lt;em&gt;zhahir&lt;/em&gt; (tampak) dan &lt;em&gt;khafiy&lt;/em&gt; (tersembunyi).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syirik besar (&lt;em&gt;asy-syirkul akbar&lt;/em&gt;) adalah tindakan menyekutukan Allah dengan makhlukNya. Dikatakan syirik besar karena pelakunya tidak akan diampuni dosanya dan tidak akan masuk surga. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia; dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” [QS. An-Nisaa' (4): 116]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syirik besar ini dibagi dua dimensi: &lt;em&gt;zhahir&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;kafiy&lt;/em&gt;. Contoh syirik besat yang zhahir adalah seperti menyembah bintang, matahari, bulan, patung-patung, batu-batu, pohon-pohon besar, dan manusia (seperti menyembah Fir’un, raja-raja, Budha, Isa bin Maryam, malaikat, jin dan Setan). Sementara yang &lt;em&gt;khafiy&lt;/em&gt; bisa dicontohkan seperti meminta kepada orang-orang yang sudah mati dengan keyakinan bahwa mereka bisa memenuhi apa yang mereka yakini, atau menjadikan seseorang sebagai pembuat hukum, menghalalkan dan mengharamkan seperti yang seharusnya menjadi hak Allah swt.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun syirik kecil (&lt;em&gt;asy-syirkul ashghar&lt;/em&gt;) adalah suatu tindakan yang mengarah kepada syirik, tetapi belum sampai ke tingkat keluar dari tauhid, hanya saja mengurangi kemurniannya. Syirik kecil juga dua dimensi: &lt;em&gt;dzahir&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;khafiy&lt;/em&gt;. Yang &lt;em&gt;zhahir&lt;/em&gt; bisa berupa lafal (pernyataan) dan perbuatan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Contoh yang berupa lafal adalah bersumpah dengan nama selain Allah dan mengarah ke syirik seperti “demi Nabi, demi Ka’bah, demi kakek dan nenek.” Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda, “&lt;em&gt;Man halafa bighairillahi faqad kafara wa asyraka&lt;/em&gt; (siapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka ia kafir dan musyrik).” (HR. Turmidzi nomor 1535). Termasuk lafal yang mengarah ke syirik pernyataan, “Kalau tidak karena Allah dan si fulan niscaya ini tidak akan terjadi.” Contoh yang lain adalah memberikan nama anak dengan Abdul Ka’bah dan lain sebagainya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun contoh syirik kecil zhahir yang berupa perbuatan seperti mengalungkan jimat dengan keyakinan bahwa itu bisa menyelamatkan dari mara bahaya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syirik kecil yang &lt;em&gt;khafiy&lt;/em&gt; biasanya berupa niat atau keinginan, seperti riya’ dan sum’ah. Yaitu melakukan tindak ketaatan kepada Allah dengan niat ingin dipuji orang. Seperti menegakkan shalat dengan tampak khusyu’ karena sedang di samping calon mertua. Seseorang berbuat seperti itu dengan harapan supaya dipuji sebagai orang shalih. Padahal di saat sendirian, shalatnya tidak demikian. Riya’ adalah termasuk dosa hati yang sangat berbahaya. Karena itu, Islam sangat memperhatikan sebab perbuatan hati adalah faktor yang menentukan bagi baik tidaknya perbuatan &lt;em&gt;zhahir&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah berfirman, “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” [QS. Al-Baqarah (2): 264]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda, “&lt;em&gt;Man samma’a sammallahu bihii&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;waman yaraa’ii yaraaillahu bihii&lt;/em&gt; (siapa yang menampakkan amalnya dengan maksud riya’ Allah akan menyingkapnya di hari Kiamat, dan siapa yang menunjukkan amal shalihnya dengan maksud ingin dipuji orang, Allah mengeluarkan rahasia tersebut di hari Kiamat).” (HR. Bukhari 11/288 dan Muslim nomor 2987)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bahaya-bahaya