02 Desember 2008

Tugas Filsafat Ilmu

UJIAN TENGAH SEMESTER

MATA KULIAH FILSAFAT ILMU

Nama : Hardiyansyah

NPM : 170130080009

Bidang Ilmu : Ilmu Sosial (S3)

Dosen Pengasuh : Prof. (em.) H.R. Husen Djajasukanta, Ir., M.Sc., Ph.D.

Tanggal : 5 Desember 2008

Soal 1

Jelaskan dengan ringkas mengapa mahasiswa peserta Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran wajib mengikuti mata kuliah mengenai Filsafat Ilmu!

Jawaban

Alasan Pentingnya Mata kuliah Filsafat Ilmu :

Filsafat ilmu membantu kita memahami bahwa sesuatu tidak selalu tampak seperti apa adanya. Filsafat ilmu membantu kita mengerti tentang diri kita sendiri dan dunia kita, karena filsafat ilmu mengajarkan bagaimana kita bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti: Siapakah diri saya? Apakah Tuhan benar-benar ada? Bagaimana seharusnya saya hidup? Bagaimana seharusnya kehidupan bersama di atur? Haruskah saya mematuhi apa yang telah diatur dalam kehidupan masyarakat? Dapatkah saya meyakini kebenaran dari setiap kepercayaan yang saya anut? Apakah hidup saya berarti dan punya makna? Apakah nilai-nilai dan kepercayaan sebenarnya hanya merupakan sebuah opini? Apakah hakikat pikiran, bahasa dan gagasan?

Filsafat ilmu membuat kita lebih kritis. Filsafat ilmu mengajarkan pada kita bahwa apa yang mungkin kita terima begitu saja ternyata salah atau menyesatkan atau hanya merupakan sebagian dari kebenaran.

Filsafat ilmu mengembangkan kemampuan kita dalam: (1) menalar secara jelas; (2) membedakan argumen yang baik dan yang buruk; (3) menyampaikan pendapat (lisan dan tertulis) secara jelas; (4) melihat sesuatu melalui kacamata yang lebih luas; dan (5) melihat dan mempertimbangkan pendapat dan pandangan yang berbeda.

Dengan mempelajari karya-karya para pemikir besar, para filsuf dalam sejarah dan tradisi filsafat ilmu, kita akan melihat betapa besar sesungguhnya pengaruh filsafat ilmu terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, agama, pemerintahan, pendidikan dan karya seni.

Filsafat ilmu memberi bekal dan kemampuan pada kita untuk memperhatikan pandangan kita sendiri dan pandangan orang lain dengan kritis. Kadang ini memang bisa mendorong kita menolak pendapat-pendapat yang telah ditanamkan pada kita, tetapi filsafat ilmu juga memberikan kita cara-cara berfikir baru dan yang lebih kreatif dalam mengahadapi masalah yang mungkin tidak dapat dipecahkan dengan cara lain. .

Soal 2

Anda telah dan dapat memperoleh informasi mengenai perkembangan pengetahuan/sains dan filsafat ilmu dengan berbagai aliran filsafat yang mendasarinya sejak zaman Yunani kuno sampai sekarang?

Apa pendapat/kritik Anda melalui pembandingan dengan buku-buku yang telah membahasnya, di antaranya: (i) buku-buku Hidayat Nataatmaja, terutama “Krisis Manusia Modern” (1994), (ii) Mahdi Ghulsyani (1988): “Filsafat Sains menurut al-Quran”, terutama bagian “Pengantar” oleh Haidar Bagir dan Zainal Abidin (“Filsafat Sains Islam, Kenyataan atau Khayalan”), (iii) Syed Muhammad Naquib al-Attas (1995): “Islam dan Filsafat Sains”, (iv) Herman Soewardi (1999): “Roda Berputar Dunia Bergulir, Kognisi Baru Tentang Timbul Tenggelamnya Sivilisasi” dan buku-bukunya yang lain, (v) Donny Gahral Adian (2002): “Menyoal Obyektivisme Ilmu Pengetahuan”.

Jawaban

Perkembangan pengetahuan/sains dan filsafat ilmu dengan berbagai aliran filsafat yang mendasarinya sejak zaman Yunani kuno sampai sekarang secara ringkas diuraikan sebagai berikut:

1. Zaman Pra Yunani Kuno

Pada zaman ini perkembangan pengetahuan manusia ditandai oleh pengetahuan apa dan bagaimana (know how) yang diperoleh manusia itu melalui kemampuan : (1) mengamati; (2) membedakan; (3) memilih; dan (4) kemampuan untuk melakukan percobaan yang berlandaskan pada prinsip coba dan salah (trial and error).

Pada masa ini tidak lepas dari konsep Homo Sapiens yaitu manusia selaku hewan (mahluk) berfikir, yang memiliki potensi kreatif untuk mulai mengolah makanan, dengan menemukan kekuatan dan benda alam yang dapat dimampaatkan seperti api, air dan besi.

2. Zaman Yunani Kuno

Zaman ini dikenal sebagai zaman keemasan filsafat dimana pada zaman ini manusia tidak lagi menerima apa adanya, tapi mulai mempertanyakan (Rasio) dengan daya abstraksi yang didorong oleh kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Dimana terdapat empat daya untuk melakukan abstraksi yaitu :

a. Kebiasaan untuk mencatat informasi dan pengumpulan informasi tersebut secara sistematik, sehingga akumulasi pengetahuan dan pengalaman tersebut mulai masuk pada tahapan kehidupan yang lebih teratur dan murni dibandingkan masa berlangsung tradisi lisan.

b. Aplikasi dalam penemuan baru seperti peta perbintangan, sehingga menimbulkan anggapan tentang siklus matahari, bulan, minggu dan hari yang menjadi dasar pembuatan kalender.

c. Adanya kalender, sehingga acara kehidupan dan upacara dalam daur hidup (life cycle) lebih pasti waktunya.

d. Realisasi potensi imajinatif dan elaborasi daya kreasi manusia berlangsung dengan menggunakan bahan-bahan untuk memungkinkan penciftaan, seperti patung, hiasan, atau relief yang mengandung nilai artistik.

Filosof dari masa ini terbagi atas dua kelompok yaitu :

  1. Filosof-filosof Alam seperti :

a. Thales (624-548 SM)

b. Anaximander (610-547SM)

c. Anaximenes (546SM)

Ketiga tokoh ini adalah penganut aliran lonia atau Asia Minor, dimana Thales merupakan peletak dasar ilmu astronomi, geometri dan filsafat Yunani. Yang mempersoalkan tentang bobot kebenaran dari mitologi dan mencari prinsip dasar diluar uraian mitologi itu, yang mengatakan azas pertama (arkhe) alam semesta adalah air.

Menurut Anaximander prinsip pertama itu haruslah definite dan infinite, dan menurut tokoh lainnya, Anaximenes adalah udara.

Aliran berikutnya adalah Pithagorean dengan tokoh utamanya Pythagoras

yang menyatakan bahwa Alam, rasio dan kepastian, semuanya itu didasarkan pada angka, ukuran dari kepastian dan kebenaran itu adalah sistem numerikal.

Kritik terhadap aliran ionia adalah dari aliran Elea, dengan tokohnya Parmenides yang mengemukan bahwa segala sesuatu itu adalah satu dari adanya sesuatu, dan perubahan dianggap tidak ada, yang seandainya ada maka perubahan tersebut adalah sekedar ilusi belaka.

Aliran yang lain adalah Naturalis atau fisiologis dengan tokoh-tokoh seperti Empodoclas, Anaxagoras, dan Democritus. Menurut Empodocles bahwa prinsip dasar yang menggerakan segala sesuatu itu adalah cinta dan kebencian, suatu kecendrungan yang mengarah ke voluntarisme; sedangkan Anaxagoras menjelaskan bahwa sifat hakekat dari budi adalah sebagai ruang, karena budi itu haruslah mampu memuat semuanya. Democritus mengemukakan ajaran tentang otomos, yaitu partikel yang sangat kecil tetapi memiliki struktur dan bentuk, yang kemudian dari otomos itu terjadi agregat yang dapat diterima oleh pancaindera manusia.

Aliran yang lain adalah Aliran Sofis, dengan tokoh utamanya Protogoras, yang dipandang sebagai tokoh relativisme awal, yang mengajarkan bahwa setiap manusia itu dapat menentukan dengan sesuka hatinya akan hal yang benar dan tidak benar.

  1. Filosof-filosof Manusia seperti :

a. Socrates (470-399SM)

b. Plato (429-347SM)

c. Aristoteles (384-322SM)

Socrates adalah seorang moralis yang menganggap bahwa kepastian dan kebenaran itu dapat dicari dan ditemukan melalui jalan atau cara Dialektika. Dialektika adalah mempermasalahkan sesuatu itu secara terus-menerus sampai akhirnya akan dirasakan menemukan kepastian, dan karena itu orang juga kemudian sudah tidak bisa menanyakan apapun lebih lanjut lagi akan hal yang dipermasalahkan itu.

Plato berpendapat bahwa bahwa pengetahuan tidaklah sama dengan perasaan, karena sifat intelektual itu diterima dari pengetahuan. Ide absolut adalah sumber dari segala pengetahuan yang berlangsung melalui proses remembrance.

Aristoteles adalah seorang relis yang bersikap kritis, tajam dan memiliki pemikiran mendasar; karyanya adalah Politics, yang merupakan kritik terhadap Plato yang nota bene adalah gurunya. Ajaran Aristoteles yang mendasar tentang pengetahuan ialah, bahwa pengetahuan itu dipandang sebagai hubungan yang bersifat relasional antara subyek dan obyek serta dengan berbagai implikasinya.

Plato dan Aristoteles mengembangkan teori koherensi berdasarkan pola pemikiran yang dipergunakan Euclid dalam menyusun ilmu ukurnya.

3. Zaman Pertengahan

Periode ini dikenal sebagai Filsafat abad pertengahan yang berpusat pada kebenarna wahyu tuhan (teosentrisme). Dengan tokoh-tokohnya :

  1. Thomas Aquinas (1225-1274M)

ii. St Bona Ventura (1221-1257M)

Mereka dikenal dengan melakukan rekonsiliasi antara akal dengan wahyu dengan pernyataannya : ”ansilla Theologia”.

iii. St Agustinus (1354-1430M)

Berpendapat bahwa kebenaran utama adalah kebenaran theologis dan wahyu tuhan, manusia tidak dapat mencapai kebenaran sejati tanpa iluminasi kebenaran dari tuhan. Pada saat itu Eropa dalam masa kegelapan (Dark age), sedangkan dunia islam sedang dalam zaman keemasan (golden age) terutama zaman Bani Umayyah, yang setidaknya ditandai oleh tiga hal:

a. Waktu itu ditemukan cara pengamatan astronomi sebelum Galilei dan Copernicus.

b. Penerjemahan berbagai karya filosofi Yunani kedalam bahasa Arab oleh masyarakat muslim asia tengah, dan dari situ baru sampai ke barat.

c. Ditemui 5 ciri kemajuan yaitu : toleransi; universal; pasar bertarap internasional; penghargaan terhadap ilmu dan ilmuwan dan; kebutuhan dan sarana islam.

Filosof-filosof Islam lainnya seperti:

- Al-Khawarizmi, menyusun buku aritmetika dan aljabar yang merupakan permulaan angka desimal yang sebelumnya angka yunani.

- Ibnu Sina (Ariccana), yang merupakan filosof bidang kedokteran

- Ibnu Rusyd (Averreos), seorang ahli astronomi

- Jamaludin, seorang arsitek.

