03 Mei 2009

Kedudukan Ibu dalam Islam

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada duai ibu bapakmu; hanya kepada-Ku engkau akan kembali (Q.S. 31:14-15)

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya, atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah!" - Jangan pula engkau membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku! Sayangilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah menyayangi aku semenjak kecil." (Q.S. 17:23-24)

Sorga terletak di bawah telapak kaki ibu (Al-Hadits)

Memandang dengan kasih sayang dan ramah tamah kepada ibu dan ayah, adalah ibadah (Al-Hadits)

Keridhaan Allah terletak pada keridhaan kedua orang tua. Kemurkaan-Nya juga terletak pada kemurkaan mereka (Al-Hadits)

Apabila engkau ingin Allah memanjangkan umurmu, maka bahagiakanlah kedua orang tuamu (Imam Ja'far Shiddiq)


Ibu ... betapa indah dan sucinya kata ini. Kata yang membawa wanginya keramahan dan cinta kasih ke dalam jiwa, dan membuat kita merasakan kehangatan dan kemurniannya.

Dunia Barat sekarang baru menemukan nilai mulia Ibu, sedangkan umat Islam telah berabad-abad mempercayai kedudukannya yang mulia berdasarkan ajaran Ilahi melalui Islam. Islam percaya pada nilai ibu yang luar biasa, dan telah menarik perhatian manusia melalui berbagai ungkapan dan pernyataan. Bahkan Islam menganggap bahwa mencapai tahap akhir kesempurnaan, yakni sorga, tergantung pada kerelaan Ibu. Nabi Muhammad saw bersabda, "Sorga terletak di bawah telapak kaki ibu."

Dalam memuliakan kedudukan ibu, Islam tidak membatasi diri pada nasihat, perintah dan anjuran lisan. Tetapi Islam juga memandang perintah dan larangan ibu sebagai suatu kewajiban untuk dilaksanakan dalam hal-hal tertentu. Misalnya, dalam perkara yang disunnahkan Allah, tetapi berlawanan dengan larangan ibu, maka anak-anak dinasihati untuk menaati larangan ibu mereka.

Apabila seorang anak ingin berpuasa sunnah, atau melakukan perjalanan yang disunnahkan, tetapi ibunya melarangnya, maka wajiblah bagi si anak untuk menaati ibunya. Apabila anak itu melawan kehendak ibunya, maka bukan saja ia tidak memperoleh pahala karena amalnya itu, melainkan ia justru memperoleh dosa dikarenakan penolakannya untuk menaati ibunya.

Perkara lain dimana perintah ibu dihormati sebanding dengan perintah Allah ialah apabila perintah Allah berlawanan dengan larangan ibu, dengan syarat bahwa perbuatan itu tidak termasuk dalam perintah yang wajib seperti shalat fardhu atau puasa Ramadhan. Misalnya dalam masalah jihad, orang yang mampu berperang harus ikut serta dalam pertempuran. Tetapi apabila seorang muda memenuhi semua persyaratan untuk pergi jihad, kecuali bahwa ibunya tidak mengizinkannya pergi (dengan syarat bahwa keabsenannya tidak membahayakan umat Islam), maka ia boleh untuk tidak ikut dalam peperangan semata-mata karena larangan ibunya.

Seorang lelaki datang kepada Nabi seraya berkata, "Wahai Nabi Allah! Saya muda dan kuat, siap bertindak dan berbakti, dan ingin sekali pergi ke medan jihad untuk kemajuan Islam! Tetapi ibu saya tidak membiarkan saya meninggalkannya untuk pergi berperang." Nabi yang mulia bersabda, "Pergilah tinggal bersama ibumu. Saya bersumpah kepada Tuhan yang memilih saya sebagai Nabi, bahwa pahala yang engkau dapatkan untuk melayaninya meskipun hanya semalam, dan membahagiakannya dengan kehadiranmu, jauh lebih besar dari pahala perang jihad selama satu tahun."