Syirik&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perbuatan syirik sangat berbahaya. Berikut ini beberapa bahaya yang akan menimpa orang-orang pelaku syirik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pertama, syirik adalah kezhaliman yang nyata. Allah berfirman, “&lt;em&gt;Innasy syirka ladzlumun adziim&lt;/em&gt; (sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar).” [QS. Luqman (31): 13]. Mengapa disebut kezhaliman yang besar? Sebab dengan berbuat syirik seseorang telah menjadikan dirinya sebagai hamba makhluk yang sama dengan dirinya yang tidak berdaya apa-apa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kedua, syirik merupakan sumber &lt;em&gt;khurafat&lt;/em&gt;. Sebab, orang-orang yang meyakini bahwa selain Allah –seperti bintang, matahari, kayu besar dan lain sebagainya– bisa memberikan manfaat atau bahaya, berarti ia telah siap melakukan segala &lt;em&gt;khurafat&lt;/em&gt; dengan mendatangi para dukun, kuburan-kuburan angker, dan mengalungkan jimat di lehernya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketiga, syirik adalah sumber ketakutan dan kesengsaraan. Allah berfirman, “Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zhalim.” [QS. Ali Imran (3): 151]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Keempat, syirik merendahkan derajat kemanusiaan si pelakunya. Allah berfirman, “Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” [QS. Al-Hajj (22): 31]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kelima, syirik menghancurkan kecerdasan manusia. Allah berfirman, “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan. Dan mereka berkata, ‘Mereka itu adalah pemberi syafa`at kepada kami di sisi Allah.’ Katakanlah, ‘Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?’ Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu).” [QS. Yunus (10): 18]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Keenam, di akhirat nanti orang-orang musyrik tidak akan mendapatkan ampunan Allah dan akan masuk neraka selama-lamanya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” [QS. An-Nisaa' (4): 116]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah juga berfirman, “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” [QS. Al-Maidah (5): 72]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sebab-sebab Syirik&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada tiga sebab fundamental munculnya prilaku syirik, yaitu al-jahlu (kebodohan), dha’ful iiman (lemahnya iman), dan taqliid (ikut-ikutan secara membabi-buta).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Al-jahlu sebab pertama perbuatan syirik. Karenanya masyarakat sebelum datangnya Islam disebut dengan masyarakat jahiliyah. Sebab, mereka tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Dalam kondisi yang penuh dengan kebodohan itu, orang-orang cendrung berbuat syirik. Karenanya semakin jahiliyah suatu kaum, bisa dipastikan kecendrungan berbuat syirik semakin kuat. Dan biasanya di tengah masyarakat jahiliyah para dukun selalu menjadi rujukan utama. Mengapa? Sebab mereka bodoh, dan dengan kobodohannya mereka tidak tahu bagaimana seharusnya mengatasi berbagai persoalan yang mereka hadapi. Ujung-ujungnya para dukun sebagai narasumber yang sangat mereka agungkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penyebab kedua perbuatan syirik adalah dha’ful iimaan (lemahnya iman). Seorang yang imannya lemah cendrung berbuat maksiat. Sebab, rasa takut kepada Allah tidak kuat. Lemahnya rasa takut kepada Allah ini akan dimanfaatkan oleh hawa nafsu untuk menguasai diri seseorang. Ketika seseorang dibimbing oleh hawa nafsunya, maka tidak mustahil ia akan jatuh ke dalam perbuatan-perbuatan syirik seperti memohon kepada pohonan besar karena ingin segera kaya, datang ke kuburan para wali untuk minta pertolongan agar ia dipilih jadi presiden, atau selalu merujuk kepada para dukun untuk suapaya penampilannya tetap memikat hati orang banyak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Taqliid sebab yang ketiga. Al-Qur’an selalu menggambarkan bahwa orang-orang yang menyekutukan Allah selalu memberi alasan mereka melakukan itu karena mengikuti jejak nenek moyang mereka. Allah berfirman, “Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata, ‘Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.’ Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” [QS. Al-A'raf (7): 28]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah.” Mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” [QS. Al-Baqarah (2): 170]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab, “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” [QS. Al-Maidah (5): 104]&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diambil dari : dakwatuna.com&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7375266540532196859-444627061755163895?l=hardiyansyah-ahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/feeds/444627061755163895/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7375266540532196859&amp;postID=444627061755163895' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/444627061755163895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7375266540532196859/posts/default/444627061755163895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/2009/04/bahaya-menyekutukan-allah-definisi.html' title=''/><author><name>Hardiyansyah Ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05196682395539916812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7375266540532196859.post-8084774720735393984</id><published>2009-04-16T13:37:00.003+08:00</published><updated>2009-05-03T12:46:37.731+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mengenang Buya Hamka'/><title type='text'>Mengenang Buya Prof. Dr. Hamka</title><content type='html'>&lt;div class="tanggal"&gt;24/4/2008 | 16 Rabbi al-Thanni 1429 H | Hits: 1.968&lt;!-- by &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/author/aidil/" title="Profil dari Aidil Heryana, S.Sosi"&gt;Aidil Heryana, S.Sosi&lt;/a&gt;  --&gt;&lt;/div&gt;  &lt;h4&gt;Pejuang Tauhid “Waratsatul Anbiya’”   &lt;/h4&gt; &lt;div align="right"&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;dakwatuna.com - &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;“Ayah hanya takut tidak bisa jawab pertanyaan Munkar Nakir!”&lt;/em&gt; Inilah jawaban tegas seorang ayah atas pertanyaan putra kesayangannya mengenai soal keengganannya untuk melakukan &lt;em&gt;seikere&lt;/em&gt; (membungkuk ke arah matahari) atas perintah tentara Jepang. Sang ayah adalah tokoh pergerakan dan ulama Minangkabau, Haji Karim Amrullah, yang biasa dikenal dengan sebutan ‘Haji Rasul’.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Terhitung sudah puluhan tahun kenangan pahit itu berlalu. Namun rasa itu seakan masih membekas. Saat tubuh-tubuh kurus kering tanpa alas kaki dibariskan. Saat sengatan matahari pagi membaluri punggung-punggung tanpa pakaian itu. Tak ada sarapan pagi, tak ada ulam dan roti, yang ada hanya caci maki dan cemeti.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Begitulah ritual pagi setiap hari di jaman Jepang, mereka diperintahkan untuk berdiri menghadap ke timur –menghormati dewa matahari– membungkuk untuk menghormati kaisar dan kembali berdiri tegak untuk dijemur di bawah terik matahari. Perintahnya adalah “Kiotskay!” (perhatian), “Kiray!” (membungkuk memberi hormat), “Nowray!” (berdiri tegak).