4. Zaman Modern

Sejarah pemikiran pada zaman modern dapat dibagi dalam 3 tahapan, yang dijelaskan sebagai berikut :

a. Masa Modern Mula

Dengan Tokoh-tokoh dan sumbangan pemikirannya adalah sebagai berikut :

  • Nicolaus (1401-1446), kardinal, yang ahli matematika dan ilmu ukur yang berupaya untuk menumbuhkan konkordansi, mencari konsensus atau titik temu antara berbagai aliran yang berada dalam konflik.
  • Nicolao Bernardo Machiavelli (1469-1527), pemikirannya tentang politik dan negara menurut Modo-geometrico suatu model seperti halnya dalam ilmu-ilmu alam dan itu dilakukan untuk memperoleh kepastian dalam politik.
  • Gallileo-Gallilei (1454-1642), guru besar di Pisa dan Padua yang menerima anggapan Copernicus bahwa bumi ini mengelilingi matahari; Gallilei adalah seorang matematikus, dan peletak dasar bagi fisika modern.
  • Rene Descartes ( -1650), karya tulisnya adalah Discours de la methode, Meditationes de prima philosophia, Passions de Fame dan La Monde. Atas dasar adanya kepastian, menurut anggapannya maka kekecauan keadaan pemikiran itu dapat diatasi. Dubium methodicum atau upaya mencari kepastian, yaitu dengan cara meragukan sesuatu terlebih dahulu. Hal ini serupa seperti apa yang dilakukan Socrates dalam dialektikanya cogito, ergo sum yang oleh Descartes dirumuskan menjadi the fact of my existence as a thinking subject.
  • Tokoh-tokoh lain zaman ini antara lain adalah : Benedict Spinoza (1632-1667), Francis Bacon (1561-1626), Gottfried Wilhelm Leibnitz (1646-1716), Thomas Hobbes (1588-1676), Jhon Locke (1632-1714), Newton (1662-1727).

b. Masa Aufklarung

Aufklarung adalah gerakan pencerahan, atau Enlightenment, telah memberikan pengaruh besar dalam kemerdekaan berfikir, dan pemikiran baru dalam politik, kenegaraan, hukum, sastra dan pemikiran keagamaan. Gerakan ini merupakan pemacu utama dari evolusi progresif dari jaman modern sampai kini, yang mendorong keinginan dan kehendak akan kemajuan intelektual, karena itu pula Revolusi Perancis dan Amerika terkait dengan gerakan Aufklarung, yang kemudian menimbulkan berbagai ideologi modern.

Beberapa tokoh gerakan ini dan pemikirnya dapat dikemukakan dalam uraian tentang Diderot; D’alambert; Hegel dan Schopenhauer.

c. Masa Aliran Idealisme dan Positivisme

Para pemikir Aufklarung ialah Diderot; D’alambert; Voltaire dan JJ Rousseau; kemudian di masa ini juga tumbuh idealisme dan usaha membangun sistem semesta karena pengetahuan itu tumbuh menjadi multi pelikatif dan desintegratif. Dalam upaya membangun sistem yang bersifat semesta itu maka termasuk tokoh-tokoh seperti Imannuel Kant, Fichle, Schelling, Hegel dan Schopenhauer, yang juga dianggap sebagai pelopor idealisme yang bersifat intelektualistik dan volunaristik. Positivisme jugo mendorong pertumbuhan berbagai ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan alam dan ilmu tentang manusia dan masyarakatnya serta berbagai faham atau aliran pemikiran.

Pertama kali istilah positivisme digunakan oleh, yang kemudian disebarkan Auguste Compte di Perancis, dan Vond Feurbuch di Jerman. Aliran ini menolak segala pemikian kesiflafatan dan theologikal, karena itu hanya menerima wujud kepastian. Pistivisme itu menganggap bahwa ilmu pengetahuan adalah satu-satunya wujud dari kepastian.

5. Zaman Fislafat Kontemporer (Abad 20)

Terdapat tiga aliran yang menonjol, yaitu sebagai berikut:

  1. Aliran Positivisme, merupakan puncak dari empirisme, dimana empirisme yang ekstrim dipelopori oleh A. Comte. Ilmu yang benar memiliki kriteria:

- Eksplanotoris dan analitis

- Memiliki metode

- Tidak dibedakan dengan manusia maupun dengan alam sekitarnya.

Positisme ditandai tiga hal, yaitu kesatuan ilmu (pradigma sama), kesatuan bahasa dan kesatuan metode.

  1. Aliran Behaviorisme, aliran ini menganggap manusia lebih dari sekedar benda mati. Tokoh utamanya Cassirer, yang menyatakan manusia merupakan mahluk simbolik karena mampu menjawab rangsangan dan tanggapan.
  2. Aliran Posmodernism, merupakan filsafat menganai sain dan sain dianggap sebagai agama baru.

Kritik-kritik yang telah dikemukakan pada aliran-aliran perkembangan pengetahuan/sains adalah:

a. Kritik terhadap Rasionalisme,

- Pengetahuan rasional dibentuk oleh idea yang tidak dapat dilihat maupun diraba.. Eksistensi tentang idea yang sudah pasti maupun yang bersifat bawaan itu sendiri belum dapat dikuatkan oleh semua manusia dengan kekuatan dan keyakinan yang sama. Lebih jauh terdapat perbedaan pendapat yang nyata diantara kaum rasionalis itu sendiri mengenai kebenaran dasar yang menjadi landasan dalam menalar. Plato, St. Augustine, dan Descartes masing-masing mengembangkan teori-teori rasional sendiri yang berbeda.

- Banyaknya diantara manusia yang berpikiran jauh merasa bahwa mereka menemukan kesukaran yang besar dalam menerpkan konsep rasional kepada masalah kehidupan yang praktis. Kecenderungan terhadap abstraksi dan kecenderungan dalam meragukan serta menyangkal sahnya pengalaman keinderaan telah dikritik oerang habis-habisan.

- Teori rasional gagal dalam menjelaskan perubahan dan pertambahan pengetahuan manusia selama ini. Banyak dari idea yang sudah pasti pada satu waktu kemudian berubah pada waktu yang lain.

b. Kritik terhadap Empirisme

- Empirisme didasarkan pada pengalaman. Tetapi apakah yang disebut pengalaman? Sekali waktu dia hanya berarti rangsangan pacaindra. Lankali dia muncul sebagai sebuah sensasi ditambah dengan penilaian. Sebagai sebuah konsep, ternyata pengalaman tidak berhubungan langsung dengan kenyataan obyektif yang sangat ditinggikan oleh kaum empiris. Kritikus kaum empiris menunjukkan bahwa fakta tak mempunyai apapapun yang bersifat pasti.

- Sebuah Teori yang sangat menitikberatkan pada persepsi panca indera, kiranya melupakan kenyataan bahwa pancaindera manusia adalah terbatas dan tidak sempurna. Empirisme tidak mempunyai perlengkapan untuk membedakan hayalan dan fakta.

- Empirisme tak memberikan kita kepastian. Apa yang disebut pengetahuan yang mungkin, dalam pengertian di atas merupakanpengetahuan yang seluruhnya diragukan.

d. Kritik terhadap metode keilmuan

- Metode keilmuan membatasi secara begitu saja mengenai apa yang dapat diketahui manusia, yang hanya berkisar pada benda-benda yang dapat dipelajari dengan alat dan teknik keilmuan. Tuntutan bahwa ilmu adalah satu-satunya cara dalam memperoleh pengetahuan secara sah mempunyai arti bahwa kita hanya mempertahankan dunia seluas apa yang diketahui lewat metoda tersebut.

- Ilmu memperkenankan tafsiran yang banyak terhadap suatu benda atau kejadian. Tiap tafsiran mungkin saja benar sejauh apa yang dikemukakan. Berbagai-bagai hipotesis yang semuanya adalah sah dapat diajukan dalam menjelaskan serangkaian fakta tertentu, meskipun tiap hipotesis mungkin mempergunakan bahasa atau istem klasifikasi yang berbeda. Kesatuan dan konsistensi dari pengetahuan ternyata tidak sejelas apa yang kita duga.

- Ilmu menggambarkan hakekat mekanistis-bagaimana benda-benda berhubungan satu sama lain secara sebab akibat-namun ilmu tidak mengemukakan apakah hakekat benda itu, apalagi mengapa benda itu ada seperti itu. Pengujian kebenaran keilmuan pada dasarnya bersifat pragmatis; tentu saja banyak gunanya dalam mengetahui bahwa “jika x, maka y”, tetapi juga manusia juga ingin tahu apakah sebenarnya kenyataan itu dan apakah maknanya-alasan eksistensi dari benda-benda itu. Dalam hal-hal seperti di atas, ilmu tetap membisu.

- Pengetahuan keilmuan, meskipun sangat tepat, tidaklah berarti bahwa hal ini merupakan keharusan, universal maupun tanpa persyaratan tertentu. Karena ilmu mengakui bahwa dia tidak mampu untuk menyediakan pengetahuan yang pasti dan lengkap, kita mempunyai cukup alasan untuk berpaling kepada metode-metode yang lain, dengan mengisi pengetahuan yang tidak terjangkau oleh kegiatan keilmuan.

Selanjutnya, Menurut Hidayat Nataatmaja (1994) dalam “Krisis Manusia Modern” secara tegas dan cermat menyatakan bahwa “Manusia yang belum merdeka dalam arti subjektif kalau diberi hak kemerdekaan dalam arti objektif akan menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk memperbudak orang lain, dan karena itu mustahil mereka menyadari hakikat perbudakan yang mereka jalankan terhadap orang lain, sehingga lahirlah Ilmu maling teriak maling”. Akibatnya sampai hari ini Indonesia sebagai bangsa, kurang manusiawi dalam pendidikan, kesehatan dan daya beli, keadilan, lingkungan yang porak poranda dengan illegal loggingnya, termasuk dalam kebebasan beragama seperti yang terjadi akhir-akhir ini terjadi bentrokan bahkan pembakaaran tempat ibadah antara salah satu golongan terhadap golongan lain yang mengakibatkan terjadi pengebirian serta kecurigaaan antara sesama anak bangsa . Apapun sebabnya segala bentuk pemerkosaan keyakinan dan penyempitan, pemberangusan, pembredelan, pembodohan dan pembusukan yang dilakukan secara structural maupun cultural telah berhasil membuat bangsa ini melupakan panggilan tanggungjawabnya terhadap prikemanusian dan perikeadilan yang beradab.