Islam memandang penghormatan kepada orang tua dan pelaksanaan hak-hak mereka sebagai kewajiban manusia terbesar setelah perintah Ilahi. Al-Quran mengatakan dalam hubungan ini, "Bersyukurlah kamu kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu." (QS 31:14) Perlu diperhatikan bahwa di sini Allah Ta'ala, segera setelah menyebut hak-Nya sendiri, menyebutkan hak kedua orang tua.

Seorang lelaki datang kepada Nabi seraya berkata, "Wahai Nabi Allah! Tunjuki saya, kepada siapa saya mesti berbuat baik untuk mendapatkan manfaat yang sempurna atas amal kebajikan saya?" Beliau bersabda, "Berbuat baiklah kepada ibumu." Lelaki itu bertanya dua kali lagi, "Dan sesudah beliau?" Nabi menjawab, "Kepada ibumu." Lelaki itu bertanya, "Kepada orang lain siapakah saya mesti berbuat baik pula?" Nabi bersabda, "Kepada ayahmu."

Seorang lelaki bertanya kepada Imam Ja'far Shadiq (AS): "Apakah ada nikmat yang diperintahkan Allah dalam al-Quran untuk diperlihatkan kepada orang tua?" Imam menjawab, "Itu berarti bahwa engkau harus bersikap baik dan terpuji dalam pergaulan dengan mereka. Tidak memaksa mereka meminta pertolonganmu di saat perlu, bahkan justru engkau berusaha memenuhi keperluan mereka sebelum mereka memintamu."
Allah berfirman, "Engkau sekali pun tak akan sampai pada kebaktian (yang sempurna), sebelum engkau menafkahkan sebagian harta yang engkau cintai. Dan apa pun yang engkau nafkahkan, maka sungguh Allah mengetahuinya." (QS. 3:92)
"Jika orang tuamu menyebabkan perasaan tidak senang pada dirimu, maka janganlah engkau (membalas dengan) membuat mereka tak senang. Jika mereka memukulmu, engkau tak boleh (membalas dengan) menyakiti mereka. Bahkan engkau mesti mendoakan mereka, dan tidak melemparkan apapun selain pandangan cinta dan kasih sayang kepada mereka. Suaramu tidak boleh lebih keras dari mereka, dan engkau tidak boleh berjalan mendahului mereka!"

Imam Ahlubait yang ke-4 berpesan, "Adalah hak ibumu agar engkau mengingatnya bahwa ia telah mengandungmu dalam rahimnya selama berbulan-bulan. Memeliharamu dengan sari hidupnya. Mengerahkan semua yang ada padanya untuk memelihara dan melindungimu. Ia tidak mempedulikan rasa laparnya, sedangkan engkau diberinya makan sepuas-puasnya. Ia mengalami rasa haus sementara dahagamu dipuaskan. Ia mungkin tak berpakaian, tapi engkau diberinya baju yang baik-baik. Ia mungkin berdiri di panas terik matahari, sementara engkau berteduh. Ia meninggalkan tidurnya yang enak demi tidurmu yang pulas. Ia melindungimu dari panas dan dingin. Ia menanggung semua kesusahan itu demi engkau! Maka engkau layak untuk mengetahui bahwa engkau tak akan mampu bersyukur kepada ibumu secara pantas, kecuali Allah menolongmu dan memberikan keridhaan untuk membalas budinya."

Hak-hak istimewa yang diberikan Islam bagi seorang ibu, adalah karena susah payah yang telah ditanggungnya dalam mengembangkan kehidupan rohani dan jasmani anak-anaknya. Sehingga hanya para ibu yang melaksanakan tugas keibuannya dengan baik, membesarkan dan mendidik anak menjadi bergunalah, yang layak mendapatkan kedudukan dan hak istimewa tersebut. Sedangkan ibu yang justru memilih untuk bersenang-senang, berfoya-foya meninggalkan kewajibannya mengasuh dan mendidik anak, serta membiarkan anaknya di panti asuhan, sesungguhnya telah melakukan kezaliman yang tak termaafkan terhadap anaknya. Oleh karena itu tidaklah pantas ia mengharapkan keutamaan akan hak dan kedudukan Ibu.