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Masa penjajahan Jepang walaupun tidak berlangsung lama namun membawa akibat penderitaan yang cukup memprihatinkan, seluruh rakyat hidup dalam kondisi kurang pangan dan sandang disertai dengan perlakuan kasar dari bala tentara Jepang terhadap rakyat dengan tidak manusiawi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Inilah masa paling getir sepanjang perjalanan bangsa ini. Hawa penderitaan ini berembus ke seluruh pelosok tanah air tercinta. Tidak ada bahan-bahan untuk dijadikan pakaian dan makanan. Maka mulailah orang menjadi primitif dengan memakai kain tarok (kain kulit kayu) kulit yang sudah dikupas dari pohonnya dipukul sampai setipis-tipisnya lalu digunting untuk dijadikan baju. Bahkan juga ada yang memakai bahan karung goni. Muka dan lutut orang-orang saat itu bengkak (oedem) sedangkan badan kurus kering akibat busung lapar. Nasi harus dicampur dengan jagung (bukan jagung manis) dan dengan ubi kayu yang dipotong kecil-kecil.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sejarah mencatat peninggalan utama sang penjajah ‘saudara tua’ yang identik untuk masa kuasa Jepang adalah dengan kerja paksa “romusha”. Konon masa ini kondisi warga lebih berdarah-darah daripada masa penjajah sebelumnya. Tidak hanya perih “mendedikasikan” tenaga untuk memenuhi kebutuhan pembangunan pertahanan wilayah dengan menjadi pekerja romusha, menyediakan tubuh untuk pemuas nafsu seksual penjajah -&lt;em&gt;jughunianfu&lt;/em&gt; menjadi pilihan yang tidak terelakkan untuk menghindari kematian.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya, penjajah ini memanfaatkan benar situasi infrastruktur sosial ekonomi budaya yang telah dibentuk oleh penguasa sebelumnya. Bahkan meningkatkan frekuensi optimalisasi “sumber-sumber daya tersedia” dalam waktu yang relatif singkat masa pendudukannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Cerita perlawanan saat masa pendudukan ini tidak banyak rekamnya. Cukup sulit menemukan perlawanan yang ada, kemungkinan terbesar adalah karena jargon Jepang sebagai ‘Saudara Tua’ yang syarat pengharapan untuk lepas dari belenggu penguasa Belanda telah memperangah seluruh elemen warga. Haji Karim Amrullah, yang juga kondang dengan sebutan ‘Haji Rasul’ itu, tentu saja salah satu pengecualian. Beliau menolak mentah-mentah perintah yang berkonotasi ‘menyembah matahari’ itu. Ia pun sadar sepenuhnya akan risiko atas penyikapannya itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penyikapan seorang yang bertauhid, yang sadar akan hakikat kemerdekaan. Kemerdekaan atau kebebasan adalah inti dari ajaran tauhid. Boleh di bilang, wacana seputar kebebasan hampir diidentikkan dengan hak pembelaan manusia ketika berhadapan dengan sebuah kekuatan yang membelenggunya. Ia seolah tersekat oleh sesuatu yang bersifat profan, privaci dan sekuler. Hampir jarang –jika tidak ingin disebut tidak sama sekali– ia dikaitkan dengan anugerah Sang Pencipta yang sesungguhnya teramat trasenden. Spirit tauhidullah inilah yang telah melahirkan sikap penolakannya terhadap ajakan &lt;em&gt;seikere&lt;/em&gt; -khususnya-dan penjajahan itu sendiri, yang dinilainya tidak lain adalah perampasan kemerdekaan yang menjadi fitrah setiap insan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada situasi inilah tauhid yang telah jauh menghujam dalam jiwa telah menemukan relevansinya. Jika tauhid yang kita kenal dengan ungkapan “Tiada tuhan selain Allah”, yang secara teologis sering dijabarkan dengan ungkapan, “tidak ada sesembahan yang sesungguhnya patut disembah, kecuali Allah”. Kalimat ini, sebenarnya memberikan semacam &lt;em&gt;blue print&lt;/em&gt; kepada kita tentang makna pembebasan yang hakiki. Pembebasan dari penghambaan atas tuhan-tuhan yang &lt;em&gt;absurd&lt;/em&gt; (tidak mutlak), menuju kepada kebenaran mutlak (Tuhan; Allah Swt).