Kemudian, Mahdi Ghulsyani mengemukakan dalam “Filsafat Sains menurut al-Quran”, bahwa Al-Quran memang merupakan Kitab petunjuk bagi manusia, dan mencakup apa saja yang diperlukan manusia dalam wilayah iman dan amal. Al-Quran bukan merupakan ensiklopedi sains, dan mencocok-cocokkannya dengan teori-teori sains yng berubah tidaklah tepat. Tetapi, hal yang juga tidak bisa dipungkiri bahwa Al-Quran memberi rujukan-rujukan terhadap sebagian fenomena alam. Hal ini bukan untuk mengajarkan sains, tetapi harus digunakan sebagai bantuan dalam menarik perhatian orang kepada keagungan Allah dan dengan begitu membawanya dekat kepada-Nya. Kemajuan sains juga membawa membawa kemudahan dalam memahami berbagai ayat-ayat kealaman, misalnya : Tidakkah mereka orang-orang kafir itu melihat bahwa langit dan bumi keduanya dulu merupakan sesuatu yang padu, kemudian kami pisahkan keduanya, dan dari air kami jadikan segala-sesuatu yang hidup (21:30). Merujuk kepada evolusi jagad raya dan peranan air dalam kehidupan. Pendapat ini sesuai dengan Al-Maraghi : "Bukan maksud saya untuk mengatakan bahwa Kitab Suci ini mencakup secara rinci atau ringkas, seluruh sains dalam gaya buku teks, tetapi saya ingin mengatakan bahwa Al_Quran mengandung prinsip-prinsip umum dalam artian seseorang dapat menurunkan seluruh pengetahuan tentang fisik dan spiritual manusia yang ingin diketahuinya dengan bantuan prinsip-prinsip tersebut. Adalah penting untuk tidak memperluas makna ayat sejauh itu, agar kita dapat menafsirkannya dalam sorotan sains. Juga seseorang tidak boleh melebih-lebihkan penafsiran fakta-fakta ilmiah sehingga cocok dengan Al-Quran. Bagaimana pun, jika makna lahiriah ayat itu konsisten dengan sebuah fakta ilmiah yang mantap, kita dapat menafsirkannya denga bantuan fakta itu. Pesan Al-Quran bagi Ilmuwan Muslim; dalam Al-Quran terdapat lebih dari 750 ayat membahas berbagai fenomena alam. Ayat-ayat ini melibatkan sebuah pesan penting bagi para ilmuwan Muslim. (1) Dianjurkan untuk mengkaji seluruh aspek alam dan menemukan misteri-misteri penciptaan. "Dan pada penciptaan kalian dan pada binatang0binatang melata itu terdapat ayat-ayat bagi kaum yang meyakininya (45:5)”; Tetapi mengkaji ayat-ayat keilmuan dalam Al-Quran harus mendorong kaum Muslim untuk mengejar sains dan tidak hanya terpaku pada petunjuk-petunjuk yang ada; (2) Ayat-ayat itu menegaskan bahwa segala sesuatu di dunia itu teratur dan bertujuan. Dan tidak ada cacat. "... Dan Dia ciptakan segala sesuatu, kemudian Dia mengaturnya dengan sangat tepat (25:2)”; (3) Al-Quran menyuruh kita mengenali hukum-hukum alam (pola-pola Allah di alam semesta) dan mengeksploitasinya untuk kesejahteraan manusia dengan tidak melampaui batas-batas syariah. " .... Allah telah meninggikan langit dan menyeimbangkannya. janganlah kalian menyalahi keseimbangan (55:5-8)”. Eksploitas material harus menggiring kita pada kemajuan spiritual dan bukan menghancurkannya; (4) Sains adalah perwujudan berbeda dari satu dunia yang diciptakan dan yang dikelola oleh satu Tuhan. Karena itu kombinasi ilmu-ilmu tersebut harus menggiring kita kepada gambaran tunggal dunia; (5) Al-Quran dan hubungannya dengan sains, adalah keunikan pandangan dunia dan epistemologinya. Kebanyakan kesalahan yang terjadi pada perkembangan sains memiliki akar pada pandangan materialistik yang menyertai sains modern. Al-Quran memperingatkan kita pada perangkap-perangkap ini dan memberitahukan rintangan-rintangan terhadap pengetahuan alam yang benar kepada kita.

Syed Muhammad Naquib al-Attas menyadari bahwa “virus” yang terkandung dalam Ilmu Pengetahuan Barat modern­sekuler merupakan tantangan yang paling besar bagi kaum Muslimin saat ini. Dalam pandangannya, peradaban Barat modern telah membuat ilmu menjadi problematis. Selain telah salah-memahami makna ilmu, peradaban Barat juga telah menghilangkan maksud dan tujuan ilmu. Sekalipun, peradaban Barat modern menghasilkan juga ilmu yang bermanfaat, namun peradaban tersebut juga telah menyebabkan kerusakan dalam kehidupan manusia. Dalam pandangan Syed Muhammad Naquib al-Attas, Westernisasi ilmu adalah basil dan kebingungan dan skeptisisme. Westernisasi ilmu telah mengangkat keraguan dan dugaan ke tahap metodologi ‘il­miah.’ Bukan hanya itu, Westernisasi ilmu juga telah menjadikan keraguan sebagai alat epistemologi yang sah dalam keilmuan. Menurutnya lagi, Westernisasi ilmu tidak dibangun di atas Wahyu dan kepercayaan agama. Namun dibangun di atas tradisi budaya yang diperkuat dengan spekulasi filosofis yang terkait dengan kehidupan sekular yang memusatkan manusia sebagai makhluk rasional. Akibatnya, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai etika dan moral, yang diatur oleh rasio manusia, terus menerus berubah. Ilmu pengetahuan modern yang diproyeksikan melalui pandangan-hidup itu dibangun di atas visi intelektual dan psikologis budaya dan peradaban Barat. Menurut Syed Muhammad Naquib al­Attas, ada 5 faktor yang menjiwai budaya peradaban Barat: (1) akal diandalkan untuk membimbing kehidupan manusia; (2) bersikap dualistik terhadap realitas dan kebenaran; (3) menegaskan aspek eksisterisi yang memproyeksikan pandangan hidup sekular; (4) membela doktrin humanisme; (5) menjadikan drama dan tragedi sebagai unsur-unsur yang dominan dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan. Karena ilmu pengetahuan dalam budaya dan peradaban Barat itujustru menghasilkan krisis ilmu pengetahuan yang berkepanjangan, Syed Muhammad Naquib al-Attas berpendapat ilmu yang berkembang di Barat tak semestinya harus diterapkan di dunia Muslim. Ilmu bisa dijadikan alat yang sangat halus dan tajam bagi menyebarluaskan cara dan pandangan hidup sesuatu kebudayaan. Sebabnya, ilmu bukan bebas-nilai (value-free), tetapi sarat nilai (value laden). Memang antara Islam dengan filsafat dan sains modern, sebagaimana yang disadari oleh Syed Muhammad Naquib al­Attas terdapat persamaan khususnya dalam hal-hal yang menyangkut sumber dan metode ilmu, kesatuan cara mengetahui secara nalar dan empiris, kombinasi realisme, idealisme dan pragmatisme sebagai fondasi kognitif bagi filsafat sains; proses dan filsafat sains. Bagaimanapun, ia menegaskan terdapat juga sejumlah perbedaan mendasar dalam pandangan hidup (divergent worldviews) men­genai Realitas akhir. Baginya, dalam Islam, Wahyu merupakan sumber ilmu tentang realitas dan kebenaran akhir berkenaan dengan makhluk ciptaan dan Pencipta. Wahyu merupakan dasar kepada kerangka metafisis untuk mengupas filsafat sains sebagai sebuah sistem yang meng­gambarkan realitas dan kebenaran dan sudut pandang rasionalisme dan empirisme. Tanpa Wahyu, ilmu sains dianggap satu-satunya pengetahuan yang otentik (science is the sole authentic knowledge). Kosong dari Wahyu, ilmu pengetahuan ini hanya terkait dengan fenomena. Akibatnya, kesimpulan kepada fenomena akan selalu berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Tanpa Wahyu, re­alitas yang dipahami hanya terbatas kepada alam nyata ini yang dianggap satu­satunya realitas. Mendiagnosa virus yang terkandung dalam Westernisasi ilmu, Syed Muhammad Naquib al-Attas mengobatinya dengan Islamisasi ilmu. Alasannya, tantangan terbesar yang dihadapi kaum Muslimin adalah ilmu pengetahuan modern yang tidak netral dan telah diinfus ke dalam praduga-praduga agama, budaya dan filosofis, yang sebenarnya berasal dan refleksi kesadaran dan pengalaman manusia Barat. Jadi, ilmu pengetahuan modern harus diislamkan. Mengislamkan ilmu bukanlah pekerjaan mudah seperti labelisasi. Selain itu, tidak semua dan Barat berarti ditolak, karena terdapat sejumlah persamaan dengan Islam seperti disebutkan di atas. Oleh sebab itu, seseorang yang mengislamkan ilmu, perlu memenuhi prasyarat, yaitu ia harus mampu mengidentifikasi pandangan­hidup Islam (the Islamic worldview) sekaligus mampu memahami budaya dan peradaban Barat. Pandangan hidup dalam Islam adalah visi mengenai realitas dan kebenaran (the vision of reality and truth). Realitas dan kebe­naran dalam Islam bukanlah semata-mata fikiran tentang alam fisik dan keterlibatan manusia dalam sejarah, sosial, politik dan budaya sebagaimana yang ada di dalam konsep Barat sekular mengenai dunia, yang dibatasi kepada dunia yang dapat dilihat. Realitas dan kebenaran dimaknai berdasarkan kajian metafisis terhadap dunia yang nampak dan tidak nampak. Jadi, pandangan hidup Islam mencakup dunia dan akhirat, yang mana aspek dunia harus dihubungkan dengan cara yang sangat mendalam kepada aspek akhirat, dan aspek akhirat memiliki signifikansi yang terakhir dan final. Pandangan hidup Islam tidak berdasarkan kepada metode dikotomis seperti obyektif dan subyektif, historis dan normatif. Namun, realitas dan kebenaran dipahami dengan metode yang menyatukan. Pandangan hidup Islam bersumber kepada wahyu yang didukung oleh akal dan intuisi. Substansi agama seperti: nama, keimanan dan pengamalannya ibadahnya, doktrinya serta sistem teologinya telah ada dalam wahyu dan dijelaskan oleh Nabi. Islam telah lengkap, sempurna dan otentik. Tidak memerlukan progresifitas, perkembangan dan perubahan dalam hal-hal yang sudah sangat jelas (al-ma‘lum min al-din bi al-darürah). Pandangan hidup Islam terdiri dan berbagai konsep yang saling terkait seperti konsep Tuhan, wahyu, pen­ciptaan, psikologi manusia, ilmu, agama, kebebasan, nilai dan kebaikan serta kebahagiaan. Konsep-konsep tersebut yang menentukan bentuk perubahan, perkembangan dan kemajuan Pandangan hidup Islam dibangun atas konsep Tuhan yang unik, yang tidak ada pada tradisi filsafat, budaya, peradaban dan agama lain. Oleh sebab itu, Islam adalah agama sekaligus peradaban. Islam adalah agama yang mengatasi dan melintasi waktu karena sistem nilai yang dikandungnya adalah mutlak. Kebenaran nilai Islam bukan hanya untuk masa dahulu, namun juga sekarang dan akan datang. Nilai-nilai yang ada dalam Islam adalah sepanjang masa. Jadi, Islam memuliki pandangan hidup mutlaknya sendiri, merangkumi persoalan ketuhanan, kenabian, kebenaran, alam semesta dll. Islam memuliki penafsiran ontologis, kosmologis dan psikologis tersendiri terhadap hakikat. Islam menolak ide dekonseknasi nilai karena merelatifkan semua sistem akhlak. Setelah mengetahui secara mendalam mengenai pandangan hidup Islam dan Barat, maka proses Isiamisasi baru bisa dilakukan. Sebabnya, Islamisasi ilmu pengetahuan saat ini (the Islainization of present-day knowledge), melibatkan dua proses yang saling terkait: mengisolir unsur-unsur dan konsep­konsep kunci yang membentuk budaya dan peradaban Barat (5 unsur yang telah disebutkan sebelumnya), dan setiap bidang ilmu pengetahuan modern saat ini, khususnya dalam ilmu pengetahuan humaniora. Bagaimanapun ilmu-ilmu alam, fisika dan aplikasi harus diislamkan juga khususnya dalam penafsiran-penafsiran akan fakta-fakta dan dalam formulasi teori-teori. Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, jika tidak sesuai dengan pandangan hidup Islam, maka fakta menjadi tidak benar. Selain itu, ilmu-ilmu modern harus diperiksa dengan teliti. ini mencakup metode, konsep, praduga, simbol dan ilmu modern; beserta aspek-aspek empiris dan rasional, dan yang berdampak kepada nilai dan etika, penafsiran historisitas ilmu tersebut, bangunan teori ilmunya, praduganya berkaitan dengan dunia, dan rasionalitas proses-proses ilmiah, teori ilmu tersebut tentang alam semesta, klasifikasinya, batasannya, hubungan dan kaitannya dengan ilmu-ilmu lainnya serta hubungannya dengan sosial harus diperiksa dengan teliti. Memasukkan unsur-unsur Islam beserta konsep-konsep kunci dalam setiap bidang dan ilmu pengetahuan saat ini yang relevant. Jika kedua proses tersebut selesai dilakukan, maka Islamisasi akan membebaskan manusia dan magik, mitologi, animisme, tradisi budaya nasional yang bertentangan dengan Islam, dan kemudian dan kontrol sekular kepada akal dan bahasanya. Islamisasi akan membebaskan akal manusia dan keraguan, dugaan (zann) dan argumentasi kosong menuju keyakinan akan kebenaran mengenai realitas spiritual, intelligible dan maten. Islamisasi akan mengeluarkan penafsiran-penafsiran ilmu pengetahuan kontemporer dan ideologi, makna dan ungkapan sekular.