Ibu-ibu semacam itu bukan saja merusak kebahagiaan anak-anak mereka, tetapi juga memberi pukulan pada masyarakat disebabkan kegagalan mereka mengambil manfaat dari anak-anaknya. Seorang anak yang tidak belajar dari ajaran cinta kasih ibunda, dan yang emosinya tidak dikembangkan dalam pangkuan ibunda, tidak dapat diharapkan untuk menunjukkan kasih sayang di tahun-tahun berikutnya. Lihatlah betapa pribadi-pribadi besar dunia mendapatkan keberhasilan terutama dari pengaruh ibu. Ibu mereka telah melaksanakan tugas penting dan memainkan peranan yang berhasil dalam membina anak-anaknya.

Jenius besar Islam, almarhum Murtadha Anshari, meratap dengan pedih ketika ibunya meninggal. Sambil berlutut di sisi jenasah ibunya, ia menangis dan mencurahkan air mata. Untuk menghibur dan menyatakan simpatinya, salah seorang muridnya mengatakan, "Tidak pantas engkau yang berkedudukan alim bersikap resah dan mengucurkan air mata, hanya karena kematian seorang perempuan tua." Ulama besar itu mengangkat kepalanya dan menjawab, "Sepertinya engkau belum menyadari kedudukan mulia Ibu. Saya berhutang budi atas kedudukan saya kepada pendidikan yang diberikan Ibu pada saya, dan kerja kerasnya. Ibulah yang meletakkan dasar kemajuan saya, mengantarkan saya pada kedudukan sebagai ulama sekarang ini."

Inilah contoh pengaruh ibu kepada anaknya. Betapa banyak ibu yang usahanya sekarang telah menghasilkan suatu sumbangan besar bagi kemajuan para ilmuwan terkenal dunia.

Thomas Alfa Edison bukan saja gagal menunjukkan bakatnya di masa kanak-kanak, tetapi juga kelihatan sangat bodoh, karena ia mempunyai kepala yang terlalu besar. Keluarga dan kenalannya menganggap ia menderita penyakit kelemahan mental. Pertanyaan-pertanyaan aneh yang sekali-kali ditanyakannya semakin menguatkan anggapan mereka. Bahkan di sekolah, yang hanya dikunjunginya tidak lebih dari tiga bulan, ia dijuluki "si tolol", karena pertanyaan-pertanyaannya yang berulang kali kepada guru.

Pada suatu hari ia pulang ke rumah dengan berlinang air mata, lalu mengadukan kepada ibunya. Sang ibu membimbing tangan putranya kembali ke sekolah. Kepada guru itu, sang ibu berkata: "Anda tidak tahu apa yang Anda katakan. Anak saya lebih cerdas dari Anda! Inilah letak persoalannya. Sekarang saya akan membawanya pulang, akan saya urus sendiri pendidikannya, dan akan saya perlihatkan kepada Anda, bakat apa sebenarnya yang tersimpan padanya!" Semenjak itu, sang ibu memenuhi janjinya untuk mendidik sendiri putranya itu.

Seorang sahabat keluarga Edison menulis berkaitan dengan ini, "Kadang-kadang ketika melewati rumah Edison, saya melihat ibu Edison dan putranya duduk-duduk di ruang depan, sementara sang ibu mengajari anaknya. Tempat itu menjadi ruang kelas dan Edison adalah satu-satunya murid di situ. Isyarat dan gerakan-gerakannya seperti ibunya, ia sangat mencintai ibunya! Ketika ibunya berkata, Edison mendengarkan penuh perhatian seakan-akan perempuan itu lautan ilmu."