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebab jika sasaran penghambaan mengalami bias atau terfragmentasi kepada sekian tuhan, maka akan terbayang betapa ekspresi kebebasan manusia semakin sempit dan akhirnya mengalami pemasungan sama sekali. Maka sangatlah tepat jika pada awal kalimat tauhid dimulai dengan lafadz “Lâ Ilâha illa Allah ” yang mengindikasikan pesan “protes” yang keras atas penghambaan kepada segala macam tuhan. Menuju kepada hakekat Tuhan yang memberikan kebebasan tersebut (”I:â Allah”). Hal ini dapat kita telisik melalui al-Qur’an surat Quraisy ayat 4, di mana penggambaran Tuhan di sana sangat jelas sebagai Dzat yang Maha Pembebas dari segala macam bentuk ketakutan, baik ketakutan dari kelaparan, ketiranian, pemasungan hak, kediktatoran, penindasan baik politik ataupun karakter, serta segala bentuk kebobrokan nilai lainnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tampaknya menginternalisasi betul tauhid dalam jiwa Syaikh Haji Rasul ini. Dan semua ini sejalan dengan wejangan dari Al-Ghazali (w. 505 H / 1111 M). &lt;em&gt;Hujjatul Islam &lt;/em&gt;itu mengatakan bahwa ulama seharusnya mampu menciptakan jarak dengan penguasa (&lt;em&gt;umara’&lt;/em&gt;). Ulama yang baik dan lurus tidak mendatangi para penguasa, pemerintah atau birokrat selama ada celah untuk menghindarinya. Mereka senantiasa memelihara diri dari kemungkinan dampak yang muncul akibat hubungan tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Al-Ghazali nampaknya memberikan semacam peringatan dini (&lt;em&gt;early warning&lt;/em&gt;) tentang betapa sulitnya melepaskan diri dari kepungan kondisi psikis apabila jarak itu tidak sama sekali. Sebab, hal tersebut dapat berpengaruh pada sikap kaum ulama terhadap penguasa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Inilah sesungguhnya kemandirian sikap seorang ‘ulama. Seperti diketahui, belakangan ini peran ‘ulama sebagai &lt;em&gt;handasah ijtima’yyah&lt;/em&gt; -rekayasa social–penggerak ataupun &lt;em&gt;anashir at-taghyiir&lt;/em&gt; &lt;em&gt;(agent of change&lt;/em&gt;) dalam sebuah perubahan sosial seperti sedang mengalami mati suri. Sebabnya, mungkin zaman sudah berubah tapi sang ‘ulama tak mau beradaptasi. Tetapi amat mungkin jika karakteristik ‘ulama tak seperti dulu lagi. Mereka lebih suka men(di)dekati dengan kekuasaan ketimbang menjadi pelayan umat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tak lagi menyuarakan ‘amar ma’ruf nahi munkar. Padahal melawan para penindas yang rakus sesungguhnya juga amar ma’ruf nahi munkar. Atau menentang birokrat yang rajin memperkaya diri sendiri. Namun, kedua hal ini seperti tak terbukti sekarang ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita tahu sendiri bahwa tak ada suara lantang ‘ulama menentang cuci tangannya Lapindo Brantas dalam kasus lumpur panas di Sidoarjo. Tak ada fatwa ulama menentang penggusuran di mana-mana. Tak ada pula rekomendasi khusus perdagangan perempuan, termasuk pengiriman TKW kecuali setelah didesak di sana-sini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jeritan rakyat yang dipaksa untuk menghentikan penggunaan minyak tanah karena lebih ‘bermanfaat’ jika dijual kepada swasta, nyaris tak terdengar. Yang ada hanya gemuruh dan gegap gempita ceramah ‘ulama di acara-acara seremonial. Atau paling tidak menjadi penceramah di rumah pejabat yang tak ada nuansa dakwahnya sama sekali. Bahkan, sebagiannya kini bak selebritis. Susah dicari dan acapkali mementingkan materi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Namun Syaikh Haji Rasul telah menunjukkan keyakinannya terhadap nilai ‘akidah’, maka perintah memberi hormat kepada dewa matahari itu tidak dilakukannya. Keteguhan sikap Haji Karim Amrullah itulah yang kemudian oleh putranya Hamka terus diwarisi sepanjang usia. Berkali-kali dalam situasi genting ia berani menyatakan diri menolak hal apa pun yang melanggar nilai dasar agama, meskipun itu berarti membuka lebar pintu penjara.