Dalam pandangan Herman Soewardi, sejalan dengan pandangan Kuhn dan Tarnas menyatakan SBM (dalam istilahnya adalah Sains Barat Sekuler) ahirnya menjurus kepada 3-R. ialah Resah Renggut. Rusak. Resah ialah orangnya. Renggut perenggutan negara-negara berkembang oleh negara-negara maju, dan rusak adalah kerusakan alam yang menyeluruh. Resah: sifat resah orang-orang barat. Atau “insecurity feeling “seperti dikatakan oleh Eric Fromm, bukan merupakan sifat “intrinsic “. Akan tetapi merupakan akibat dan pandangan dan sepak terjang masyarakat barat itu sendiri. Eric Fromm menguraikan bahwa dasar bagi terjadinya sifat ini berpokok pangkal pada “freedom” yang merupakan acuan individu dan masyarakat namun suatu kebebasan yang “menyebelah” secara psikologis ia juga “submissiveness” sama-sama diperlukan. Kebebasan atau freedom yang menyebelah ini lama kelamaan menjadikan mereka tidak tahan (“unbearable”) mengahadapi-nya, maka mereka pun minggat dari kebebasan itu. Dalam tiga bentuk: sadism, masochism, dan automation itu. (lihat fromm “Escape from freedom”. 1941).selanjutnya “feeling of insecurity”ini menjadikan mereka bergulat sungguh-sungguh agar bisa menguasai segala yang mereka perlukan sebanyak-banyaknya. Namun kata Fromm, semua orang barat begitu. Maka mereka mau tidak mau harus berkompetisi secara ketat dengan sesama mereka. Maka menjelmalah masyarakat barat sebagai masyarakat konflik. Kemudian, dalam bukunya lainnya yang berjudul “the sane society” (1952), ia melanjutkan bahwa sifat resah ini dianggap sifat yang “normal”, atau orang barat itu normalnya pada keadaan resah yang disebut “pathologi of normalcy”. Lebih lanjut Herman membanding-kan antara masyarakat barat dan masyarakat muslim, Surat Al-Hujurat ayat 10 memerintahkan persaudaraan (Ukhuwwah). Persaudaraan adalah kebalikan dari konflik dan konflik ini pasti berlatar belakang pada nafsu amarah (Q. Yusuf: 53), atau jiwa yang mudah sekali dibawah kearah kejahatan inilah sifat “normal” Masyarakat barat, yang membawa mereka kearah keserakahan dan pelimpahan hawa nafsu atau hedonisme suatu kehidupan yang tidak ada puas-puasnya seperti dikatakan oleh Marshall; “Variety is the spice of life.” Renggut, adalah perenggutan (defrifation) SDA di negara-negara berkembang oleh negara-negara maju, kini terjadilah ketimpangan yang luar biasa. Seperti dikemukakan oleh The Club of Rome, 20% penduduk negara-negara maju mengkonsumir 80% SDA dunia. Sedangkan 80% penduduk negara-negara berkembang hanya mengkonsumir 20% SDA dunia. Apa sebab demikian? inilah akibat system perekonomian liberalistic kapitalistik “profit maximization principle” yang berbeda dengan prinsip yang dianut oleh kebanyakan penduduk negara-negara berkembang, ialah prinsip kebutuhan sebagai “inner driving force” (lihat Yuyun Wirasasmita, 1999). Dengan perbedaan prinsip ini, SDA dari negara-negara berkembang menjadi terkuras habis, adapun implikasi dari ketentuan ini adalah bahwa bila negara-negara berkembang ingin mempertahankan keutuhan SDA mereka. Mereka pun harus serakah seperti orang-orang barat. Benarkah? Rusak, Kerusakan dunia kita, menurut pakar lingkungan (lihat Kruift, 1994) dimulai sejak abad pertama (kelahiran Nabi Isa a.s. atau kristus). Kerusakan ini membesar dan menguat setiap tahun, dan penghujung abad 20 kerusakan alam telah sangat menghawatirkan, yang dikatakan oleh Tarnas, semakin hari semakin menggawat. Adapun, menurut Mander Goldsmith (eds, 1996) Globalisasi dan “satu ekonomi dunia” yang datang bersamanya akan menjadikan kerusakan bumi semakin menghebat. Prinsip “Comparative advantage” menjadikan barang-barang harus didatangkan dari tempat-tempat yang ribuan mil jauhnya. Termasuk pangan. Hal mana akan meningkatkan polusi air, udar dan darat, hal mana kerusakan ekologi laut oleh pukat harimau, kecelakaan-kecelakaan pabrik insektisida di Bhopal (India), Bocornya reactor nuklir seperti di Chernobil (Rusia), kerusakan hutan yang dahsyat seperti di Indonesia dsb. Pendek kata, saya kira, boleh khawatir oleh datang nya kiamat sebelum kiamat yang sebenarnya terjadi. Mengapa resah, renggut, rusak itu semuanya terjadi dan terus menghebat? bagaimana mekanismenya sehingga Sains Barat sekuler (SBS) yang canggih itu tak kuasa mencegahnya? Secara Epsitomologis kita akan melihat adanya kealpaan besar pada kemampuan SBS, ialah bahwa ia hanya mampu menghadapi kausalitasyang bersifat “co-extensive” (sebab dan akibat terjadi pada waktu yang sama. Namum tidak berdaya dalam menghadapi kausalitas yang bersifat “Sekuensial” (sebab yang akibatnya terjadi pada waktu belakangan setelah “a span of time”). Dua buah contoh dapat dikemukakan disini, ialah pada limbah CFC (Chloro fluoro-Carbon), dan pada toksisitas al dan fe dibidang pertanian yang merusak tanah dan menurunkan produksi. Limbah CFC yang memjadikan bolong-bolongnya lapisan ozon baru diketahui setelah terjadi akumulasi limbah itu didunia. Dan toksisitas al dan fe, dibidang pertanian diketahui hanya setelah 30 tahun digunakan pupuk-pupuk urea dan TSP dengan”overdosis”. Kedua contoh ini menunjukkan akibat dari akumulasi, atau akumulasi akibat yang bersifat “sekuensial”. Sains Tauhidullah. Herman Soewardi menyodorkan Sains yang Islami, sebagai alternatif terhadap Sains Barat Sekuler yang hampir kandas, karena landasannya adalah induktif empirical yang tidak layak dilanjutkan lagi karena adanya cacat besar dalam observasi sehubungan adanya “lensa” yang ada didepan mata,. Lensa inilah yang menyebabkan knowbilyty manusia rendah dalam mengobservasi jagat raya yang sebenarnya, jagat raya yang dipertanyakan manusia. Namun kini menguasai hajat hidup orang banyak dan dipuja puji sebagai agama baru yang bersifat sekuler, namun pada penghujung abad ke 20 Sains Barat Sekuler telah menuju ke 3-R (Resah, Renggut, Rusak). Ontologi dari Sains Tauhidulloh adalah alur pikir lain dari yang ditempuh oleh SBM, ialah alur pikir yang dipandu dan diridhoi oleh oleh Allah SWT, sebagaimana dalam Quran surat Al-Alaq, ayat 5 “Allah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya “ Maka karakteristik utama ST adalah “naqliah memandu aqliah” atau wahyu yang memandu fitrah atau akal manusia dalam menangkap rangsangan inderawi untuk mengungkap jagat raya yang merupakan Kalam Allah (maju menjadi “Kalam” dari “qolam”) Ini berarti bahwa observasi harus dipandu oleh Kalam Allah (“mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring”). Akan tetapi dalam dalam konkritisasinya ST dihadapkan pada masalah teknis yang cukup besar bagaimana menggunakan wahyu sebagai pemandu observasi, yang merupakan asas ST. Dengan perkataan lain diperlukan kemampuan tafsir dari petunjuk Wahyu-wahyu sebagaimana yang tertera dalam Al-Quran . Dalam hali ini Arkoun telah memberi contoh agar sampai pada “Kalam Allah” yang maknawiyah dari teks atau nash yang bersifat harfiah. Selain contoh tafsir tematis sebagaimana yang diuraikan oleh Quraish Shihab, dan tafsir kontektual sebagaimana diuraikan oleh Syed Qutub.

Soal 3

Dengan mengambil contoh dalam cabang/bidang ilmu yang menjadi kajian atau perhatian anda, tuliskan paling sedikit tiga buah yang berbeda jenis atau variasi (kalau ada) mengenai : (a) konsep (pengertian); (b) proposisi (pernyataan), baik (i) proposisi kategorik, maupun; (ii) proposisi kondisional/hipotetik; (c) penalaran deduktif langsung, baik (i) Oposisi (perlawanan), (ii) Konversi (pembalikan), atau (iii) Obversi; (d) Penalaran deduktif taklangsung (silogisme), yang terdiri dari (i) Silogisme kategorik, baik sebagai silogisme mauapun sebagai proposisi hipotetik, dan (ii) Silogisme kondisional/hipotetik.

Jawab

a. Contoh Konsep (pengertian) :

1. Konsep Administrasi adalah:

1) Proses pelaksanaan kegiatan

2) Dilakukan oleh dua orang atau lebih

3) Saling kerja sama

4) Untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya (Sondang P. Siagian, 1980).

2. Konsep Organisasi adalah :

1) Sekelompok orang

2) Terikat secara formal

3) Ada hubungan atasan dan bawahan

4) Saling kerjasama

5) Untuk mencapai tujuan bersama

3. Konsep Good Governance adalah :

1) Kepemerintahan/governance yang baik

2) Yang ditandai dengan adanya hubungan yang sinergis dan konstruktif

3) diantara Negara, sektor Swasta dan Masyarakat

4) yang melibatkan seluruh pelaku (stakeholders) yang berkepentingan tergantung dari permasalahan yang dihadapi

  1. Contoh Proposisi (pernyataan)

(i) Contoh Proposisi kategorik :

1) Semua bentuk kerja sama sekelompok orang untuk mencapai tujuan adalah Administrasi

2) Tidak semua bentuk kerja sama sekelompok orang untuk mencapai tujuan adalah Administrasi

3) Sebagian bentuk kerja sekelompok orang untuk mencapai tujuan adalah Administrasi

(ii) Contoh Proposisi kondisional/hipotetik :

1) Bila pendidikan aparatur meningkat, maka kinerja pelayanan akan lebih berkualitas

2) Bila kinerja pelayanan berkualitas, maka pendapatan asli daerah akan bertambah

  1. Penalaran Deduktif langsung

(i) Contoh Oposisi (Perlawanan) :

a) Premis: Tidak semua kumpulan orang adalah organisasi (I)

b) Konklusi: Sebagian kumpulan orang adalah organisasi (O)

(ii) Contoh Konversi (Pembalikan) :

a) Premis: Semua bentuk kerja sama antara 2 orang atau lebih untuk mencapai tujuan dalam sebuah wadah adalah organisasi (A)

b) Konklusi: Semua organisasi adalah bentuk kerja sama 2 orang atau lebih dalam sebuah wadah untuk mencapai tujuan (A)

(iii) Contoh Obversi :

a) Premis : Semua bentuk kerja sama antara 2 orang atau lebih dalam sebuah wadah untuk mencapai tujuan adalah organisasi (A)

b) Konklusi : Semua bentuk kerja sama 2 orang atau lebih tanpa wadah dan tujuan adalah bukan oragnisasi

  1. Penalaran deduktif taklangsung (silogisme)

(i) Contoh Silogisme kategorik (figura I, modus AAA)

Premis : - Semua bentuk kerja sama antara 2 orang atau lebih dalam sebuah wadah untuk mencapai tujuan adalah organisasi

- Semua organisai adalah bentuk kerja sama 2 orang atau lebih dalam sebuah wadah dengan maksud untuk mencapai tujuan.