Sebagai hasil usaha ibunya, sebelum usia 9 tahun, Edison telah membaca karya-karya besar Gibbon, Hume, Plato dan Humerus! Ibu yang bijaksana dan cerdas itu juga mengajarkan geografi, sejarah, matematika dan akhlak. Edison hanya bersekolah selama tiga bulan, dan semua yang dipelajarinya di masa anak-anak didapat dari ibunya. Ibu itulah guru yang sesungguhnya, karena asuhannya bukan saja bagi pendidikan anaknya, tetapi juga untuk menemukan bakat-bakat yang alami dan mengembangkannya. Kemudian ketika Edison menjadi terkenal, ia berkata:

"Di masa kanak-kanak, saya menyadari betapa bagusnya tokoh seorang Ibu. Ketika guru itu menjuluki saya "tolol", Ibu membela saya. Apabila Ibu tidak mendorong saya, mungkin saya tidak akan menjadi penemu. Menurut Ibu saya, jika orang-orang yang salah jalan setelah dewasa telah mendapatkan pendidikan dan diasuh sebagaimana mestinya, mereka tidak akan menjadi parasit yang tidak berguna dalam masyarakat. Pengalaman yang telah dikumpulkannya sebagai seorang guru telah mengajarkan kepadanya banyak rahasia watak manusia. Sebelumnya saya selalu tak peduli, dan apabila bukan karena perhatian Ibu, kemungkinan besar saya telah menyeleweng dari jalan yang semestinya! Namun ketabahan Ibu dan kebaikannya, merupakan faktor kuat yang menghalangi saya dari penyelewengan dan kesesatan."

Dengan kepribadian, simpati dan usahanya, para ibu dapat meletakkan dasar kehidupan bahagia bagi anak-anaknya dan melatih mereka untuk masa depan. Sedangkan para ibu yang teledor dan mementingkan diri sendiri, dengan tindakan salahnya, justru menyeret anak-anaknya kepada kepedihan dan nestapa.

Islam dengan jelas menyatakan bahwa salah satu penyebab utama penyelewengan anak-anak, adalah penyelewengan orang tua sendiri. Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa setiap anak memasuki dunia ini dengan wataknya yang suci, siap menerima tauhid dan kebaikan moral, tetapi orang tuanya justru menyeret anak-anak mereka dengan pendidikan ke arah penyimpangan moral, dan kadang juga membawa ke jurang kekafiran dan syirik. Karena pengaruh orang tua kepada anak-anak yang tak terhindarkan inilah, maka Rasul SAW dan para Imam AS mengajukan banyak saran kepada para orang tua, dan sangat menghargai usaha-usaha mereka.

Nabi Muhammad SAW bersabda, "Hormatilah anak-anakmu. Ajari mereka akhlak yang baik, agar engkau mendapatkan keridhaan Ilahi dan keselamatan."

Beliau SAW bersabda pula, "Jika engkau melatih anak-anakmu berperilaku baik dan memberi pendidikan yang semestinya, maka hal itu lebih baik daripada memberikan sebagian hartamu setiap harinya di jalan Allah."

Hadits lain menyebutkan bahwa: "apabila seseorang meninggal, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga hal: 1. Jika ia berbuat amal yang selalu membawa manfaat bagi manusia, 2. Jika ia meninggalkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat, 3. Jika ia meninggalkan anak saleh yang mendoakannya."

Apabila orang tua melaksanakan kewajibannya dengan mendidik anak-anaknya dengan semestinya, maka mereka mendapatkan manfaat sepenuhnya dari hak-hak mereka sebagai orang tua, dan mendapatkan keuntungan berupa keturunan yang baik. Di sini Islam menyeru kepada anak-anak dan menyuruh mereka untuk berbuat baik kepada orang tua.

Imam Ja'far Shadiq AS berkata, "Berlaku baik dan sopan kepada orang tua merupakan bukti ketakwaan seseorang. Karena tak ada amal yang disenangi Allah sebagaimana menghormati orang tua."

Nabi SAW bersabda, "Pandangan kasih sayang seorang anak kepada orang tuanya dipandang sebagai suatu ibadah."

Imam Muhammad Baqir AS berkata, "Ada empat hal yang kepemilikannya akan memberikan pada pemiliknya rumah di sorga melalui keridhaan-Nya: 1. Mengasuh anak yatim dan memberikan tempat perlindungan kepada mereka, 2. Berkasih sayang kepada yang tua renta dan tak berdaya, 3. Berbaik hati dan berperilaku ramah kepada orang tua, 4. Berhati lembut kepada bawahan dan pelayan."