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syeikh Abdul Karim bin Amrullah-yang dikenal sebagai Haji Rasul-seorang ulama pelopor Gerakan Islah (&lt;em&gt;tajdid&lt;/em&gt;) di Minangkabau. Haji Rasul tercatat sebagai orang pribumi pertama yang mendapat gelar doktor honoris causa dari Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Dialah ayahanda dari Prof. Dr. Hamka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syeikh Haji Rasul berayahkan seorang ‘ulama pula yaitu Syeikh Muhammad Amrullah Tuanku Abdullah Saleh. Berarti beliau inilah yang melahirkan dua orang tokoh besar di Nusantara. Seorang adalah anak beliau sendiri, Dr. Syeikh Haji Abdul Karim Amrullah. Dan yang seorang lagi adalah cucu beliau, Syeikh Abdul Malik Karim Amrullah atau nama mesra yang biasa dipanggil orang, ‘Buya Hamka’.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bila kita telusuri karakter ketiganya, sejak dari kakek (Tuan Kisa-i), ayah (Syeikh Haji Abdul Karim Amrullah) dan cucu (Buya Hamka) secara global memiliki kesamaan dalam semangat ad-da’wah ilallah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Walau sebenarnya dalam pemahaman dan langkah-langkah perjuangan mereka terdapat perbedaan-perbedaan yang cukup kentara. Seperti misalnya Sang Kakek Tuan Kisa-i tetap mengamalkan Thariqat Naqsyabandiyah, pengikut Mazhab Syafie. Pemahaman Islam Tuan Kisa-i kalau sekarang dikelompokkan sebagai kaum tradisonalislah. Karena gerakan tajdid belum tersebar luas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Anak beliau, Syeikh Haji Abdul Karim Amrullah, adalah seorang pelopor dan termasuk tokoh besar dalam gerakan tajdidnya Jamaludin Al Afghani. Syeikh Haji Abdul Karim Amrullah menolak amalan Thariqat Naqsyabandiyah, sekaligus menolak doktrin ‘taqlid’, tetapi lebih cenderung kepada pemikiran Syeikh Muhammad Abduh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img class="alignright size-medium wp-image-551" style="margin: 5px; float: right;" title="buya-hamka" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2008/04/buya-hamka.jpg" alt="" width="250" height="180" /&gt;Sementara Buya Hamka lebih memilih bersikap moderat. Dalam beberapa tulisan kadang-kadang mengecam ‘Kaum Tua’, kadang-kadang membenarkannya. Demikian halnya dengan ‘Kaum Muda’. Bahkan dalam penilaian tasawuf,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tuan Kisa-i atau Syeikh Muhammad Amrullah yang lahir pada malam Kamis 6 Rajab 1256 H/4 September 1840 M. Beliau wafat pada 1327 H/1909 M. Nama ayahnya-jadi buyutnya Buya Hamka– adalah Tuanku Abdullah Saleh. Tuanku Abdullah Saleh bergelar ‘Tuanku Syeikh Guguk Katur’ dan bergelar juga ‘Ungku Syeikh Tanjung’. Beliau seorang alim murid Abdullah Arif. Abdullah Arif bergelar juga dengan nama ‘Tuanku Pariaman’ dan ‘Tuanku Nan Tuo di Koto Tuo, IV Koto’.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Buya Hamka menulis, yang didengar dari ayahnya, tentang Tuanku Abdullah Saleh: ‘’Kata ayah saya: ‘Engku Syeikh Suku Tanjung atau Tuanku Guguk Katur itu adalah seorang ulama yang sangat besar perhatiannya kepada Ilmu Tasawuf sehingga kitab Hikam Ibnu ‘Athaillah beliau hafal di luar kepala. Beliau pun seorang cerdik ahli adat, sehingga bukan saja urusan agama yang ditanyakan orang kepada beliau, bahkan juga urusan adat’. Tambah ayahku pula: ‘Pelajaran Imam al-Ghazali tentang khalawat sangat termakan oleh beliau Tuanku Syeikh Guguk Katur atau Engku Suku Tanjung itu. Lantaran itu beliau lebih suka berkhalawat di suraunya di Guguk Katur’.” (Lihat Ayahku cetakan ketiga, Djajamurni, Jakarta, 1963, hlm. 46.)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img class="alignleft alignnone size-medium wp-image-553" style="margin: 5px; f