Konklusi: - Semua bentuk kerja sama untuk mencapai tujuan adalah organisasi

Contoh Silogisme hipotetik (dengan konektif “jika....,maka....”)

Premis : - Jika tidak ada pengendalian, maka perencanaan yang telah matang tidak akan ada manfaatnya

- Jika perencanaan yang matang tidak ada manfaatnya lagi, maka tujuan organisasi tidak akan tercapai.

Konklusi: - Jika tidak ada pengendalian, maka tujuan organisasi tidak akan tercapai

(ii) Contoh Silogisme kondisonal/hipotetik.

Premis : - Jika barang yang dibeli akan dijual kembali, maka barang tersebut adalah persediaan.

- Pada perusahaan dealer mobil, mobil yang dibeli adalah untuk dijual kembali

Konklusi: - Pada perusahaan dealer mobil, mobil adalah persediaan

(iii) Contoh Silogisme kondisonal/hipotetik.

Premis : - Jika barang yang dibeli akan dijual kembali, maka barang tersebut adalah persediaan.

- Pada perusahaan dealer mobil, mobil yang dibeli adalah untuk dijual kembali

Konklusi: - Pada perusahaan dealer mobil, mobil adalah persediaan

13 Agustus 2008

Mengenang Seabad Mohammad Natsir

Mengenang Seabad Mohammad Natsir
Monday, November 19, 2007

Kamis (15 November 2007), di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, digelar sebuah acara peluncuran panitia Refleksi Seabad Moh. Natsir: Pemikiran dan Perjuangannya. Sejumlah tokoh Islam dan pejabat tinggi negara tampak hadir, diantaranya Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Syuhada Bahri, Ketua MUI KH Khalil Ridwan, Ketua Mahkamah Konstitusi Prof. Dr. Jimly As-Shiddiqy, Menteri Sosial Bakhtiar Chamsah, Wakil Ketua MPR AM Fatwa, dan sebagainya. Tampil sebagai pembicara dalam seminar Prof. Dr. Ichlasul Amal, Ketua Dewan Pers yang juga mantan rektor UGM Yogya.
Mohammad Natsir lahir di Alahan Panjang, Sumatera Barat, 17 Juli 1908. Karena itu, puncak peringatan seabad Moh. Natsir akan dijadwalkan pada 17 Juli 2008. Tetapi, berbagai persiapan telah dilakukan oleh panitia. Duduk sebagai ketua kehormatan dalam panitia ini adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla.Bagi umat Islam Indonesia, nama Natsir tentu sudah sangat tidak asing. Ia adalah seorang pemikir, dai, politisi, dan sekaligus pendidik Islam terkemuka. Ia dikenal sebagai tokoh, bukan saja di Indonesia, tetapi juga di dunia Islam. Dalam sambutannya, Ketua Umum Dewan Da’wah, Syuhada Bahri menggambarkan Natsir sebagai pribadi yang sangat unik. Menurut Syuhada, bidang apa pun yang digeluti Moh. Natsir, visinya sebagai dai dan pendidik senantiasa menonjol. Secara panjang lebar Syuhada menceritakan pengalaman pribadinya selama lima tahun bekerja satu ruang dengan Natsir.Jika kita membuka lembaran hidup Natsir, kita memang menemukan sebuah perjalanan hidup yang menarik. Sebagai politisi, Natsir pernah menduduki posisi Perdana Menteri RI pertama tahun 1950-1951, setelah Indonesia kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jasa Natsir dalam soal terbentuknya NKRI ini sangat besar. Pada 3 April 1950, sebagai anggota parlemen, Natsir mengajukan mosi dalam Sidang Parlemen RIS (Republik Indonesia Serikat). Mosi itulah yang dikenal sebagai ”Mosi Integral Natsir”), yang memungkinkan bersatunya kembali 17 Negara Bagian ke dalam NKRI. Ketua Mahkamah Konstitusi, dalam sambutannya, juga menekankan jasa besar Natsir dalam soal NKRI ini, sehingga bangsa Indonesia sangat layak memberi penghargaan kepada Natsir. Selain itu, Natsir juga berulang kali duduk sebagai menteri dalam sejumlah kabinet.Dalam kesempatan itu, Mensos Bachtiar Chamsah mengakui, bahwa dirinya, sebagai Menteri, sudah mengajukan Natsir agar diberi gelar sebagai Pahlawan Nasional. Usulan itu didasarkan atas usulan dari Pemda Sumatera Barat. Tetapi, tahun ini, usulan itu masih terganjal. Bachtiar tidak menjelaskan mengapa usulan itu Natsir ditolak oleh pihak Istana Kepresidenan. Yang jelas, katanya, tahun depan, dia akan mengajukan usulan yang sama. Banyak yang menduga, keterlibatan Natsir dalam PRRI merupakan faktor utama terganjalnya usulan tersebut.Tetapi, baik keluarga maupun para pelanjut perjuangan Moh. Natsir tidak terlalu mempersoalkan hal itu. Natsir bukan hanya pahlawan bagi Indonesia. Tetapi, dunia Islam sudah mengakuinya sebagai pahlawan yang melintasi batas bangsa dan negara. Tahun 1957, Natsir menerima bintang ’Nichan Istikhar’ (Grand Gordon) dari Presiden Tunisia, Lamine Bey, atas jasa-jasanya dalam membantu perjuangan kemerdekaan rakyat Afrika Utara. Tahun 1980, Natsir juga menerima penghargaan internasional (Jaa-izatul Malik Faisal al-Alamiyah) atas jasa-jasanya di bidang pengkhidmatan kepada Islam untuk tahun 1400 Hijriah. Penghargaan serupa pernah diberikan kepada ulama besar India, Syekh Abul Hasan Ali an-Nadwi dan juga kepada ulama dan pemikir terkenal Abul A’la al-Maududi. Karena itulah, hingga akhir hayatnya, tahun 1993, Natsir masih menjabat sebagai Wakil Presiden Muktamar Alam Islami dan anggota Majlis Ta’sisi Rabithah Alam Islami.Adalah menarik jika menilik riwayat pendidikan Natsir. Tahun 1916-1923 Natsir memasuki HIS (Hollands Inlandsche School) di Solok. Sore harinya, ia menimba ilmu di Madrasah Diniyah. Tahun 1923-1927, Natsir memasuki jenjang sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Padang. Lalu, pada 1927-1930, ia memasuki jenjang sekolah lanjutan atas di AMS (Algemene Middelbare School) di Bandung. Lulus dengan nilai tinggi, ia sebenarnya berhak melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum di Batavia, sesuai dengan keinginan orang tuanya, agar ia menjadi Meester in de Rechten, atau kuliah ekonomi di Rotterdam. Terbuka juga peluang Natsir untuk menjadi pegawai negeri dengan gaji tinggi.Tetapi, semua peluang itu tidak diambil oleh Natsir, yang ketika itu sudah mulai tertarik kepada masalah-masalah Islam dan gerakan Islam. Natsir mengambil sebuah pilihan yang berani, dengan memasuki studi Islam di ‘Persatuan Islam’ di bawah asuhan Ustad A. Hasan. Tahun 1931-1932, Natsir mengambil kursus guru diploma LO (Lager Onderwijs). Maka, tahun 1932-1942 Natsir dipercaya sebagai Direktur Pendidikan Islam (Pendis) Bandung.Natsir memang seorang yang haus ilmu dan tidak pernah berhenti belajar. Syuhada Bahri menceritakan pengalamannya selama bertahun-tahun bersama Natsir. Hingga menjelang akhir hayatnya, Natsir selalu mengkaji Tafsir Al-Quran. Tiga Kitab Tafsir yang dibacanya, yaitu Tafsir Fii Dzilalil Quran, Tafsir Ibn Katsir, dan Tafsir al-Furqan karya A. Hasan.Kecintaan Natsir di bidang pendidikan dibuktikannya dengan upayanya untuk mendirikan sejumlah universitas Islam. Setidaknya ada sembilan kampus yang Natsir berperan besar dalam pendiriannya, seperti Universitas Islam Indonesia, Universitas Islam Bandung, Universitas Islam Sumatera Utara, Universitas Riau, Universitas Ibn Khaldun Bogor, dan sebagainya. Tahun 1984, Natsir juga tercatat sebagai Ketua Badan Penasehat Yayasan Pembina Pondok Pesantren Indonesia. Di bidang pemikiran, tahun 1991, Natsir menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universiti Kebangsaan Malaysia.Natsir memang bukan sekedar ilmuwan dan penulis biasa. Tulisan-tulisannya mengandung visi dan misi yang jelas dalam pembelaan terhadap Islam. Ia menulis puluhan buku dan ratusan artikel tentang berbagai masalah dalam Islam. Menurut Mensos Bachtiar Chamsah, tulisan-tulisan Natsir menyentuh hati orang yang membacanya.Dalam kesempatan ini, kita cuplik sebuah artikel yang ditulis Natsir pada tahun 1938, yang berjudul ”Suara Azan dan Lonceng Gereja”. (Ejaan telah disesuaikan dengan EYD).Natsir membuka tulisannya dengan untaian kalimat berikut:”Sebaik-baik menentang musuh ialah dengan senjatanya sendiri! Qaedah ini dipegang benar oleh zending dalam pekerjaannya menasranikan orang Islam. Tidak ada satu agama yang amat menyusahkan zending dan missi dalam pekerjaan mereka daripada agama Islam.”Artikel Natsir ini mengomentari hasil Konferensi Zending Kristen di Amsterdam pada 25-26 Oktober 1938. Natsir sangat peduli dengan Konferensi tersebut, yang antara lain menyorot secara tajam kondisi umat Islam Indonesia. Dr. Bakker, seorang pembicara dalam Konferensi tersebut mengungkapkan kondisi umat Islam sebagaimana yang digambarkan dalam buku Prof. Dr. H. Kraemer, The Christian Message in a non-Christian World. Kata Dr. Bakker, ”Orang Islam yang berada di bawah pemerintahan asing lebih konservatif memegang agama mereka dari negeri-negeri yang sudah merdeka.”Dr. Baker juga mengungkap tentang pengaruh pendidikan Barat terhadap umat Islam. Katanya, ”Masih juga banyak orang Islam memegang agama mereka yang turun-temurun dari dulu itu, akan tetapi banyak pula yang sudah terlepas dari agama mereka, terutama lantaran pelajaran Barat yang katanya netral itu telah merampas dasar lain yang akan gantinya.”Natsir sangat peduli akan pengaruh pendidikan Barat terhadap generasi muda. Ia menulis, bahwa ketika itu, sudah lazim dijumpai anak-anak orang Islam yang telah sampai ke sekolah-sekolah menengah yang belum pernah membaca Al-Fatihah seumur hidupnya, atau susah payah belajar membaca syahadat menjelang dilangsungkannya akad nikah. Karena itulah, tulis Natsir, Prof. Snouck Hurgronje pernah menulis dalam bukunya, Nederland en de Islam, ”Opvoeding en onderwijs zijn in staat, de Moslims van het Islamstelsel te emancipeeren.” (Pendidikan dan pelajaran dapat melepaskan orang Muslimin dari genggaman Islam).Selanjutnya, Dr. Bakker mengingatkan, bahwa kaum misionaris Kristen harus lebih serius dalam menjalankan aksinya di Indonesia, supaya di masa yang akan datang, Indonesia tidak lebih susah dimasuki oleh misi Kristen.Menanggapi rencana Misi Kristen di Indonesia tersebut, Natsir mengimbau umat Islam:”Waktu sekaranglah kita harus memperlihatkan kegiatan dan kecakapan menyusun barisan perjuangan yang lebih rapi. Jawablah Wereldcongres dari Zending itu dengan congres Al-Islam yang sepadan itu ruh dan semangatnya, untuk memperteguh benteng keislaman. Sebab tidak mustahil pula di negeri kita ini, suara azan bakal dikalahkan oleh lonceng gereja. Barang bathil yang tersusun rapi, akan mengalahkan barang haq yang centang-perenang.!” (Dimuat di Majalah PANDJI ISLAM, No. 33-34, 1938; dikutip dari buku M. Natsir, Islam dan Kristen di Indonesia (kumpulan karangan yang dihimpun dan disusun oleh Endang Saifuddin Anshari, (Bandung: CV Bulan Sabit, 1969).Demikianlah salah satu pesan Natsir yang mengingatkan kaitan erat antara gerak Penjajahan, Misi Kristen, dan Orientalisme. Karena pentingnya peran pendidikan ala Barat dalam menjauhkan generasi muda Islam dari agamanya, bisa dimengerti jika Natsir sangat serius dalam upaya pendirian sejumlah universitas Islam di Indonesia. Kita berdoa, mudah-mudahan civitas academica di kampus-kampus Islam yang dipelopori pendiriannya oleh Natsir memahami misi besar ini, dan tidak terjebak ke dalam paham-paham sekularisme atau liberalisme Barat yang secara gigih diperangi oleh Natsir sepanjang hidupnya.Betapa zalimnya, andaikan ada kampus Islam yang dulu didirikan dengan niat mulia untuk memperjuangkan Islam justru menjadi tempat perkaderan intelektual-intelektual yang merusak Islam. [Depok, 16 November 2007