Islam juga memandang bahwa kebajikan kepada Ibu sebagai suatu jalan yang bermanfaat untuk menghapus dosa seseorang, dan memandang kebaikan kepada Ibu sebagai suatu sarana untuk menyelamatkan dari dosa dan menggapai keridhaan Allah.

Seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW seraya mengeluh, "Wahai Nabi! Saya telah berbuat banyak dosa dalam hidup ini. Saya telah melakukan segala macam perbuatan jahat. Apakah pintu taubat masih terbuka untuk saya? Apakah Allah masih akan menerima taubat saya?" Nabi bertanya, "Apakah orang tuamu masih hidup?" Lelaki itu mengatakan, "Ya. Ayah saya masih hidup!" Nabi lalu berkata, "Maka pergilah kepadanya dan berbuat baiklah kepadanya (agar dosamu diampuni Allah)." Lelaki itu pamit kemudian keluar. Kemudian Nabi bersabda, "Saya berharap ibunya masih hidup!" [Yang beliau maksudkan ialah bahwa apabila ibunya masih hidup untuk menerima kebajikan anaknya, maka dosa-dosanya akan lebih cepat diampuni.]

Seorang lelaki datang kepada Nabi seraya berkata, "Wahai Nabi Allah! Saya dianugerahi Allah seorang anak perempuan. Saya membesarkannya hingga ia dewasa. Suatu hari saya pakaikan baju padanya, saya hiasi dia, lalu saya membawanya ke sebuah sumur dan melemparkannya ke sana! Kata terakhir yang saya dengar diucapkan oleh anak tak berdosa itu adalah, 'Wahai ayahku tersayang!' Sekarang saya bertaubat atas apa yang telah saya lakukan. Bagaimana saya bisa menebus dosa saya? Apa yang harus saya kerjakan untuk menebus dosa itu?" Nabi SAW bertanya, "Apakah ibumu masih hidup?" Lelaki itu menjawab, "Tidak." Nabi bertanya, "Apakah bibimu masih hidup?" Lelaki itu mengatakan, "Ya." Nabi lalu bersabda, "Ia (bibimu) sama dengan Ibu. Pergilah berbuat baik padanya, dengan demikian dosamu akan diampuni!"

Dalam Islam, kemarahan dan ketidakpuasan Ibu dipandang sebagai sarana datangnya bencana dan kehancuran. Dalam beberapa riwayat telah dikatakan secara gamblang bahwa orang yang durhaka terhadap orang tuanya tidak akan pernah mencium bau sorga dan tidak akan mencapai kebahagiaan.

Seorang pemuda di masa Nabi telah jatuh sakit dan terbaring tak berdaya di tempat tidur. Nabi pergi menjenguknya dan mendapatkan ia sakti parah di saat terakhirnya. Nabi berkata padanya, "Akuilah keesaan Allah dan ucapkan kalimat syahadat: Laa ilaaha illallah!" Pemuda yang sakit itu menggagap dan tidak dapat mengucapkan kalimat suci. Nabi bertanya pada seorang perempuan yang hadir, "Apakah ia mempunyai ibu?" Perempuan itu menjawab, "Ya. Saya adalah ibunya." Nabi bertanya lagi, "Apakah engkau tidak rela kepadanya?" Perempuan itu mengiyakan, "Ya. Saya tidak rukun dengan dia selama enam tahun!" Nabi meminta perempuan itu memaafkan kesalahan putranya. Perempuan itu berujar, "Wahai Nabi Allah! Saya akan melakukannya demi engkau." Kemudian Nabi menoleh kepada pemuda itu sambil berkata, "Sekarang ucapkanlah Laa ilaaha illallah." Pemuda itu sekarang dengan lidah yang bebas mengucapkan kalimat suci itu.