05 Juni 2008

Allah SWT itu ada...

Ada seorang pemuda yang lama sekolah di negeri paman Sam kembali ketanah air.
Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang Guru Agama, Ust. atau siapapun yang bisa menjawab 3 pertanyaannya.
Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan orang yang dimaksud tersebut.
Pemuda: Anda siapa? Dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanya an saya?
Ust. : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda
Pemuda: Anda yakin? Sedang Profesor dan banyak orang pintar saja tidakmampu menjawab pertanyaan saya.
Ust. : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.
Pemuda: Saya punya 3 buah pertanyaan:
1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan kepada saya!
2. Apakah yang dinamakan takdir?
3. Kalau syetan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syetan, sebab mereka memiliki unsur yang sama.
Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?
Tiba-tiba Ust. tersebut menampar pipi si Pemuda dengan keras. Pemuda (sambil menahan sakit): Kenapa anda marah kepada saya?
Ust. : Saya tidak marah...Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 buah pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.
Pemuda: Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.
Ust. : Bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda: Tentu saja saya merasakan sakit
Ust. : Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?
Pemuda: Ya
Ust. : Tunjukan pada saya wujud sakit itu !
Pemuda: Saya tidak bisa
Ust. : Itulah jawaban pertanyaan pertama: kita semua merasakan keberadaan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.
Ust. : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?
Pemuda: Tidak
Ust. : Apakah pernah terpikir oleh anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?
Pemuda: Tidak.
Ust. : Itulah yang dinamakan Takdir.
Ust. : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?
Pemuda: kulit.
Ust. : Terbuat dari apa pipi anda?
Pemuda: kulit.
Ust. : Bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda: sakit.
Ust. : Walaupun Syeitan terbuat dari api dan Neraka terbuat dari api, jika Tuhan berkehendak maka Neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk syeitan.