Imam Shadiq AS berkata, "Orang yang ingin mengalami kemudahan saat sakaratul maut, hendaklah berbuat kebaikan kepada keluarganya dan memperlakukan ibunya dengan ramah. Sehingga sakaratul maut akan menjadi ringan baginya, dan dalam kehidupan ia tak akan menderita kenistaan."

Suatu hal yang perlu diingat ialah pada tanggal 22 Desember telah dipilih sebagai Hari Ibu, dimana diadakan berbagai acara peringatan, puisi-puisi ditulis, hadiah-hadiah diberikan kepada para ibu oleh anak-anaknya. Tentu saja hal itu bagus, tetapi tidaklah cukup acara-acara dan pemberian hadiah itu sebagai penghargaan terhadap usaha para ibu. Haruslah diusahakan juga untuk memberikan penjelasan kepada para ibu tentang tanggung jawab besar mereka, menyadarkan mereka bahwa pengelolaan suatu keluarga dan pendidikan anak-anak termasuk pekerjaan yang paling penting, dibandingkan dengan pekerjaan apa pun.

Ibu-ibu harus berusaha memberikan kepada masyarakat anak-anak yang terdidik dengan baik dan mengasuh secara khusus keimanan dan keyakinan mereka. Karena pengalaman telah menunjukkan bahwa anak yang tak beriman bukan saja tak berguna, tetapi juga kadang merugikan dan berbahaya. Kita telah sering membaca tentang anak-anak yang memukul ibu atau ayah mereka, bahkan ada yang membunuhnya. Mengapa demikian?

Pengalaman mengatakan pada kita bahwa tak ada alasan lain bagi pelanggaran dan kejahatan semacam itu, selain kekurangan sandaran iman dan dasar kerohanian. Jika para orang tua ingin mendapatkan kemaslahatan dari anak-anaknya di dunia dan di akhirat, mereka harus memberi perhatian penuh kepada urusan keagamaan dan keimanan anak-anak itu, sebagaimana mereka memperhatikan kesehatan dan pendidikan mereka. Anak-anak pun mesti mengetahui kewajiban mereka terhadap orang tuanya, mengingat bahwa kebahagiaan anak yang sebenarnya adalah tergantung pada keridhaan orang tua.

Seorang lelaki bernama Zakaria ibn Ibrahim berkisah :

Dahulu saya seorang Kristen yang kemudian memeluk Islam dan melakukan ibadah haji ke Makkah. Saya beruntung mendapat kehormatan untuk bertemu dengan Imam Shadiq AS dan mengatakan kepadanya bahwa saya baru masuk Islam dari agama Kristen. Imam bertanya: "Keuntungan apa yang engkau dapatkan dari Islam setelah engkau memeluknya?" Saya mengutip ayat al-Quran yang menyatakan: "Sebelumnya engkau tidak mengetahui apakah al-Kitab itu dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Quran itu cahaya yang Kami tunjuki dengannya siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami (QS. 42:52)"

Imam itu berkata: "Demikianlah Allah memberi petunjuk kepadamu dan menerangi hatimu dengan cahaya-Nya." Kemudian Imam mendoakan saya agar mendapatkan petunjuk yang lebih banyak. Saya ceritakan pada Imam bahwa orang tua dan kerabat saya beragama Kristen, sedang ibu saya buta. Apakah pantas bagi saya untuk tetap hidup bersama mereka dan bercampur gaul? Imam bertanya, "Apakah mereka makan daging babi?" Saya menjawab, "Tidak." Lalu Imam bersabda, "Tidak ada salahnya engkau bercampur gaul dengan mereka," seraya menambahkan, "Rawatlah ibumu dan berbuat baiklah kepadanya. Apabila ia meninggal, engkau sendirilah yang mengurus penguburannya."

Ketika saya kembali dari Makkah dan tiba di Kufah, saya banyak menunjukkan kasih sayang kepada ibu saya sesuai dengan perintah Imam. Saya sendiri yang memberinya makan, mengatur pakaiannya, menyisir rambutnya dan melayaninya dalam berbagai hal. Ketika ibu saya melihat perubahan dalam perilaku saya, beliau berkata: "Anakku, di waktu engkau menganut agama kami, engkau tidak berbuat seperti ini. Apa alasan kasih sayang yang sebesar ini sejak engkau memeluk agama Islam?" Saya menjawab, "Seorang cucu Rasul telah memerintahkan saya untuk berbuat seperti ini." Ibu saya bertanya, "Apakah ia Nabimu?" Saya katakan, "Tidak. Tak ada nabi lain lagi setelah Nabi Muhammad. Ia adalah seorang keturunan Nabi."

Ibu saya berkata, "Perintah ini adalah perintah seluruh nabi-nabi, tetapi agamamu lebih baik dari agama saya. Tunjuki saya untuk masuk Islam." Saya mengajarkannya jalan Islam lalu ibu pun masuk Islam. Ibu melakukan sholat zhuhur, ashar, maghrib dan isya, kemudian ibu jatuh sakit di tengah malam. Saya tinggal di sisi ranjang dan merawatnya. Ibu berkata, "Anakku! Ulangilah untuk saya kalimat syahadat Islam." Saya melakukannya dan ibu mengikutinya, kemudian meninggal di malam itu juga. Keesokan harinya penguburan dilakukan oleh sekelompok Muslim sesuai dengan cara Islam, dan saya menguburkannya dengan tangan saya sendiri.

Meninggalnya seorang ibu merupakan kehilangan yang tak dapat ditebus, akan tetapi tatanan Penciptaan menurut Sunnah Ilahi menetapkan bahwa setiap makhluk pasti akan meninggalkan dunia ini. Manusia harus puas dan menyerah kepada kehendak Ilahi dan takdir-Nya. Namun ada kewajiban tertentu yang harus dilaksanakan anak setelah ibunya meninggal, apabila mereka menghasratkan kebahagiaan mereka sendiri. Dengan kata lain, hak orang tua tidak terhenti dengan kematian mereka, dan hak ini mesti dilaksanakan oleh anak-anak mereka setelah meninggalnya orang tua mereka.

Imam Ahlubayt yang ke-5 berkata, "Seorang anak mungkin berkebajikan kepada orang tuanya selama hidup orang tuanya. Tetapi mungkin ia tidak membalas hutang budinya kepada mereka setelah mereka meninggal, tidak pula berdoa untuk keselamatannya dan melupakannya sama sekali. Dalam hal ini, anak-anak seperti itu akan digolongkan Allah kepada kategori orang yang berperangai jelek terhadap orang tuanya."

Apa yang dapat disimpulkan dari ajaran Islam ini dan dari riwayat-riwayat Islam lainnya ialah bahwa apabila seorang ayah atau ibu terikat hutang, anak-anaknya mesti berusaha membayarkan hutangnya dan mendoakan keselamatannya. Ia harus bersedekah atas nama mereka, memberi makan fakir miskin untuk menyenangkan hati mereka, memperhatikan dan membelai anak yatim, dan melakukan amal baik semacam itu. Pahala amal semacam itu akan diberikan kepada orang tuanya maupun anak-anaknya, dan Allah akan memberkati dan meridhai mereka untuk amal kebajikan dan sedekah itu.

20 komentar:

khailallah mengatakan...

Assalamu'alaykum Wr Wb,
Salam Ukhuwah,
tulisan anta sangat menggugah dan sangat bermanfaat sekali.(Ana mengambil tulisan anta dan ana jadikan media Da'wah di Facebook ana. Afwan jika ana belum minta ijin Akh.. Walau sudah terlanjur, ana harap anta mengijinkannya. Jazakumullah khairan katsir.)

Sungguh kedudukan Ibu sangat mulia sekali.
Maha benar Allah dengan segala FirmanNya.
Ana tunggu tulisan2 anta yang lain, semoga Allah semakin menambah derajat ilmu anta, Amin yaa Rabbal'alamin.
Wassalamu'alaykum Wr Wb

ahmad[dot]yazid mengatakan...

Assalamu'alaykum Wr Wb,
Tulisan sangat bagus dan bermanfaat untuk semua orang.
Saya mohon izin untuk share, semoga bisa dibaca dan bermanfaat untuk orang-orang disekitar saya.
Jazakumullah khairan katsir
Wassalam....