12 Mei 2008

Riwayat Pekerjaan

Alkisah, pada tahun 1988 saya berkenalan dengan seorang ustadz, namanya H. Syafruddin Zakaria Labay, Lc. (Alumni King Saud University Riyad-Arab Saudi), Sekretaris Umum Ikatan Masjid Indonesia (IKMI) Wilayah Bengkulu. Perkenalan diawali dari ba'da shalat jumat di Masjid Raya Muhammadiyah Bengkulu. Dari sekian banyak para khotib yang saya dengarkan di berbagai masjid di Kota Bengkulu dan Kota Palembang (saat masih SMA), baru satu khotib ini yang membuat saya cukup terkesan. Baik gaya khutbahnya maupun materi yang disampaikan. Akhirnya saya memberanikan diri untuk berkenalan dengan beliau. Karena saat itu saya aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII) Wilayah Bengkulu (terakhir saya sebagai Sekretaris Umum PII Wilayah Bengkulu) dan beliau ternyata sebagai "KB" istilah teman-teman PII, yaitu sebagai keluarga besar, karena beliau adalah mantan ketua PII Bengkulu. Bahkan dari PII itulah beliau mendapat rekomendasi dari Bapak Mohammad Natsir, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonseia (DDII) Pusat (mantan Ketua Umum Masyumi/Perdana Menteri RI zaman RIS) untuk mendapat beasiswa kuliah ke Arab Saudi. Singkat cerita, akhirnya saya banyak belajar tentang Islam dengan beliau. Bahkan terinspirasi dari beliau pula saya berlangganan majalah "Media Da'wah" terbitan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) yang beralamat di Jalan Kramat Raya 45 Jakarta. Majalah tersebut banyak mengupas tentang dakwah dan perjuangan politik Islam Masyumi serta kiprah pak Natsir dalam dunia dakwah (Islam) dan politik di Indonesia. Bahkan seringkali saya tertidur di rumah beliau setelah mengikuti pengajiannya hingga larut malam.
Ustadz H. Syafruddin yang biasa saya panggil pak Syaf, juga memiliki lembaga pendidikan yang merupakan warisan dari ayah beliau H. Zakaria Labay (tokoh Islam di Bengkulu). Lembaga pendidikan itu bernama Pendidikan Thawalib Bengkulu. Pendidikan Thawalib memiliki SD dan SMP Thawalib, dan dari sinilah saya mulai belajar bekerja dengan menjadi guru tidak tetap SMP Thawalib. Awalnya saya hanya membantu pak Syaf sebagai tanda terima kasih saya yang telah banyak belajar dengan beliau tentang Islam, saya waktu itu betul-betul ikhlas hanya membantu dan dalam hati saya tidak perlu saya dibayar. Tapi kemudian oleh pengelola yang lain saya betul-betul dijadikan sebagai pengajar dan diberikan honor mengajar untuk mata pelajaran biologi. Dari sinilah pertama kali saya "bekerja" sebagai guru. Seiring dengan kesibukan saya dalam kuliah dan organisasi, maka saya izin kepada pengelola untuk tidak mengajar lagi di SMP Thawalib dengan alasan agar lebih konsentrasi dalam kuliah.
Pada Juni 1991 saya selesai kuliah, dan merupakan alumni terbaik pada angkatan wisuda Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bengkulu dengan IP Kumulatif =3, 19. Oleh karenanya pihak universitas menunjuk saya untuk mewakili para wisudawan-wisudawati menyampakan pidato ucapan terima kasih para wisudawan kepada Universitas Bengkulu. Selesai kuliah saya ditawari oleh beberapa orang teman untuk bekerja di Pemda Bengkulu, namun sama sekali tidak ada terbersit dalam hati saya untuk bekerja di Pemda, saya justru sangat berharap bisa mengabdi pada almamater saya di Fisipol UNIB sebagai dosen, dalam pikiran saya profesi sebagai dosen lebih sesuai dengan hati dan jiwa saya. Setelah ijazah dan transkrip nilai saya dapatkan, maka segera saja saya menghubungi ibu dekan Fisipol UNIB yang waktu itu dijabat oleh Dra. Samsinah Ansori, yang kebetulan baru saja menjabat sebagai dekan menggantikan bapak Drs. H. Hasnul Basri dengan maksud saya ingin kembali mengabdi pada Fisipol sebagai tenaga pengajar. Namun betapa kecewanya saya, jawaban yang saya terima dari ibu dekan tersebut, karena tidak ada formasi untuk jurusan saya, dan beliau menyarankan agar mencari pekerjaan di tempat lain saja. Andaikan saat itu dekan Fisipol masih bapak H. Hasnul Basri, maka menurut Kabag. Tata Usaha Fisipol UNIB, saya akan dapat menjadi tenaga pengajar, karena pengalaman yang sudah-sudah setiap alumni dengan nilai yang bagus akan diutamakan menjadi dosen di Fisipol UNIB.
Akhirnya saya mencoba melamar menjadi dosen di Universitas Prof. Dr. Hazairin, S.H. (UNIHAZ) Bengkulu, namun seiring dengan itu, karena tempat kontrakan bedeng sudah habis, sementara biaya untuk memperpajang kontarakan tidak ada lagi, maka saya kembali ke Palembang dan ada panggilan untuk wawancara di Unihaz tidak saya ikuti lagi, selamat tinggal Kota Bengkulu yang penuh kenangan, selamat tinggal teman-teman, ikhwah, murobbi, dan masjid Darul Ulum Kampus UNIB, yang telah membentuk karakter, jati diri dan tonggak sejarah perjuangan berikutnya.
Di Palembang, saya kembali menumpang di rumah kakak saya (tahun 1984-1986 saya juga tinggal di rumah kakak saya, saat SMA). Tahun 1992 saya mencoba melamar jadi dosen di STISIPOL Candradimuka Palembang, alhamdulillah saya diterima. Tapi sayang, antara kampus tempat mengajar dengan rumah kakak saya cukup jauh. Ongkos kesana lumayan mahal dan susahnya lagi ternyata honor yang diberikan tidak lancar serta nilainya juga tidak seberapa. Saya berusaha untuk tetap sabar, karena belum ada pilihan lain, dan sekalian saya cari teman, cari relasi dan memperluas pergaulan. Saya memasuki masa-masa yang sulit, pekerjaan sebagai dosen honor tidak menjanjikan, uang tidak ada, kadangkala dengan memberanikan diri minta uang dengan kakak, kadangkala saya tidur di tempat teman saya yang sedang menyelesaikan skripsi di Unsri atau tidur di masjid komplek SMA Negeri 1 Palembang, tempat saya sekolah dulu. Untunglah saya dapat segera kembali bergabung dalam pengajian pekanan di Palembang.
Pada suatu hari, lupa tanggalnya, tahun 1992 saya membaca koran Sriwijaya Pos (Sripo), dalam koran tersebut mata saya tertuju pada sebuah iklan penerimaan PNS yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Dalam formasi tersebut, di antaranya ada jurusan (bidang ilmu) saya. Semula saya tidak begitu antusias untuk melamar, karena sudah biasa saya mendengar bahwa untuk dapat diterima bekerja, apalagi di Pemda, harus menyediakan uang yang tidak sedikit untuk menyogok. Namun, didorong oleh kebutuhan untuk mencari pekerjaan yang tetap, karena sangat tidak mengenakkan kalau hanya jadi dosen honor dan sangat sering minta uang dengan kakak, maka dengan bismillah sayapun melengkapi persyaratan untuk ikut seleksi. Semua berkas saya kumpulkan, dan menurut ketentuan, semua pelamar harus memasukkan berkasnya melalui Pemda Kabupaten atau Pemda Kota. Sayapun memilih Pemda Lahat untuk tempat seleksi. Dalam hati saya, saya bicara bahwa saya sekali-kali tidak akan menyogok, di samping memang tidak sesuai dengan prinsip hidup saya, uang untuk menyogokpun tidak ada. Jangankan untuk menyogok, untuk biaya kuliah saja selama ini juga sangat sulit. Pokoknya saya akan berusaha dengan hanya mengandalkan prestasi saya selama kuliah.
Singkat cerita, setelah selesai tes, dan kebetulan masuk bulan Ramadhan, maka sepanjang bulan Ramadhan saya selalu berdoa kepada Allah, bunyi doa saya tersebut "Ya Allah kalau memang pekerjaan ini baik untukku, baik untuk kedua orang tuaku, baik untuk keluargaku, baik untuk hidup dan matiku nanti, maka ya Allah berikanlah kemudahan dan bantulah saya agar diterima dalam pekerjaan ini, tetapi kalau sebaliknya ya Allah, biarlah saya tidak diterima dan hamba mohon berikan pekerjaan lain yang lebih baik". Setelah sekian lama menunggu, Alhamdulillah, pada saat pengumuman kelulusan, saya dinyatakan diterima (sesuai dengan pengumuman di koran) dan untuk jurusan saya hanya 2 orang yang lulus, nomor 1 namanya Dra. Amnes Kadarwasti (Alumni Fisipol UGM) dan nomor 2 saya sendiri. Membaca pengumuman kelulusan tersebut, saya sangat gembira, ingin rasanya saya sujud syukur saat itu. Ini adalah kegembiraan yang luar biasa yang pernah saya rasakan setelah pada tahun 1986 saya dinyatakan lulus Sipenmaru yang diumumkan di koran di Palembang.
Setelah melalui proses panjang, barulah pada tahun 1993 saya beserta teman-teman yang lulus PNS Pemprov. Sumsel diikutkan pada Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) selama sebulan di Palembang. Setelah itu, kami ditempatkan pada masing-masing daerah. Saya beserta teman lainnya ditempatkan di Kab. Lahat, tepatnya di Dinas Sosial Kab. Lahat. Bulan pertama saya di Lahat, suasananya sangat berbeda, pembicaraan sebagian besar memang berkutat masalah pekerjaan dan "proyek", sangat kontradiktif dengan suasana kampus. Rasanya saya tidak betah, berhari-hari suasana kerja membosankan, membosankan, dan membosankan. Tapi saya masih berkeyakinan dengan doa saya dulu sebelum diterima sebagai PNS. Saya tetap bertahan dengan dinamika dan kenyataan tersebut.
Tahun 1994 saya diangkat penuh sebagai PNS (100%). Langsung saya diberikan jabatan eselon V.b. sebagai Kepala Sub Seksi. Interaksi dengan berbagai kantor dan teman-teman sesama PNS sudah semakin normal, tetapi tetap saja belum begitu betah. Pada bulan Oktober 1994 saya pun menemukan jodoh, dan menikah (setelah diterima di PTN, lalu lulus tes PNS, saya merasakan kegembiraan yang luar biasa, maka saat lamaran saya diterima untuk menikah, merupakan kegembiraan yang sama hebatnya).
Tahun 1996 saya dipindahkan ke kantor BP-7 Kab. Lahat sebagai Kepala Seksi Pendidikan yang bertugas melaksanakan kegiatan penataran P4. Karena saya pernah ikut Penataran P4 Pola 144 Jam/Calon Penatar di Jakarta, dan memiliki SK sebagai Penatar dari BP-7 Pusat, maka sayapun disamping sebagai pejabat eselon V.a, saya juga bertugas sebagai penatar P4. Hari-hari saya lalui dalam jabatan di BP-7 lumayan berkesan, hampir di seluruh kecamatan dalam wilayah Kabupaten Lahat pernah saya masuki dan pernah memberikan penataran. Apalagi pada waktu kepala BP-7-nya bapak Kalamuddin, S.H. (sekarang Bupati Muara Enim) sangat mengapresiasi saya untuk selalu menjadi penatar di berbagi kesempatan pelaksanaan penataran, baik di desa-desa, maupun penataran pada kalangan PNS. Saya sangat terhibur berkarir di BP-7 (walaupun materi P4 tidak begitu berkenan dihati saya, namun saya bisa mengemas materi P4 tersebut dengan nilai-nilai Islam). Tidak lama kemudian, kepala BP-7 diganti dengan pejabat yang baru (berasal dari Kab. Musi Banyuasin). Dengan kepala BP-7 yang baru ini pun, saya diberikan apresiasi, hampir disetiap kegiatan penataran saya dipercayakan untuk memberikan materi (menatar), bahkan saya diusulkan untuk menjabat eselon IV.a sebagai kepala Bidang Pengkajian dan Pengembangan. Sesuai dengan instruksi presiden, semua PNS harus mengikuti penataran dan semua biaya dibebankan pada APBD masing-masing daerah. Lalu, saya pun atas perintah kepala BP-7 membuat usulan proyek penataran P-4 bagi PNS eselon IV di Lingkungan Pemda Lahat. Singkat cerita, usulan pun disetujui dan saya pun diusulkan untuk menjadi Pimpro Pentaran P-4 bagi PNS Eselon IV di lingkungan Pemda Lahat. Selanjutnya, saya menyusun pembagian/alokasi dana penataran sebelum proyek dilaksanakan. Dari anggaran dana yang ada, saya pun membagi berbagai kebutuhan, mulai untuk belanja alat dan bahan, upah, konsumsi, perjalan dinas dan lain-lain, semuanya sudah saya atur dengan baik. Harapan saya agar pembagian alokasi dana tersebut dapat berjalan dengan baik, maka dana yang ada betul-betul saya atur sedemikian rupa, dan jangan lagi dana tersebut diotak-atik untuk hal-hal yang tidak jelas. Proyek penataran tersebut dianggarkan untuk empat angkatan, dan untuk tahun berikutnya akan diusulkan kembali. Pada saat angkatan pertama dilaksanakan, mulailah kepala BP-7 macam-macam, beberapa dana yang sudah saya alokasikan dan telah disetujui oleh bupati, hendak dimanfaatkan oleh kepala BP-7, padahal alokasi dana untuk kepala BP-7 sebagai atasan pimpro sudah diatur dan lumayan besar. Tetapi tetap saja dia ingin mengambil yang bukan haknya. Informasi itu disampaikan oleh bendahara proyek kepada saya selaku pimpro. Saya pusing mengatur dana penataran tersebut dan akhirnya saya bilang dengan bendahara proyek, kalau kepala BP-7 tetap ngotot ingin mengambil dana proyek tersebut tidak sesuai dengan apa yang telah dialokasikan, silakan saja dan semua kegiatan penataran tersebut silakan saja ambil alih oleh kepala BP-7. Singkat cerita, akhirnya secara tertulis saya mengundurkan diri sebagai pimpro, dan Alhamdulillah disetujui, saya pun selamat dari kegiatan proyek yang seperti itu. Tahun 1998, tuntutan reformasi yang disuarakan mahasiswa dan para tokoh berhasil dengan tumbangnya kekuasaan regim Orde Baru melalui lengsernya Soeharto dari tampuk kekuasaan sebagai presiden selama 32 tahun. Seiring dengan itu, lembaga BP-7 yang bertugas memasyarakatkan nilai-nilai P4 (yang dianggap sebagai alat propaganda penguasa) ikut juga dibubarkan. Lalu, sayapun dipindahkan ke Dinas Sosial, tempat pertama kali saya bertugas. Namun sebulan kemudian, hasil musyawarah cabang (Muscab) Korpri Kab. Lahat memutuskan saya terpilih sebagai Sekretaris DPC Korpri Kab. Lahat mendampingi Ketua Korpri terpilih bapak Drs. H.M. Imron Marus yang juga selaku Sekda Kab Lahat. Karena jabatan itu pula (Sekretaris Korpri), saya pindah kantor lagi, yaitu di Sekretariat Korpri Kab. Lahat. Namun, pada saat masih berkantor di BP-7, saya sempat ditugaskan oleh Bupati Lahat untuk ikut seleksi penerimaan S2 UGM, dan Alhamdulillah beberapa waktu kemudian, saya dinyatakan diterima. Tapi sayang, biaya kuliah S2 tersebut belum dianggarkan dan menurut ketentuan dari UGM, bahwa masa berlaku hasil tes tersebut selama 2 tahun. Harapan saya, saya dapat kuliah pada tahun berikutnya, dan atas saran kawan di Bagian Kepegawaian, saya lalu menyampaikan surat permohonan kepada Bupati agar saya ditugaskan untuk mengikuti kuliah S2 di UGM. Alhamdulillah Bupati menyetujui permohonan saya. Singkat cerita, sayapun menghubungi pihak PPs UGM dan sayapun disetujui untuk kuliah Angkatan XXI. Sayapun segera mengajukan permintaan biaya kepada Bupati, Alhamdulillah kembali disetujui. Pada saat persetujuan tersebut saya bawa ke Bagian Keuangan, ternyata kas Pemda masih kosong, sayapun tidak kehilangan jalan. Karena saya Sekretaris Korpri, dan saya tahu keadaan keuangan Korpri, maka sayapun mengajukan pinjaman uang sebesar sepuluh juta rupiah kepada Korpri dan setelah dana dari Pemda cair maka akan segera dibayarkan ke Korpri kembali.
Lalu sayapun berangkat kuliah, sekitar 2 tahun saya di Jogja, anak dan istri saya boyong semua ke Jogja. Alhamdulillah, dalam waktu kurang sedikit 2 tahun, saya selesai kuliah dan kembali ke Lahat. Singkat cerita, saya ditempatkan sebagai staf pada Badan Kepagawaian Daerah (BKD) Kab. Lahat. Teman saya yang juga sebagai Kepala Bappeda Kab. Lahat menawarkan kepada saya agar saya sekantor dengannya, sayapun sangat setuju. Beliau kemudian menghubungi Kepala BKD dengan maksud agar saya ditempatkan di Bappeda, tapi sayang Kepala BKD mengatakan bahwa harus melalui proses rapat Baperjakat (Badan pertimbangan jabatan dan kepangkatan) terlebih dahulu. Karena saat itu golongan saya baru III/c, dan jabatan yang cocok untuk golongan III/c adalah eselon III.b dan eselon III.b hanya jabatan camat, maka oleh Kepala BKD kalau saya berminat jadi camat, maka harus jadi Sekcam lebih dulu. Saya katakan; Sekcam dimana? beliau menjawab jadi Sekcam di Kecamatan Pajarbulan, lalu saya katakan, bagaimana kalau jadi Sekcam di Kota Lahat atau di Kec. Merapi yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal saya. Beliau (Kepala BKD) mengatakan; "kalau Sekcam Lahat itu jatah bapak Bupati, dan sekcam Merapi ada juga pejabat yang pegang. (dalam hati saya, kalau jabatan Sekcam saja sudah dikapling oleh para pejabat, bagaimana dengan jabatan yang lebih tinggi dari Sekcam). Mulailah pikiran saya berkecamuk, antara idealisme yang saya peroleh selama kuliah S2 di UGM dengan situasi yang saya hadapi. Hati kecil saya mengatakan; sulit bagi saya berkarir di Pemda kalau suasananya seperti itu. Akhirnya saya minta waktu untuk berunding dulu dengan istri saya sebelum meng-iya-kan tawaran sebagai sekcam Pajarbulan. Singkat cerita, saya putuskan untuk tidak menerima tawaran sebagai sekcam dan biarlah saya tidak menjadi camat. Belum satu pekan, sayapun kembali ingin melaporkan tentang penolakan saya atas tawaran untuk menjadi sekcam. Tapi sayang ternyata usulan sebagai sekcam sudah diproses untuk di SK-kan oleh Bupati. Akhirnya mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, jabatan sebagai sekcam itupun saya terima.
Sayapun kemudian pindah ke Pagaralam (kadang di rumah orang tua, kadang di rumah mertua). Bulan pertama saya bertugas betul-betul merasakan situasi yang tidak nyaman. Saya kembali kesuasana yang lebih parah dari Dinas Sosial, situasi tersebut betul-betul membuat saya tidak bisa bertahan. Kemudian saya berunding lagi dengan istri; hasilnya bahwa saya pindah kerja saja menjadi dosen Kopertis (bisa di Palembang atau di Lampung). Tapi, timbul pertanyaan; apakah saya diizinkan oleh bapak Bupati Lahat? Saya belum lama pulang dari tugas belajar. Saat itu (sesuai dengan UU No. 22 Tahun 1999 masih berlaku), kepala daerah bertanggungjawab kepada DPRD. Apa saja yang diinginkan oleh DPRD, biasanya bupati meng-iya-kan saja.
Kebetulan salah seorang anggota DPRD Lahat ada kakak kelas saya waktu kuliah di Fisipol Univ. Bengkulu, beralamat di desa Rambaikaca Kec. Jarai. Untuk menindaklanjuti rencana saya pindah menjadi dosen, tengah malam sayapun silaturrahim ke rumahnya. Singkat cerita, saya ceritakan keinginan saya itu, dan sebenarnya diapun tidak setuju. Tapi, karena saya sangat berkeinginan untuk segera pindah, maka saya bilang; "Besok tolong temani saya untuk menghadap bapak Bupati untuk meminta persetujuan pindah". Sebab kalau tidak langsung kepada bupati, dikhawatirkan akan sulit. Katakanlah proses usul pindah itu saya mulai dari BKD, dan mereka paham bahwa saya baru pulang, tentu asumsi saya, BKD tidak akan merekomendasikan usul saya tersebut. Akhirnya, tidak sampai 10 menit pertemuan dengan bupati, saya sampaikan maksud dan tujuan saya, dan Alhamdulillah usul tersebut disetujui. Mau rasanya saat itu saya sujud syukur di ruang kerja bupati, tapi tidak saya lakukan. Namun perasaan senang tersebut tidak dapat saya lukiskan dengan kata-kata.
Kemudian, menindaklanjuti persetujuan bupati tersebut, agar proses surat menyurat menjadi lebih lancar, maka seluruh surat usul tersebut saya sendiri yang membuatkan, karena saya juga pernah di BKD dan dengan semua pegawai BKD saya kenal. Setelah itu, saya minta paraf dengan pejabat BKD dan saya juga yang mengantarkan kembali kepada bupati untuk ditandatangani. Tidak lama kemudian, surat turun dan terus saya urus hingga ke Depdiknas di Jakarta. Sambil menunggu SK mutasi, sayapun dimutasikan ke Bappeda Lahat. Sayapun bertemu kembali dengan Ketua Bappeda (H. Eduar Kohar), dan lalu saya dkk dilantik sebagai pejabat Eselon IV.a (Kasubbid. Evaluasi dan Formulasi Rencana Strategis Bappeda Kab. Lahat. Kepala Bappeda sangat apresiasi dengan kehadiran saya, bahkan saya ditugaskan khusus untuk menyusun Renstra Bappeda Kab. Lahat. Beberapa tawaran untuk diklat di Jakarta-pun saya diikutkan. Kelihatannya saya akan betah di Bappeda, namun apa hendak dikata, saya sudah berazzam untuk alih profesi sebagai dosen. Setelah hampir lima bulan proses pindah saya di Depdiknas, maka dapat informasi dari pak Hapidin (Biro Kepegawaian Depdiknas), bahwa SK mutasi saya sudah turun dan tinggal diambil saja ke Jakarta. Alhamdulillah saat itu saya ditugaskan untuk mengikuti diklat Anggaran Berbasis Kinerja di Depkeu di Jakarta dan bak kata pepatah "sambil menyelam minum air", maka SK mutasipun saya ambil. Karena saat itu saya diberikan uang perjalanan dinas, maka sebagian dari uang tersebut saya gunakan untuk memberi hadiah dan tanda terima kasih saya atas bantuan pak Hapidin mengurus SK mutasi tersebut hingga berhasil. Singkat cerita, pada tahun 2003 (lupa bulan berapa, sekitar pertengahan tahun) sayapun mengurus mutasi ke Kopertis Wil. II Palembang, dan melapor kepada Rektor Univ. Bina Darma serta sekalian memindahkan gaji saya dari Pemkab. Lahat ke Kopertis, setelah itu sayapun pamit dengan Ketua Bappeda Lahat.
Tahun 2003, sebagai babak baru bagi pekerjaan/profesi saya. Banyak dinamika yang saya temui di tempat yang baru ini. Golongan saya yang baru III/c belum bisa diusulkan ke III/d karena jabatan akademik saya baru Asisten Ahli. Maka sayapun berusaha agar saya bisa mendapatkan jenjang akademik lektor (mulailah segala SK, piagam saya kumpulkan, sayapun membuat tulisan di jurnal) setelah saya hitung dan cukup, maka saya usulkan jenjang akademik saya ke lektor. Namun sayang, lektor yang saya peroleh hanya kum 200 dan masih belum bisa diusulkan untuk mendapatkan gol. III/d. Akhirnya sayapun kembali berusaha, segala SK mengajar, membimbing skripsi, tugas akhir, tesis, SK kepanitiaan, piagam-piagam, dll berkaitan dengan hal tersebut saya kumpulkan. Dua artikel saya Alhamdulillah diterbitkan pada Jurnal Ilmiah Terakreditasi terbitan Pascasarjana Univ. Riau, dan beberapa tulisan pada Jurnal MBiA Univ. Bina Darma. Setelah saya hitung dan sudah cukup untuk ke jenjang lektor kepala, maka saya usulkan ke Kopertis dan selanjutnya diteruskan ke Dikti Depdiknas. dan lebih kurang satu tahun kemudian, SK Penetapan angka kredit dengan jenjang jabatan akademik turun dengan jabatan Lektor Kepala (kum 400) dan dapat diusulkan naik ke gol. III/d hingga IV/a.
(bersambung...)