SEDC mengatakan...

mas saya copy artikelnya ya...

SESNOM mengatakan...

mas sy copy ya

PKPU Jogja mengatakan...

ustad sy ijin copy artikelnya untuk buletin..dr pkpujogja

Anonim mengatakan...

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu

saya sangat setuju dengan kita harus menhormati ibu lebih dari menghormati ayah, tetapi bila keadaannya seorang ibu yg hanya menyulitkan dan mencelakai suami dan anak2nya, tidak patuh terhadap suaminya, melakukan maksiat, dan dengan sengaja memberi kesulitan yg amat sangat pada suami dan anak2nya…bagaimanakah sikap kita yg baik sebagai seorang anak?

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu

Rinaldy mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Hardiyansyah Ahmad mengatakan...

Assalamu'alaikum wr. wb.
Teman-teman, sebenarnya artikel ini pun saya ambil dari internet dan bahan-bahan lain, tetapi saya lupa mencantumkan sumbernya... Maaf dan Wassalam

Mohd Zain Saleh mengatakan...

Assalamu'alaikum.Tulisan yang berkesa.Semoga kita menjadi hambaNya yang diredai,dan diredai oleh ketua ibu bapa kita.Amin

Anonim mengatakan...

saya membaca artikel ini sambil mndengarkan lagu Sami Yusu - Ya Ummi.. sy menangis, teringat almarhumah ibu sy.. smoga dgn artikel ini tmn2 yg masih mempunyai org tua bisa menghargai ibu dan ayahnya.. amin

Anonim mengatakan...

subhanallah ibu adalah madrasa bagi anak2 nya, ibu mengjarkan semuanya akhlak yang baik kepada sesama dan yang lebih utama kepada Allah, namun ada ibu yang baik dan sayang kepada anaknyam terlalu baik sampai tidak bisa membedakan yang baik dan yang benar, saat anak melakukan kesalahan si ibu menutupi dengan alasana sayangm dan membela putranya meskipun salahm sehingga si anak tidak pernah belajar dari kesalahannya terus melakukan kesalahan karna yakin ibunya akan selalu membelanya, dan saat dewasa si anak menjadi pezinah dan si ibu hanya mengatakan dia khilafm hanya menegur anaknya dng ucapan nak,,,,jng begitu terus nanti kena penyakit, tanpa mengingatkan si anak dampak dari perbuatannya kepada dirinya dan masa depannya dan pertanggung jawabnnya di hadapan Allah,,,,
wujud kasih sayang seorang ibum benarlah sidah anak dapat menarik orang tua ke neraka jahannam sekalipun si ibu orang yang ahli ibadah

Roozanty mengatakan...

Subhanallah seorang ibu

Hanae Masamba mengatakan...

Subhanallah...ya Allah..sayangilah selalu ibu ku..

andra mengatakan...

mas...ijin copy ya.... semoga ini bisa jadi bacaan buat anak2 saya kelak..

andra mengatakan...

makasih mas...ijin copy artikelnya...

endah kusumaningrum mengatakan...

Jika seorang ibu yang tidak berperilaku baik terhadap anaknya? apakah hal ini ada di Alquran ya ustadz? APakah tetap menjadi dosa jika sang anak cenderung keras terhadap ibu karena perilaku si ibu yang tidak pantas? terimakasih.

endah kusumaningrum mengatakan...

Jika seorang ibu yang tidak berperilaku baik terhadap anaknya? apakah hal ini ada di Alquran ya ustadz? APakah tetap menjadi dosa jika sang anak cenderung keras terhadap ibu karena perilaku si ibu yang tidak pantas? terimakasih.

Wina Kh mengatakan...

izin share untuk tugas sekolah buat ceramah yaa...
terimakasiih,ini sangat bermanfaat :))

SangAlang mengatakan...

Terima kasih telah berbagi ilmu...

gusti trisno mengatakan...

Ijin copas untuk artikel saya

terimakasih :)