30 April 2008

Serangan USA ke Indonesia yang gagal

Waspadai berita ini:

RI di Ambang peperangan dengan USA dengan dalih RI adalah base Camp
terroris.
Akhir2 ini kita dengar adanya wajib militer bagi WNI hingga umur 42 tahun,
ternyata salah satu alasannya adalah keterangan di bawah ini.

Sebuah dokumen berklasifikasi sangat
rahasia (TOP SECRET) bocor ke tangan
wartawan. Dokumen ini adalah laporan CIA
kepada Pentagon yang sebenarnya akan
diteruskan ke Gedung Putih.

Menurut dokumen tsb, setelah Irak ,
Indonesia akan jadi sasaran berikutnya.
Tapi intel2 CIA yang lebih dahulu
diterjunkan ke Indonesia , menyimpulkan
bahwa jika diteruskan maka perang tsb
akan menjadi sangat mahal biayanya dan
dipastikan AS akan menderita banyak
kerugian.

Ini isi dokumen yang telah diterjemahkan
(unofficial) ke dalam Bahasa Indonesia:

Kepada Yth.
Kepala Staf Gabungan
Jenderal Richard Myers
Tembusan: Direktur CIA

Rencana penyerangan ke Indonesia
sebaiknya dipertimbangkan lagi mengingat
mahalnya biaya yang akan timbul dari
peperangan tersebut. Berikut data-datanya:

Begitu memasuki perairan, Armada ketujuh
kita akan dihadang pihak Bea Cukai
karena membawa masuk replika api dan
peralatan tanpa surat izin dari
pemerintah RI. Ini berarti kita harus
menyediakan "uang damai". Coba hitung
berapa besarnya jika peralatan yang
dibawa sedemikian banyak.

Kemudian bila kita mendirikan base camp
militer , bisa ditebak di sekitar base
camp pasti akan banyak dikelilingi
tukang bakso, tukang es kelapa,
lapak VCD bajakan, sampai obral celana
dalam Rp 10.000 dapat 3. Belum terhitung
jika pedagang komedi puter juga ikut
mangkal di sekitar base camp.

Kemudian kendaraan tempur serta
tank-tank lapis baja yang diparkir dekat
base camp akan dikenakan retribusi
parkir oleh petugas dari dinas
perparkiran daerah maupun preman-preman
sekitar. Jika dua jam pertama dikenakan
Rp 10.000 (tarif untuk orang bule),
berapa yang harus dibayar oleh
pemerintah AS jika kendaraan harus
parkir sebulan atau setahun lebih
seperti di Irak sekarang ini.

Belum lagi pengusaha parkir swasta yang
bisa melobi Gubernur Fauzi Bowo untuk
menaikkan tarif parkir. Lobi itu sangat
mulus karena salah satu komisaris di
sebuah perusahaan parkir terbesar di
Jakarta itu adalah mantan pejabat tinggi.
Belum lagi di sepanjang jalan menuju
lokasi base camp kita harus menghadapi
para "Pak Ogah" yang berlagak mengatur
jalan sambil memungut biaya dari
kendaraan yang memutar. Bisa dibayangkan
berapa recehan yang harus disiapkan jika
harus melakukan operasi
tempur menuju pusat-pusat musuh seperti
Cilangkap. Dari Tanjung Priok (pelabuhan
tempat Kapal induk merapat dan lokasi
pasukan mendarat) ke Cilangkap saja ada
berapa pertigaan, perempatan dan putaran.

Suatu kerepotan besar jika rombongan
pasukan harus berkonvoi. Karena konvoi
yang berjalan lambat pasti akan
dihampiri para pengamen, dan anak-anak
jalanan.
Ini berarti harus mengeluarkan recehan lagi.
Belum lagi jika di jalan bertemu polisi
bokek, udah pasti kena semprit karena
konvoi tanpa izin terlebih dahulu.
Bayangkan berapa uang damai yang harus
d**eluarkan untuk polantas-polantas itu.

Itu baru polantas Pak Myers. Belum
petugas DLLAJ. Anda harus melihat
sendiri bagaimana mereka beraksi.
Kendaraan2 dan tank2 itu kan belum di
kir. Itu pertanda buruk. Setiap kali
kir, berapa uang yang harus kita
keluarkan untuk
membayar yang resmi dan tidak resmi.
Belum lagi kalau mau menyerbu KODAM di
daerah lain. Kita harus melewati
jembatan Timbang milik DLLAJ. Siapkan
saja uang pelicin yang lebih banyak.

Di base camp militer , tentara AS sudah
pasti tidak bisa tidur nyenyak, karena
banyak nyamuk akibat sangat tidak
higienisnya lingkungan sekitar. Ini bisa
dibasmi dengan penyemprotan dari dinas
kesehatan. Lagi-lagi harus menyiapkan
amplop untuk mereka.

Tentara AS juga nggak bisa jauh2 dari
peralatan perangnya, karena disekitar
base camp sudah mengintai pedagang besi
loakan yang siap mempreteli peralatan
perang canggih yang kita bawa. Kurang
waspada sedikit saja, tank Abrams
kebanggaan kita bakal siap dikiloin.

Belum lagi para pencuri kendaraan
bermotor yang sudah siap beraksi dengan
kunci T-nya bakal merebut jip-jip dan motor perang.

Saya pikir penyerbuan ke Indonesia harus
dipertimbangkan lebih dalam lagi.....

22 April 2008